Part 7


Andit tertegun saat memasuki gerbang sekolahnya. Kertas hias warna warni membuat gerbang sekolah terlihat cantik. Sebuah pentas besar didirikan di tengah lapangan. Lukisan-lukisan lucu hingga abstrak bertema remaja dipajang di dinding-dinding kelas. Andit berjalan perlahan melewati lorong-lorong kelas dan tersenyum sendiri saat membaca beberapa meme lucu yang ikut dipajang di dinding.

Di beberapa kelas yang dilewati Andit, terlihat siswa siswi menggunakan berbagai macam kostum untuk pementasan nanti. Sekelompok siswa terlihat lucu dengan dandanan ala kurcaci di kisah Putri Salju dan tujuh kurcaci. Mereka semua saling membantu merias wajah dan menggunakan atribut-atribut untuk menambah semarak penampilan mereka nanti.

Amel dan Kiki melambaikan tangan pada Anindita. Mereka tak kalah kerennya dengan gaya K-pop yang penuh warna. Amel mewarnai rambutnya dengan gradasi pink dan ungu. Sedangkan Kiki, menguncir rambutnya tinggi-tinggi dan memberi aksen kupu-kupu di sana. Dia juga melukis kupu-kupu di pipi kirinya.

Sedikit menyesal Andit memutuskan memakai seragam ke sekolah. Sebenarnya dari kemarin ia sudah memilih beberapa kaus dan jeans yang akan dia pakai. Namun ia merasa tidak puas dengan penampilannya. Gadis itu mempercepat langkahnya. Seperti biasa, ketiga gadis itu akan berpelukan dulu begitu bertemu. Setelah itu mereka bertiga segera menuju aula sekolah. Di sana sudah berkumpul para guru dan undangan.

Sekolah mereka mengundang beberapa pejabat daerah dan tokoh masyarakat sekitar. Juga ada perwakilan wali murid di sana. Boleh dikatakan, aula dijadikan tempat pertemuan resmi antara wali murid, guru, dan tokoh masyarakat. Pembicaraan mereka seputar pendidikan dan pengajaran yang telah diterapkan di sekolah dan mengevaluasinya. Dari belakang, Andit memperhatikan acara agar berjalan lancar. Ia juga memeriksa makanan kecil yang akan dihidangkan pada para undangan dan membantu teman-teman dari seksi konsumsi untuk membagikannya. Setelah merasa cukup, Andit kembali duduk di samping Kiki dan Amel.

"Gue nggak sabar nunggu Bara perform." Kiki merogoh tasnya dan mengambil sebuah kaca kecil di sana. Gadis itu merapikan rambutnya yang sama sekali tidak kusut. "Bara nanti di sini apa lapangan, Ndit?"

"Acara inti di lapangan sih, Ki. Penampilan band, bintang tamu, semua di lapangan biar lebih seru dan rame. Aula kita nggak cukup buat nampung seluruh siswa.

"Yah, panas dong." Kiki mulai mengeluh. Gadis itu selalu khawatir dengan kulitnya.

"Udah sih Ki, udah cantik. Takut banget item." Amel menyikut pelan Kiki dan dibalas Kiki dengan cengiran.

"Dipanggil, Anindita dari kelas XI IPA1, agar segera menuju ruangan panitia."

Terdengar panggilan untuk Andit dari pengeras suara di lapangan. Andit bergegas keluar aula, meninggalkan kedua temannya untuk kembali ke ruang panitia. Ada Mila di sana.

"Andit, baru nyampe? Satria nyariin dari tadi. Katanya dia mau ngasih tugas kamu, bikin laporan kayanya, untuk evaluasi acara nanti," ujar Mila.

"Oya? Thanks ya, Mil. Aku susul Satria. Uhm ... tapi semua udah oke kan, Mil?"

"Yup, beres. Bintang tamunya udah di jalan. Bentar lagi nyampe."

"Sip, thanks ya Mil. Aku tinggal bentar, ya."

Mila melambai ke Andit. Kemudian gadis itu kembali menekuri ponselnya. Andit keluar dari ruang panitia. Sebenarnya ia bingung mau mencari Satria di mana. Lorong-lorong kelas itu ramai. Lapangan juga mulai dipenuhi siswa yang ingin menyaksikan penampilan band sekolah mereka dari dekat. Andit memperhatikan wajah-wajah di tengah lapangan. Gadis itu tidak menemukan Satria di sana. Andit menuju kelasnya. Ia berpikir, mungkin Satria mencarinya ke sana. Dan benar saja, Satria menunggu Andit di sana.

"Aku pikir kamu belum datang," ucap Satria. Lelaki itu menggunakan jeans dan kaus. Jaket blue jeans melengkapi penampilannya. Sesaat Andit terdiam, mengagumi penampilan Satria. Ini kali pertama Andit melihat Satria tanpa seragam sekolah. Satria semakin terlihat dewasa dengan pakaian seperti itu. Dan tentu saja, tampan.

Andit mempersingkat jaraknya dengan Satria. "Tadi kata Mila, Kak Satria cari aku. Ada apa, Kak?"

"Oh, nggak apa-apa." Satria memasukkan kedua tangannya ke saku celana, mencoba bersikap "biasa" di depan Andit. Meskipun sedikit heran, Andit kemudian tersenyum mengangguk.

Riuh tepuk tangan dan suit-suitan terdengar dari lapangan setelah Bapak Kepala Sekolah resmi membuka acara Pensi. Satria dan Andit menuju lapangan untuk menyaksikan langsung acara pembukaan oleh band sekolah. Kiki dan Amel sudah di sana. Sebagian besar siswi SMA Aksara sudah berkumpul di lapangan untuk menyaksikan Bara dan teman-teman bandnya.

Bara sebagai vokalis memang digandrungi kaum hawa. Mereka menjerit-jerit histeris saat Bara melempar senyum berkharisma atau mengedipkan sebelah matanya.

"Baraaa ... aku padamuuu...." Kiki melambai-lambaikan scraf merah jambu pada Bara. Amel di sampingnya terlihat jengah dengan kelakuan Kiki.

"Udah sih Ki, nggak gitu-gitu juga kali." Amel menyikut Kiki dengan lengan kirinya. Namun Kiki sepertinya tidak peduli, ia terus saja melompat-lompat sambil melambai-lambaikan scraf itu.

Dari tempatnya, Andit tertawa melihat kelakuan kedua temannya itu. Di sampingnya, Satria memandangi Anindita. Gadis itu ikut terlihat lebih ceria hari ini. Ia bahkan bernyanyi mengikuti Bara dan musik yang menghentak. "Lo juga suka sama Bara, ya?"

Andit menoleh, "Suka. Seneng aja sama lagunya."

"Kalau, lebih dari itu?"

"Maksud Kakak?"

"Kaya naksir?"

Andit tertawa. Gadis itu kembali bernyanyi mengikuti Bara. Ingin sekali dia menyatakan isi hatinya sekarang, tapi Andit merasa tidak pantas saja. Di tengah tawanya, Andit berharap agar Satria peka terhadap perasaannya selama ini.

"Andit, aku serius. Kamu suka sama Bara?" Satria memajukan wajahnya lebih dekat, menurunkan nada bicaranya, dan menatap kedua mata Andit lekat-lekat. Di tengah riuhnya suasana, mata lelaki itu menenggelamkan Andit pada dunia yang lain dan ia terjebak sendirian di sana. Andit merasa sekitarnya mendadak sepi. Hentakan musik yang tadinya keras, kini hanya samar-samar terdengar dikalahkan oleh bunyi detakan jantungnya sendiri.

"Aku sukanya sama Kak Satria," ucap Andit. Kemudian tiba-tiba ia tersadar telah mengutarakan isi hatinya. Gadis itu menunduk malu. Dadanya berdebar kencang, mungkin lebih tepatnya seperti ingin meledak. Gadis itu merutuki diri, menyesal dengan apa yang barusan ia katakan. Bagaimana mungkin dia menyebutkan kalimat "terlarang" itu barusan. Rasanya memalukan saat seorang gadis menyatakan perasaannya lebih dulu. Ingin rasanya ia tenggelam saja ke dasar laut. Atau menghilang entah ke belahan bumi bagian mana.

Satria menyerahkan sebuah kotak pada Andit. "Aku nggak tahu nomor ponsel kamu. Jadi aku beliin ini biar kalau sewaktu-waktu aku kangen kamu, nggak susah-susah lagi menghubungi. Anggap saja hari ini kita jadian."

Andit memberanikan diri menatap wajah lelaki di sampingnya. "Kita, jadian?"

"Iya, kamu mau, kan?"

Ah, bukan seperti ini "penembakan" impian Andit sebenarnya, tapi gadis itu mengangguk. Keduanya tertawa kemudian ikut bernyanyi mengikuti irama. Hari ini, Andit kembali melukiskan satu warna lagi dihidupnya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top