Chapter IX

"Kamu kenapa deh?" Tanya Junghwan diiringi tawa, sedangkan Doyoung hanya menggeleng pelan sambil mengeratkan pelukan.

"Sakit lagi tangannya?" Tanya Junghwan lagi, dan Doyoung kembali menggeleng.

"Nggak, cuma mau berterima kasih aja karena udah nemenin aku di sini." Ucap Doyoung kemudian, ia sedikit melonggarkan pegangannya pada tubuh Junghwan ketika laki-laki itu berbalik untuk ikut memeluknya.

Junghwan menatap wajah Doyoung yang kini bersandar di dadanya, "Cuma itu?" Sebelah tangannya mulai mengusap rambut gelap yang lebih kecil.

"Mhm, emang kamu maunya apa?" 

"Kalau aku maunya kamu, gimana?"

Doyoung tertawa sebelum membenamkan wajahnya di dada Junghwan, "Stop bercanda." Protesnya lalu kembali menatap wajah yang lebih tinggi.

Tangan kanan Doyoung bergerak naik, meraba rahang keras Junghwan yang terasa lembut menyentuh kulitnya. 

Padahal mereka berdua seumuran, namun Junghwan terlihat lebih dewasa. Saat Doyoung tidak mengenakan snelli atau seragam kepolisian, ia masih dikira mahasiswa atau bahkan murid sekolah menengah.

Tidak seperti Junghwan yang nampak gagah dengan apapun yang ia kenakan.

"Emang kamu gak mau?" Junghwan kembali melempar pertanyaan lalu ikut menyentuh tangan Doyoung yang ada di wajahnya, dan tertawa saat menyadari betapa kecilnya tangan Doyoung jika dibandingkan dengan miliknya.

"Mau apa?" Cicit Doyoung pelan.

Ia enggan mengakhiri obrolan basa-basi mereka dan sedang menikmati kebahagiaan sebab berada sedekat ini dengan Junghwan. Perasaan dikelilingi ratusan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut, entah kapan terakhir kali Doyoung merasakan afeksi ini karena beberapa tahun belakangan, ia hanya sibuk belajar serta bekerja di rumah sakit, tempatnya bertemu dengan Junghwan.

"Mau Junghwan, nggak?" Ucap Junghwan dengan suara aneh yang dibuat-buat, ia tersenyum lalu mendaratkan kecupan ringan di atas kepala Doyoung.

Senyum Doyoung makin lebar, ia tertawa dan mengangguk pasti. "Mau." Jawabnya singkat.

"Mau apa?" Tanya Junghwan sambil terus memandang Doyoung yang juga menatapnya dari bawah.

Tangan Doyoung yang semula berada di pinggang Junghwan mulai bergerak naik dan mulai melingkar di belakang lehernya, dengan sedikit berjinjit, ia memberanikan diri untuk mengecup sudut bibir yang lebih tinggi. "Mau Junghwan." Jawabnya kemudian.

Junghwan tersenyum, "Lagi dong." 

"Lagi? Apanya?" Tanya Doyoung heran.

"Ciumnya."

Doyoung tertawa namun tetap memenuhi keinginan Junghwan, mendaratkan kecupan di sekitar bibir penuhnya berulang kali. Dan dikecupan terakhir, ia menambahkan hisapan ringan di bibir bawah dan atas Junghwan bergantian.

Sedangkan Junghwan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membalas ciuman Doyoung dan membiarkan yang lebih kecil memimpin permainan, ia takut kehilangan kendali dan malah membuat area mulut Doyoung berdarah.

"Udah?" Tanya Doyoung, ada perasaan malu begitu melihat bibir Junghwan yang mengkilap karena ulahnya.

Junghwan mengangguk, "Udah. Makasih sayang." Ucapnya dengan nada manja.

Dan Doyoung hampir berteriak ketika Junghwan mulai mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, kakinya refleks melingkar di belakang pinggang yang lebih tinggi. 

"Junghwan! Mau ngapain?!" Protesnya sambil mengeratkan pegangan di leher Junghwan.

"Tidur lagi aja yuk? Aku mau peluk-peluk kamu di kasur seharian."

"Tapi kita belum makan? Kan aku juga harus minum obat?"

Langkah Junghwan yang hampir sampai depan pintu kamar itu seketika berhenti, ia kemudian kembali ke dapur dan menurunkan Doyoung di salah satu kursi meja makan. 

"Tapi habis makan, aku masih boleh di sini, kan?"

Doyoung mengangguk, "Aku juga gak akan ngebolehin kamu pulang."

***

"Tapi serius deh, kenapa kamu mau jadi detektif?" Tanya Doyoung yang sebelah tangannya sibuk memilin poni panjang Junghwan. 

"Kan aku udah kasih tau tadi malam, karena aku pas kecil suka banget nonton Detektif Conan." Jawab Junghwan dengan mata nyaris tertutup, tangan Doyoung yang tidak berhenti menyentuh rambutnya membuatnya ingin tertidur sekarang, ditambah posisi mereka yang terlalu dekat dan memberikan perasaan nyaman, padahal belum genap satu hari ia datang ke tempat ini.

 "Kalau kamu, kenapa milih jadi Dokter Forensik?" Junghwan balik bertanya.

Ada sedikit keraguan pada diri Doyoung sebelum menjawab pertanyaan Junghwan, sunyi yang tidak sebentar membuat Junghwan membuka mata dan memandang wajah kekasihnya. "Kenapa?" Tanya Junghwan lagi.

Doyoung melempar senyum tipis lalu menggeleng pelan, "Nggak. Aku milih jadi Dokter Forensik karena lebih suka kerja di tempat sepi." 

Kedua alis Junghwan bertaut, heran dengan jawaban aneh yang Doyoung ucapkan. "Maksudnya?"

"Ya Dokter Forensik kan gak perlu berhubungan langsung sama keluarga pasien, dan kita juga gak harus ribet ngikutin Profesor sebelum akhirnya boleh pimpin operasi sendirian." 

Sebenarnya Junghwan tidak paham, namun ia mengangguk pelan karena tidak ingin melanjutkan obrolan.

"Aku gak ngerti, tapi karena kamu lucu jadi jawabanmu aku terima." Ucap Junghwan asal, dan ucapannya berhasil membuat Doyoung tertawa lebar.

"Kenapa sih kamu selalu begini?"

"Begini gimana?"

"Ya kelakuan sama ucapan kamu tuh kadang aneh, gak jelas, tapi selalu bisa bikin aku ketawa, walau lebih sering ngeselin juga."

"For real?"

"For real."

"So Doctor Kim, sejak kapan kamu suka sama aku?" 

Pertanyaan di luar konteks itu jelas membuat Doyoung terkejut, "Maksudnya?"

"Saat semua orang gak suka sama cara bicaraku, tapi kamu malah nganggap itu lucu. Kalau bukan suka terus apa namanya?" 

Benar. Kalimat Junghwan ada benarnya, namun Doyoung tidak akan semudah itu mengakui perasaannya.

"Kalau kamu? Sejak kapan kamu suka sama aku?" Kali ini Doyoung balik bertanya.

Bukannya menjawab, Junghwan justru menangkup wajah Doyoung dengan sebelah tangan dan mulai mengecup seluruh bagian wajahnya gemas. 

"Junghwan ih! Basah semua jadinya." Protes Doyoung sambil mengusap wajahnya yang baru saja diserang oleh Junghwan.

"Sejak hari pertama kita ketemu, aku udah suka sama kamu." Jawab Junghwan jujur, "Pas kamu ngomel dan bilang kalau aku detektif gak sabaran, dan pas kamu marah karena aku panggil kamu Dokter. Aku bahkan masih inget ekspresi kamu yang lucu banget pas aku suruh kamu buat obatin luka Jaewon hari itu."

"Kamu suka sama aku sejak hari itu tapi sikapmu masih ngeselin bahkan sampai kemarin?"

"Loh justru itu love language aku."

"Love language apanya?" Omel Doyoung tidak terima.

"Bikin kamu emosi, soalnya pas kamu emosi bibir kamu manyun kayak gini." Ucap Junghwan sebelum mengecup bibir Doyoung yang merengut maju.

Di hari libur itu keduanya habiskan dengan saling bertukar cerita, juga membahas banyak hal yang akan mereka lakukan ke depan, sekaligus berencana untuk merahasiakan hubungan keduanya dari para kolega di tempat kerja.

***

"Kalau udah sampai rumah, langsung telepon aku." Pinta Doyoung yang berdiri di sebelah mobil Junghwan.

Hampir tengah malam dan Junghwan memutuskan untuk pulang ke rumah karena besok pagi, mereka masih harus bekerja.

Tadinya Junghwan berniat menginap satu malam lagi di rumah Doyoung, namun pakaian Doyoung tidak ada yang pas pada tubuh besarnya, ditambah celana yang sebelumnya ia gunakan juga kotor terkena tetesan darah Doyoung tempo hari.

"Yaudah sekarang kamu naik, aku jalan pas kamu udah masuk lift." Ucap Junghwan dari balik kemudi.

Doyoung menggeleng, "Apartemenku aman, udah kamu jalan aja." Pintanya lagi.

Junghwan menghela napas, ia menyempatkan diri untuk mengecup sebelah pipi kekasihnya sebelum menyalakan mesin mobil. "Besok aku jemput." Titahnya, dan Doyoung mengangguk.

"Iya, besok kamu jemput." 

Mobil Junghwan akhirnya bergerak, meninggalkan lobby apartemen Doyoung dan berjalan menjauh menuju pintu keluar. Doyoung pun masuk ke dalam gedung, menekan tombol lift yang membawanya menuju unitnya di lantai dua puluh.

Dan begitu ia berbaring di ranjangnya, Doyoung berteriak keras sambil memukul bantal.

Umurnya bukan lagi belasan dan ia juga bukan remaja seperti Dain adiknya, namun perasaan salah tingkah karena terus bersama Junghwan seharian ini membuatnya bahagia.

Ini bahkan jauh lebih membahagiakan dibanding perasaannya ketika berhasil menjahit tubuh mayat dengan sempurna.

Tadinya ia masih ingin melanjutkan agenda menyalurkan semua kebahagiaannya sendirian di kamar, namun suara bel dari pintu depan membuatnya mengurungkan niat.

Siapa yang datang di jam segini?

Junghwan? Apa ada barangnya tertinggal?

Doyoung berjalan keluar dari kamar, ia mengintip lubang kecil di pintu dan menemukan sosok asing dengan pakaian serba hitam yang berdiri di depan pintu unitnya sambil menenteng sesuatu.

"Paket!" Ucap laki-laki itu.

Namun Doyoung tidak memesan apapun.

Dibanding membuka pintu dan membiarkan orang asing itu berpotensi masuk ke dalam rumah, Doyoung memilih untuk berjalan menuju kamar tidur lalu menghubungi satpam jaga dan membuat laporan bahwa ada orang aneh di depan apartemennya.

Untungnya Doyoung memasang berbagai kunci tambahan di balik pintu, membuat orang itu tidak dapat masuk ke dalam rumah dengan mudah.

Hampir sepuluh menit berlalu hingga telinga Doyoung mendengar suara yang lumayan berisik di depan unit, dan begitu ia mengintip keluar, ternyata ada beberapa satpam yang tengah berdiri di sana.

Doyoung pun keluar, satpam itu berkata bahwa tidak ada orang asing yang dimaksud begitu mereka sampai. Ia hanya mengucap terima kasih dan berkata bahwa besok mungkin dirinya akan memeriksa cctv sebelum berangkat kerja.

Ini yang membuat Doyoung tidak diizinkan untuk tinggal sendirian oleh Ibunya, namun jarak dari Incheon menuju Seoul lumayan jauh dan tidak efektif karena Doyoung yang sering tiba-tiba diminta datang ke rumah sakit untuk bekerja.

Dibanding takut, Doyoung justru kesal karena setelah ini ia harus repot mencari hunian baru yang lebih aman dan masih dekat dengan area rumah sakit. Lagipula siapa orang asing itu? Dan apa yang ia mau dari Doyoung?

Doyoung masih sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri dan semuanya buyar ketika ponselnya tiba-tiba berdering keras.

"Junghwan! Udah sampai rumah?" Tanya Doyoung langsung begitu panggilan mereka tersambung.

"Udah, baru selesai mandi. Kamu nungguin aku ya?" Ucap Junghwan dengan percaya diri.

Doyoung mengelak dan memilih berdebat kecil dengan Junghwan, menghabiskan malam dengan obrolan yang nampak tidak ada habisnya, tanpa memberi tahu kejadian yang ia alami sebelumnya.







...

lu puas puasin dah pacaran, besok mulai kerja lagi ya

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top