Bab 15
Edgar berusaha untuk pulang secepatnya usai mampir menemui Mira sehingga ia sampai di rumah belum terlalu malam. Tapi, ketika ia tiba, Edgar justru mendapati Fiona telah terlelap di atas tempat tidur sembari memeluk novel lama yang beberapa waktu lalu ia baca. Buku itu bercerita tentang perselingkuhan.
Bukan kebiasaan Fiona tidur di bawah jam sembilan malam. Biasanya Fiona akan menunggu Edgar kembali agar mereka bisa santap malam bersama. Atau setidaknya ia menunggu untuk sekadar berbincang sebentar sebelum tidur.
Edgar membalik tubuh dan urung mengganti pakaian. Pria itu melangkah keluar dari ruangan dengan tanpa menimbulkan suara berarti. Edgar tak ingin membangunkan istrinya dengan suara-suara yang mungkin ditimbulkan dari derap sepatunya.
"Bibi Sul!"
Edgar memanggil Bibi Sul ketika langkahnya telah menapaki lantai dapur. Kamar Bibi Sul berada di belakang dapur dan seharusnya ia mendengar suara Edgar memanggilnya.
"Ya, Tuan Edgar."
Pendengaran Bibi Sul masih sangat peka. Wanita itu tampak tergopoh-gopoh menuju ke arah tempat Edgar berdiri selang tak lama kemudian.
"Tuan memanggil saya?"
Edgar menoleh sekilas ke arah pintu kamarnya sebelum bertanya pada Bibi Sul. Semestinya Edgar tidak perlu khawatir karena mustahil Fiona akan muncul tiba-tiba dari balik pintu.
"Apa terjadi sesuatu hari ini?" tanya Edgar seketika membuat Bibi Sul linglung. Wanita itu sulit memahami maksud ucapan Tuan-nya.
"Sesuatu apa maksud Tuan?"
"Apa Fiona pergi keluar hari ini?"
"Tidak, Tuan," balas Bibi Sul cepat dan sesuai dengan kenyataan. Tidak ada yang berbeda hari ini. Sepanjang hari Fiona terus berada di kamarnya dan tidak keluar sama sekali, meskipun itu hanya pergi ke halaman.
"Apa dia tampak sakit?"
Kening Bibi Sul mengerut. Pikirannya memutar balik seluruh kejadian hari ini. Namun, Bibi Sul tidak menemukan sesuatu yang aneh dari Fiona.
"Tidak, Tuan. Nyonya baik-baik saja hari ini."
"Apa dia makan dengan baik?"
"Iya," angguk Bibi Sul yang masih belum memahami kenapa Tuan Edgar terus mencecarnya dengan pertanyaan seputar Fiona.
"Apa dia sudah makan malam tadi?"
"Sudah, Tuan."
Edgar menghela napas panjang. Dari informasi yang diberikan Bibi Sul, Edgar bisa menyimpulkan jika hari ini berjalan dengan baik. Tidak ada yang berbeda dari Fiona. Akan tetapi, Fiona tidak biasa tidur di bawah jam sembilan malam. Itu menjadi satu-satunya hal di luar kebiasaan Fiona dan Edgar merasa sedikit aneh.
"Tidak biasanya Fiona tidur di bawah jam sembilan. Apa dia mengatakan sesuatu tadi? Semisal dia lelah atau apa?" Akhirnya Edgar mengutarakan hal yang menganggu pikirannya.
Bibi Sul berusaha mengingat kembali.
"Tadi Nyonya mengatakan ingin makan malam sendiri, lalu dia bilang mau tidur lebih cepat. Itu saja, Tuan," lapor Bibi Sul.
"Tidak ada yang lain?" Pernyataan Bibi Sul belum mampu memuaskan hati Edgar. Ia berharap mendengar sesuatu yang lain dari bibir Bibi Sul.
"Tidak ada, Tuan."
"Ya, sudah. Kembalilah istirahat."
"Baik, Tuan."
Interogasi telah berakhir. Bibi Sul pamit dari hadapan Edgar. Sedang pria tampan itu berbalik dan berjalan ke kamarnya. Mungkin Fiona hanya lelah, batin Edgar menghibur dirinya sendiri.
**
"Semalam aku pergi ke rumah Mira," ungkap Edgar di depan Billy, rekan seprofesinya. Mereka sedang menikmati makan siang di restoran yang berada di gedung yang sama dengan kantornya.
Edgar sangat memercayai Billy dan banyak berbagi hal dengannya. Sekalipun Billy selalu mengatakan berada di pihak Fiona, tapi pria lajang itu tidak akan pernah membuka rahasia Edgar yang telah dipercayakan padanya.
"Aku sudah bosan mendengarnya," gumam Billy tanpa menatap lawan bicaranya. Ia tampak menikmati makan siangnya dengan lahap.
"Dengarkan aku dulu, Bil." Edgar tak ingin kehilangan perhatian Billy. "Aku pergi ke sana bukan tanpa alasan. Kamu tahu, seseorang telah meneror Mira."
Billy cukup jelas menangkap isi kalimat Edgar. Tapi, ia belum tertarik untuk mengetahui detailnya. Jadi, ia terus mengunyah dan belum merespon.
"Semalam ada yang menaruh bangkai tikus di depan pintu rumah Mira dan ini sudah yang ketiga kalinya. Bukankah ini teror?" ungkap Edgar. Mustahil Billy masih abai dengan ceritanya.
"Dia pantas mendapatkannya. Seharusnya orang itu juga menaruh bangkai tikus di meja kerjamu," ucap Billy kesal.
"Hei, aku serius, Bil." Edgar tak terima dengan ucapan Billy. Tapi ia masih bisa mengendalikan amarah. Jika bukan dengan Billy, siapa yang akan mendengarkan curahan hatinya?
"Aku juga serius, Ed." Billy menatap wajah Edgar lekat-lekat. "Aku sudah mengatakan padamu, hentikan Ed. Kamu sudah punya Fiona. Jangan teruskan hubunganmu dengan wanita itu."
"Aku tidak bisa, Bil. Setidaknya untuk sekarang ini aku tidak bisa melakukannya. Mira butuh bantuanku."
"Bagaimana jika Mira mengarang kisah itu hanya untuk mendapatkan perhatianmu?"
Edgar tercenung. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Billy baru saja memberinya sebuah dugaan baru. Tapi, sedetik kemudian batinnya mengingkari hal itu.
"Mira bukan tipe orang yang akan melakukan hal itu, Bil. Kamu masih ingat dengan mantan kekasih Mira? Tidak menutup kemungkinan jika dia pelakunya. Bisa saja dia mengirim seseorang agar meneror Mira, kan?"
"Kenapa kamu tidak sekalian pergi ke penjara dan bertanya padanya daripada duduk di sini?"
"Bil ... "
"Ed. Mira bisa melapor pada polisi jika dia mendapat teror, bukan melapor padamu. Kamu tahu, semakin sering kamu membantunya, dia akan semakin kuat bergantung padamu. Dan kamu akan semakin merasa kasihan padanya. Lalu Fiona? Tanpa dia sadari, dia sedang dikhianati," ujar Billy bernada menakut-nakuti.
Edgar menarik napas. Pria itu membenarkan semua ucapan Billy, tapi ia juga memiliki pendapat sendiri yang tak bisa diabaikan begitu saja. Perasaannya terhadap Mira tidak sesederhana itu. Entah itu cinta atau kasihan, Edgar tidak bisa tinggal diam saat Mira mendapat kesulitan.
"Akhiri semuanya pelan-pelan, Ed. Tidak perlu sekarang. Tapi nanti, suatu saat kamu harus kembali sepenuhnya pada Fiona. Kasihan dia. Setidaknya kamu masih punya hati nurani. Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi masalah ini sebelum semuanya terlambat," tutur Billy setelah beberapa saat mereka larut dalam kebisuan.
Mendengar kalimat bijak itu, hati Edgar cukup tersentuh. Diam-diam ia berjanji akan terus mengingatnya hingga suatu saat nanti Edgar bisa melepaskan Mira dan kembali pada Fiona.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top