Part 15
"Burhan! Sebenarnya apa yang membuat matamu sampai buta seperti ini?" Otot wajah Pak Cipto, ayah Burhan menegang, tulang rahangnya pun mengeras.
Meski selalu kukuh dengan pendiriannya, Burhan tak pernah diajarkan untuk melawan perkataan orangtuanya. Kepalanya kembali menunduk, matanya menatap sela kedua kakinya yang lurus berjajar. Sementara ibunya, duduk tegap tepat dihadapannya dengan melipat tangan di dada. Burhan bisa menjawab setiap perkataan ayahnya, tapi untuk menatap wajah ibunya tak ada sedikit pun keberanian yang tersisa.
"Coba katakan apa yang membuatmu bertahan dengan perempuan kere seperti Galuh?" teriakan Pak Cipto membuat telinga Burhan terbakar. "Dia sama sekali tak pantas menjadi istrimu!"
Sebenarnya Burhan ingin menjerit mendengarkan perkataan ayahnya. Namun, tatapan wajah ibunya membuat tenggorokannya kering. Denyut di kepala Burhan semakin menyakitinya. Tangan Burhan membuat kepalan berusaha menepis telapaknya yang basah.
"Galuh tak seperti yang Ayah pikirkan." Burhan memicingkan mata pada ayahnya. "Burhan mencintainya, Ayah. Lihatlah kami sudah bahagia meski kalian tak merestui pernikahan kami."
"Apa kamu bilang?" Pak Cipto berdiri dari duduknya. "Tahu apa kamu tentang cinta? Hah!" Teriakan Pak Cipto memenuhi setiap sisi ruangan. "Sekarang lihatlah dirimu!"
Teriakan Pak Cipto kembali menusuk telinga Burhan. Sementara ibunya tetap bergeming duduk lurus menatapnya. Rambut Bu Cipto yang di cepol rapi di belakang kepala semakin menambah kesan ayu meski usianya tak lagi muda. Sikap Bu Cipto selalu menyiratkan darah kebangsawanan masih mengalir di tubuhnya.
Kepiawaiannya membawa diri sering membuat sungkan siapa pun yang berhadapan dengannya. Bu Cipto tak pernah memberikan reaksi yang berlebihan saat berbicara dengan siapa pun. Perasaannya selalu bisa ditutupi dengan rapi, meski sedang berhadapan dengan hal yang tak disenanginya sekali pun. Berbeda dengan malam ini, urat diwajahnya tampak tegang.
Pembuluh darahnya seperti berkumpul di wajah, menghiasi kulitnya yang putih bersih. Sesekali telunjuk tangannya bergerak-gerak membentuk sebuah irama. Burhan semakin gugup saat Bu Cipto mulai mengangkat kaki kanannya kemudian menumpuknya di atas kaki kiri.
"Sejak kecil, orangtuamu tak sekali pun membiarkanmu kelaparan. Kini harus membiarkanmu tinggal di kontrakan petak." Pak Cipto memegang dada dengan tangan kanannya. "Kalau hidup hanya cukup dengan cinta, apakah anakmu juga akan kenyang dengan kamu beri makan dengan cinta?"
Pak Cipto kembali duduk dengan tetap memegang dadanya sambil menghirup napas dengan paksa, seorang ingin memenuhi paru-parunya dengan oksigen. Diam sebentar sambil mengarahkan bibir cangkir ke depan mulutnya. Dadanya naik turunberusaha mengatur napasnya.
Bu Cipto yang sejak tadi tidak mengeluarkan kata kembali menurunkan kaki kanannya. Sorot matanya masih tajam, Burhan bisa menangkap bahwa ibunya pun sama sekali tak bisa menerima alasannya. Bahkan Anindita kecil sama sekali belum pernah merasakan gendongan neneknya. Bu Cipto menatap sekilas ke arah suaminya, sebelum melempar sorot mata tajam pada anak semata wayangnya.
"Ayah, kumohon mengertilah. Aku sudah punya Anindita. Mana mungkin aku bisa menelantarkan anakku." Burhan berusaha menyembunyikan suaranya yang mulai bergetar.
"Kenapa kamu yakin kalau itu anakmu?" Kali ini Pak Cipto berhasil membuat dada Burhan terbakar.
"Ayah!" Burhan mengangkat wajahnya. Bola matanya menatap wajah ayahnya tanpa rasa hormat. "Kejam sekali Ayah menuduh istriku seperti itu."
"Heh! Coba tanya ibumu!" perintah Pak Cipto tak mau kalah dengan tatapan anaknya.
Burhan semakin gamang dengan dirinya sendiri. Sikap ibunya yang bergeming seolah mengiyakan ucapan ayahnya. Sorot matanya tak berubah sama sekali. Kedua lengannya masih menyilang didada, membuat hati Burhan semakin getir.
"Bu?" Burhan menatap ibunya penuh harap.
"Galuh itu wanita nggak bener, Burhan. Ibu melihat dengan mata kepala ibu sendiri. Kemana kamu seharian ini hingga membiarkan istrimu bersama lelaki lain?" Ucapan Bu Cipto terasa seperti petir yang menyambar kepala Burhan.
Tubuh Burhan limbung. Meski sedang duduk, seolah tulang tak bisa menyangga tubuhnya lagi. Burhan berusaha mengikis pikiran buruk tentang istrinya. Fitnah ibunya ini dianggapnya terlalu kejam. Bukannya tidak masuk akal, ibunya adalah orang yang pertama kali tak menyutujui hubungan mereka.
Setan kembali berkeliaran di kepala Burhan. Perjuangannya selama ini untuk mempertahankan Galuh tak ada artinya sama sekali. Bukannya berusaha menguatkan, Galuh malah melumuri wajahnya dengan kotoran di depan orang tuanya. Hatinya kembali terbakar mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu.
Lelaki itu bahkan terang-terangan meminta Galuh darinya. Abimanyu, bahkan untuk mengingat namanya saja Burhan merasa jijik. Usianya memang sepantaran dengan Galuh. Berbeda dengan dirinya yang lima tahun lebih tua dari Galuh. Orang yang mengaku cinta pertama istrinya itu ditemukan Burhan sedang berlutut di depan istrinya. Bahkan keduanya sedang berada di depan rumah, membuat wajahnya semakin tercoreng di depan tetangga.
Amarah yang masih tersisa dari rumah orang tuanya menjadi semakin berkobar. Bogem mentah berkali-kali menghujani Abimanyu. Lelaki hanya bisa pasrah tanpa perlawanan sama sekali. Tak puas membuat lebam di wajah, kepalan tangan Burhan menghantam hidung Abimanyu hingga mengeluarkan darah segar.
Galuh hanya bisa menjerit dengan air mata membasahi kedua pipinya. Burhan menghempaskan tangan Galuh saat mulai menahan pukulannya. Tubuh Burhan yang lebih besar dengan mudah membuat Abimanya yang kurus terpelanting ke belakang. Burhan sudah hilang kendali hingga tetangganya pun hanya berani menatap mereka dari balik pagar.
"Lihatlah aku, Galuh. Bukan hanya meninggalkan orangtuaku. Aku rela diperlakukan seperti ini oleh suamimu untuk mendapatkan kamu kembali." Ucapan Abimanyu kembali terngiang di telinga Burhan. Hatinya semakin hancur membuat amarahnya semakin tak bisa dikendalikan.
"Apa katamu? Dasar anjing!" Burhan terus menghujani Abimanyu dengan pukulan membuat istrinya semakin histeris. Galuh kembali terpelanting ke belakang saat berusaha menahan Burhan. Tidak tahan melihat semuanya Burhan mengusir Abimanyu dengan tendangan di perut.
Burhan kembali terduduk lemas saat bayangan masa lalu yang susah payah dikuburnya kembali muncul di kepala. Nasi yang baru dua suap masuk ke perut sudah tak mampu ditelannya lagi. Burhan tak bisa menahan air mata yang terus keluar dari kelopak matanya. Lelaki paruh baya itu semakin sedih saat semua tuduhannya di masa lalu tak menemukan bukti.
Burhan meninggalkan separuh isi piringnya di meja. Perutnya yang perih tak mampu lagi menerima makanan yang masuk kemulut. Teh hangat ditenggaknya habis, berharap bisa memberikan kekuatan pada tubuhnya. Jam di tangan kirinya sudah menunjukkan dini hari saat Burhan kembali ke ruang rawat Galuh.
Satu kantung plastik besar yang berisi makanan diletakkannya di atas nakas. Langkahnya hati-hati berharap tak mengganggu tidur Galuh dan Anindita. Burhan menatap dua wajah orang yang dicintainya masih tertidur lelap sebelum beranjak meninggalkan ruangan. Tangan kanannya sempat mengusap pipi Galuh seperti dulu saat mereka masih menjadi suami istri.
"Mas Burhan," suara lemah Galuh terdengar jelas bersamaan dengan tangan Burhan yang menutup tirai hijau tua yang mengelilingi ranjang Galuh. Burhan membutuhkan ribuan kekuatan untuk berhadapan lagi dengan Galuh. Langkahnya semakin menjauh membawa hatinya yang hancur.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak dikolom comment ya kak...tanpamu aku bagai ambulan tanpa wiew...wiew...wiew...😁
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top