Part 3 - Memikirkan langkah selanjutnya.
Sky mengunjungi sebuah club malam bintang lima. Ia tidak asing lagi dengan club itu padahal ia baru saja pindah ke kota S.
"Selamat datang di kota ini, Sky." Seorang pria menyambut Sky dengan hangat. Pria itu memiliki penampilan yang sama dengan Sky. Barang-barang
"Berikan aku wine terbaikmu, Lyon." Sky melangkah ke sebuah tempat duduk VIP.
Lyon memanggil pelayan. Ia meminta wine dan juga cemilan untuknya dan Sky. Lyon adalah pemilik club itu. Ia adalah teman sekolah Sky saat berada di luar negeri.
"Bagaimana dengan hari pertamamu mengajar?" tanya Lyon.
Sky melirik ke sekitar dengan tatapan datar. "Membosankan."
Lyon terkekeh geli. Ia sangat hafal dengan kehidupan temannya yang dipenuhi oleh bersenang-senang dan suka menghamburkan uang. Tentu saja kehidupan bekerja tidak akan cocok untuk Sky yang suka kebebasan. Terutama mengajar. Ckck, Sky yang tidak sabar harus mengajari murid-murid, sungguh sebuah lelucon.
"Kau akan menyesuaikan diri dengan cepat Sky. Lagipula di sekolah itu banyak siswi yang cantik. Kau bisa berkencan dengan mereka." Lyon menghibur Sky.
"Bocah-bocah ingusan itu?" Sky tersenyum kecut. Apa yang menyenangkan dengan berkencan dengan bocah manja yang tadi mengerubutinya di ruang guru? Sky bahkan merasa sangat muak.
"Kalau begitu dengan rekan kerjamu saja." Lyon membuka tutup botol wine yang baru saja diantar oleh pelayan.
"Aku tidak akan berkencan dengan rekan kerjaku. Ckck, merepotkan jika putus nanti."
Lyon menyodorkan segelas wine pada Sky. Ia mengangkat gelasnya. Sky juga mengikutinya kemudian mereka menempelkan gelas mereka dan menyesap wine bersama.
Dua wanita bertubuh ideal dengan pakaian minim mendekat ke arah Sky dan Lyon. "Boleh kami bergabung?" tanya si wanita berdress hitam ketat dengan senyuman menggoda.
"Tidak." Sky menjawab singkat.
Lyon mengangkat tangannya, mengusir kedua wanita itu, membuat wajah mereka yang diusir menjadi kecut.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Lyon memainkan gelas di tangannya.
"Bertahan di sekolah itu hingga aku menemukan keberadaan kakakku," jawab Sky.
"Kau yakin kakakmu benar-benar berada di kota ini?"
"Orang-orangku sedang memastikannya." Sky menenggak habis wine di dalam gelasnya.
"Aku akan membantumu mencari kakakmu, Sky."
"Thanks, Lyon."
Lyon menganggukan kepalanya. Ia menuangkan kembali minuman ke gelas Sky.
"Baiklah, bersenang-senanglah untuk malam ini." Lyon kembali mengangkat gelasnya. Kemudian menyesap minuman itu lagi bersama dengan Sky.
Sky berada di dalam ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang, serta suara musik yang mengalun keras, tapi ia merasa kesepian. Ia tenggelam dalam rasa sepi yang sudah menemaninya sejak lama.
Terlahir sebagai penerus keluarga Axellio bukanlah anugerah bagi Sky. Ia malah merasa itu adalah kutukan. Memiliki orangtua yang terobsesi pada kekuasaan dan uang adalah hal yang paling tidak ia inginkan. Ia memiliki segalanya, tak kekurangan uang dan selalu mendapatkan apapun tentang materi, tapi ia kekurangan cinta. Orangtuanya terlalu sibuk pada pekerjaan. Mengabaikan dirinya yang butuh kasih sayang dan cinta. Bagi orangtuanya, mereka sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Mereka melimpahi uang sebagai ganti kasih sayang yang diinginkan oleh Sky dan kakaknya.
Bagi Sky orangtuanya tidak lebih dari budak kekuasaan dan uang. Bahkan mereka rela menjual anak wanita mereka demi melebarkan sayap bisnis mereka tanpa memikirkan kebahagiaan sang anak.
Hal inilah yang membuat Sky kehilangan rasa hormat pada orangtuanya. Sky tahu benar bahwa kakaknya memiliki impian yang tinggi, bukan terkurung dalam sangkar emas yang dibuat oleh orangtua dan suami kakaknya.
Saat itu Sky baru berusia 8 tahun ketika kakaknya menikah. Ia tahu benar bahwa kakaknya tidak menginginkan pernikahan itu. Kakaknya bahkan memohon pada orangtua mereka agar tidak dinikahkan dengan putra rekan bisnis orangtua mereka. Namun, seperti tidak punya hati, ayah dan ibu mereka menolak. Mereka mengatakan bahwa keputusan mereka tidak bisa diubah. Dan menurut mereka, pilihan mereka adalah pilihan yang paling tepat untuk Serena, kakaknya.
Akan tetapi, pernikahan itu tidak berjalan dengan baik. Davian, suami Serena memiliki wanita lain. Wanita yang dicintai Davian sejak lama. Serena memang istri Davian, tapi tidak berhak sama sekali atas diri Davian.
Pernikahan tanpa cinta, hal itu membuat Serena akhirnya pergi dari kediaman Davian. Hingga detik ini keberadaan Serena tidak diketahui.
Apa yang terjadi pada kakaknya membuat Sky terus menyalahkan orangtuanya. Andai saja orangtuanya tidak menikahkan Serena dengan Davian maka saat ini Serena pasti masih akan bersama mereka.
Yang lebih membuat Sky muak dengan orangtuanya adalah mereka malah menyalahkan Serena yang tidak bisa merebut perhatian Davian. Mereka bahkan tidak mencari Serena sama sekali. Dan menganggap bahwa Serena sudah tidak ada lagi. Sekejam itulah orangtuanya.
Sky sangat dekat dengan kakaknya. Satu-satunya cinta yang pernah ia rasakan adalah dari Serena. Ia menyesal tidak bisa melindungi Serena dari orangtua mereka yang tidak berperasaan.
Kebencian Sky pada orangtuanya membawa Sky pada kehidupan yang dipenuhi oleh masalah. Ia sengaja menjadi anak tidak berguna untuk membalas orangtuanya. Hampir tiap waktu ayah dan ibunya marah karena masalah yang ia buat, tapi itu tidak seberapa bagi Sky yang telah kehilangan kakaknya karena orangtua mereka.
Ia menjadi anak yang sulit diatur. Hidupnya ia habiskan dengan pesta dan wanita. Jika orangtuanya menghasilkan banyak uang, maka ia akan menghamburkan uang. Bukankah itu alasan orangtuanya mencari uang? Untuk hal ini, Sky tidak akan mengecewakan usaha orangtuanya. Dan hingga detik ini, Sky masih melakukannya dengan baik.
***
Sky turun dari mobilnya. Penampilannya masih seperti biasa. Ia menggunakan kaos panjang berwarna hitam dipadu dengan celana jeans abu-abu. Sky tidak suka berpakaian formal, ia hanya menggunakan pakaian yang nyaman baginya.
Para siswi melesak mengerubuti Sky. Seperti semut mengerubuti gula, seperti ngengat menghisap sari bunga. Sky memang magnetnya wanita. Akan heran jika Sky tidak menjadi pusat perhatian kaum hawa.
Pagi ini Sky kembali menerima banyak hadiah. Dan seperti kemarin, ia menolak semua hadiah itu. Sky tidak akan bermain-main dengan bocah belasan tahun. Membuat mereka menangis lebih dini akan lebih baik daripada menangis dikemudian hari karena Sky tinggalkan. Setidaknya Sky masih cukup berperasaan.
Sky menembus kerumunan para siswi dengan wajah dinginnya. Sky tidak tahu bahwa meski ia bersikap dingin dan cuek, para siswi tidak akan menyerah mengejarnya. Mereka semakin ingin terus mencoba.
Allara melihat bagaimana Sky menolak hadiah dari teman-teman, adik kelas dan juga kakak kelasnya. Akan tetapi, ia tidak gentar. Ia tetap akan menyerahkan hadiahnya pada Sky, tapi mungkin tidak sekarang. Ia akan menunggu jam istirahat dan memberinya pada Sky.
"Allara!" Panggilan dari belakang Allara membuatnya menoleh.
"Siapa yang mengantarmu?" Allara tidak melihat Ivy membawa motor ataupun mobil.
"Daddy yang mengantarku," balas Ivy.
"Lalu, ada apa dengan wajah jelekmu sekarang?"
Ivy ingin berbohong dan mengatakan dia baik-baik saja, tapi tentu Allara tidak akan percaya. Allara mengenalnya dengan sangat baik.
"Daddy mengantarku bersama dengan pacar barunya."
"Pacar baru?" Allara mengerutkan keningnya. Seingatnya Ivy tidak pernah bercerita bahwa ayahnya telah putus dengan kekasih lamanya.
"Daddy putus dua bulan lalu dengan Jessie, dan satu minggu lalu dia telah menjalin hubungan dengan Ella, rekan kerjanya." Suara Ivy terdengar hampa. Meski ia telah sering melihat ayahnya bergonta-ganti pasangan, tapi tetap saja hatinya merasa sakit. Bukan karena ia sedih sang ayah sudah tidak memikirkan mendiang ibunya lagi, tapi karena dirinya tidak rela ada wanita lain yang mendampingi ayahnya. Ivy mencintai ayahnya, dan itu bukan perasaan untuk seorang ayah melainkan untuk seorang laki-laki.
Allara memeluk Ivy. "Mungkin sudah saatnya kau berhenti, Ivy."
Ivy sudah mencoba untuk melupakan perasaannya, tapi ia tidak bisa. Cinta yang ia miliki untuk ayahnya sudah terlalu dalam. Hingga untuk membunuh cinta itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.
"Sudahlah, aku akan baik-baik saja sebentar lagi." Ivy menarik napas dalam lalu menghembuskannya. "Ayo kita ke kelas."
"Baiklah, ayo." Allara melangkah bersama dengan Ivy. Dalam hatinya ia berdoa agar Ivy selalu baik-baik saja. Ia tidak ingin melihat Ivy terus hancur karena mencintai ayah tirinya diam-diam.
Allara pernah meminta Ivy untuk mengungkapkan perasaan Ivy pada ayahnya, tetapi Ivy tidak bisa melakukan itu. Ivy takut ayahnya akan jijik padanya. Bagaimana mungkin seorang anak mencintai ayahnya sendiri.
Allara sendiri tidak merasa ada yang salah dengan perasaan Ivy pada Calvin, ayah Ivy. Pada kenyataannya mereka tidak memiliki hubungan darah. Ditambah ibu Ivy juga sudah tiada.
"Terima kasih karena tetap menerimaku meski kau tahu aku memiliki perasaan menjijikan untuk Daddy, Allara." Ivy menggenggam tangan Allara.
Allara menyentil dahi Ivy. "Tidak ada yang salah dengan perasaanmu. Cinta bisa jatuh pada siapa saja."
Ivy merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Allara yang tidak pernah memandang rendah dirinya meski tahu rahasia terkelam tentang dirinya. Jika itu orang lain, maka dirinya pasti akan menjadi bahan cemoohan. Andai saja dahulu Allara tidak memaksa menjadi temannya, maka saat ini ia pasti tidak akan memiliki teman.
Ivy berkepribadian tertutup. Ia tidak bisa berteman dengan orang lain karena tidak ingin ada orang yang tahu tentang perasaannya pada ayahnya. Namun, Allara berbeda. Allara tidak pernah memandang hina orang lain. Allara juga selalu bersikap baik pada orang lain yang menjahatinya.
"Aku akan mentraktirmu makan sepulang sekolah. Bagaimana dengan Prince Cafe?"
Wajah Allara langsung sumringah. Hal yang ia sukai di dunia ini adalah ditraktir makan dan semua yang gratis.
"Aku tidak akan menolak kebaikan hatimu, Ivy."
Ivy tertawa mengejek. Allara, sahabatnya yang periang selalu membuat suasana hatinya menjadi baik.
"Ah, bagaimana dengan hadiahmu untuk Mr. Axellio?"
"Tentu saja sudah ada. Aku akan memberikannya ketika jam istirahat tiba." Allara bersemangat ketika membahas tentang hadiahnya untuk Sky.
"Kau terlihat sangat bersemangat. Semoga saja hadiahmu tidak ditolak olehnya." Ivy menepuk pundak Allara lalu masuk lebih dulu ke kelas.
Allara menatap Ivy sebal. "Dia temanku atau bukan?"
Allara duduk di bangkunya. "Tentu saja hadiahku akan diterima," balasnya yakin.
Ivy tersenyum miring, memprovokasi sahabatnya hingga membuat Allara kembali cemberut.
"Lihat saja nanti," seru Allara kesal.
Ivy tergelak. "Baiklah. Baiklah. Semoga kau beruntung, Allara."
Allara mendengus. Ivy memang seperti itu. Suka sekali menjahilinya. Jika saja ia memiliki teman lain maka ia akan mendiami Ivy, tapi sayangnya ia tidak memiliki teman dekat lain. Jadi ia harus menerima keisengan Ivy.
"Kau membawa buku Matematika?" Ivy melihat isi tas Allara.
Allara tersenyum manis. "Aku akan membawanya tiap hari agar tidak ketinggalan."
Ivy takjub. Allara memang luar biasa.
***
Jam istirahat tiba. Allara membiarkan Ivy ke kantin sendirian. Sementara dirinya menyelinap ke dalam ruang guru. Ia berhasil mendatangi ruangan itu lebih cepat dari siswi lainnya.
"Allara, apa yang kau lakukan di sini?" Mrs. Candice, guru Biologi menatap Allara seksama.
Allara menyembunyikan hadiah yang ia bawa dibalik punggungnya. "Ah, Mrs, aku ada urusan dengan Mr. Axellio."
"Kau benar-benar menyedihkan Allara." Mrs. Candice menatap Allara mencemooh. Ia adalah salah satu dari beberapa guru yang sangat tidak menyukai murid tidak berprestasi. "Pergilah!"
Allara tidak mengambil hati ucapan guru biologinya. Ia tersenyum sopan lalu segera beranjak ke arah Sky yang berada di tempatnya.
"Mr. Axellio." Allara berdiri di sebelah meja Sky.
Sky menoleh ke arah Allara yang memanggilnya, ia menatap Allara dingin. Dua hari di sekolah itu sudah membuatnya mendengar banyak tentang Allara. Dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari siswi yang berdiri di depannya.
"Ehm, saya ingin meminta maaf atas kesalahan saya kemarin." Allara memberanikan diri untuk bicara meskipun ia merasa gemetar. Tatapan Sky benar-benar mempengaruhi kepercayaan dirinya.
Sky masih diam. Ia yakin itu hanya alasan Allara untuk bicara dengannya.
"Ini untuk Anda, Mr. Axellio. Semoga Anda menyukainya." Allara mengeluarkan cepat hadiah yang ia bawa lalu segera meletakannya di atas meja kerja Sky. Selanjutnya ia bergegas pergi, hal ini ia lakukan agar Sky tidak menolak hadiahnya.
Allara telah meninggalkan ruang guru. Ia berhenti dan berdiri bersandar di dinding yang ada di sebelahnya. Kedua tangannya memegangi dadanya yang berdegub kencang. "Astaga, tidak semudah yang aku bayangkan."
Didalam pemikirannya kemarin, ia bisa memberikan hadiahnya dengan mengucapkan beberapa kata manis pada Sky, tapi kenyataannya berbanding terbalik. Ia nyaris tidak bisa bicara saat berhadapan dengan Sky.
"Pesonanya sungguh luar biasa." Allara mulai tersenyum konyol. Kini ketegangannya berganti dengan memikirkan reaksi Sky ketika menerima hadiahnya. Detik selanjutnya ia melompat kegirangan karena yakin Sky akan sangat menyukai hadiahnya.
Ya, Allara memang memiliki tingkat keyakinan yang sangat tinggi.
Ia kembali ke kelasnya dengan bersenandung kecil. Setelah ini ia akan memikirkan langkah selanjutnya. Langkah besar yang harus ia ambil agar Sky tahu perasaannya. Allara tidak akan seperti Ivy yang menyembunyikan rasa cinta. Baginya, cinta harus diungkapkan, dengan begitu barulah cintanya bisa berbalas.
Namun, yang Allara tidak ketahui adalah bahwa hadiahnya saat ini sudah berada di dalam kotak sampah. Sky membuang hadiah itu bahkan tanpa melihat surat yang Allara buat sepenuh hati.
Tbc
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top