Part 12

Andit menunggu hasil koreksi tugas-tugasnya dengan penuh kecemasan. Widya mengerutkan dahi berkali-kali untuk mencerna tulisan Andit. Sesekali tinta merah dari penanya mengukir huruf dan angka disamping jawaban. Andit yang terlalu percaya diri dengan jawabannya semalam harus kecewa karena banyak sekali catatan yang harus diperhatikan lagi.

Hati Andit bergetar, sesekali Widya menatapnya dari balik kacamata. Sorot mata itu menyelidik seperti biasa saat mengetahui ada yang tak beres. Andit hanya bisa menahan napas saat tangan kanan Widya melepaskan kacamatanya. Ruang guru yang lengang membuat hati Andit semakin gamang.

Kedua bahu Widya terangkat saat hidungnya menarik napas dengan kuat dan mengeluarkannya dengan keras. Andit bisa merasakan kekecewaan gurunya. Soal yang dianggapnya mudah dan bisa diselesaikan dengan lancar ternyata hampir semua jawabannya salah.

Tatapan menyelidik yang membuat Andit berat untuk sekedar menggeser duduk. Andit hanya bisa menunduk, menatap garis-garis keramik di bawah kakinya. Berkali-kali Andit menelan ludah untuk menenangkan hati. Dia menyadari, masalah yang dihadapinya saat ini sangat mempengaruhi konsentrainya.

Peluh mulai membasahi keningnya. Kedua tangan Andit memilin-milin ujung rok di bawah meja. Teringat dengan keinginannya semalam, Andit kesulitan memilih kata. Widya memang bukan termasuk guru yang galak, tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyampaikan rencananya.

Kerongkongan Andit terasa kering, membuat suaranya tertahan hingga tak mampu untuk keluar. Tak ada suara lagi selain deru kipas angin yang menempel di ternit ruangan. Sekolah sudah mulai sepi, satu per satu siswa meninggalkan kelas. Hanya beberapa dari mereka yang tinggal untuk melakukan kegiatan ekstra kurikuler.

"Andit, kamu ada masalah apa?" suara lembut Widya memecah keheningan. "Tak seperti biasanya tugasmu berantakan seperti ini." Widya menarik napas sambil meletakkan kacamata di atas meja. "Kamu tahu kan, olimpiade tinggal beberapa hari lagi?"

Saat mengangkat kepala, Andit menemukan tatapan Widya yang lebih teduh. Andit merarik napas lebih dalam untuk mencari kekuatan. Dia tahu masalahnya tidak bisa digunakan sebagai alasan, tapi sulit rasanya untuk mengabaikan. Pundaknya yang kecil terlalu lemah memikul beban hidup. Ayah, satu-satunya orang yang bisa diharapkan sama sekali tak mau memberikan bantuan.

"Ibu saya sakit, Bu." Andit menjawabnya singkat, berharap bisa membuat Widya luluh.

Widya yang menyandarkan punggung ke belakang terlihat lebih lunak sikapnya. Keberanian Andit sedikit demi sedikit muncul. Ada baiknya dia ceritakan masalahnya. Seperti rencananya tadi malam, agar semua berjalan dengan baik.

"Ibumu sakit apa Dit?" tanya Widya.

"Sakit Anemia berat, Bu." Tak kuat menatap Widya terlalu lama, Andit kembali menunduk. "Ibu saya dirawat di rumah sakit. Maafkan saya, tidak maksimal mengerjakan tugasnya. Saya harus merawat ibu karena tidak ada keluarga lain yang bisa merawatnya."

"Sudah berapa ibumu dirawat?" Andit bisa melihat kesedihan yang terpancar dari wajah gurunya.

"Hampir satu minggu, Bu." Tenggorokan Andit bergerak, mendorong ludah menuruni kerongkongannya. "Sebenarnya tadi saya juga mau minta izin sama Ibu untuk mencari pekerjaan sepulang sekolah."

Andit semakin gugup saat Widya memijat keningnya. Tipis harapannya untuk mendapat pesetujuan gurunya. Dia sendiri belum terpikirkan mau bekerja apa. Dia hanya tak mungkin diam saja dengan kesulitan yang sedang dihadapi ibunya.

"Kerja?" Widya menegakkan tubuhnya, seolah mau menajamkan pendengarannya.

"Iya Bu," jawab Andit lirih.

"Kerja apa?" Widya kembali memijat keningnya. "Kenapa kamu yang harus kerja? Ayah kamu kemana?"

Perih rasanya setiap kali ada orang yang menanyakan perihal ayahnya. Tangan Andit yang membentuk kepalan bergetar. Matanya terasa panas mengingat kejadian kemarin saat bertemu dengan Burhan. Semua ucapan ayah dan ibu tirinya kembali terngiang di telinga.

Susah payah Andit menahan air mata agar tidak jatuh. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Tidak mudah menahan sakit hati dan harus tetap terlihat baik-baik saja disaat yang bersamaan setiap kali mendengar nama ayahnya. Perut Andit tiba-tiba terasa mual, hanya gelengan kepala tanpa ada satu kata pun yang bisa kelaur dari mulutnya.

"Andit, kamu tahu kan usaha Ibu untuk mempertahankan kamu sebagai wakil sekolah untuk mengikuti olimpiade?" Widya kembali menarik napas dalam. "Saya berharap kamu bisa menang, prestasi ini yang akan membawa masa depanmu menjadi lebih baik."

"Saya tahu Bu," tanpa disadari air mulai bergulir di kedua pipi Andit. "Maafkan saya sudah mengecewakan Ibu, tapi saat ini saya betul-betul membutuhkan pekerjaan."

"Ayah kamu kemana sampai harus menanggung masalah ini sendiri?" Widya kembali mencondongkan tubuhnya.

Sebenarnya wajar saja Widya menanyakan keberadaan orangtuanya, namun Andit merasa tertekan setiap kali pertanyaan itu muncul. Masalah keluarga yang tak mungkin bisa diceritakan pada orang lain. Namun ibunya juga tak pernah mengajarkan untuk berbohong. Sulit rasanya mengelak begitu saja dari pertanyaan yang akan dihadapinya seumur hidup.

"Ayah pergi meninggalkan kami, sejak saya masih kecil Bu." Air semakin deras menuruni pipinya yang kuning langsat.

Andit menemukan bola mata Widya membesar saat menatapnya sekilas. Malu, namun Andit tidak bisa menahan air matanya untuk berhenti. Tangan kanannya menerima tisu yang diulurkan Widya. Setelah tenang, Andit meminum air mineral gelas yang diberikan Widya.

"Selama ini kamu tinggal hanya sama Ibu?" tanya Widya kembali.

"Iya, Bu. Ibu saya kerja keras sendiri untuk membiayai kebutuhan, terutama untuk biaya sekolah. Sekarang ini Ibu sakit Anemia berat karena terlalu capek. Jadi saya yang harus punya penghasilan, selama Ibu saya dirawat di rumah sakit."

"Biaya rumah sakit, kamu dapatkan dari mana?"

"Ada Bu, saya ambil dari tabungan untuk biaya sekolah. Makanya saya harus menggantinya agar tetap bisa sekolah." Andit kembali menunduk, menatap susunan keramik di bawah kakinya.

"Andit, saya tahu ini tidak mudah. Tapi kamu harus berjuang lebih keras lagi." Widya menarik napas dan menggeser duduknya mendekati tepi meja. "Kamu tidak boleh menyerah, kalau kamu punya masa depan bagus. Kamu pasti bisa membahagiakan Ibumu. Sekarang saya akan coba bantu kamu ya," senyum Widya membuat hari Andit menjadi lebih tenang.

"Iya, Bu." Kedua mata Andit berbinar. "Saya mau kerja jadi apa saja Bu, selama izinkan."

"Tapi kamu harus janji, nilai kamu tidak boleh turun." Andit menyetujui permintaan Widya dengan anggukan. "Gajinya tidak besar, tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sepulang sekolah, kamu bisa mengajar Matematika di lembaga saya untuk anak sekolah dasar."

Andit kembali membersihkan kedua pipinya. "Baik Bu, kapan saya bisa mulai?" tanya Andit tidak sabar.

"Hari ini juga, kamu bisa pulang bareng saya." Widya mulai mengemasi barang-barangnya di meja.

"Terimakasih Bu, terimakasih banyak... ." Andit tidak dapat menutupi wajahnya yang ceria. Semangat Andit kembali muncul dan melupakan kesedihan yang ada di hatinya.

Semangat pagi...kembali lagi bersama Andit. Semoga kisah Andit selalu menjadi kisah favorit ya kak.

Happy reading😘


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top