[tiga sembilan] he said this is not real
"Gyan, menurut gue, lo harus fokus lihatin jalan sih. Please?"
"Gue takut pas noleh, ternyata lo nggak ada, dan semua yang terjadi tadi, semua kalimat surga lo tadi hilang juga. Gue nggak siap kalau semua itu cuma mimpi." Kepalanya menggeleng-geleng pelan, ia masih tetap terlihat berusaha keras membagi fokusnya pada jalanan di depan kami dan ... diriku. "I don't know how to convince myself everything is real."
"Oh My God," lirihku, sudah nyaris frustasi. Karena aku sudah kehabisakan kata-kata untuk membuatnya yakin dan percaya aku ini manusia beneran, bukan hantu apalagi objek di dalam daydream-nya. Semua kalimat sudah aku coba anyway. "Yaudah terserah lo." Aku bersedekap, menyandarkan tubuh, mengembuskan napas kencang, dan menatap kosong kendaraan di depanku sana.
Tiba-tiba aku mendengar sebuah tawa pelan, tentu saja pelakunya dalah lelaki di sebelahku. "Kalau gitu gue percaya sekarang lo manusia beneran."
"Seriously, Gy?" tanyaku lelah.
Dia mengangguk. "Karena kalau ini mimpi, nggak mungkin lo ada kekurangan, barusan lo keliatan manusiawi banget, bisa bete juga." Alasan macam apa itu? "Ya Allah, jadi harus lewatin sepanjang itu buat bisa ngerasain perasaan ini?"
"Worth it nggak tapi?" tantaku iseng, sambil menahan geli.
"Ya lumayan lah."
"Gyan, please!" Aku tak bisa lagi menahan tawa, dia pun sama. Tertawa kencang. Padahal nanti dia harus pulang dengan memesan taksi online, karena tadi ngeyel mau mengantarku. Aku sudah bilang, aku bukan pemula dalam berkendara, mau malam hari rasanya tidak masalah juga. "Lo yakin mau ngomong sama Ibu sekarang, Gy? Nggak mendadak banget gitu?"
"Apanya?"
"Ngomong kalau kita berhasil memperbaiki."
"Lho, kirain mau bilang kalau kita mau nikah."
"What?!" Telingaku sepertinya salah mendengar, dan aku tidak suka kejutan seperti ini. "Gyan, yang bener aja dong!"
"Tadi bukannya lo yang bilang mau nikahin lo kapan?"
"Ya nggak besok juga, Gyyyy!"
Dia tertawa kencang. "Iya, yaaa. Ngebet amat nih Gyan." Kekehannya terdengar menyebalkan, dia melirikku sambil tersenyum sangat manis, senyum ... ya Tuhan, senyum yang sangat menarik dan menenangkan. "Gue takut lo besok berubah pikiran dan kabur ke luar negeri, Ra. Sumpah."
"Gue bukan koruptor, please."
"Banyak kok yang bukan koruptor tapi tetep pindah kewarganegaraan ke sebelah."
Aku meringis.
"Kita, kan, nggak tau mereka kabur dari apa. Dari sistem yang buruk di sini, dari cinta, dari orang-orang jahat."
"Lo mau ikutan pindah?" tanyaku geli.
"Lo mau?"
"Edaaaann lo!" Aku terbahak-bahak. "Enggak lah, gue nggak kepikiran pindah negara, adaptasi sama semuanya. Kuliah aja bolehnya di area sini, boro-boro mau pindah negara, Gy."
"Kan, statusnya beda. Ikut suami."
Tawaku benar-benar lepas. Gyan pun sama. "Ada yang beneran udah terbang ke angkasa nih!"
"Lo beneran sayang sama gue atau kasihan karena lihat gue ditinggal sama Dinda, Ra?" Ya Tuhan ... pertanyaannya, tak disangka-sangka. "Ngeri juga hidup gue, abis ditinggal Mega, coba kenalan sama lo malah naksir, eh ditolak, kenalan lagi sama Dinda, ditinggal pergi anjir. Lo cuma kasihan ya sama gue?"
"Enak aja!" jawabku tidak terima. "Lo lihat deh nanti gimana, gue yakin lo pinter cuma buat bedain perlakuan gue ke elo tuh karena kasihan atau sayang. Lo pinter, kan?"
Dia tertawa pelan. "Can hardly wait!"
Begitu memasuki area perumahanku, seketika kami sama-sama terdiam. Tidak ada tawa atau suara, seolah masing-masing dari kami mempersiapkan diri untuk menghadapi Ibu. Padahal, kalau dipikir-pikir, kabar yang akan kami bawa justru kabar bahagia yang memang paling dinantikan Ibu.
Tapi, anehnya, entah kenapa ini malah menjadi yang paling mendebarkan, dan ... menakutkan. Setidaknya, untukku. Aku tidak tahu bagaiaman dengan Gyan. melihat wajahnya, dia sepertinya juga mengalami perasaan yang sama. Mungkin bedanya ... tidak ada bedanya. Hanya memang aku tidak bisa melihat dan merasakan emosinya secacara nyata.
Mobil sudah terparkir sempurna, mesin mobil sudah mati, tapi kami berdua belum ada yang membuka sabuk pengaman, apalagi keluar dari sini. Aku tidak berani melirik Gyan, karena sedang fokus pada perasaan gugupku sendiri. Sibuk memegang dadaku, mengelusnya pelan agar detak jantungku lebih tenang. Pikiranku harus tenang. Aku tidak mau ada salah kata atau tindakan nanti di depan Ibu dan memperburuk semuanya. Aku tidak mau mengulang semuanya dari nol lagi.
"Ready?"
Aku menoleh, menatap Gyan sedih, takut, atau apa perasaan ini, aku tidak paham. Terlalu banyak yang aku rasakan akhir-akhir ini.
"Ini seharusnya lebih mudah daripada waktu lo bilang kalai kita lagi ada masalah, Ra. Kalau yang itu aja lo bisa beresin, ini pasti akan lebih gampang lagi. We'll do it together. We have each other."
Aku mengangguk.
"Minggu besok, kan, nikahnya?"
Aku menatapnya lelah. Gyan tertawa, dan pada akhirnya aku juga ikut tertawa. Aku tahu, dia akan berusaha semaksimal mungkin membuatku merasa tenang. Dia akan berusaha menyingkirkan apa pun yang ada di depan—semua hal bukan selalu tentang benda, jika itu mengangguku, bahkan meski hal yang selama ini dia sukai. Entah ini bentuk effort atau sacrifice atau justru bentuk keegoisanku.
Aku membatu begitu masuk ke rumah dan melihat Ibu duduk di sofa ruang tamu ... menungguku kah? Saat dia sadar kehadiranku, ekspresi leganya muncul, dan dia berjalan cepat menghampiriku, memelukku erat. Semua persiapan yang tadi aku kumpulkan di perjalanan, terutama di dalam mobil, mendadakn musnah, digantikan rasa bingung melihat Ibu.
"Bu?"
"Kamu nggak perlu maksa diri kamu harus selalu nurutin Ibu, Ni. Ibu minta maaf karena selalu maksa kamu buat ini dan itu, harusnya Ibu tau perasaan nggak pernah bisa dipaksa. Hidup bukan melulu tentang mencari pasangan, ada banyak sumber kebahagiaan lain."
"Bu, aku—"
"Kita percayain semuanya ke Allah aja ya, Ni, sambil jalanin hidup yang ada. Kita sama-sama berusaha bahagia dan nikmati waktu kita. Nanti Abang akan hidup sama keluarga barunya, tinggal kita. Harusnya Ibu manfaatin waktu sama kamu, bukan malah sibuk maksa kamu harus cepetan nikah."
"Ibu, sebentar, Nini. Gini-gini." Aku melepas pelukan kami, menatap Ibu sedih karena dia terlihat habis menangis. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan malam ini? Dia pasti tadi panik sekali ketika aku pergi dan menungguku di—wait, Abang juga menungguku? Aku melihat dia keluar dari arah dapur dan membawa 2 mug di tangannya. "Ibu sama Abang nungguin Nini?"
Kepalanya mereka mengangguk.
Ibu mengelus lenganku, lalu melirik Gyan yang berdiri di belakang. "Ibu udah cerita sama Abang, Ibu minta maaf dan nggak akan marahin kalian berdua kok. Kalian berhak hidup sama orang yang kalian cintai dan kalian mau, bukan karena paksaan." Ibu tersenyum pada Gyan yang sudah bergerak maju, berdiri di sebalahku. "Ibu nggak marah kalau Nak Gyan udah dapet yang baru."
"Ibu nggak ada yang dapet orang baru di sini." Aku mengembuskan napas. "Tadi aku ke rumah Gyan buat beresin semuanya, dan sekarang aku sama Gyan mau ngomong sama Ibu."
Ibu terdiam, lalu kembali duduk. Begitu pun aku, Gyan, dan Abang, ikut duduk dan ini jadi seperti sidang keluarga sungguhan. Aku tidak ingat kalau ada kemungkinan Abang juga belum tidur dan menungguku. Kalau nanti, dia memberi pertanyaan sulit dan jebakan untukku dan Gyan, tamatlah riwayatku.
Tapi aku tidak peduli, itu akan aku pikirkan nanti.
"Ni?" Ibu menyadarkanku kembali.
Aku menggeleng pelan. "Selama ini, yang bikin semuanya sulit itu Nini, Bu." Aku tahu, Gyan menatapku, dia pasti tidak setuju dengan kalimatku. Tapi aku bicara fakta, aku yang menyulitkan Gyan dan hubungan ini karena keegoisanku, karena rasa sombongku. "Nini yang nggak mau coba buka hati ke Gyan. Gyan udah maksimal, Gyan luar biasa. Dan Nini beruntung banget, Nini sadarnya belum terlambat, Bu, Nini berani ungkapin perasaan Nini ke Gyan, nggak ngulangin masa lalu kedua kali. Nini berani bergerak, Bu."
Ibu menutup wajahnya, aku mendengar isak pelannya. Mungkin dia juga sama tidak menyangkanya denganku, bahwa aku akan ada di tahap ini, berani melakukan hal ini. Aku pasti sudah belajar banyak dalam kehidupanku.
"Nini sama Gyan berhasil perbaiki semuanya, Bu. Kita berdua ..." Aku menelan ludah, mulai bingung mencari kata-kata untuk menjelaskan hubungan kami. "Kita berdua ...."
"Ibu dan Mama berhasil bikin kita berdua kembali percaya sama hubungan." Gyan yang melanjutkan dengan lancar. Aku melihatnya tersenyum menatap Ibu yang sekarang menatap Gyan sambil berkaca-kaca. "Terima kasih banyak karena udah melahirkan Nini dan didik Nini jadi perempuan hebat yang bisa buka pikiran Gyan, bikin Gyan kembali percaya sama hubungan yang baik dan pernikahan. Terima kasih banyak karena udah sabar nemenin Nini melewati patah hatinya, dia tadi dengan keren dan berani ngungkapin perasaannya ke Gyan. Pasti susah banget buat Nini, ya, Bu? Tapi tadi Nini hebat, ngomong banyak dan semuanya bikin Gyan speechless." Ya Tuhan ... yang dia lakukan sekarang pun sama, membuatku tak bisa berkata-kata. Apalagi saat dia menatap Abang dan Ibu bergantian, lalu kembali berbicara. "Abang, Ibu, aku mungkin terlahir dan besar di keluarga yang nggak bisa dibanggain—papaku." Gyan tersenyum ... getir, aku tahu perasaannya. "Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik buat Nini. Aku udah tahu gimana terlukanya Mamaku sendiri, jadi aku akan belajar banyak dari itu. Tolong restui kami."
Ibu membuka tangannya lebar, menangis sambil bilang, "Sini. Sini, Nak." Lalu Gyan menyambut pelukan itu, dan mereka berpelukan, terlihat mengharukan di mataku. "Kamu harus tahu, sejak awal Ibu udah suka sama kamu, kan? Perasaan itu nggak berubah, dan Ibu percaya kamu akan melakukan yang terbaik buat Nini."
"Terima kasih banyak, Ibu."
Ibu melepas pelukan Gyan, lalu bergantian memelukku, menciumi wajah dan kepalaku sambil terus meminta maaf.
Aku juga melihat Abang dan Gyan berpelukan. Abang memang tidak mengatakan kalimat yang gimana-gimana, dia hanya bilang, "Sebejat apa pun seorang Abang, Gy, kamu tau, kan, kalau dia nggak akan pernah mau adeknya disakitin sama cowok bejat juga?"
Aku melihat Gyan menganggukkan kepala.
Jadi ... ini lah hasil dari pertemuan aku dengan so called 'Mas Gyan' di kafe itu? Yang aku pikir di awal memang menarik secara fisik, tetapi aku merasa aku tidak menyukai kepribadian dan prinsip hidupnya. Yang ternyata, malah jadi orang yang paling sering hadir di setiap detik hidupku. Yang menjadi bagian garda terdepan untuk membantuku menghadapi masalah. Yang menemukanku meski aku mencoba sembunyi. Sadar akan kehadiranku, meski aku tidak mengumumkan apa-apa.
Mungkin seharusnya, memang dia yang menjadi manusia favoritku, bukan laki-laki yang bahkan tidak tahu aku berbagi oksigen dengannya. Tapi mungkin juga, tanpa kisah sebelah tanganku dengan Angkasa, tidak akan ada kisah utuh antara aku dan Gyan.
Jadi, aku akan mensyukuri keduanya, sebagai bagian dari hidupku.
Aku hanya ... perlu membagi porsinya; lebih banyak untuk yang ada di hari ini, esok, dan selamanya. Ketimbang yang hanya berdiri di masa lalu.
Gyan ...
Thank you for coming into my life.
Sebagai orang yang tidak aku sangka akan menjadi alasan aku berani mengungkapkan perasaan.
Membuatku terbangun dari kebiasaan memendam soal cinta.
---
note: khusus buat extra part nanti cuma bisa dibaca di KK yaaa, jadi di sini tetep sampe tamat kok, ada 40 bab. otw tamaadddd
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top