chapter 13

Acara timpuk menimpuk telah usai. Kini keduanya saling terdiam sembari menikmati pemandangan air kolam renang yang tenang tanpa pergerakan. Memberi jeda kepada satu sama lain untuk merenungkan apa yang akan menjadi bahan perbincangan selanjutnya.

Lius menyesap habis kopi di hadapannya. Sementara kopi milik Lee masih separuh. Tampaknya cowok itu tidak terlalu antusias minum kopi siang-siang seperti ini. Seandainya ada hot chocolate, batinnya. Ah, tiba-tiba ia rindu minuman itu dan cafe. Juga suasana di sana. Apa ia juga sedang merindukan gadis miskin itu? Entah.

"Apa kamu sudah siap mewarisi perusahaan?" Lius melempar pertanyaan tanpa menoleh. Akhirnya ia menemukan bahan perbincangan juga.  Pandangannya masih lurus tertuju ke arah kolam renang. Mencoba menenggelamkan pikirannya di sana.

Lee mendesah. Sepertinya beban di dalam batinnya belum berkurang hingga detik ini.

"Siap atau nggak, aku harus tetap melakukannya," tandas Lee bijak. Tumben.

Lius manggut-manggut mendengar ucapan adik sepupunya. Ya, Lee memang punya sisi lain yang tidak terduga di dalam hatinya. Di balik penampilannya yang bisa dikatakan sok artis itu, tersimpan sisi yang dewasa dan bijak. Tapi, jika dihitung persentasenya cuma sedikit. Hanya seujung kuku.

"Mama yang memintanya sebelum meninggal," gumam Lee sembari menoleh. "sepertinya dia tahu kalau akan pergi. Dia juga sempat menanyakan kabarmu," ungkap Lee.

"Benarkah?" gumam Lius seperti terhipnotis. Dirinya dengan mama Lee bisa dikatakan cukup dekat. Saat Lee masih kecil, mamanya sering menitipkan anak itu pada Lius agar ia menjaganya sebentar. Tapi, semenjak keluarga Lius pindah rumah, hubungan mereka sedikit merenggang.

"Mama menginginkan kematiannya sejak awal. Itulah kenapa dia nggak pernah mau minum obatnya," tandas Lee kemudian. Mengungkap fakta sebenarnya. Mungkin mama sudah terlalu lelah menjalani kehidupan ini. Siapa yang suka berada pada posisi mama? Cacat, suami yang berselingkuh, dan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dan mama sudah menentukan pilihannya.

Lius tak berkomentar. Lee sudah pernah menyinggung hal ini sebelumnya. Dulu dan hanya sekilas. Ia hanya menepuk pundak Lee pelan. Sekadar untuk menguatkan hati adik sepupunya. Setidaknya ia ingin menularkan sedikit kehangatan yang ia punya.

"Semoga dia tenang di sana," gumam Lius pada akhirnya. Ia mendesah pelan dan bermaksud mengganti topik pembicaraan. Agar suasana di hari yang cerah itu tidak berlarut-larut dalam kesedihan. "jadi, kamu nggak akan pergi ke cafe lagi?"

"Hmm." Lee berpikir sebentar. "aku nggak tahu. Aku belum tahu sesibuk apa pekerjaan di sana."

Lius mengangguk pelan. Setidaknya ia paham dengan apa yang dikerjakan Lee nantinya. Ia tidak akan punya waktu lebih meski hanya untuk sekedar berkunjung ke cafe.

"Berarti nggak akan ada keributan lagi di cafe," gumam Lius sembari tersenyum. Ia melirik ke arah Lee dengan maksud menyindir. "sekarang keributan akan terjadi di perusahaan." Lius tergelak usai mengucapkan kalimat itu.

Lee menyunggingkan senyum pahit. Sindiran Lius tepat sasaran rupanya.

"Tentu," sahut Lee cepat. "di manapun aku berada, aku pasti akan membuat keributan sampai orang-orang akan mengingatku seumur hidup mereka." Sifat angkuh yang semula terpendam beberapa saat lalu, muncul kembali ke permukaan. Bagaimanapun juga sulit untuk mengubah sifat seseorang dalam sekejap. Apalagi seseorang bernama Jonathan Lee.

"Tapi, paling nggak, Danisa bisa bernapas lega sekarang," tandas Lius jelas-jelas ingin menyindir Lee.

Danisa? batin Lee tersentak.

"Apa kamu mencemaskannya?" tanya Lee. Ia sedikit mencondongkan badannya sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa inchi dari Lius.

"Hei, apa-apaan kamu, Lee?" Lius mendorong tubuh Lee agak menjauh darinya. Rasanya risih terlalu dekat dengan sesama jenis meski ia adik sepupunya sendiri. Ia memasang wajah cemberut seketika.

Lee menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa dan menyatukan jari-jemarinya di belakang kepala. Menumpukan kepalanya di sana.

"Kenapa kamu nggak bilang aja kalau kamu menyukainya," gumam Lee seraya menerawangkan tatapannya ke langit yang berwarna biru pucat. Ia memicingkan kedua matanya menahan sebagian sinar matahari yang masuk ke dalam indera penglihatannya.

"Menyukai siapa?" balas Lius terheran-heran. Dahinya sampai berkerut lebih dalam. "Danisa?"

Lee mendesah kesal. Lius sudah tahu siapa yang dimaksudnya masih saja bertanya.

"Siapa lagi kalau bukan gadis miskin itu," gumam Lee malas. Sebenarnya ia tidak perlu menjawab pertanyaan Lius. Karena jawabannya sudah jelas, Danisa.

Lius tersenyum tipis.

"Dia nggak seburuk itu, Lee," ucap Lius.

Lee mendengus keras-keras. Ia tidak pernah mengatakan hal jelek tentang gadis itu. Ia hanya menyebutnya miskin.

"Dia itu gadis yang tangguh, Lee," lanjut Lius. Rupanya ia ingin mengatakan semua yang ia ketahui tentang gadis itu. "dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang sering sakit-sakitan. Di rumah, ayahnya jualan gorengan. Kamu tahu, penghasilan berjualan gorengan nggak cukup untuk biaya hidup mereka. Itulah kenapa Danisa bekerja di tempat kita," tutur Lius mengungkap sekelumit kisah tentang latar belakang Danisa.

"Lalu ibunya?" Tampaknya Lee menyimak pemaparan Lius dengan sangat baik. Ia juga tertarik untuk mengorek kisah hidup gadis itu lebih dalam lagi.

"Ibunya pergi untuk menikah dengan pria lain."

Oh. Sampai di situ cerita tentang Danisa terhenti. Lee sudah bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kehidupan gadis itu yang bisa dikatakan 'sulit'. Pantas saja jika penampilan Danisa tidak seperti gadis-gadis lain. Gadis itu tidak punya uang lebih untuk membeli kebutuhannya sebagai seorang wanita. Pakaian, tas, aksesoris, peralatan make up, dan benda-benda penunjang penampilan lainnya. Bagi orang seperti Danisa, bisa makan sehari dua atau tiga kali saja merupakan sebuah berkah tidak terkira. Ya, ya. Lee mulai memahami kehidupan di bawah standar kehidupannya.

"Kamu mulai memikirkan gadis itu?" sentak Lius. Kali ini ia menemukan sorot mata yang berbeda terpancar dari wajah Lee.

"Eh, bukannya kamu yang cerita tentang gadis itu," elak Lee membela diri. "otomatis aku membayangkan kehidupan gadis itu lah." Lee masih ngotot dengan alasan yang dibuatnya. Tapi, jika dipikir kembali alasan yang dibuatnya memang tepat.

"Oh." Lius menarik kembali kecurigaannya. "kupikir kamu tertarik dengan Danisa."

"Bukannya kamu yang tertarik dengan gadis itu?" tukas Lee cepat dan penuh dengan tuduhan. Juga rasa ingin tahu.

Lius tergelak mendengar tuduhan Lee.

"Benarkah aku terlihat seperti itu?" Lius balik tanya. Masih dengan sisa ekspresi tawa bersarang di wajahnya.

"Mana aku tahu." Lee mengedikkan bahunya. Cuek.

Lius menarik napas panjang dan dalam.

"Danisa itu seperti adikku sendiri, Lee." Lius menggumam. "aku punya standar sendiri dalam mencari pasangan. Bukannya aku ingin mengatakan Danisa bukan gadis yang baik, hanya saja dia terlalu polos buatku. Aku hanya ingin menemukan wanita yang matang dan siap menikah." Lius mengeluarkan unek-unek yang mengganjal di dalam hatinya selama ini.

"Jadi, kamu sudah kebelet ingin menikah?" cecar Lee cepat.

"Nggak juga," jawab Lius terkesan santai. "nanti kalau sudah saatnya ketemu, pasti ketemu. Jodoh nggak akan ke mana-mana, kan?" Lius mengedipkan sebelah matanya disertai sebuah senyum penuh arti.

Lee mengangguk. Dalam hati ia hanya bisa membenarkan ucapan Lius. Kakak sepupunya itu memang benar dalam hal ini, meski ia benci mengakui jika Lius lebih pandai dalam bermain kata-kata.

"Jadi, kamu boleh mendekati gadis itu sekarang," ucap Lius melanjutkan obrolan.

"Apa? Siapa?" tanya Lee spontan karena kaget. Bisa-bisanya Lius menjebaknya dengan ucapan seperti itu.

"Kamu. Danisa."

Lee terdiam. Dia kehilangan akal selama sedetik terbodoh dalam hidupnya.

"Hei... "

"Hari ini cuaca panas banget, Lee," potong Lius cepat. Sebelum Lee berhasil menyerangnya balik. "bagaimana kalau kita lomba berenang? Sepertinya akhir-akhir ini berat badanku naik lagi," ajak Lius mengalihkan semua perbincangan yang dimenangkannya. Ia mulai bangkit dari sofa dan menggeliat pelan.

"Baru sadar kalau perut sudah mulai gendut?" sindir Lee parah.

Lius terlalu pandai berpura-pura tak mendengar ucapan Lee. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar Lee dan mulai mengorek isi lemari milik adik sepupunya itu.

"Mana celana renangmu, Lee?!"

Ah, sial. Lee melompat dari atas sofa dan segera berlari menyusul Lius ke dalam kamar. Isi lemarinya bisa berantakan jika ada makhluk itu, batinnya kesal.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top