⿻⃕⸵Chapter XXII៚݈݇

"Tunjukkan dirimu! Aku tahu kau mengikuti kami!" ucap Alwen tegas, ia meninggikan suaranya.

Mereka semua terbelalak, kaget dengan orang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Padahal sebelumnya tidak ada apa-apa, bayangan saja tidak ada.

"Agie?" ucap Zen terkejut. Ia melompat turun dari kucingnya, hampir jatuh, tapi ia berhasil menjaga keseimbangan. Melihat itu, Xan bergegas melompat dari kucingnya juga. Berlari menghampiri Zen, lalu menahan pergelangan tangannya, mencegah kakaknya menghampiri Agie.

Zen melirik Xan sekilas, kemudian kembali menatap Agie. Anak itu kelelahan. Kakinya gemetar, mulutnya terbuka lebar meraup rakus oksigen di sekitarnya, wajahnya dibanjiri peluh, tampak pucat setelah berlari mengejar kucing-kucing yang berlari begitu cepat.

"Yang Mulia!" Aie berucap dengan lantang. Berusaha berdiri tegak dengan kaki gemetar dan napas yang tersengal-sengal. "Saya mohon, izinkan saya ikut. Saya berjanji, saya akan menjadi pengikut yang setia. Rela berkorban demi Yang Mulia." Agie menundukkan separuh badannya, membungkuk hormat, masih dengan napas yang terengah-engah.

Xan mengeratkan gigi-giginya. Ia tidak bisa lagi percaya pada orang asing setelah salah satu dari anak-anak itu-Reno-jelas telah melukai kakaknya. Dan melangkah ke depan Zen, mendorongnya sedikit agar mundur. "Kau pikir aku akan percaya, huh?! Setelah apa yang temanmu lakukan pada Kakakku. Kau bilang akan jadi 'pengikut setia yang rela berkorban'? Jaminan apa yang kau berikan agar aku mempercayaimu bahwa kau tidak akan berkhianat?" Matanya menatap dengan tajam. Mengintimidasi.

Agie masih membungkuk. Memohon agar dirinya diizinkan ikut. "Kepala saya jaminannya. Jika saya melakukan tindakan yang mencurigakan, Anda bisa memenggal kepala saya."

Xan tetap menatap tidak senang. Alisnya berkerut marah. "Dan jika hal itu terjadi, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."

"Sebelum itu, bagaimana kau bisa keluar dari panti? Kau menghajar para Kingt?" tanya Helene. Ia menatap Agie dengan intens. Dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas lagi.

"Tentu saja tidak. Saya menyelinap dengan kemampuan menghilang saya. Kalian hanya menempatkan Kingh Menengah di panti, mereka tidak bisa mendeteksi kehadiran saya walau saya berjalan di depan mereka." Agie kembali berdiri tegap. Tatapan matanya tidak kalah serius dengan yang lainnya.

Wajah Helene masih terlihat serius namun tetap lembut dan cantik, tidak garang. "Apa kau tahu, tindakanmu itu termasuk pelanggaran? Aku tidak tahu bagaimana caramu mencuri informasi rahasia ini, tapi itu merupakan pelanggan berat."

"Saya tahu. Saya siap menerima apa pun hukumannya. Bahkan jika hukuman mati sekalipun, tapi saya mohon izinkan saya untuk menebus kesalahan teman saya, Reno. Saya ingin menemani ke mana pun kaki Pangeran Zen melangkah, dan membawa pulang kembali Reno dengan keadaan sehat dan selamat. Dia adalah keluarga yang berharga bagi saya."

Alwen menghela napas sebelum akhirnya bertanya, "Apa keputusan Anda, Pangeran?"

"Agie itu temanku dan aku mempercayainya. Dia akan ikut dengan kita," jawab Zen dengan seulas senyum yang menggantung di bibirnya.

"Terima kas-"

"Jangan dekat-dekat!" Belum sempat Agie menyelesaikan ucapan terima kasihnya, Xan telah lebih dulu menyela. Maju ke hadapan Zen, menghunuskan pedang ke arahnya.

"B-baiklah, Yang Mulia." Agie tersenyum kikuk dengan alis yang mengkerut. Sepertinya sampai kapan pun Xan akan terus membencinya.

Roen mengangkat bahu acuh tah acuh. "Baiklah jika keputusanmu begitu. Lalu dia akan naik apa? Lihat mukanya, dia tidak mungkin terus berlari mengejar kita."

Agie tertawa hambar sebelum berkata, "Jujur saja, kukira aku akan mati karena mengejar dua ekor kucing." Wajahnya masih terlihat pucat, kelelahan. Ia bahkan belum sarapan. Agie selalu siaga di depan Istana sejak tengah malam. Tanpa tidur.

"Tapi kalau kau mau, kau bisa ikut bersamaku," kata Roen lagi, memberi usul yang langsung disambut galak oleh boncengannya.

"Apa?! Enak saja! Aku tidak mau duduk dempet-dempetan dengannya!" hardik Xan, menunjuk-nunjuk Agie dengan jari telunjuknya dan tatapan kesal. Sementara Roen malah tertawa, ia sengaja berkata demikian hanya untuk memancing amarah Xan. Sedikit hiburan sebelum perjalanan berbahaya ini dimulai.

"Jangan khawatir, dia akan ikut denganku," ujar Helene, sambil mengelus kepala belakang burung tunggangannya.

Perjalanan dilanjutkan. Mereka naik ke kucing masing-masing. Kembali melaju menuju Timur Laut.

⿻⃕⸙͎

Pagi berganti malam. Mentari berganti bulan. Gemerlap bintang memenuhi langit. Paduan suara hewan nokturnal sudah bernyanyi sejak beberapa jam yang lalu. Perjalanan hari ini cukup lancar meskipun Xander mengeluh berkali-kali. Hampir seluruh badannya terasa pegal dan kesemutan.

Helene merendahkan terbang burungnya, berjajar di sebelah Alwen. "Kita istirahat sebentar di sini, sudah waktunya makan malam."

Helene dan burungnya terbang rendah di dekat rombongan. Kucing yang ditunggangi Alwen dan Roen juga berjalan lambat, tidak secepat tadi pagi. Bukan hanya lelah, mereka memperhatikan semua yang mereka lewati, mencari tempat yang sekiranya bisa dijadikan tempat bermalam.

Setelah beberapa meter berjalan, mereka berhenti di sebuah bukit. Bukit itu cukup luas untuk membuat api unggun tanpa takut membakar tanaman di sekitarnya. Di bawah bukit itu terbentang pohon-pohon Birch besar berbatang putih yang menjulang tinggi ke langit.

"Kita istirahat di sini, sekalian bermalam. Sepertinya lokasi ini aman," kata Helene yang kemudian turun dari burung biru cantiknya. Disusul Gain dan Agie yang menumpang di tunggangan Helene.

Para penunggang kucing gagah itu juga melompat turun dari kucingnya masing-masing. Zen mengangkat kedua tangannya, menggerakkan ke segala arah seperti sedang melambai, melepas pegal. Bukan hanya tangan, kaki serta pinggangnya pun ikut sakit karena terlalu lama duduk di atas kucing yang berlari kencang. Menjaga keseimbangan di kondisi seperti benar-benar menguras tenaga.

"Akhirnya makan!" ucap Xan kegeriangan. Ia sudah sangat kelaparan sejak beberapa jam yang lalu, tapi Helen memaksanya untuk terus melaju. Dan tanpa sengaja, ternyata ucapannya barusan berbarengan Roen yaang juga mengatakan kalimat yang sama dengannya, sama persis. Roen juga sudah lapar.

Roen dan Xan saling pandang selama beberapa detik. Mengapa pula ucapan mereka bisa sama begitu? Tapi kemudian Xan membuang muka. Yeah, Xan juga kurang menyukai Roen. Alasannya karena dulu-sebelum Zen kehilangan ingatan-Zen sering menghabiskan waktu bersama Roen, entah itu berburu, berlatih, atau belajar materi-materi Kerajaan. Xan merasa tidak diperhatikan. Benar-benar kekanakan.

Hari semakin larut. Sorak ramai serangga malam makin nyaring di telinga. Houppelande hijau muda milik Helene teruntai sampai ke tanah, sedangkan sang pemilik sedang sibuk membolak-balikan daging rusa hasil buruan mereka tadi sore, lebih tepatnya buruan Xan.

Gain si Tabib Istana telah berganti profesi menjadi asisten koki dadakan Helene. Gain menambah kayu bakar, sesekali meniupnya agar api tetap menyala.

Alwen sebagai garda depan tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. Agie juga turut memantau dari atas pohon kalau-kalau ada hewan liar yang mendekat karena mencium aroma lezat dari rusa yang dipanggang Helene.

Xan berleha-leha sambil memperhatikan api unggun, menunggu daging itu matang. Reon dan Zen juga sama-sama menanti makan malam. Mata mereka fokus pada daging rusa yang berputar-putar, menunggu satu-satunya wanita di antara mereka menghentikan aktivitasnya sebagai tanda masakan itu sudah bisa dimakan.

Helene sangat pandai memasak, ia bisa menjadikan tanaman di sekitarnya menjadi rempah masakan yang lezat. Bibir merah muda Helene melengkung ke atas. Akhirnya rusa panggang itu matang. Helene mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi bubuk-bubuk hijau dari tas bawaannya.

"Apa itu semacam bumbu rahasia seperti di resep Krabby Patty milik Mr. Crab?" Zen menunjuk botol kecil itu penasaran.

"Aku tidak tahu siapa Mr. Crab yang kau maksud, ini hanya daun Rosemary yang sudah dihaluskan. Aku biasa menaburkan ini di setiap masakanku." Helene terkekeh sambil menaburkan bubuk Rosemary ke atas daging. Tangannya bergerak naik turun di sekitar daging seperti koki yang sedang menghirup aroma makanan.

"Apa ada rahasia lain yang bisa membuat makan menjadi sangat enak?" Zen ikut tertawa dengan pertanyaannya tentang resep rahasia Mr. Crab. Mr. Crab adalah salah satu karakter dari serial kartun favoritnya saat masih Sekolah Dasar. Tontonan wajib saat sarapan.

"Hmm ... kadang aku juga menggunakan Peterseli jika kehabisan Rosemary. Selain mempercantik makanan, Peterseli juga punya banyak manfaat untuk kesehatan tubuh." Zen mengangguk-ngangguk paham. Lain kali jika ia memasak, Zen akan menambahkan taburan Rosemary atau Peterseli di atasnya.

Gain membantu Helene membagikan daging rusa, memanggil Agie agar turun dari pohon untuk mengambil jatah makannya. Xan sudah habis dua potong, anak itu terlihat seperti orang kelaparan yang belum makan berhari-hari. Katanya sih, mumpung ayah dan ibunya tidak di sini, jadi tidak ada yang menegurnya soal tatakrama makan.

Roen makan dengan lahap. Ras Cane Mage memang menyukai daging, mereka kurang suka sayur-sayuran.

Alwen duduk di batang kayu tumbang dekat api unggun, menghabiskan jatah makannya dengan tenang. Alwen yang paling cepat menyelesaikan makan malam. Pria itu langsung berjaga lagi setelahnya. Begadang seperti Hansip di pos ronda sudah menjadi makanan kesehariannya.

"Ini enak sekali!" seru Zen dengan wajah sumringah. Rasa dagingnya mirip dengan daging sapi, tapi lembut dan empuk. Ditambah bumbu rempah yang meresap membuat daging itu semakin gurih dan lezat.

Bukan hanya mereka yang makan, kucing-kucing tunggangan mereka juga butuh makan, memulihkan energi setelah lelah berlari seharian.

"Kalian tahu? Tadinya kukira kita akan naik kuda atau jalan kaki seperti grup pahlawan dalam cerita. Tidak kusangka ada kucing sebesar dan segagah ini," ucap Zen kagum. Kemudian ia mengigit daging.

Roen tertawa lepas sebelum menjawab, "Kuda memang cepat, tapi kucing-kucing ini lebih cepat karena mereka bukan kucing sembarangan. Mereka merupakan salah satu hewan tercepat di Kerajaan Animare. Bahkan di sana selalu diadakan lomba menunggang kucing setiap tahunnya. Oh, dan mereka punya nama."

Roen melirik salah satu kucing yang sedang berbaring di atas rumput, menunjuk yang sebelah kiri. "Yang itu namanya Lilo, dia jantan." Kemudian Roen menunjuk kucing yang sebelah kanan. "Kalau yang itu Lila, dia betina."

Zen baru tahu kucing yang dinaikin ya itu bernama Lilo. Cara membedakannya ialah dengan melihat kalung yang dipasang di leher mereka. Kalung Lilo berwarna hijau, sedangkan kalung Lila berwarna kuning.

"Lagi pula grup pahlawan mana yang mau jalan kaki? Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengelilingi seluruh Kerajaan dengan berjalan kaki," sambung Roen. Ia menjilati jemarinya, sisa-sisa bumbu daging panggang menempel di sana. "Waktu yang kita punya tinggal sedikit. Kita tidak bisa santai dan menikmati apa yang kita lalui."

Suasana lengang sesaat. Hanya gemercik api yang membakar kayu hingga menjadi abu dan terbang tertiup angin. Nyanyian jangkrik dan hewan malam lainnya mulai senyap.

"Kau benar," ucap Zen setelah terdiam beberapa detik.

"Semuanya hati-hati!" Tiba-tiba Alwen berteriak. Ia mencabut pedang panjang di pinggangnya, memegangnya dengan erat. Kuda-kuda kakinya sempurna. Penuh kewaspadaan.

Begitu juga dengan Helene dan Roen. Mereka merasa ada sesuatu yang mendekat. Agie ikut waspada meskipun ia tidak merasakan apa-apa.

GDUBRAK!

Tumpukan kayu di api unggun roboh, apinya padam. Suara jangkrik tak lagi terdengar. Suhu dingin dengan cepat merambat kulit akibat padamnya sumber panas.

Srek! Srek!

Semak belukar di sekitar mereka bergoyang-goyang. Tidak sampai satu menit, mereka sudah dikepung. Sesuatu melompat dari balik semak, menyergap mereka. Ada juga yang melompat dari pohon. Hilang sudah suasana makan malam yang tenang dan menyenangkan.

⿻⃕⸙͎

#Chapter XXII

Note
Hai Hai! Apa kabar? 👋

Typo pasti tak terelakkan T~T
Omong-omong, ini sudah setengah jalan menuju 'Tamat' apa kalian ada tokoh favorit dalam cerita ini? Kalau ada, kasih tau dong ('・ᴗ・')

Kalo ga ada, ga aoa aoa

See you!!!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top