Part 32
Pagi-pagi sekali Sari sudah menyelesaikan urusan rumah. Dia memasak lebih banyak dari biasanya. Sari juga menyiapkan bekal untuk dibawa Burhan dan Eki.
Eki yang sudah siap dengan seragam sekolahnya bermaksud pamit untuk berangkat ke sekolah.
"Nanti dululah, Ki. Sarapan dulu. Mama bikin nasi uduk nih. Oiya, panggil Papa sekalian, ya. Biar kita sarapan sama-sama."
Meski merasa agak aneh, Eki menuruti kemauan ibunya. Tak lama, Burhan dan Eki sudah duduk di meja makan. Mereka sarapan dalam diam. Mungkin karena hal ini jarang terjadi di rumah ini, Burhan menjadi curiga dengan tingkah Sari.
Beberapa menit kemudian, keluarga kecil itu telah selesai menyantap sarapan mereka. Hanya tersisa piring-piring kotor di atas meja.
"Ada apa?" tanya Burhan saat kedua mata Sari meliriknya. "Aku yakin ada hal yang kau inginkan."
"Eh, hmm ... Mama mau belanja dengan teman-teman nanti. Karena itu Mama masak lebih banyak. Jadi kalau nanti Mama terlambat pulang, kalian bisa makan duluan," jawab Sari. Tangannya sibuk membersihkan sisa makanan. Dia menumpuk piring kotor menjadi satu dan segera membawanya ke dapur. Sari kembali dengan dua kotak bekal. Ia mengisikan makanan ke dalamnya dan menaruhnya di hadapan mereka.
"Apa-apaan sih, Ma. Kaya anak TK aja." Eki bersungut-sungut ketika Sari menyodorkan kotak bekalnya pada Eki. "Aku nanti makan siang di kantin sekolah ajalah, Ma. Malu bawa beginian."
Remaja itu menolak membawa kotak bekal yang telah disediakan ibunya. Burhan juga menerima satu kotak bekal dari Sari. "Sudahlah, Eki. Bawa saja. Harusnya kamu bersyukur, tumben-tumbenan Mama kamu ini dapat ilham buat bikinin kita sarapan dan bekal."
"Mas, kok ngomong gitu, sih? Hari-hari juga aku nyediain sarapan, toh?" Sari tidak terima dengan ejekan Burhan. Dia merasa tersindir dengan kalimat Burhan. Memang selama ini dia jarang membuatkan bekal untuk dibawa Burhan dan Eki. Karena itu, Burhan dan Eki terbiasa makan siang di luar.
"Loh, kok kamu marah? Aku cuma bilangin Eki biar bersyukur." Burhan bangkit dari duduknya bersiap untuk keluar. Sari menyusul di belakangnya.
"Mas, aku butuh uang untuk pergi belanja nanti."
Burhan mengeluarkan kartu debitnya dan menyerahkan pada Sari. Mereka memang biasa seperti itu. Sari mengetahui persis berapa uang yang Burhan miliki.
Setelah Burhan dan Eki berangkat, Sari segera berkemas. Teman-temannya sudah menunggu di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka sudah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama hari ini.
***
Sari sampai di tempat itu satu jam kemudian. Beberapa orang temannya terlihat sudah datang dari tadi. Mereka menyambut Sari begitu wanita itu memasuki satu kafe di pusat perbelanjaan tersebut.
"Eh, Jeng Sari. Sudah lama ya, kita nggak ngumpul-ngumpul." Jeng Ana memeluk Sari kemudian mereka menempelkan pipinya kiri kanan.
"Ia Jeng. Sudah lama. Maklumlah, sekarang Jeng Ana makin sibuk sama bisnis batiknya. Jadi makin susah dihubungi." Sari menimpali omongan sahabatnya itu.
"Ah, tidak begitu ...."
Lalu basa basi pun berlanjut. Mereka saling memuji pencapaian mereka masing-masing. Sari begitu bangga dengan prestasi yang Burhan peroleh di tempat kerja. Suaminya itu memang sangat disiplin dan pekerja keras. Karena itu ia seringkali mendapatkan promosi untuk naik jabatan hingga kini Burhan dipercaya mengepalai sebuah anak perusahaan oleh kantornya. Demikian juga dengan Eki yang berhasil menjadi salah satu siswa SMP Aksara.
"Suaminya Jeng Sari itu loh, hebat. Anaknya juga berprestasi. Wah, saya jadi penasaran, gaji Pak Burhan itu sebulannya berapa ya, Jeng?"
Jeng Ana memang mengenal Burhan. Mereka pernah bertetangga dan lumayan akrab. Dulu waktu Eki masih satu sekolah dengan anaknya Jeng Ana, Eki sering dititipkan pulang bersama dengan anak Jeng Ana.
"Wah kalau gaji, ya cukuplah," jawab Sari diplomatis.
Sepulang dari pertemuan itu, Sari tergelitik untuk memeriksa saldo di rekening Burhan. Sari mengetahui persis berapa penghasilan suaminya itu. Jika dihitung-hitung, Sari menaksir tabungan itu berjumlah lebih dari dua ratus juta.
Namun Sari benar-benar kaget saat memeriksa saldo tabungan. Jumlahnya tidak sesuai dengan taksiran Sari. Penasaran dengan semua itu, membawa langkah Sari menuju bank tempat mereka menabung. Sari meminta rekening koran dari tabungan Burhan untuk transaksi dua bulan terakhir.
Alangkah kagetnya Sari setelah memeriksa rekening itu. Ada beberapa penarikan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Burhan bukan orang yang suka membeli barang-barang mewah. Ia juga buka tipe laki-laki yang senang membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang berharga fantastis. Lalu, untuk apa uang itu?
Sari mulai curiga dengan penarikan-penarikan uang yang tidak biasa itu. Awalnya wanita itu berniat untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Namun ia mengurungkan niatnya. Di hatinya hanya ada satu keinginan; ia ingin segera sampai di rumah.
Sari menyetop sebuah taksi dan menyebutkan alamat rumahnya pada supir taksi. Taksi itu meluncur membelah jalanan kota Semarang. Di perjalanan, Sari berniat menelpon Burhan untuk menanyakan perihal sejumlah uang yang ditarik Burhan dari tabungan mereka. Namun hal seperti ini tentu saja tidak nyaman dibicarakan lewat telepon.
Sari akhirnya menghubungi sekretaris kantor Burhan dan menanyakan jadwal kegiatan Burhan hari ini. Ia hanya ingin mengetahui, kira-kira jam berapa nanti suaminya itu bisa pulang dari kantor.
***
Saat Sari sampai di rumah, Eki ternyata sudah pulang lebih awal. Anak lelaki tanggung itu sedang asyik bermain dengan video gamenya. Melihat kepulangan Sari, Eki memilih melarikan dirinya ke kamar. Eki tidak ingin menjadi sasaran kemarahan ibunya itu. Eki hapal betul raut wajah ibunya saat ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Sari segera masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Pikirannya melayang ke masa di mana Burhan akhirnya menerima Sari sebagai pendamping hidupnya. Saat itu sulit sekali memenangkan kepercayaan Burhan. Ia baru akan bernapas lega setelah Eki hadir. Anak itu menguatkan ikatan pernikahan mereka.
Lalu setelah sekian tahun, Galuh kembali hadir di antara mereka. Sejujurnya, inilah alasan Sari menolak Andit saat anak itu menghubungi ayahnya kembali. Sari yakin, suatu hari Burhan pasti akan tergugah hatinya oleh anak itu. Padahal sudah berbagai cara dilakukan Sari untuk membuat Andit dan Galuh menjauh dari kehidupan Burhan. Lalu pada saat ia merasa pernikahannya sedang dalam masa-masa bahagia, kenapa anak beranak itu justru kembali hadir di tengah mereka.
Sari memijat pelipisnya. Memikirkan kemungkinan-kemumgkinan yang telah terjadi, membuat wanita itu frustasi.
Sari tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Wanita itu meraih ponselnya dan segera menghubungi Burhan.
"Mas, bisa pulang sekarang? Ada yang harus kita bicarakan. Penting."
Begitulah kalimat yang ia tuliskan. Tanpa berpikir panjang, wanita itu mengirimkan pesannya pada nomor Burhan.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top