Part 25
Andit masih berkutat dengan soal matematika saat getaran ponsel membuyarkan konsentrasinya. Itu panggilan dari ibunya. Untung saja Bu Widya tidak sedang berada di kelas. Guru kesayangan Andit itu keluar beberapa saat yang lalu, setelah memberikan soal latihan untuk dikerjakan.
"Halo..." ucap Andit sesaat setelah memencet tombol hijau pada ponselnya.
"Siapa Ndit?" Kiki melongokkan kepala mendekati pundak Andit.
"Ibuk. Kenapa, Buk?" Andit menjawab sambil memberikan kode pada Amel dan Kiki. Dua gadis itu ber"ooo" serempak. Penasaran dengan panggilan telepon itu, mereka mendekatkan telinganya ke dekat Andit.
"Iyakah, Buk? Alhamdulillah ... iya, nanti langsung ke sana pulang sekolah. Iya ... iya, Buk. Siap. Ya."
"Ibuk kenapa, Ndit?" tanya Amel memastikan apa yang sedari ia dengar saat menguping telepon Andit.
"Hari ini, Ibuk sudah boleh pulang. Tadi dokternya masuk, dan sudah kasih izin buat pulang."
"Iyakah? Syukurlah ...." Amel, dan Kiki memeluk Andit serempak.
"Gue ikut lo jemput Ibuk ya, Ndit?" ujar Kiki.
"Iya, entar pake mobil gue aja," jawab Amel.
"Eits! Nggak usah. Kalian kan harus ikut kelas tambahan nanti. Gue pergi sendiri aja," tolak Andit. Gadis itu merasa tidak enak jika harus merepotkan kedua temannya. Lagi pula, Amel dan Kiki harus mengikuti kelas tambahan siang ini.
"Duh ... iya, kelas tambahan. Sebel, deh." Kiki selalu seperti itu setiap kali harus mengikuti kelas tambahan. Ulangan harian kemarin, nilai Kiki dan Amel kurang memuaskan. Karena itu, mereka harus mengikuti kelas tambahan sepulang sekolah.
***
Andit melewati koridor rumah sakit dengan langkah tergesa. Hari ini Galuh sudah boleh pulang. Gadis itu bahagia sekali, bahkan ia tidak menyempatkan diri untuk pulang sekadar berganti pakaian. Andit masih memakai seragamnya ke sana. Lengkap dengan tas punggungnya yang lumayan berat.
Gadis itu mendengar gelak tawa dari sebuah kamar yang terbuka. Sekilas Andit melihat orang-orang yang mengerumuni sebuah ranjang rumah sakit dengan seorang wanita yang terbaring di atasnya. Wajah wanita itu lelah, tapi terlihat sangat bahagia. Lalu suara tangis bayi, dan orang-orang itu semua tertawa mendengarnya. Bayi itu berpindah dari tangan yang satu kepada yang lainnya. Ah, ternyata di tempat ini tidak melulu hal-hal buruk dan wajah-wajah murung yang terjadi. Di ruangan itu salah satunya. Andit menyaksikan bagaimana sebuah kelahiran menyatukan seluruh keluarga besar. Bersama itu, kebahagiaan juga hadir.
Ia tersenyum melihat pemandangan itu. Satu lagi pelajaran berharga dalam hidupnya. Beberapa hari Andit di rumah sakit, hanya wajah murung dan sedih yang setiap saat ia lihat. Namun hari ini berbeda. Apakah ada hubungannya dengan suasana hatinya saat ini? Entahlah, tapi bisa saja seperti itu.
Kemarin awan mendung menggelayut di pikiran Andit, hingga tak satu pun kebahagiaan bisa ia lihat. Hanya wajah-wajah murung dan kesedihan. Lalu hari ini, saat mendengar berita kepulangan ibunya, seketika awan itu menghilang, dan kebahagiaan lain menyapa inderanya.
Langkah Andit semakin dekat dengan ruangan ibunya. Saat memasuki ruangan, Galuh sedang duduk di tepi ranjang. Tangannya terlihat sibuk merapikan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ibuk ... sini biar Andit aja." Andit mengambil alih pakaian-pakaian itu setelah mengucap salam dan mencium takzim tangan Galuh. "Jangan sibuk-sibuk dulu, Buk. Andit bisa kok."
"Nggak sibuk. Cuma begitu saja Ibuk bisa, Nduk. Gimana sekolah kamu tadi?"
"Baik, Buk."
Andit bersiap untuk menuju bagian administrasi rumah sakit saat seraut wajah masuk dan melempar senyum termanisnya. Lelaki itu mencium punggung tangan Galuh, dan menaruh sebuah kantong plastik di atas nakas.
"Kak Satria? Kenapa repot-repot? Aku jadi nggak enak."
"Nggak repot, kok. Tadi aku nyari kamu ke kelas, tapi kata teman-teman, kamu ke rumah sakit. Ya udah aku nyusul." Satria melirik kantong plastik yang tadi dia bawa. "Itu, aku bawain makanan. Aku yakin, pasti kamu nggak sempat makan siang."
"Iya, makasi, Kak. Aku langsung ke sini tadi. Ibuk sudah boleh pulang hari ini. Aku pengin cepat-cepat bawa Ibuk pulang."
"Iya? Syukurlah. Terus tunggu apa lagi? Ayo aku antar."
"Ehm ... aku mau ke administrasi dulu."
"Aku ikut. Ayo!"
***
"Atas nama Ibu Galuh dari ruang cempaka sudah lunas, Mbak," jawab petugas administrasi rumah sakit saat Andit ingin menyelesaikan biaya pengobatan Galuh. Sejujurnya, Andit agak cemas saat petugas itu memeriksa nama Galuh. Andit sudah menghitung seluruh sisa tabungan mereka. Kemungkinan semua uang tersebut tidak akan bersisa. Bisa saja malah tidak cukup. Namun Satria meyakinkan akan membantu sisa pembayaran.
"Aku punya tabungan. Ya, nggak banyak. Tapi semoga bisa membantu kekurangan biaya rumah sakit nanti," terang Satria saat Andit mengungkapkan kecemasannya. Andit tidak menjawab lagi. Ia hanya ingin ibunya bisa pulang secepatnya.
"Sudah lunas? Kok bisa, Mbak? Coba dicek lagi, Mbak."
"Iya, Mbak. Sudah lunas. Di sini tertulis penanggung jawab atas nama Bapak Burhan."
Ada rasa lega di wajah Anandita. Namun karena ia betul-betul tidak menyangka akan dibantu oleh Burhan, raut wajah bingung itu tak dapat ia sembunyikan. Satria memahami situasi yang sedang dialami Andit.
"Udah, yuk!" ajaknya saat Andit masih mematung di tempatnya sekarang. "Katanya mau buru-buru pulang. Kenapa malah bingung, gitu?"
Meski masih tidak percaya dengan semua yang terjadi, Andit menurut saja pada Satria. Gadis itu mengangguk kemudian mengikuti langkah Satria menuju kamar Galuh.
"Kok dia mau bayarin biaya rumah sakit? Mau cuci tangan tuh, orang," gerutu Andit.
"Andit, jangan ngomong gitu. Gimana pun, beliau ayah kamu. Nggak boleh ngomong gitu," tukas Satria.
Dalam hati Andit membenarkan ucapan Satria. Lagi pula, bukankah memang sudah seharusnya lelaki itu bertanggung jawab atas mereka.
"Huft! Ayah? Ayah macam apa dia!" jawab Andit. Egonya menghalangi Anandita untuk mengakui kalau sebenarnya ia sangat membutuhkan ayahnya. Satria tidak menjawab lagi. Ia hanya tersenyum dan menepuk lembut puncak kepala Andit.
Satria memahami perasaan Andit. Tidak mungkin mengobati rasa sakit yang gadis itu rasakan hanya dalam beberapa hari. Andit butuh waktu untuk itu semua. Satria yakin, suatu hari nanti Andit juga akan menyadari kekeliruannya.
Galuh sudah siap saat kedua remaja itu sampai di kamar perawatannya. Ia juga terlihat lebih segar setelah menyisir rambut dan mengganti pakaian. Wanita itu tersenyum pada Andit dan Satria. "Sudah?" katanya
Andit mengangguk. Ia tidak ingin menjelaskan apa-apa sekarang. Ada baiknya mereka menunda menceritakan tentang pembayaran itu nanti saja di rumah.
Satria membantu Andit membawa tas pakaian ibunya. Andit juga sudah mengepak beberapa barang agar rapi dan ringkas untuk dibawa pulang. Ada rasa lega pada ketiganya saat meninggalkan rumah sakit. Namun, tak satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Ketiganya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top