2. Kado

Setelah akhir pekan bukannya pikiran bertambah segar, Ibra justru dipusingkan dengan ceramah sang bunda. Wanita yang selama ini merawatnya itu kembali mengungkit perkara jodoh. Alasannya sederhana, hanya gara-gara usianya yang semakin bertambah.

"Nggak kerasa kamu sudah tiga puluh tiga, ya, Mas. Belum adakah perempuan yang menggetarkan hatimu?" Rista, bundanya Ibra, memulai obrolan. Wanita yang mulai dipenuhi uban itu menatap lelaki di sampingnya dengan perasaan campur aduk.

Nadanya memang biasa, terkesan bercanda malah. Namun Ibra tahu, ada kekhawatiran yang terselip pada suara renyah wanita itu. Mereka baru saja meninggalkan hotel, setelah menghadiri pernikahan salah satu anak dari sahabat Rista. Saat ini mobil Ibra tengah melaju menuju rumah mereka. Di sela-sela kemacetan, obrolan perihal jodoh pun tergelar.

"Belum ada jodohnya, Bunda." Ibra menjawab sekenanya. Karena kalau membantah dia yang akan menjadi durhaka, dan jika tidak dijawab, dia akan terlihat tak peduli.

"Bunda juga tahu. Makanya kalau diajak ke kondangan itu mau, sambil lirik-lirik barangkali kali ada yang cocok. Siapa tahu setelah nanti ketemu jodoh beneran, Mas."

"Iya, Bunda."

"Atau mau Bunda kenalin dengan anaknya temen Bunda?"

"Bunda ...." 

"Atau Mas Ibra mau coba terima Asha, aja? Gadis itu masih sering telepon Bunda nanyain kamu, loh, Mas."

"Bundaku Sayang, Asha itu adeknya Ibra juga, Bun. Masa nikah sesama saudara?" Ibra terbayang gadis yang sejak kecil selalu mengikutinya. Gadis yang dikenalkan bundanya saat dia baru beberapa bulan tinggal di rumah sang bunda.

Rista mencebik, "Tapi Asha cinta mati sama kamu, loh, Mas? Nggak apa-apa kalau beneran nikah sama dia. Toh, kalian tidak ada hubungan darah juga."

"Gimanapun juga, Asha itu anaknya Papa Gala, Bun. Mantan suaminya Bunda yang sampai sekarang masih cinta mati sama Bunda." Kali ini Ibra tak ingin bundanya terlalu berharap. "Atau Bunda sama Papa Gala balikan aja, deh." Ibra menggoda Rista.

"Mas Ibra, nih. Suka banget membalik keadaan." 

"Habisnya Bunda selalu bawa- bawa Asha."

"Ya, karena kamu selama ini nggak ada tanda-tanda serius dengan perempuan, Mas. Bunda, kan, jadi khawatir." Rista mengelak. Dia tak sepenuhnya bohong. Ibu mana yang tak kepikiran saat anak lelakinya setia dengan kesendirian. Banyak hal yang membuat Rista takut.

"Bukan berarti karena nggak pernah serius, Ibra jadi nggak serius Bun. Belum ketemu aja jodohnya."

"Ya itu, makanya. Kamu nggak pernah mau, Bunda kenalin sama anak temen Bunda. Terus sampai kapan kamu nunggu jodoh datang, Mas? Jodoh itu dicari, dikejar." Rista mengeluarkan segala unek-unek yang memenuhi kepalanya selama ini.

"Ini lagi berusaha, Bun."

Rista menghela napas dalam. "Pokoknya, lusa kamu harus ikut Bunda ke rumahnya Asha. Bunda mau jodohin kalian, aja."

-o0o-

"Ha?"

Ayana tak dapat menutupi wajah piasnya. Waktu seketika membeku, sekelilingnya mendadak sunyi. Dua orang manusia yang saling tatap, tengah mencari-cari jawaban. Mencari pembenaran.

Ini serius?

"Mas Ibra lagi kesambet setan?" Gadis itu mulai merinding. Jangan-jangan penghuni gelap Sea Stars mulai menampakkan diri. Dan kini tengah merasuki tubuh bosnya.

Desas-desus yang beredar dari beberapa karyawan terlama di sini, lantai tiga jarang dijamah. Kemungkinan yang menghuninya adalah mahluk tak kasat mata. Namun Pak Temmy dan Pak Har sering membantah gosip itu. Katanya lantai tiga masih tahap renovasi. Sayangnya, selama satu tahun bekerja di sini, Ayana tak melihat perubahan apa pun di lantai itu.

"Saya serius, Ayana."

Entah kenapa suara Ibra kali ini lembut sekali. Apa karena efek ditembak barusan? Ah, Ayana sudah mulai melantur! Mana ada ditembak. Lelaki itu hanya meminta kado, bukan menyatakan cinta. Ayana mencubit punggung tangannya sendiri, demi menjaga kewarasannya.

Mas Ibra bercandanya nggak lucu!

"Saya juga serius, Mas!" Suara Ayana naik satu oktaf. "Lagian, Mas Ibra minta kadonya aneh banget."

Lelaki berkemeja biru itu menyandarkan punggung seakan memberi isyarat kelelahan yang tengah dia tanggung. Namun sorot matanya tak pernah surut, masih meminta, mengharap dengan tangguh. Segala kesemrawutan di kepalanya seperti meronta, tapi tak ada yang bisa dia lampiaskan.

"Saya minta kamu jadi pacar pura-pura, Ay."

Ah, Ayana mendesah lega. Ternyata cuma pura-pura, toh. Tapi kenapa harus dia?

"Pacar pura-pura? Buat apa, Mas? Mas Ibra mau balas dendam sama Mbak Lusi?" Cecar Ayana masih penasaran.

"Kenapa harus Lusi?"

"Lalu?" Ayana mengerjab bingung.

"Saya capek diteror sama Bunda kapan punya pacar, Ayana. Makanya saya minta tolong sama kamu."

"Kenapa harus minta tolong ke saya, sih, Mas?" Ayana menyambar karena diburu penasaran.

Ibra menahan napas. Sepertinya tak ada jalan lain selain membuka sedikit masalahnya.

"Saya nggak mau dijodohkan, Ayana. Lalu menurutmu saya harus bagaimana?" Masih dengan sorot yang tak memudar, lelaki itu menghela napas lelah.

"Ya, nyari pacar, dong, Mas! Memangnya nggak ada perempuan yang dekat dengan Mas Ibra?" Ah, peduli setan dia terlalu ikut campur. Salah Ibra sendiri, sudah mengajaknya menjelajahi kehidupan pribadi lelaki itu.

Ibra menggeleng, membuat Ayana gatal ingin menanyakan sesuatu. "Apa Mas Ibra masih belum bisa move on dari Mbak Lusi?"

Kedua alis Ibra saling bertaut, matanya menatap nyalang pada gadis yang duduk dengan gelisah di hadapannya. "Kenapa harus bawa-bawa Lusi lagi?"

Ayana mengerjap, "Ya, mungkin aja. Soalnya ...." Ah, Ayana jadi menyesal sudah menyebut nama Mbak Lusi. Sekarang dia yang bingung harus menjelaskan alasannya.

"Kenapa, Ayana?"

Sial!
Suara Ibra semakin mendayu, lembut tapi menusuk. Ayana semakin bergidik, dia melirik ke jendela kaca yang menampakkan gemerlap lampu-lampu jalanan. Isi kepalanya berputar-putar menyusun kata.

"Ya, mungkin aja. Kan, katanya Mas Ibra sama Mbak Lusi putus. Terus Mbak Lusi malah menikah dengan lelaki lain. Jadi--"

"Kata siapa itu?" Tubuh Ibra maju, mendekat dengan siku menekan meja. Membuat Ayana hampir terjengkang.

"Kata ... Kata teman-teman, Mas," bisik Ayana tak berani menatap bosnya. Sepertinya dia terlalu jauh masuk ke dalam hidup Ibra. Apalagi bergosip dengannya. Ayana takut besok dia tak dapat menginjak Sea Stars lagi

Sebelah bibir Ibra naik, tapi tak lama kemudian dia kembali memasang wajah datar.

"Jadi selama ini kalian suka nggosipin saya?" Lelaki itu menggeleng perlahan. "Saya jadi kepikiran untuk menghukum kalian besok."

"Lho, jangan, Mas! Ini kan, hanya ulasan kami karena sering melihat interaksi Mas Ibra dan Mbak Lusi yang romantis."

"Memangnya saya buku, harus diulas segala. Apa perlu dibuat peraturan baru, larangan bergosip?" Ibra memicing, "Terutama menggosipkan bosnya."

Ayana tak bisa mengelak, gara-gara mulutnya yang tak bisa dikontrol, teman-temannya harus ikut menanggung hukuman. Gadis itu menggeleng cepat.

"Jangan lah, Mas. Maaf, ya. Anggap aja tadi saya salah ngomong."

Tak ada jalan lain, bergosip di depan orangnya langsung rasanya nano-nano luar biasa. Dia tak mau kehilangan pekerjaan, apalagi kehilangan teman-teman. Ayana memilih meluruhkan ego, toh tak ada salahnya meminta maaf.

"Saya maafkan kamu. Asalkan kamu mau menolong saya. Itung-itung ngasih kado juga."

Kepala yang semula menunduk kini kembali terangkat. Ayana menatap bosnya dengan kening berkerut. Isi kepalanya penuh dengan prasangka.

"Menolong apa lagi, Mas?" lirihnya seraya mengerjap menatap wajah Ibra yang juga tengah menatapnya lembut.

"Tolong jadi pacar pura-pura saya."

Suara itu kembali lagi.

Ayana menutup mata dan menggeleng pelan, mengusir bisikan-bisikan setan di telinganya. "Kenapa harus saya, sih, Mas?"

"Karena hanya kamu harapan saya, Ayana."

-o0o-

Mau nggak, ya?

Udah ketebak, kan, siapa Ibra?

Yang belum tahu, bisa cek youtube aku, Vita Savidapius. Cari aja Ekstra Part 2 dari novel ....(cari aja, deh! Nanti juga ketemu 🤭)

27 November 2023
Revisi 20 Juni 2024
Vita

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top