Bab 7

"Aku pulang duluan, Ed!"

Sebelum pulang Billy menyempatkan diri untuk berpamitan pada Edgar yang masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Jam hampir menyentuh di angka tujuh, tapi Edgar masih harus mengerjakan sesuatu. Agaknya ia akan pulang sedikit terlambat malam ini.

Setelah berkunjung ke rumah korban penganiayaan yang Edgar tangani kasusnya siang tadi, Edgar mesti kembali ke kantor untuk mengerjakan sesuatu. Jika dikerjakan esok, maka pekerjaan Edgar akan semakin menumpuk. Apalagi sidang kasusnya akan dilaksanakan pekan depan.

"Ya. Hati-hati di jalan," sahut Edgar dari balik layar laptopnya.

"Jangan terlalu sibuk bekerja. Perhatikan istrimu juga. Dia pasti merasa sangat kesepian," ujar Billy yang tampak enggan meninggalkan rekan seprofesinya yang masih sibuk dengan pekerjaan. Bukannya bergegas pulang untuk menemaninya istrinya, Edgar justru membuat dirinya sendiri sibuk.

"Setelah menyelesaikan ini aku akan pulang," balas Edgar seraya menunjuk ke arah laptopnya.

Billy mendesah perlahan tanpa memperpanjang basa basi.

"Aku pulang!" pamit Billy untuk terakhir kali.

Edgar hanya melambaikan tangan, lantas kembali mengalihkan fokus pada layar laptopnya. Tinggal sedikit, batinnya.

Sesungguhnya Edgar ingin melakukan banyak hal untuk membahagiakan Fiona, terlebih lagi setelah istrinya itu mengalami kecelakaan. Mungkin mulai dari hal-hal sepele, seperti membelikan bunga atau makanan kesukaan Fiona. Atau mengajak Fiona jalan-jalan. Seharian tinggal di rumah pasti membuat Fiona bosan. Apalagi dulu Fiona seorang yang aktif. Ia mengelola perusahaan dan kerap bertemu dengan banyak orang.

Namun, kenyataannya Edgar belum dapat sepenuhnya membahagiakan Fiona. Waktunya justru terkuras untuk pekerjaan. Belum lagi jika ia harus menangani sebuah kasus dan mengawalnya hingga ke persidangan. Rasanya waktu berlalu cukup cepat, sementara Edgar belum melakukan banyak hal untuk Fiona.

Tidak butuh waktu lama pekerjaan Edgar telah selesai. Pria tampan yang setia dengan aroma mint itu bersiap-siap untuk pulang. Namun, ketika ia hendak mengayunkan langkah meninggalkan meja kerjanya, ponsel kesayangan Edgar justru berdering dan membuatnya urung melangkah.

Mira menelepon.

Sesaat pria itu ragu ketika tatapan matanya menemukan sebaris nama Mira tertera di atas layar ponselnya. Di saat ia sedang berusaha untuk menjaga jarak dan berupaya keras menahan diri, wanita itu malah menghubunginya. Sekali lagi Edgar dihadapkan pada pilihan sulit. Billy akan marah besar jika mengetahui hal ini.

"Ya, Mira. Ada apa?"

Tak kuat menahan diri, akhirnya ujung jari Edgar menggeser ikon berwarna hijau di ponselnya. Ia masih tidak tega untuk membiarkan Mira menunggu.

"Apa kamu sudah pulang? Aku ada di depan."

Suara Mira masih terdengar selembut biasanya.

"Oh, ya?" Edgar memutar pandangan ke segenap penjuru ruangan. Meskipun rasa bersalah tiba-tiba menyergap hati nuraninya, Edgar tak bisa menolak kehadiran Mira. "Tunggu sebentar, aku akan turun."

Edgar bergegas mengayun langkah, tapi tujuan kakinya telah berubah. Ia bukan akan pulang ke rumah sekarang, tapi menemui Mira.

**

Mira menyesap isi cangkirnya dan rasa hangat perlahan menjalar ke dalam kerongkongannya. Sedang Edgar telah lebih dulu mencicipi kopinya dan kembali meletakkan cangkirnya di atas meja.

Pertemuan kali ini atas keinginan Mira, tapi pergi ke kafe tak jauh dari gedung tempatnya bekerja adalah  murni inisiatif Edgar. Ia pikir berbincang di sebuah kafe jauh lebih baik ketimbang berbicara di depan gedung kantornya. Saling duduk berhadapan sembari menikmati secangkir kopi hangat.

"Apa kabarmu baik-baik saja?" Mira sengaja mengulur waktu dan tak langsung bicara pada inti permasalahan. Mira hanya ingin melihat Edgar lebih lama dan menuntaskan segenap kerinduannya pada pria pengacara itu.

"Ya, aku baik." Sesungguhnya Edgar merasa sedikit canggung, apalagi setelah seharian ini Billy terus mengingatkannya pada Fiona.

"Sebenarnya hari ini aku diberhentikan dari restoran." Wanita itu tiba-tiba berubah pikiran. Ia tidak ingin menyembunyikan kesulitannya dari Edgar lebih lama lagi.

Edgar tampak terkejut mendengar pengakuan wanita yang disukainya itu.

"Kenapa bisa begitu? Apa kamu melakukan kesalahan?" cecar Edgar penasaran. Jika ada akibat pasti ada sebabnya.

Namun, kepala wanita itu menggeleng.

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Pemilik restoran mengatakan hanya ingin mengurangi karyawan karena restoran kami mengalami penurunan omset beberapa bulan terakhir," tutur Mira.

"Oh." Edgar seketika paham. Hal-hal semacam itu sudah sering terjadi di restoran manapun dan lumrah. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menambah uang bulanan kamu."

"Aku mengatakan ini bukan untuk meminta uang darimu. Aku tidak ingin bergantung padamu. Aku hanya ingin berbagi cerita karena aku tidak punya siapa-siapa di sini. Besok juga aku akan pergi mencari pekerjaan lain," sahut Mira.

"Aku yang mau melakukan ini, Mir. Aku yang ingin memberimu uang. Jadi, jangan berpikir kalau kamu bergantung padaku. Toh, jumlahnya juga tidak seberapa. Tidak usah mencemaskan apapun lagi, ya?"

Tapi itu cukup banyak untuk seseorang sekelas Mira. Bahkan tanpa bekerja sekalipun, Mira bisa mencukupi kebutuhannya hanya dengan menggunakan uang pemberian Edgar.

Dengan gerakan berat, Mira mengangguk.

"Apa kamu sudah makan?"

"Belum." Mira tidak berpikir apapun selain ingin segera menemui Edgar dan menceritakan masalahnya. Jadi ia tidak sempat mengisi perut sejak sore tadi.

"Bagaimana kalau kita makan setelah ini?" tawar Edgar.

"Ya, boleh."

Setelah selesai dengan kopi masing-masing, keduanya sepakat untuk makan malam di sebuah restoran yang letaknya agak jauh dari gedung kantor Edgar.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top