Broken
"Misis, gua males masak. Beli bakso kalau enggak mi ayam aja di depan komplek. Ngasih makan mereka tiap hari, lumayan bikin gua tekor," adu Ceres yang sudah merebahkan badannya di atas lantai.
"Berarti kalau beli mesti patungan. Mana sini duitnya, nanti gua beliin," tagih Misis yang baru saja keluar dari dapur mengambil air minum.
Teru dan Reno serempak mengeluh, mereka sengaja mampir terlebih dahulu untuk numpang makan.
"Patungan dua belas ribu, ya. Jangan dikurangin, gua males nalanginnya," ujar Misis garang.
"Duitnya taruh di atas meja aja, gua mau ganti baju dulu," lanjut Misis, setelah itu ia pergi ke kamarnya.
Reno menyenggol pinggang Teru ingin meminta tolong. "Duit gua kurang dua rebu."
Teru pura-pura tak peka, malas sekali jika ia menambahi duit patungan Reno. "Terus?"
"Bantuin nalangin, dong."
Teru menggeleng, ia pura-pura tak peduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu bermain cacing.
"Plis bantuin gua, besok gua gantiin dua kali lipat deh," ujar Reno tepat berbarengan cacing Teru mati kesenggol cacing yang lain.
"Gantiinnya pakai tiket nonton setelah ujian, gimana? Tiket nontonnya buat gua, Ceres, sama Misis." Reno menganga, memang dasarnya Teru dikasih hati minta jantung.
"Anda kelamaan molor jadi lupa diri ya," cela Reno sembari tersenyum manis.
Ceres yang sedari tadi memperhatikan mereka tak ingin ikut campur, cukup kedua telinganya mendengarkan bacotan mereka yang tak berujung.
"Res? Bantuin gua dong," pinta Reno melas. Ia tak ingin ketahuan oleh Misis bahwa duitnya kurang, bisa berkurang nilainya menjadi pacar yang memiliki paket lengkap di hadapan Misis.
Ceres menoleh malas, alis sebelah kanannya terangkat. "Maaf, siapa ya?" tanya Ceres pura-pura tak kenal.
Teru terbahak. "Memang dasarnya manusia, giliran orang kesusahan pada enggak mau ngulurin tangan buat membantu. Giliran elu yang kesusahan, ngemis-ngemis sampai mampus," ujar Reno sudah kesal sendiri.
"Makanya duit jangan buat ikut arisan kelas, giliran butuh kayak gini aja, ngemis-ngemis kan lu. Pas dapat duit arisan, malah foya-foya tanpa dosa, sikap lu manusia banget, kan?" sindir Ceres tak kalah menusuk dari ucapan Reno barusan.
Lagi zamannya arisan kelas, bisa dibilang enggak terlalu menguntungkan bagi Ceres dan Misis, maka dari itu mereka tidak ikut arisan kelas. Dari mereka berempat hanya Reno yang ikut, maka dari itu duitnya kadang tandas dengan cepat.
"Ribut mulu, ngapa sih?" tanya Misis yang baru saja turun.
Ceres mengeluarkan duit selembar berwarna hijau muda. "Gua talangin yang kurang, tapi jangan korup juga," sindir Ceres membuat Misis mendengus karena, Ceres mengungkit pasal duit belanjaan waktu itu.
"Kunci motor di mana, Res?" tanya Misis mencari-cari kunci motor di sekitar nakas dekat televisi.
Ceres mengambil kunci motor di atas meja yang tak jauh dari keberadaan Misis berpijak. "Nih," ujarnya sembari melempar kunci motor tersebut.
"Thanks." Ceres mengangguk.
"Hati-hati, jangan sampai dikejar anjing Pak Kumis lagi," ledek Ceres.
"Sialan," rutuk Misis dalam hati.
Misis mengeluarkan sepeda motor berwarna hitam yang biasa ia gunakan ke sekolah bersama Ceres. Netranya menangkap cowok yang sama persis dengan cowok yang ia temui di toko buku waktu itu. Cowok itu berada di bawah pohon rindang yang tak jauh dari rumah Misis.
Misis ragu, ia ingin mendekat ke tempat cowok itu berdiri. Tetapi, ia takut. Takut dihantam kenyataan bahwa ucapannya saat itu akan terjadi.
Misis tak sadar bahwa cowok itu yang ternyata mendekat ke arahnya. "Hai Manis, kita ketemu lagi. Apa kabar?" sapa cowok yang rambutnya sedikit berantakan dan lebat.
"Lu yang waktu itu ketemu di toko buku, kan?" tanya Misis sedikit terbata.
Sudut bibirnya terangkat. "Ternyata kamu masih ingat aku."
"Apa hubungan--" Misis menggeleng, ia ragu menanyakan hal yang berkaitan dengan bundanya.
"Kenapa lu ada di sekitar rumah gua?" tanya Misis setelah dirinya diam beberapa saat.
Cowok dengan hidung mancung dan mata tajam itu sedikit terkekeh. "Jadi ..., ini rumah kalian?"
"Kalian? Seberapa banyak cowok ini tahu tentang kehidupan dirinya?" Misis bertanya-tanya dalam hati.
"Hentikan pertanyaan-pertanyaan yang bercabang dalam otakmu Manis," ujar cowok itu yang seakan-akan tahu isi kepala Misis.
Misis menganga. "Bagaimana lu--"
"Aku tahu? Mungkin aku memiliki bakat cenayang." Senyum sombongnya terukir manis.
"Jika aku bilang bahwa kita akan menjadi keluarga, apa kamu akan percaya?" tanya cowok itu seakan-akan ingin bertaruh tentang siapa yang benar di masa yang akan datang.
Mentari yang menyengat kulit mereka mulai terhalang oleh awan hitam yang berbondong-bondong tiba.
"Entah mengapa waktu kita selalu tidak tepat. Mungkin, aku akan menemuimu lagi. Sampai jumpa lagi Manis," ujarnya dengan lambaian tangan.
Misis menatap kepergiannya dengan pertanyaan yang semakin menggudang. Cowok itu terlalu aneh dan misterius, tetapi tak tahu mengapa Misis percaya dengan pernyataannya.
"Tunggu dulu, gua percaya sama dia? Emang dia siapa? Tuhan yang harus dipercaya gitu?" Misis bermonolog sendiri sembari geleng-geleng kepala, pusing dengan pertanyaan yang bercabang di otaknya.
"Misis? Elu udah nyampe? Cepet banget," tutur Ceres yang ingin membuang sampah ke depan rumah.
Ceres merasa ada kejanggalan saat menyadari arah motor Misis yang membelakangi tempat dirinya berdiri.
Misis turun dari motor dan berbalik menatap kembarannya yang menatapnya curiga.
"Atau ..., elu lagi betapa di sono?" tanya Ceres sedikit terputus-putus karena ia ragu.
Misis diam tak menjawab, sedangkan Ceres mendekati motor berwarna hitam itu, ia ingin mengecek bungkus mi ayam yang ia nantikan.
"Jadi elu beneran betapa di depan rumah dari tadi?" tanya Ceres dengan toanya.
"Berisik, elu mau gantiin gua enggak?" tanya Misis dengan malas.
Ceres cemberut. "Elu enggak lihat gua megang sampah, ini sampah bisa melayang nih. Gua udah laper ya, lu malah nyuruh gua buat beli," ujar Ceres garang.
"Beli sono, cepetan." Teriakan Ceres yang melengking membuat Misis secepat kilat menaiki motornya kembali dan menyalakan mesin motor, lalu menjalankan motornya meninggalkan Ceres yang terpaku di depan pagar rumah.
Ceres kembali masuk ke dalam rumah, kantong plastik yang ia pegang bukan berisi sampah. Ia sengaja berbohong kepada Misis, karena Ceres geram bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan obrolan mereka yang arahnya tak menentu.
"Misis, tolong jangan percaya sama dia. Lebih baik kita tunggu penjelasan bunda. Gua mohon, jangan menyerah untuk selalu mempertahankan keluarga ini." Ceres terduduk lesu di balik pintu rumah mereka, Ceres takut jika Misis ikut menyerah dan meninggalkannya sendiri dengan angan-angan mereka yang tak akan pernah terjadi.
Ceres tak meminta banyak, ia hanya ingin keluarga ini utuh. Tanpa perselingkuhan, kebohongan, dan nilai yang selalu dielu-elukan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top