Another Circle
Terdengar suara gemerisik air dari atap yang bocor, kabel - kabel berserakan di lantai. Seorang pemuda diam terpaku di depan sebuah komputer. Sebuah logo bertuliskan Vita et mors sunt tantum illusions muncul begitu ia menyalakan sebuah program. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah mayat yang sudah hancur, terutama bagian kepala.
"Sudah kubilang! Hentikan ini!" teriak temannya, rambut merah menyala terpotong pendek tidak rapi, luka bakar di telinga kiri, serta wajah yang penuh amarah jelas terlihat menyeramkan.
Pemuda itu tidak mengindahkan perkataan temannya, ia sibuk mengutak atik super komputer yang ada di hadapannya.
Benda itu memang terihat berkarat, tapi masih bisa digunakan.
"Mikail! Dengar! Hei!"
Gabriel menarik kerah baju Mikail hingga terjatuh, lalu memukul wajah Mikail.
"Dasar orang gila!"
Mikail tersenyum, "Ya! aku memang gila!"
Sirine tiba - tiba berbunyi.
***
"Hei! Ayo cepat! Bangun! Bangun!"
Aria, yang sedang tidur siang terbangun akibat Miranda menarik kakinya.
"Duuh, kenapa sirinenya berbunyi di saat seperti ini sih?!"
Aria kesal, sedangkan Miranda tak acuh. Ia melemparkan berbagai granat pada Aria dan ditangkap oleh Aria.
"Mana kutahu! cepat!"
Mereka ada di gedung F1, pertahanan ketiga kota Greyard. Perang sipil mulai meledak ketika mereka baru saja lulus SMA. Sepengetahuan Aria, perang meledak akibat adanya pemberontakan dari pihak Backriver, wilayah yang berada di pinggir Greyard dan sebenarnya masih termasuk ke dalam wilayah Greyard.
Aria dan Miranda ada di lantai 45, bersama kadet muda lainnya mereka keluar dari kamar dan segera menuju lantai 30. Jika sirine berbunyi artinya koflik pecah di salah satu wilayah dan membutuhkan bantuan.
"Mowning!"
Di lantai 40 mereka berpapasan dengan kadet dari divisi yang berbeda, meski seragam mereka sama - sama berwarna abu, tugas mereka sungguhlah berbeda.
Mikail menyapa Aria dan Miranda dengan mulut yang disumpal roti, rambut hitam ikalnya masih basah.
"Kau habis mandi?" tanya Miranda
"Tentu saja, Aria kau belum mandi kan?"
Aria dapat mendengar suara ejekan Mikail, satu - satunya yang bagus dari pemuda itu hanyalah wajahnya. Sifatnya? Menyebalkan!
Setelah berada di lantai tiga, mereka segera masuk ke dalam pesawat sesuai dengan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Aria, Miranda dan Mikael berada di satu tim yang sama.
"Yo! Terlambat!"
Mereka disambut oleh Kyle dan Una. Mereka berdua telah duduk enteng. Pilot pesawat ini adalah Una, gadis dengan rambut pirang bersinar itu yang tertua di antara mereka.
"Selamat pagi tim!"
Bersamaan dengan sapaan itu, sosok peri berupa hologram 3d muncul di tengah - tengah mereka. Pesawat ini telah dilengkapi kecerdasan buatan. Terkadang saat pertempuran Una akan mengaktifkan mode autopilot saat serangan yang intens atau saat keadaan darurat.
"N78 tisu," ucap Mikail
Dinding di samping Mikail terbuka, sekotak tissu langsung muncul. Mikail mengambilnya satu, namun tangannya terjulur ke Aria yang duduk di sebelahnya.
"Apa?" tanya Aria,
"Untuk mengelap ilermu,"
Aria membalikkan badan, tidak sudi melihat sosok Mikail. Sedangkan Mikail kini sedang mengaduh karea keningnya dijitak Miranda.
"Hayoloh, jangan main, kita harus serius sekarang, N78 persiapkan rute,"
"Aye - aye cap!"
Pesawat mereka pun lepas landas. N78 membagikan informasi serta beberapa foto terkait dengan pertempuran yang akan mereka hadapi.
"Wilayah mati, apa yang diperebutkan sama mereka sih?" gumam Miranda
Aria sependapat, wilayah yang akan menjadi tempat mereka bertempur dulunya adalah pemukiman warga biasa. Tidak ada yang spesial selain taman bermainnya yang luas. Lagian wilayah itu sudah setengah hancur akibat perang pertama yang pecah. Lebih baik kalau pasukan pemberontak menyerang wilayah lain yang lebih banyak sumber daya. Seperti lahan pertanian atau wilayah barat yang banyak menyimpan batu bara dan minyak.
Pesawat mereka mendarat di salah satu gedung mall yang telah terbengkalai.
Aria membawa lima granat, sebilah pisau, dan satu pistol. Kyle dan Miranda adalah petarung garis depan sedangkan Una bertugas sebagai snipper. Aria dan Mikail tidak mahir di keduanya, jadi Aria lebih banyak mengisi role tambahan serta bantuan medis, sedangkan Mikail memiliki tugas utama sebagai peretas. Walau sebenarnya Mikail lebih cocok mengisi role di belakang layar, entah kenapa ia juga dimasukkan ke dalam pasukan garis depan.
Mereka berlima masih terhubung dengan N78 dengan jam tangan yang mereka pakai. Kalau misalnya mereka terlalu jauh menjelajah, mereka bisa memanggil N78.
"N78,status musuh," ucap Kyle
"Jumlah musuh di dalam gedung 20 orang,"
"Bagus, empat kali lipat daripada kita," sahut Miranda
"Kita bisa melaluinya, ingat formasi?"
Mereka berjalan memasuki gedung. Seperti gedung - gedung terbengkalai pada umumnya, ruangan di dalam gedung sangat berdebu. Lantai pertama yang mereka masuki, terdapat tiga musuh, tidak perlu bersusah payah, Kyle dan Miranda dapat membekuk mereka dengan sekali serang.
Una memuji mereka berdua,walau ia sedikit sedih karena tidak bisa melepas satu peluru.
"Ingat, persenjataan kita terbatas,"
Itulah kalimat yang sering dikatakan Kyle setiap mereka memasuki lantai berikutnya.
Jujur saja, Aria berharap misi kali ini lebih cepat selesai, ia ingin segera tidur di kasur yang empuk. Ia tidak suka beradu senjata dan berada di tengah - tengah kegiatan mempertaruhkan nyawa.
"Enam musuh! Enam musuh!"
Peringat dari N78, mereka langsung membuat formasi. Una mengambil posisi menembak berusaha untuk membuka cela untuk Miranda dan Kyle, sedangkan Aira dan Mikail menjaga Una.
DOR!
DOR!
Dua tembakan, Miranda yang lebih lincah dari Kyle terebih dahulu menghantam musuh. Kalau saja ia tidak memakai pelindung, tangan kirinya pasti sudah tergores pisau lawan.
DOR!
Aria langsung membuka tameng untuk Una.
Di tengah - tengah pertarungan, pihak musuh melempar bom asap. Mereka berlima langsung memakai kacamata canggih yang dapat melihat dalam kabut dan gelap.
"Sialan!" umpat Mikael
Musuh tiba - tiba muncul lebih banyak, formasi mereka jadi terpecah. Aria menembaki musuh sambil terus menjauh menjaga jarak. Dua peluru berhasil menyerempet kaki dan tangan Aria. Tapi gadis itu masih bisa bertahan.
"Mundur! Mundur!"
Itu peringat N78, dari sudut pandang Aria, siluet tubuh musuh yang berwarna merah semakin lama semakin banyak. Aria jadi skeptis, jangan - jangan jumlah musuh sudah bertambah dari 20 menjadi 40 orang?
Aria pergi dari lantai tersebut ke lantai di bawahnya, Aria mendengar suara langkah kaki musuh yang mengejarnya. Serta suara tembakan yang sahut menyahut.
"Empat! Empat!"
Jumlah itu tidak sebanyak sebelumnya, Aria berbalik dan melompat ke samping, ia bersembunyi di balik sebuah meja lalu menembak. Satu diantara mereka sudah berhasil ia lumpuhkan, Aria mengambil kain panjang yang ada di dekatnya, melempar kain itu untuk menutupi pandangan dua orang musuh di depannya. Aria melompat dan mengayunkan pisaunya ke salah satu musuh hingga tewas, lalu menarik musuh di sampingnya untuk menghalangi tembakan musuh yang satunya. Aria melempar tubuh musuh ke rekannya sendiri lalu menembaki si rekan hingga tewas.
Bagus, empat orang sudah ia lumpuhkan.
Aria mencari tempat untuknya beristirahat, ia bukan wanita super yang punya banyak tenaga.
Ia masuk ke dalam toilet, lantai yang sedikit becek, meski sakit perut sekalipun Aria bersumpah tidak akan mengeluarkannya di sini.
"Baiklah ayo kita tahan bau ini untuk beberapa menit saja," gumam Aria
Aria memandang cermin di depannya cukup lama, tidak ada yang aneh selain bayangannya sendiri.
Dua detik.
Tiga detik.
Satu menit.
Dua menit.
Aria mengangkat tangan kirinya, namun bayangan di cermin hanya diam, lalu terdistorsi sebelum mengangkat tangan persis seperti yang Aria lakukan.
Aria tidak kaget, toh ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini. Inkonsistensi yang terjadi pada bayangannya di cermin. Awalnya ia ketakutan, namun kini Aria tidak merasa ngeri.
Malahan penasaran, kenapa?
Apa yang salah? Apakah selama ini ia diikuti makhluk misterius?
BRAK!
Aria keluar dari toilet, di depannya Mikail dan sebuah robot AI alias android sedang bertarung.
"Aria!" Teriak Mikail menyadari bahwa gadis itu berada di sana.
Aria menunduk, cermin yang ada di belakangnya pecah terkena laser.
Android menembak Mikail, pemuda itu dapat menghindar dengan gesit.
BANG!
Aria menembaki kepala Android itu, namun tameng muncul mementalkan peluru Aria.
"N78! N78!"
Aria memanggil N78, tidak ada balasan.
Android itu hanya punya satu senapan laser. Aria dan Mikail bekerja sama melumpuhkannya walau itu tidak mudah.
Pertama, karena android itu dilengkapi dengan tameng.
Kedua, Mikail kehabisan peluru.
Dan yang ketiga, mereka tidak dapat menghubungi N78 entah kenapa. Jaringan mereka seperti terputus.
Lima menit pertarungan, Android itu tumbang setelah Aria dapat membobol tameng dan Mikail menghantam Android itu dengan palu-yang dipadukan dengan stun gun.
"Gila, aku baru tahu mereka punya android canggih seperti ini!"
Berbeda dengan Aria yang terkapar dan ngos - ngosan, Mikail tampak bersemangat meneliti mayat android yang mereka kalahkan.
"Jangan berisik ya!" Peringat Aria
Untuk sebentar saja, ia ingin beristirahat.
Mikail menyelimuti Aria dengan jaketnya.
"Tenang saja, aku akan menjagamu!" sahut Mikail sambil tersenyum.
Untuk sesaat Aria merasa Mikail terlihat seribu kali lebih ganteng dari biasanya.
***
Aria membuka matanya, kini ia dan Mikail berada di atas atap, di hadapan mereka tapak mayat Una yang telah bersimbah darah.
"Aria------"
Aria tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Mikail.
JLEB!
Sebuah besi panjang menembus perut Aria. Mikail berteriak.
***
Aria bangun, mimpi itu terasa terlalu nyata.
Rasa sakit itu, teriakan Mikail.
"Sialan!"
Aria menoleh, tablet milik Mikail terhubung dengan android dengan sebuah kabel. Pemuda itu tampak sangat terkejut dengan penemuan yang ia dapatkan.
"Kenapa?" Tanya Aria
"Kita harus segera menuju pusat!"
Mikail menarik tangan Aria, mereka berlari menuju ke lantas atas-lebih tepatnya atap gedung.
Sepanjang perjalanan Mikail dan Aria menemukan jejak sisa - sisa pertarungan antara Android dengan manusia.
Aria memperhatikan setiap mayat yang ada. Tidak ada mayat yang ia kenali, semua mayat itu berasal dari pihak musuh.
Aria merasakan deja vu, ia seperti sudah terbiasa melihat mayat manusia dan andorid berserakan seperti ini.
Aria melihat ke arah kaca jendela, bayangan dirinya dan Mikail yang berlari terlihat.
Namun ada yang jangal.
Bayangan dirinya terlihat tidak jelas dan pecah, berbeda dengan Mikail.
Aria ingin mengungkapkan apa yang ia lihat, namun ia tidak bisa melakukannya karena tubuh dan pikirannya sedang bergerak pada satu tujuan-yaitu berlari bersama Mikail.
Begitu sampai di atap, mereka berdua langsung disuguhkan pemandangan Una yang tergeletak di dekat pesawat, dengan bersimbah darah.
"U-Una!"
Aria berteriak, Mikail mematung.
Aria tidak menyangka apa yang impikan terjadi.
"Aria! Aku akan menghancurkan pesawat!"
"Tu-tunggu apa?!"
"N78, mereka, kita dikorbankan!"
"Apa maksudmu?!"
Mikail mengambil tiga granat yang ada di saku Aria dan melemparnya ke pesawat.
Pesawat itu hancur setengah, Mikail memeluk Aria begitu gelombang kejut menghantam mereka.
"Mikail, sebenarnya apa yang terjadi?"
Mikail melepas pelukannya, "Android - android tadi, bukan berasal dari pihak musuh. Mereka adalah produk Greyard, dan perang kecil ini adalah media uji cobanya,"
"I-Itu artinya..."
"Benar, kita adalah bidak catur yang akan disingkirkan!"
BIIP! BIIP!
Mikail dan Aria menoleh, mereka melihat ke bangkai pesawat, ada sebuah kotak berwarna hitam berkedip - kedip seolah menghitung waktu mundur.
"Sialan!" Umpat Mikail
Ternyata sebuah bom bunuh diri terpasang di pesawat dan mereka secara tidak sengaja malah mengaktifkan sistem tersebut.
"Apa? Apa yang kita harus lakukan?!" Ucap Aria panik
Jelas, Aria tidak pernah mendapatkan pelatihan menjinakkan bom di depannya. Ia hanya bisa menghentikan bom konvensional-bukan bom yang terlihat rumit seperti ini!
Melarikan diri? Jelas bukan ide yang bagus karena Aria tahu bahwa bom di hadapnnya ini memiliki jangkauan kerusakan yang luas. Aria dan Mikail pasti terkena ledakannya.
Mikail tidak mengatakan apapun, namun tangan pemuda itu dengan cekatan memeriksa bom tersebut, ia juga menyalakan tablet yang merupakan tangan ketiganya. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, jelas sekali Mikail sangat tegang.
Aria hanya bisa berdoa, semoga Mikail bisa menjinakkan bom tersebut!
"Ber-berhasil!"
Kotak itu tidak berbunyi lagi, Mikail dan Aria saling berpelukkan.
Setelah rentetan yang menegangkan, akhirnya mereka dapat bernapas lega.
"Aria aku ingin mengatakan sesuatu,"
Tiba - tiba Mikail berkata dengan raut serius.
"Aku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya aku ingin mengatakan ini,"
"Apa?"
Mikail mengambil napas panjang sebelum mengucapkan kalimat terberat sepanjang hidupnya.
"Aria, aku mencintaimu,"
Aria terkejut dengan pengakuan cinta Mikail yang tiba - tiba.
"Mikail a-aku-"
Mulut Aria seakan terkunci, ia ingin mengatakan sesuatu-tapi Aria tidak tahu apa itu.
Lama Mikail memandangnya yang membuka mulut. Tidak ada satupun kata yang keluar.
Aria mendadak tidak dapat bergerak, otaknya seakan buntu.
Mikail tiba - tiba tertawa, namun air matanya mengalir, "Sialan, ternyata masih tidak bisa...."
Lalu semuanya gelap.
***
Mikail diam memandangi layar komputer di depannya, ia lalu melepaskan headphone yang ia pakai.
Bahkan setelah percobaan ke seratus, Mikail masih gagal.
Mikail gagal untuk mendengar balasan Aria.
Mungkin Gabriel benar, ia adalah orang gila.
Ia telah mengobrak abrik mayat Aria, menyalin ingatan Aria ke dalam bentuk digital, lalu membuat simulasi menggunakan AI, hanya untuk mendengar jawaban gadis itu
Jawaban atas pernyataan cintanya.
Mikail mengganti skenario asli, dimana seharusnya Aria mati tertusuk tepat sebelum ia mengungkapkan jawabannya.
Ia menggantinya, dengan skenario dimana Aria tidak mati.
Namun tetap saja, Mikail tidak mendapatkan apapun.
Entah itu penolakan atau penerimaan.
"Aria... Aria... Aria...." Gumam mikail berkali - kali.
Di sudut ruangan, sebuah tablet yang layarnya retak tiba - tiba memperlihatkan wajah Aria yang menangis.
END
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top