19. Masa Lalu Aurel
Bunda berbohong dan ia meninggalkan Aurel dalam trauma yang mencekik setiap saat.
.
.
.
Saat itu ia baru berusia lima tahun. Kesehariannya ialah seputar bangun pagi setelah mencium aroma masakan Bunda, bermain petak umpet bersama beberapa anak tetangga, tidur siang setelah dibacakan cerita, bangun dan makan malam bersama Bunda, lalu ketika menjelang waktu tidur malam, ia akan minum susu yang khusus dibuatkan oleh Bunda.
Aurelia Aurita punya memori terbaik tentang bundanya. Bunda adalah seorang wanita cantik yang nyaris tidak pernah memakai atasan kaos dan celana jeans, alias Bunda itu tipikal gadis desa yang lemah gemulai, kemana-mana selalu memakai dress. Meski kuno begitu, tapi bagi Aurel, Bunda tetap wanita tercantik nomor satu di dunia.
Uniknya lagi, Bunda punya kebiasaan yang berbeda dari wanita-wanita lain. Jika wanita-wanita lain lebih suka menanam bunga, maka Bunda lebih suka menyapa hewan-hewan kecil yang hinggap pada mahkotanya, terlebih kunang-kunang—ya, Bunda sangat suka dengan hewan satu itu. Jika wanita-wanita lain lebih suka berdandan, maka Bunda lebih suka bermain seharian penuh bersama Aurel. Jika wanita lain sibuk bekerja, maka Bunda akan tetap di rumah, melakukan pekerjaan seadanya dan menunggu kepulangan Ayah.
Ayah.
Omong-omong soal Ayah, Aurel kecil hampir lupa kalau ia punya ayah. Ia memang tidak punya banyak memori tentang ayahnya. Seingatnya, Ayah adalah orang yang jarang tersenyum, meski Aurel bayi sering menoel-noel lengannya mengajak bermain. Terakhir kali melihat sosok Ayah di rumah adalah dua hari yang lalu. Bunda bilang, Ayah harus lembur kerja supaya dapat uang banyak. Walau Aurel kecil tidak paham apa itu lembur kerja, tapi baiklah, Bunda tersenyum saat mengatakannya jadi pasti Ayah tengah melakukan pekerjaan luar biasa di luar sana.
Namun sore hari itu, ketika Aurel memergoki Bunda terduduk di ruang tamu dengan pandangan kosong, ia mulai memiliki firasat yang buruk. Itu adalah kali pertama Aurel merasakan debaran keras pada dadanya, membuatnya takut setengah mati. Dan entah mengapa, begitu melihat tubuh bergetar Bunda, sontak Aurel membayangkan wajah seram milik Ayah. Ditambah saat melihat luka di sudut bibir Bunda, tatapan menyeramkan Ayah otomatis muncul dalam benaknya.
Bunda bilang, Ayah melakukan itu karena Ayah suka padanya. Ayah sesuka itu pada Bunda sampai-sampai tak menginginkan Bunda melakukan kesalahan sekecil apapun. Karena rasa sayang Ayah yang begitu besar itu, Bunda harus menerima tamparan yang nyaris membuat wajahnya babak belur.
Semenjak kejadian itu, Aurel sering berbohong pada Bunda. Ia akan pura-pura tidur setelah dibacakan dongeng, kemudian akan terbangun dan mengendap-endap ke balik pintu kamar, menunggu apa yang akan terjadi saat ayahnya pulang.
Dan hasil penantian itu terbayarkan.
Aurel mendengar suara gelas dibanting hingga pecah, disusul suara pekikan Bunda yang ditahan sebisa mungkin agar tak membangunkannya.
Bunda kesakitan. Bunda membutuhkan pertolongan.
Namun Aurel kecil hanya dapat bersembunyi di balik pintu sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat. Kalau tidak, hatinya akan sakit mendengar jeritan dan rintihan Bunda.
Bunda, maafin Aurel.
***
Ayah adalah sesosok manusia yang tidak ingin Aurel lihat saat sarapan. Aurel hanya butuh ia dan Bunda saja dalam meja makan kecil itu, diam menikmati nasi hangat dan tempe goreng tanpa protes. Aurel cukup bahagia meski makanannya tidak semewah masakan restoran berkelas. Lagipula, masakan Bunda enak, kok. Tidak keasinan, tidak juga kurang asin. Hanya orang aneh yang tidak doyan masakan Bunda.
Baru saja ia hendak memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut, laki-laki tidak tahu diri yang ia panggil ayah tahu-tahu datang dan melempar serbet dapur ke muka Bunda. Aurel yang baru masuk ke kelas satu SD itu memelototkan mata terkejut. Ia mendongak, menatap murka pada Ayah, tetapi laki-laki itu tidak menyadari tatapannya karena terlalu fokus memelototi Bunda tanpa takut bola matanya akan melompat keluar.
"UANGNYA MANA?!"
Percayalah, itu bukan pertama kalinya Aurel mendengar jeritan kesetanan yang tak masuk akal. Pagi-pagi saat matahari sedang cerah-cerahnya, ada seonggok manusia aneh yang selalu menagih uang, mana dengan muka merah padam hasil mabuk entah dimana. Aurel berharap Ayah tidak usah pulang sekalian. Silakan mabuk hingga perutmu meletus!
"MANA UANGNYA???!!!"
Kedua tangan Aurel terkepal erat. Gadis itu sudah siap menusukkan garpu—serius—ke kulit penuh tato naga itu sebelum suara Bunda menginterupsinya.
"Aurel, sudah hampir jam tujuh. Ayo nak berangkat, nanti terlambat."
Bunda bangkit berdiri, mengabaikan sosok Ayah di sebelahnya. Melihat itu, Aurel otomatis ikut berdiri. Tidak peduli sarapannya gagal terjamah, yang penting mereka berdua segera jauh-jauh dari Ayah.
Namun belum sempat melangkah, pergelangan tangan Bunda dicekal kuat oleh Ayah. Laki-laki itu menarik tangan Bunda kasar, membuat Bunda merintih kesakitan. Aurel sontak memekik terkejut.
"Mau kemana?!" ia berteriak tepat di depan wajah Bunda. Air liurnya sampai muncrat kemana-mana. "Uang!"
"Ayah!" jeritan Aurel sudah tak bisa ditahan. Dadanya terlalu sesak melihat perilaku ayahnya. "Ayah ini masih pagi!"
Ayah mendelikkan mata padanya. Ganti Aurel yang menjadi sasaran bentakan ayahnya. "DIAM!" tangannya semakin kuat mencengkeram pegelangan tangan Bunda. "Tahu apa anak kecil, huh?! Dasar, anak har—"
"Aurel!" bentak Bunda. Matanya mengatakan bahwa ia kesakitan karena Ayah, tetapi wanita itu berusaha tetap terlihat tegar di hadapan anaknya. "Keluar dulu nanti Bunda menyusul."
"Tapi, Bunda—"
"Keluar, Bunda bilang!"
Terpaksa, Aurel menuruti keinginan Bunda.
***
Semakin bertambahnya usia Aurel, semakin bertambah pula kegilaan ayahnya. Itu berarti, semakin bertambah juga penderitaan yang dialami oleh bundanya.
Aurel baru menginjak usia delapan tahun saat ia menyadari ayahnya lebih jarang lagi pulang ke rumah. Dulu, Ayah hanya bertahan di luar rumah maksimal tiga hari dalam seminggu, kemudian ia akan pulang—meski Aurel mati-matian mendoakannya agar tak pulang. Di rumah pun, hanya kekacauan yang bisa ayahnya perbuat. Tidak pernah setor uang, tetapi selalu minta uang. Bunda harus kerja banting tulang menjadi pembantu di rumah tetangga. Aurel terkadang juga ikut Bunda sekadar bantu melipat baju. Kalau tak sanggup, Bunda hanya memperbolehkannya duduk mengawasi sembari mengerjakan PR.
Puncaknya adalah pagi hari itu, saat ia sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ayah tiba-tiba menerobos masuk ke rumah dengan muka merah padam. Ia memegang botol beling—entah apa, bentuknya seperti botol kecap—yang sudah pecah sebagian. Dan Aurel menyaksikannya, sembari menjerit kencang.
Ayahnya melempar botol beling itu ke arah Bunda.
"BUNDA!"
Bunda jatuh tergeletak di tanah. Aurel berlari kencang menerjang memeluk tubuh Bunda. Wanita itu masih sadar sebab tangannya sempat merengkuh tubuh mungil Aurel. Gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya sembari membenamkan wajah di dada Bunda. Ia tak berani melihat wajah Bunda. Hanya bau amis yang bisa diingatnya hari itu.
Aurel tersentak saat tahu-tahu tangannya ditarik paksa begitu kuat. Kekuatan ayahnya yang setara kekuatan gajah mampu mengangkat tubuh Aurel hanya dengan satu tarikan tangan. Kaki kecil Aurel menendang-nendang udara minta dilepaskan. Tangisnya sudah tak bisa ditolerir, begitu membabi buta sampai Bunda sendiri sakit mendengarnya.
"Bunuh aku! Bunuh aku tapi jangan sentuh anakku!" Bunda mencoba bangkit. Tangannya berhasil menggapai kaki Aurel. Wanita itu memeluk kaki mungil putrinya kuat-kuat. "Jangan sakiti anakku!"
"Ayah, lepas!" Aurel menangis sesenggukkan. "Ayah, lepas!" ia hanya mampu mengulang-ulang kalimat itu. Aurel kecil tidak tahu harus berbuat apa. Ia terlalu takut pada ayahnya. Tangannya sakit luar biasa.
Ayah melepaskan tangannya. Seketika Aurel jatuh ke tanah. Kepalanya menghantam ubin cukup keras sampai terasa pusing. Saat ia mencoba duduk dan melihat keadaan Bunda, Aurel harus rela menjerit nyaring lagi.
Ayah menghabisi nyawa Bunda di depan matanya.
"BUNDAAAA!!!"
***
Setelah kejadian itu, Aurel diasuh oleh Nenek di desa. Tanggung jawab atas diri Aurel sepenuhnya ada di tangan Nenek. Bunda dimakamkan di sebelah makam Kakek. Dan ayahnya masuk ke dalam jeruji besi penjara.
Dunia adil, bukan?
Ya, dunia adil. Saking adilnya sampai semua yang Aurel punya perlahan mulai menguap tak berbekas. Ia tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Nenek. Ia bahkan tak mau untuk memulai sebuah pertemanan. Dicap sebagai anak seorang pembunuh bukanlah suatu kebanggan. Omong-omong, tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak seorang pembunuh.
Hanya Aurel yang tahu. Hanya ia sendiri yang tahu betapa menyebalkannya menjadi anak seorang pembunuh.
Ia benci Bunda yang telah berbohong perihal kasih sayang padanya.
Ia benci Ayah biadab yang tega membunuh Bunda.
Ia benci takdir hidupnya yang begitu menjijikkan.
Ia benci dirinya sendiri.
Bunda telah berbohong. Dan tidak hanya berbohong, melainkan juga membuatnya selalu teringat akan perangai buruk ayahnya.
Apa semua laki-laki setelah menikah akan berubah menjadi psikopat?
Jika demikian, maka Aurel memilih untuk hidup sendiri sampai mati. Ia tidak ingin menikah. Ia tidak butuh. Ia cukup dengan dirinya sendiri.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top