Part 29
Butuh beberapa menit bagi Burhan untuk memutuskan akan keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah itu, atau melupakan kembali masa lalu, menancap mobilnya dan pulang menemui Sari.
Burhan menatap rumah kecil sederhana itu. Di sana, tempat ia pernah merasakan bahagia dan terluka sekaligus. Dari balik kaca mobilnya, Burhan teringat kembali lintasan masa lalu. Rumah itu masih sama warna catnya, saat Burhan masih tinggal di sana. Tempat ini tidak banyak berubah. Berada di depan jalan beraspal, meski bukan jalan utama, lingkungan ini cukup ramai dan padat.
Burhan melirik kantong plastik di kursi sebelahnya. Galuh menyukai makanan manis. Burhan menyempatkan diri untuk membeli dua kotak martabak Bangka saat hendak menuju ke tempat ini. Burhan memarkir mobilnya beberapa meter dari depan rumah itu. Ada tulisan ditempel di dinding samping pintu. Burhan tidak dapat melihat dengan jelas tulisan itu.
Lalu lalang dua tiga orang pejalan kaki terlihat di depan rumah. Para remaja berseliweran dengan motor-motor mereka tanpa menggunakan helm, apalagi jaket, dan peralatan safety lainnya. Remaja-remaja itu tertawa lepas, seolah tak punya masalah dalam hidupnya. Rambut mereka berjambul dan diwarnai dengan warna-warna mencolok. Demam K-Pop beberapa tahun terakhir sedang melanda muda mudi negeri ini.
Adapun jambul, sepertinya dipopulerkan oleh seorang penyanyi ternama Indonesia yang sedang berada di puncak kariernya saat ini. Wanita yang terkenal dengan jargon-jargon anti-mainstream itu memang penuh sensasi, tapi selalu menjadi dambaan muda mudi.
Burhan teringat akan masa mudanya saat melihat sekumpulan anak-anak remaja sedang asyik bergitar di dalam pos ronda, tak jauh dari rumah Galuh. Masa muda, ah, rasanya saat itu hidup terasa ringan dan bahagia. Tidak ada masalah atau apa pun yang membuat pikiran Burhan runyam kecuali tugas kuliah, dosen pembimbing yang killer, dan harus mengulang mata pelajaran yang nilainya jeblok.
Semuanya berjalan lancar tanpa kendala berarti. Ia tidak pernah merasakan kesulitan ekonomi seperti halnya teman-teman sebayanya. Lulus kuliah, Burhan juga langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji lumayan.
Ia masih ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Galuh kala itu. Seorang gadis sederhana yang tidak banyak bicara. Wajahnya ayu dan tatapan matanya teduh. Setiap kali bicara, bibirnya seolah menyunggingkan senyuman ramah. Galuh yang pintar bergaul dan disukai semua orang.
Bukan satu dua orang yang menyukai Galuh. Burhan tahu itu. Namun Abimanyu terang-terangan menyatakan perasaannya bahkan saat Galuh sudah menjadi milik Burhan. Mengingat kejadian itu membuat luka di batin lelaki itu kembali berdarah.
Benar, ia sudah membuat keputusan yang keliru saat itu. Setelah belasan tahun, Galuh masih sama seperti dulu. Wanita itu masih istrinya. Dan cinta mereka ternyata belum berakhir. Burhan dapat merasakan itu saat menatap Galuh di rumah sakit.
Lelaki itu meraih kantong plastik dan menentengnya saat keluar dari mobil. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tekadnya sudah bulat. Ia akan memperbaiki semua kesalahannya mulai detik ini.
Tak butuh waktu lama, seorang wanita membukakan pintu untuk Burhan. Galuh tidak percaya seseorang yang telah mengetuk pintu rumahnya ternyata Burhan. Sesaat mereka saling terpaku di tempatnya masing-masing.
"Apa aku tidak diizinkan masuk?" Burhan memecah keheningan di antara mereka.
"Ah, ya ... masuklah."
Lelaki itu menatap setiap sudut di rumah itu. Semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah, kecuali sebuah mesin jahit di pojok kiri ruangan. Burhan sempat membaca tulisan di dinding samping pintu masuk itu tadi.
'Menerima jahitan wanita'
"Kau kini menjahit pakaian?" tanyanya.
"Ya, sudah lama. Aku tidak bisa mengandalkan upah gaji buruh pabrik untuk membiayai sekolah Anindita," jawab Galuh. Kalimat itu jelas-jelas menampar lelaki itu. Galuh tahu itu. Namun tentu saja Galuh tidak bermaksud menyakiti Burhan. Ia hanya mengatakan kebenaran saja. Lelaki itu melirik sekilas ke arah Galuh.
"Bagaimana kesehatanmu sekarang?"
"Aku merasa lebih baik," jawab Galuh. Burhan membalasnya dengan anggukan. "Duduklah. Aku buatkan kopi."
Galuh membawa kantong plastik berisi martabak manis kesenangannya. "Kau tidak perlu repot-repot seperti ini," katanya sambil berjalan ke dapur.
Di kamar, Anindita sedang sibuk memeriksa soal-soal latihan siswanya. Ia mendengar ketukan pintu tadi, dan seseorang yang bicara dengan ibunya. Namun ia mengira, itu hanyalah salah satu pelanggan jahitan ibunya. Karena itu, ia tidak ambil pusing dengan percakapan di luar.
Galuh kembali dengan segelas kopi dan sepiring martabak. Dua orang dewasa itu tidak terlalu banyak bicara. Lebih sering keheningan yang terjadi setelah satu atau dua pertanyaan. Galuh malah lebih memilih menjawab "iya" , "tidak" , atau hanya mengangguk atau menggeleng.
Anindita tiba-tiba keluar dari kamarnya. Pintu kamar yang menghadap langsung ke ruang tamu, membuat gadis itu segera mengetahui siapa saja yang sedang bertandang ke rumahnya.
"Anda? Ada urusan apa anda ke mari? Oh, mengenai pembayaran rumah sakit? Jika saat ini anda berniat menagihnya, saya yang bertanggung jawab untuk membayar semuanya."
"Andit!"
"Ibuk nggak usah khawatir, Andit akan selesaikan hutang kita sama Pak Burhan, Bu." Gadis itu terlihat emosional. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Andit! Kita sudah bicarakan ini sebelumnya!" Galuh membentak Anindita. Suaranya meninggi. Andit sudah sangat keterlaluan kali ini.
Anndita terkesiap mendengar suara ibunya. Gadis itu segera berlalu dan keluar dari rumah.
"Sudahlah. Aku yang salah di sini." Burhan menatap Galuh. "Jangan terlalu keras padanya. Aku yang bersalah. Maafkan aku." Lelaki itu bangkit dari duduknya. Kopi di hadapannya belum sempat tersentuh. Burhan menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya, ia juga merasa tersinggung dengan sikap Anindita. Namun ia memaklumi sikap gadis itu.
Lelaki itu berjalan menuju pintu. Galuh yang sudah tidak enak hati, tidak pula menahan kepergian Burhan. Namun kemudian wanita itu juga bangkit dari duduknya. "Tunggu, Mas!"
Burhan berbalik ke belakang. Galuh menyusulnya dengan segelas kopi di tangannya. "Tidakkah kau rindu mencicipi kopi buatanku?" katanya sambil menyodorkan cangkir.
Burhan menatap Galuh beberapa saat. Lelaki itu menerima cangkir kopi dari tangan Galuh dan meminum setengahnya. "Aku pamit," katanya sambil menyerahkan cangkir itu kembali. "Aku akan datang lagi nanti, tapi itu jika kau mengizinkan."
"Tentu saja. Ini rumahmu, Mas." Galuh tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan pada wajahnya, juga rasa haru yang datang menyelinap masuk begitu saja. Hari ini, suaminya sudah kembali. Meski itu hanya beberapa menit.
"Bersabarlah dengan Anindita, Mas. Aku akan membuatnya mengerti."
"Jangan memaksanya. Biarkan semua berjalan perlahan," ujar Burhan.
Lelaki itu keluar dari rumah Galuh. Ada sakit yang menyelinap kembali saat melihat reaksi Andit terhadapnya barusan. Namun Burhan yakin, suatu hari nanti, Andit akan menerima kehadirannya kembali. Entah kapan...
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top