Part 34
Matahari sudah mulai bergeser ke barat, angin yang berhembus membuat hati Burhan yang bergemuruh menjadi sedikit lebih tenang. Burhan mengangkat cangkirnya. Bibirnya yang agak hitam mulai menyesap minuman kesukaannya. Bukannya tak mengindahkan anjuran dokter, sulit rasanya meninggalkan minuman yang bertahun-tahun selalu menemainya.
Tidak hanya itu, kopi selalu membuatnya merasa lebih dekat dengan Galuh. Meski kopi buatan Sari selalu lebih pahit, setidaknya bisa mengobati kerinduannya dengan Galuh. Sebenarnya Burhan merasa tak adil, membandingkan dua orang yang tak akan pernah bisa sama. Galuh terlalu sempurna dimatanya.
Bukanlah hal yang sulit bagi Galuh untuk mendapatkan hati disetiap orang yang dekat dengannya. Hanya dalam waktu singkat, wanita itu berhasil membuat Burhan tergila-gila. Namun Butuh waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan bahwa Burhan-lah lelaki yang bisa mengayominya sampai tua. Lelaki paruh baya itu sering tersenyum sendiri setiap kali mengingat perjuangannya untuk mendapatkan hati Galuh.
Meski paras ayunya berhasil memikat banyak orang, tapi Galuh seperti tak tersentuh. Senyum manisnya mengalihkan perhatian siapa pun yang ingin mengetahui isi hatinya. Seperti air yang menenangkan, Galuh selalu berhasil meredam api yang berkobar dalam diri Burhan. Sikap inilah yang membuat Burhan tersiksa saat harus meninggalkan Galuh.
Suara motor di depan gerbang menyadarkan Burhan dari lamunannya. Eki berlari kecil menuju pintu setelah memarkir motor dan menutup gerbang. Tangannya sibuk membetulkan rambut yang berantakan saat membuka helm. Senyum mengembang saat bertatapan dengan ayahnya.
“Kamu dari mana, Ki? Jam segini baru pulang.” Mata Burhan tak lepas dari wajah Eki yang pulang terlambat dengan wajah tanpa dosa.
“Habis makan bakso sama Kak Andit, Pa.” Eki setengah berbisik, matanya mencuri pandang ke dalam rumah.
Senyum mengembang dibibir Burhan. “Makan di mana sih? Bukannya Andit ngajar les.”
“Warung yang di dekat sekolah Kak Andit, Pa.” Eki yang duduk di seberang meja mendekatkan wajah pada Burhan. “Kak Andit menang olimpiade, hari ini libur ngajar. Makanya traktir Eki.”
Eki yang menceritakan dengan bangga membuat hati Burhan mengembang. Dua lelaki beda generasi itu kini saling mendekatkan kepala. Burhan mengikuti gerakan Eki dengan mencuri pandang ke dalam rumah. Tak sedikit pun prestasi Andit yang luput diceritakan Eki. Andit seperti idola yang tanpa cacat di mata Eki.
Burhan teringat kembali saat Andit sempat memanggilnya dengan sebutan “ayah”. Tak ada yang bisa melukiskan kebahagiaannya saat itu. Suara Andit seperti kidung merdu yang sudah lama dinantinya. Pikiran Burhan terbang kembali pada kenangan bersama gadis kecilnya yang bergelantung dileher sambil menyebutnya ayah dengan ucapan cedal.
“Papa janji ya, jangan cerita sama Mama.” Eki kembali mencuri pandang ke dalam rumah. “Eki mandi dulu, Pa.” Pamitnya sambil mangangkat kedua alisnya.
Langkahnya menjauh meninggalkan Burhan yang duduk sendiri di teras. Senyum yang mengembang di bibir Papanya menandakan, tak perlu lagi sembunyi-sembunyi saat ingin menemui kakak tirinya. Eki bersiul kecil menuju ke kamarnya. Terik matahari membuat badannya lengket. Suara Mamanya terdengar dari dapur saat Eki mendorong handle pintu.
“Kamu dari mana Ki?” tanya Sari sambil mengaduk isi cangkir.
“Main sama teman, Ma.” Eki berharap tak ada pertanyaan susulan dari mamanya.
“Ke mana sih? Sampai jam segini baru pulang.” Ternyata Eki salah, dia menghentikan langkah, menghadap lurus ke mamanya. Sementara tangan kanannya masih menempel di handle pintu kamar. “Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah. Ke mana aja sih?”
Tatapan Sari yang penuh selidik membaut Eki jengah, “Aku nggak kemana-mana Ma, cuma main saja sama teman.”
“Main sama temanmu yang mana? Main ke mana? Kalo main, ngapain saja sih kalian?” Sari terus saja memberondong Eki dengan pertanyaan.
“Ma, aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu diawasi.” Eki membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Tas punggungnya dilempar begitu saja ke kasur.
“Eki! Mama belum selesai bicara.” Suara Sari terdengar semakin dekat setelah terdengar bunyi mangkuk yang membentur marmer meja makan.
“Eki!” Sari sudah berdiri diambang pintu dengan tangan kiri membentuk siku di pinggang.
“Apalagi sih Ma?” Tangan Eki sibuk membuka tali sepatu. Tak sedetik pun menoleh ke arah mamanya. “Eki capek, Ma.”
“Capek kamu bikin sendiri. Pulang sekolah bukannya langsung ke rumah, malah main.” Serang Sari.
“Kenapa nggak boleh sih Ma?” Eki menatap sekilas, sambil melemparkan kaos kaki di atas sepatunya. “Teman Eki yang lain juga nggak pernah dimarahi orangtuanya kalau main sepulang sekolah.”
“Itu karena Mama perhatian dan sayang sama kamu Ki.” Suara Sari masih meninggi.
“Orangtua teman Eki juga sayang kok sama anaknya, tapi nggak pernah marah-marah seperti Mama.”
“Oh, kamu sudah pintar ya melawan Mama.” Sari semakin meradang. “Gara-gara Papamu sering terlambat pulang nih, kamu jadi ikut-ikutan nggak betah di rumah.”
Burhan yang baru saja meletakkan cangkirnya di meja makan menoleh ke kamar Eki yang hanya berjarak lima meter. Kedua ayah dan anak itu hanya saling menatap diantara sela badan Sari yang masih berdiri diambang pintu. Ingin sekali Eki mengatakan kalo dia memang sudah tidak betah di rumah, namun dia tak mau membuat mamanya semakin marah.
“Sudahlah Ma, anak baru datang malah diomeli.” Burhan mencoba menengahi keduanya.
“Nah ini Papa, udah ngasih contoh nggak bener sama anak. Sekarang malah dibela,” cecar Sari sambil memalingkan tubuh ke arah suaminya.
“Kok jadi aku sih yang dibawa-bawa?” protes Burhan.
Adu mulut antara kedua orangtuanya membuat Eki semakin gerah. Tangan kirinya mengacak rambut dengan kasar sambil menyambar handuk dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Rasanya tidak hanya badan tapi juga isi kepalanya ikut mendidih setiap kali mendengar pertengkaran orangtuanya. Eki merindukan suasana rumahnya yang dulu.
Suasana rumah tak lagi sama, mama tak semenyenangkan dulu. Papa yang pulang terlambat selalu menciptakan pertengkaran baru di rumah. Eki bahkan sudah tak peduli lagi dengan nilai ulangannya. Dia tak bisa bertahan lebih dari sepuluh menit di rumah setiap kali orangtuanya bertengkar.
Jarum jam menunjukkan setengah tujuh malam. Jempol Eki mengambang diatas layar ponsel, ingin sekali rasanya kembali mabar lagi dengan teman-temannya untuk menghilangkan kekesalan. Namun ucapan Andit sore tadi kembali terdengar di telinganya. Tekad untuk berhasil hanya ada dalam diri sendiri Ki, menggantungkan harapan pada orang lain hanya akan mendapatkan kekecewaan. Sementara kegaduhan masih terdengar di luar kamar, Eki menyelesaikan pesan singkatnya.
Tanpa menunggu balasan, Eki menyambar tasnya segera melangkah menuju pintu depan. Teriakan Sari kembali tertuju padanya saat menyadari Eki hendak meninggalkan rumah.
“Eki mau ke mana lagi?” Sari yang menyilangkan kedua tangannya di dada menggeser tubuhnya menghadap Eki.
“Asal Mama tahu, omelan Mama yang membuat Eki nggak betah di rumah.” Eki menatap papanya sekilas. “Di rumah ini, suara Adzan masih kalah keras dengan suara Mama.”
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Sari. Eki kembali menatap papanya, “Eki pergi dulu Pa,” pamitnya. Setelah mendapat anggukan dari papanya, punggung Eki menghilang dibalik pintu diikuti deru motor yang semakin menjauh.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top