EXTRA PART II

JIHAN

Hari ini aku sudah memasak berbagai macam menu makanan sesuai permintaan Raisa. Oh ya, aku belum bilang ya kalau hari ini aku dan Raisa berencana untuk piknik bareng? Ya nggak jauh-jauh amat sih. Soalnya Nathan sudah ngasi ultimatum agar acara pikniknya kalau bisa tempatnya yang dekat-dekat saja, takutnya nanti aku kecapekan. Tahu sendiri kan, aku lagi mengandung. Tapi aku sepakat sih, selain akhir-akhir ini aku lebih sering kecapekan, aku juga kadang suka mual tiba-tiba. Hmm...

Saat aku tengah sibuk membereskan kotak bekal yang akan aku bawa nanti, aku melihat suamiku... eh maksudnya Nathan keluar dari kamar sambil mengusap rambutnya yang terlihat basah menggunakan handuk kecil. Dia berjalan ke arahku, pasti dia mau colek-colek masakanku deh. Iya, dia keseringan banget begitu.

"Masak apa sih? Wangi banget. Suamimu jadi laper ini." Keluhnya.

Aku tersenyum tipis menanggapi. "Ini aku masak sambal balado, sayur bening, ayam goreng dan sup ayam. Sesuai pesanan nyonya Fairis." Jawabku.

Nathan menggeleng pelan lalu mengambil satu potong ayam goreng yang memang sudah ku sisihkan untuknya. "Hmm, kamu jangan capek-capek. Kalau bisa nanti aku minta Fairis delivery. Biar jangan kamu yang masak."

"Nggak papa. Jarang-jarang ini Raisa minta dimasakin. Hiihihi."

"Hm ya udah. mau berangkat sekarang?" tanyanya saat melihatku sudah memasukkan kotak bekal kedalam kantung.

Aku mengangguk antusias. Nathan pun beralih mengambil kantung itu untuk dibawa ke mobil. Aku ikut mengekorinya dari belakang. Sebelum benar-benar sampai di mobil, aku menahan langkahnya. Nathan mengernyit bingung, namun tidak lama ekspresi bingungnya itu berubah menjadi cengiran khas Nathan saat merasa malu.

"Handuknya mau dibawa piknik juga?" tanyaku menggodanya.

Dia menggeleng pelan lalu mengecup pipiku sekilas. Aku pun menggeleng pelan melihat tingkahnya. Sebelum pergi, aku pun menjemur handuk itu terlebih dahulu. Tak lupa mengunci pintu rumah dan juga pagar. Setelah merasa aman, aku kemudian membuka pintu penumpang.

"Udah?" tanya Nathan. Aku mengangguk mengiakan. Namun, bukannya menjalankan mobilnya, Nathan malah mendekat ke arahku, sangat dekat hingga aku harus memundurkan tubuhku sampai begitu erat menempel di kursi.

"Seat belt-nya belum kepasang." Ucapnya sambil melirikku dengan tatapan jail. "Kamu bayangin apa hayo."

Aku menghela napas sambil mencibir pelan. Belum sempat aku membalas ucapan Nathan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Nama Raisa tertera di sana.

"Assalamualaikum, halo."

"Waalaikumsalam, Ji. Udah berangkat belum?"

"Udah. ini udah mau jalan."

"Nggak lupa sama pesenan gue kan?"

"Hmm. Udah kok."

"Yey! Makasih ya Jijiku sayaaang."

"Halah, giliran ada maunya aja langsung bilang sayang."

"Hehehehe. Eh, Ji. Hari ini Afifa nggak ikut dulu ya. Dia lagi rewel."

"Yaahhh. Tapi Alif ikut kan?"

"Iya, dia lagi anteng ini. Hahaha."

"Ya udah. Nggak sabar ini pengin ketemu Alif. Sayang banget Afifa nggak bisa ikut."

"Hmm, iya. Ya udah ya. Sampai ketemu di sana."

"Iya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Aku menaruh ponselku di dalam tas lalu menghela napas pelan. Sayang sekali Afifa tidak bisa ikut. Padahal ia sudah membayangkan bermain bersama si kembar gembul itu.

"Raisa ya?"

Aku menoleh ke arah Nathan yang sedang sibuk menjalankan kemudinya. "Iya. Dia nanyain udah berangkat apa belum. Terus katanya, Afifa nggak bisa ikut."

"Loh, kok gitu?"

"Iya, kata Raisa, Afifanya lagi rewel. Jadi yang ikut cuma Alif."

Nathan beroh ria. Aku pun kembali mengambil ponselku, membuka aplikasi instagram dan berselancar di sana. Aku kemudian meng-scroll ke bawah, seketika kedua mataku sedikit membulat kaget. Sebenarnya bukan apa-apa, aku hanya melihat postingan terbaru Rama, tapi yang membuatku sedikit kaget adalah foto undangan yang dipegangnya bersama Gita. Belum lagi caption-nya yang semakin membuatku gemas.

@Rama_AR

Dateng ya, guys.

With calon masa depan. @gitgitlv

Aku menggeleng pelan, benar-benar tidak percaya. Bagaimana bisa Rama dengan Gita tiba-tiba mengumumkan pernikahannya tanpa sepengetahuanku. Setahuku, mereka berdua jarang terlihat bersama. Dulu, di kampus pun mereka hanya saling sapa seadanya saja. Ckckck, benar-benar ya. Oh ya, dan jangan lupa ingatkan saya untuk memaki keduanya karena telah merahasiakan semuanya dariku, sampai harus tahu lewat postingan di instagramnya, huh. Apa-apaan itu.

"Kamu kenapa?"

Aku menolehkan kepalaku ke arah Nathan. "Ini, temenku. Mau nikahan juga."

"Temen? Yang mana?"

"Yang itu loh, Mas. Rama sama Gita."

"Rama yang pernah naksir kamu kan?"

Keningku mengerut. "Kok Mas bisa tau?" tanyaku penasaran. Perasaan Mas Nathan cuma pernah ketemu pas waktu aku ke pantai deh. Itu pun cuma kenalan bentar.

"Ya tau lah. Apa sih yang aku nggak tau tentang kamu." Ujarnya sambil mengelus pelan kepalaku.

Aku hanya bisa mendengus pelan mendengar ucapannya itu. Ya, ya. Terserah saja lah Masnya mau tahu dari mana.

"Kamu dulu kok nolak dia?"

"Hah? Maksud Mas?"

"Si Rama itu."

"Ya nggak papa, Mas."

Mas Nathan terkekeh pelan, membuatku menatapnya dengan tatapan kesal. "Dasar kamu ya. Ngakunya nggak papa, padahal mau jawab 'aku nolak dia dulu karena udah terlanjur cinta sama kamu, Mas.', jawab gitu aja kok susah amat."

Aku memelototkan kedua mataku sambil memukul pelan lengannya, mencoba menyadarkannya karena sudah terlalu kepedean. Mas Nathan pun terbahak.

"Udah sampai ini." Ujar mas Nathan sesaat setelah memarkirkan mobilnya.

Aku sudah bilang belum sih, kalau kami lagi piknik dadakan di sebuah taman bermain anak. Itu semua murni permintaan Raisa. Aku yang memang tidak terlalu tahu tempat beginian pun hanya bisa mengiakan saja. Awalnya mas Nathan nolak, katanya kenapa tidak di pantai atau tempat rekreasi lainnya gitu. Tapi mengingat ada Alif, mas Nathan jadi ikut iya-iya deh. Hmmm.

"Eh, Mas. Di sana udah ada kak Fairis sama Raisa." Tunjukku ke arah dua pasutri yang terlihat sedang berfoto-foto ria. Sebenarnya kak Fairis hanya menjadi tukang foto sih, dan modelnya jelas si Raisa dan dede Alif.

"Assalamualaikum. Sibuk banget sih." Sapaku

Raisa dan kak Fairis otomatis berbalik. "Waalaikumsalam. Ya ampun, Ji. Ayo sini, sini."

Aku dan mas Nathan mendekat, untungnya Raisa sudah menggelar tikar, kalau tidak, bisa-bisa aku mengamuk karena disuruh bawa ini itu. Biasalah, males banget kalau harus rempong. Sudah bawa rantang, disuruh bawa tikar pula. Huhft. Untung saja itu tidak terjadi ya, karena kalau sampai terjadi, ya jelas saja aku menolak ajakan Raisa. Mending juga meet up di kafe atau resto. Kan sekarang sudah banyak tuh kafe dan resto yang menyediakan tempat bermain anak di dalamnya.

Setelah aku mengatur semua kotak makan yang kubawa, aku langsung mengalihkan pandanganku ke sekeliling taman itu. Ada beberapa orangtua yang juga ikut menggelar tikar hanya untuk mengawasi anak-anak mereka yang tengah asyik bermain. Aku tersenyum samar, membayangkan nanti setelah anakku lahir, aku juga akan seperti mereka. Menjadi orang tua yang bahagia karena memiliki putra-putri yang lucu-lucu.

Lamunanku buyar saat sebuah tangan menepuk pelan pundakku. "Eh, Cha. Kenapa?" tanyaku heran.

Raisa tersenyum tipis lalu ikut duduk di sampingku. Ia kemudian mengelus pelan perutku yang masih terlihat rata. "Selamat ya, di sini udah ada calon temennya Alifa dan Afifa."

Aku tersenyum. "Iya. Doain aja biar calon ibu dan anaknya sehat."

Raisa mengangguk pelan. "Pastinya. Gimana kalau anak lo juga kembar? Cewek cowok juga. Ih pasti ucul-ucul deh, Ji."

Aduh, aku jadi terbayang kan? Tapi alhamdulillah ya, kalau sampai itu terjadi. "Hiihihi. Iya. Semoga aja sih. Eh, Cha. Gimana sama Yun Ah? Kemarin dia kan yang paling semangat pengin ikut meet up."

"Oh iya, dia kemarin ke Korea. Mendadak juga sih katanya. Soalnya neneknya di sana lagi sakit."

Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Eh, Ji. Liat deh tuh. Kak Natnat kayaknya emang udah ada aura-aura kebapakannya. Liat tuh cara dia main sama Alif. Hihihi."

Aku mengikuti arah pandang Raisa. Dan tak jauh dari tempatku berbincang dengan Raisa, aku melihat Mas Nathan dan Kak Fairis sedang bermain bersama Alif. Pemandangan itu sukses membuat hatiku berdesir hangat.

"Ya Allah, adem banget ya ngeliat mereka." Ujar Raisa pelan.

Aku menyetujui ucapan Raisa. Tidak bisa dipungkiri, aku begitu bahagia melihatnya tersenyum. Entah sejak kapan, aku jadi semakin cinta saat melihatnya bisa terseyum bahagia.

Mas Nathan ikut melihat ke arahku, dia tersenyum, aku pun ikut tersenyum kepadanya.

Meski hanya lewat senyuman, di dalam senyuman itu terkandung begitu banyak cinta. Begitu kalimat yang pernah terucap dari bibirnya.

***

Aku merasa beruntung memilikinya.

Mungkin itu kalimat lebay dan pasaran, tapi merasakan arti dari kalimat itu sendiri... benar-benar menimbulkan efek yang luar biasa untukku.

***

Selesaaaiiiii

Fiuh. Akhirnya yaaa...

Terima kasih untuk teman-teman semua yang selalu menunggu cerita ini. Terlebih untuk teman-teman yang selalu memberikan komentar, vote, kritik dan saran untuk cerita-ceritaku.

Salam sayang dan cinta dari Natnat dan Jiji

Sampai jumpa di ceritaku yang lain.

Dan, jangan lupa baca JEAN dan Cuma Ngefans, Kok!.

Yuuuuk Ramaaikaaaaan!

Love,

Windy Haruno

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top