PART 35
PART 35
Keesokan harinya Sari menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Sudut matanya lincah mengamati suaminya yang sedang merapikan baju. Hari ini Burhan tampil lebih rapi. Tak ada satu kata pun yang diucapkannya, sepertinya dia masih menyimpan sisa kekesalan sisa pertengkaran semalam.
Gelisah menyelimuti pikiran Sari sejak kedatangannya ke rumah sakit. Burhan lebih memperhatikan dirinya sendiri. Sari merasa kesepian, Burhan seperti tak tertarik lagi bicara dengannya. Seolah tak adalagi ruang untuknya di hati Burhan.
Sari tak bisa membayangkan, apakah kehidupannya akan sebaik saat ini jika Burhan kembali pada Galuh. Dia tak bisa membayangkan jika harus menjalani hidup seperti yang dialami Galuh. Ada rasa takut Burhan tak kembali lagi setiap lelaki itu melangkahkan kaki keluar dari rumah. Apalagi salah satu teman kantor suaminya menceritakan kalo Burhan sering meninggalkan kantor.
Burhan hanya memakan sedikit nasi goreng buatannya tanpa suara. Setelah meninggalkan setengah cangkir kopinya di meja, Burhan segera mengambil tas kerja. Sari coba mencairkan suasana dengan mengajaknya makan siang di restoran favoritnya. Namun Burhan tak mengindahkan dengan alasan ada rapat dengan salah satu klien.
Tangan Sari segera meraih tas dan kunci mobil setelah deru mobil Burhan bergerak menjauh. Sambil berjalan cepat tangannya mengirim pesan pada sekertaris Burhan untuk menanyakan jadwal suaminya hari ini. Kecekatannya mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan di masa muda masih melekat hingga kini.
Tidak hanya modis, Sari juga bisa menganalisa dengan cepat kejadian yang ada di depannya. Sari muda selalu sigap menyelesaikan tugasnya saat masih bekerja kantoran dulu. Parasnya yang cantik mampu membuat lelaki yang melihatnya jatuh cinta. Burhan sungguh beruntung dicintai dua wanita cantik, namun hatinya sudah terlanjur menguntai banyak rencana dengan Galuh. Sehingga tak ada sedikit pun ruang yang tersisa untuk menciptakan kenangan bersama Sari.
Sari berusaha mengendalikan dadanya yang terus bergemuruh. Pikirannya menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang bermuara pada satu kenyataan yang sebenarnya sudah diketahuinya. Namun dia sendiri selalu ingin memastikan bahwa semua dugaannya benar. Ternyata membohongi diri sendiri terasa lebih menyakitkan dari pada berbohong pada orang lain.
Kaki kanan Sari terus menginjak gas. Baru kali ini dia tak mempedulikan riasannya yang berantakan. Tangan kirinya sibuk menyisipkan rambut di belakang telinga sementara tangan kanannya masih mengendalikan kemudi. Kaki kiri Sari menginjak rem saat menemukan mobil Burhan berhenti di sebuah kedai yang menjual menu sarapan.
Hanya dalam hitungan menit, Sari melihat Burhan keluar kedai dengan membawa dua bungkusan. Kedua tangan Sari bergetar memegang kendali mobil. Kendaaan Sari melaju mengikuti mobil Burhan yang terus bergerak membelah kerumunan kendaraan. Dengan tetap menjaga jarak, Sari berharap suaminya tak menyadari kalau diikuti dari belakang.
Matahari naik belum terlalu tinggi, Sari sudah kegerahan di dalam mobil dengan mesin pendingin yang menyala. Laju kendaraan Burhan tidak menuju ke arah kantor. Kecepatannya berkurang saat memasuki gang kecil menuju sebuah perkampungan Semarang. Dia sepertinya tahu tempat yang akan di tuju Burhan.
Dada Sari kembali bergemuruh seiring perang batin yang kembali menguasai hatinya. Dia belum siap menghadapi ketakutan yang selama ini muncul dalam pikirannya. Sebuah awal yang akan membuat hidupnya tak akan sama lagi. Pastinya akan lebih sulit untuk dijalani sendiri, tanpa Burhan, orang yang paling dia cintai.
Jarak lima puluh meter cukup jelas untuk melihat Burhan. Sebuah rumah kecil bercat biru yang jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan rumahnya. Sari semakin sulit mengendalikan detak jantungnya. Tak terasa buliran hangat mengalir di kedua pipinya.
Ada sesuatu yang terus berlomba menusuk ulu hatinya. Terasa perih, namun Sari tak bisa menghentikannya. Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu coklat, mengajak Burhan duduk di teras rumah. Sari mulai merasakan sesuatu menyulut hatinya hingga terbakar, terasa panas namun tak terlihat baranya.
Sulit sekali menggerakkan tangan, Sari tak memiliki tenaga lagi untuk keluar dari mobil. Selama enam belas tahun pernikahan, Burhan tak pernah tertawa lepas saat bicara dengannya. Menatap wajahnya saja Burhan tak pernah lebih dari sepuluh detik. Tak ada ekspresi apapun, selalu datar hingga Sari tak pernah bisa menebak isi hati suaminya.
Sebuah kaca kecil diambilnya dengan tangan diri dari dashboard. Tak ingin terlihat lusuh di depan madunya, Sari mulai merapikan diri. Tak ingin paras cantiknya luntur, tangan kanan sibuk mengusap air mata sebelum menempelkan bedak yang selalu tersimpan di tas kecilnya. Sari mengumpulkan sisa tenaga setelah memutuskan untuk keluar dari mobil.
Sari mengambil ponsel dan tas kecil sebelum menutup pintu mobil dengan perlahan. Setelah berhasil menguasai diri, Sari melangkahkan kaki dengan mantap menuju gerbang rumah tepat di depan parkir mobil suaminya. Sebuah taman kecil dengan tanaman bunga yang cukup terawat tidak jauh dari teras. Berbeda dengan tanaman yang ada di rumahnya yang dibelinya dengan harga mahal, bunga di sini bisa ditemukan hampir disetiap rumah perkampungan.
Sembilu semakin dalam mengiris hati Sari saat mendapati suaminya yang berbicara dengan senyum terus menyungging dibibirnya. Sementara wanita yang duduk di seberang suaminya hanya mendengarkan sambil membalas senyum Burhan. Sari menahan air hangat yang terus berdesakan di kelopak matanya. Tak ada yang menyadari kehadirannya sampai tangan kanan Sari mendorong pintu gerbang yang setengah terbuka.
Burhan berhenti berbicara, wajahnya terlihat tegang setelah menyadari kehadiran Sari. Tak berbeda jauh dengan Burhan, wanita berambut panjang yang duduk di depan Burhan terlihat lebih sehat meski berubah pucat setelah menoleh ke gerbang. Sari melangkah dengan tenang, menyingkat jarak diantara mereka bertiga. Mulutnya masih terkunci, kembali menyusun kata yang tersumbat di tenggorokannya.
Selama dua menit, Sari hanya menatap dua orang di depannya tanpa kata. Kosakatanya sudah terkuras setiap kali bertengkar dengan Burhan. Ada yang harus diakhiri, masalah ini akan terus larut jika dia hanya diam saja. Sari menelan ludah beberapa kali untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
“Pantas saja kamu tidak mau sarapan di rumah, Mas. Ternyata kamu sudah punya teman sarapan yang baru.” Sari merasakan pahit, saat ludah melewati tenggorokan. “Sekarang kamu sudah tidak bisa menyangkalnya lagi.”
“Aku tidak pernah menyangkal Sari. Kamu yang tidak bisa menerima kenyataan.”
“Dan kamu...” Sari meluruskan pandangan ke arah Galuh. “Tidak tahu malu. Mungkin dulu dia suamimu, tapi kamu sekarang tidak berhak lagi untuk memilikinya.”
“Stop Sari!” Burhan terlihat berang, “Galuh masih istriku yang sah. Kamu yang seharusnya sadar diri.”
“Tapi kamu sudah meninggalkannya Mas.” Sari mengatupkan geraham untuk menekan suaranya.
Burhan berdiri dari duduknya sambil berkata, “Aku memang meninggalkannya BUKAN MENCERAIKANNYA.”
Galuh mulai angkat bicara, “Sudah, tolong jangan bertengkar di sini. Malu dilihat orang lain.”
“Heh, malu? Kalau memang kamu masih punya malu harusnya tidak menemui suami orang lain dengan sembunyi-sembunyi.”
“Sari!” Suara Burhan semakin meninggi. “Aku yang menemui Galuh, bukan dia yang ingin bertemu denganku. Aku sudah tidak tahu dengan cara apa untuk bisa membuatmu mengerti...” Burhan menggaruk kasar kepalanya dan melempar kepalan tangan ke udara.
“Sudah Mas, aku mohon jangan ada pertengkaran lagi. Kamu boleh menjauhiku Mas, demi keluargamu.”
“Heh! Pandai sekali kamu mencari muka.” Burhan semakin naik pitam.
“Tidak Galuh,” Sari dan Galuh menatap Burhan bersamaan dengan wajah terkejut. “Aku tetap ingin menebus kesalahanku, apapun caranya.”
“Apa katamu Mas?” suara Sari tak kalah tinggi. “Kamu gila ya?”
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Galuh. Sari tak kuat menatap wajah Galuh, takut mendapatkan kemenangan di sana. Panas menjalari pipi Sari saat tatapan Galuh tepat mengarah wajahnya. Sakit saat harus merasakan malu dan pedih dalam waktu yang bersamaan.
Kristal bening meluncur bebas di kedua pipi putih Sari. Dadanya terasa ingin meledak. Denyut tak beraturan semakin kuat menekan pelipisnya. Tubuhnya terasa tak bertenaga namun dia tak ingin jatuh di depan madunya.
“Aku serius,” Burhan yang mengatakan tanpa ekspresi membuat hati Sari semakin perih. Dia tahu betul, Burhan tak akan menarik ucapannya sebelum menjadi kenyataan.
“Dengar Sari, mulai saat ini aku tidak akan sembunyi-sembunyi lagi. Aku akan tetap bertanggung jawab atas kehidupan Galuh dan Andit. Aku tidak peduli kamu suka atau tidak.”
“Jahat kamu Mas!” Isakan Sari semakin sulit dikendalikan.
Burhan menatap Galuh yang terduduk lemas di kursinya. “Aku pulang dulu Galuh. Kamu jaga kesehatan ya,” Burhan berpamitan dengan meremas telapak tangan Galuh yang menggenggam pegangan kursi.
Sari tak kuasa melihat pemandangan di depannya, menundukkan wajah sibuk menghapus air matanya. Hatinya tak lagi perih, tapi sudah hancur sejak suaminya bertekad untuk tidak mau menjauhi Galuh. Matanya terpejam, coba menenangkan hatinya yang tak lagi berasa. Telinganya terasa panas ditampar ucapan Burhan yang tak lagi menganggapnya sebagai orang yang penting dalam hidupnya.
“Ayo pulang! Jangan bikin keributan di sini.” Aroma pewangi yang menempel ditubuh Burhan terasa menusuk hidung saat melewati Sari, namun kakinya masih berat untuk digerakkan.
“Kamu...,” Burhan kembali membentak sebelum Sari menyelesaikan kalimatnya.
“Sari pulang! Atau aku akan menarikmu dengan paksa.”
Sari terpaksa mengikuti langkah suaminya dengan kaku. Bentakan Burhan berhasil meremas hatinya. Sari merasa tak ada gunanya lagi berada di samping Burhan. Wanita yang tampak lebih muda dari usianya itu terlihat kerepotan saat harus menyeimbangi langkah suaminya.
“Mau ke mana? Naik ke mobilku,” perintah Burhan hanya dengan mengedikkan dagu semakin membuat hati Sari semakin sakit.
“Aku bawa mobil sendiri Mas,” Sari tak menemukan cinta lagi saat menatap mata Burhan.
“Nanti biar aku suruh orang untuk mengambilnya.” Perintah Burhan benar-benar sudah tidak bisa disanggahnya. “Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, penting.”
Langkah Sari bergerak menuju pintu penumpang samping kemudi. Entah kejutan apalagi yang akan diberikan suaminya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Sari. Dia hanya bisa pasrah kemana hidup akan membawanya. Kini Burhan sudah menetapkan pilihan, Eki sudah mulai berani membantahnya. Sari tidak hanya merasa sendiri, hidupnya seolah tak ada gunanya lagi. Setan melintas dalam pikirannya untuk segera mengakhiri hidupnya.
***
Terimakasih kak masih setia menemani kisah Burhan. Jangan lupa tinggalkan jejak ya...biar thor-nya lebih semangat lagi.😍
Happy reading.😘
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top