Sei

Terlambat bagi Doyoung untuk kabur karena Junghwan kini berdiri tepat di hadapannya, permukaan sepatu laki-laki itu bahkan terkena cipratan darah yang sekarang berceceran di lantai.

Kepala Doyoung mendadak kosong, alasan apa yang harus dia ucap sekarang?

"Lo ngapain?" Tanya Junghwan.

Jangankan menjawab, mengalihkan pandang dari mata Junghwan saja ia tidak sanggup.

"Doyoung?"

Yang lebih kecil menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya sebelum bicara. Namun belum sempat suaranya keluar, pintu yang ada di samping kirinya terbuka.

"Kim Doyoung! Mana darahnya?"

Itu Kim Junkyu. Lagi-lagi kakaknya yang sangat ia sayangi itu menjadi malaikat penyelamat di hidupnya.

"Jatuh." Jawab Doyoung singkat sambil menunjuk lantai.

Junkyu berdecak kesal sebelum berjalan mendekat, menarik pergelangan tangan adiknya untuk menjauh dari sana.

"Junghwan? Tolong panggilin petugas kebersihan ya." Ujarnya lagi sebelum berlalu, Junghwan melihat dengan jelas bagaimana mereka melangkah dengan sangat terburu-buru.

Kedua kakak beradik itu menjauh dari tempat kejadian yang masih dipenuhi darah segar di mana-mana, meninggalkan Junghwan sendirian yang kini makin kebingungan.

"Kamu tuh! Udah kakak bilang buat gak minum di rumah sakit! Untung kakak masih di sini, kebayang gak kalo misalnya bukan Junghwan yang nemuin kamu barusan, mau jawab apa? Kamu bahkan gak bisa ngomong apa-apa di depan dia kan?"

Kepala Doyoung makin menunduk, malam ini Junkyu kembali mengunjunginya di rumah sakit setelah ia berkata bahwa beberapa hari ke belakang, dirinya sangat mudah kehausan dan menyebabkan Doyoung makin ingin menghisap darah Junghwan.

Selain karena kedua orang tuanya masih ada di luar negeri, Junkyu juga tidak sejahat itu untuk membiarkan adiknya kesusahan.

"Mulai hari ini, kamu pulang ke rumah kakak."

Dan Doyoung hanya dapat mengangguk pasrah, mungkin ia memang harus menjauh dari Junghwan untuk sementara waktu. Berada di dekat manusia itu hanya membuatnya tersiksa.

Perhatian yang tidak berhenti Junghwan berikan juga membuat hatinya berdebar tidak karuan.

Tentu tidak dalam artian sebenarnya karena beberapa organ Doyoung telah berhenti berfungsi sejak ia dijadikan vampire oleh makhluk yang kini menjadi orang tuanya.

Jelas Doyoung dilarang keras untuk jatuh hati dengan manusia, berada terlalu dekat dengan mereka saja butuh usaha besar, apa jadinya jika ia berkencan dengan Junghwan?

Pasti Junghwan akan memberikan perhatian lebih, menyentuh tubuhnya lebih banyak lagi, atau membiarkan Doyoung kembali mencium bibirnya semalaman.

Kepala Doyoung menggeleng kuat, berusaha menghalau pikiran kotor yang mendadak terlintas di otaknya.

"Berapa bulan lagi sampai koas kamu selesai?" Tanya Junkyu, dengan suara yang lebih rendah dan tenang karena tidak tega melihat wajah Doyoung yang dipenuhi penyesalan.

"Enam."

Junkyu mengangguk paham, "Kakak gak mungkin bisa ngawasin kamu terus di sini, setelah itu kamu harus ikut kakak atau orang tua kita. Yang jelas, kamu harus jauh dari Junghwan. Semua masalah datang sejak kamu ketemu dia."

Dan adiknya menjawab dengan anggukan pelan, "Aku mau ikut kakak aja." Ucapnya sambil menarik ujung kemeja yang Junkyu gunakan.

Jawaban Doyoung membuat Junkyu tertawa pelan. "Maaf ya, aku juga gak tau kenapa bisa bersikap aneh gitu kalo di depan Junghwan." Lanjut Doyoung lagi.

Tangan Junkyu bergerak untuk mengusap lengan adiknya, mau semarah apapun dia dan seburuk apapun kondisinya, Junkyu tidak pernah memarahi Doyoung secara berlebihan. Bahkan setelah tempo hari mengancam bahwa ia tidak akan lagi memberi adiknya makanan, Junkyu tetap datang ketika Doyoung menghubunginya dan berkata bahwa ia kehausan.

"Kim Doyoung."

"Mhm?" Kepala Doyoung akhirnya terangkat.

"Kamu tau kan kita gak boleh berhubungan sama manusia?"

Doyoung menelan ludah, ia tahu ke mana arah pembicaraan kakaknya.

"Iya."

"Sikapmu sekarang mirip banget sama sikap kakak beberapa tahun lalu, inget Park Jihoon?"

Bagaimana bisa Doyoung lupa, ia yang saat itu membantu Junkyu untuk bersembunyi bersama Jihoon ketika kedua orang tuanya mendadak pulang dari dinasnya di luar kota.

"Aku gak akan nyusahin kakak lagi, aku janji."

Junkyu tersenyum lega mendengar jawaban adiknya. Meski dalam hati ia tahu bahwa kemungkinan besar, cepat atau lambat, Doyoung pasti akan merasakan siksaan yang sama dengannya.

***

Dengan koper kecil yang terbuka di atas ranjang, Doyoung menjejalkan barang-barang yang ia butuhkan untuk tinggal sementara di rumah Junkyu. Meski lokasinya lumayan jauh dari rumah sakit, tapi lebih baik berangkat lebih awal dan pulang lebih lama ketimbang harus berhadapan dengan Junghwan.

Setidaknya, Doyoung harus menemukan jawaban atas semua pertanyaannya terlebih dulu. Apa yang menyebabkan dirinya begitu bodoh dan sangat tidak terkendali begitu ada di depan manusia yang belum genap satu minggu ia temui.

Tepat setelah shiftnya selesai, ia bergegas kembali ke asrama, menghindari Junghwan yang terus mengiriminya pesan dan memintanya pulang bersama.

Junkyu kini menunggunya di bawah, Doyoung hanya harus membereskan beberapa berkas dan laptopnya, barang yang sangat ia butuhkan untuk keperluan belajar.

"Mau kemana?" Tanya Junghwan yang entah sejak kapan sudah masuk ke ruangan.

"Rumah kakak gue." Jawab Doyoung singkat tanpa menoleh sama sekali.

Dengan sudut matanya, Doyoung dapat melihat Junghwan yang berjalan mendekat. "Kenapa gak angkat telfon gue? Kenapa chat gue gak lo bales?" Tanyanya lagi.

"Gue sibuk, tadi juga pulang dianter jadi gak bisa bareng."

"Lo ngindarin gue." Junghwan tidak bertanya, itu adalah pernyataan yang Junghwan ucap setelah berhasil mengambil kesimpulan dari semua sikap aneh Doyoung terhadapnya.

"Nggak." Jawab Doyoung, koper sialan di ranjangnya mendadak sulit untuk dirapikan, sungguh waktu yang tepat dan membuatnya seakan ingin berlama-lama berada di samping Junghwan.

"Terus apa? Lo gak jawab apapun soal ciuman kita tempo hari, lo gak kasih penjelasan soal darah yang lo minum di lorong tadi malem."

Doyoung hampir menangis, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya karena tidak ingin Junghwan tahu perihal identitas dirinya serta keluarganya.

"Kim Doyoung."

Ada sengatan aneh begitu tangan Junghwan menyentuh kulitnya, maka dengan cepat ia menepis tangan laki-laki yang lebih besar darinya.

"Apa sih?" Protesnya, "Soal ciuman, gue gak pernah nyium lo. Jangan-jangan lo mimpi aneh soal gue? Seriously? Di hari pertama kita ketemu?"

"Dan kejadian semalem, kantong darahnya jatuh karena lo yang muncul tiba-tiba, itu punya kakak gue, dia minta gue anterin ke tempatnya di lantai dua."

Jika Doyoung adalah manusia, bisa dipastikan wajahnya merah padam karena emosi yang siap meledak sekarang juga.

Napas Junghwan tercekat, padahal ia sudah memikirkan beberapa kemungkinan soal makhluk apa Doyoung sebenarnya. Tapi begitu menyaksikan reaksi teman sekamarnya yang terlihat nyata, semua praduga kini menguap begitu saja.

"Lo mau tanya kenapa gue pergi dari asrama? Itu karena gue takut sama lo."

Doyoung menarik kopernya dari ranjang lalu berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Junghwan yang masih diam di tempat.

Kejadian hari itu terlalu nyata untuk dianggap mimpi belaka. Dan tadi malam, walau dengan penerangan seadanya, Junghwan melihat jelas bagaimana Doyoung berusaha menghabiskan darah di tangannya dengan susah payah, ia bahkan melihat noda merah di ujung bibirnya.

Doyoung, makhluk apa dia sebenarnya?

***

Hampir satu minggu berlalu sejak kejadian pagi itu, entah kebetulan atau karena disengaja sebab Junghwan tidak pernah lagi melihat Doyoung di semua sisi rumah sakit.

Yujin berkata bahwa jadwal mereka mungkin tidak sama, tapi bahkan ketika Junghwan lagi-lagi diharuskan untuk berada seharian di sana, ia masih tidak menemukan Doyoung di mana-mana.

Siang ini tubuh Junghwan mulai lelah karena ia terus berjaga sejak kemarin malam, sialnya double shiftnya baru selesai pukul enam nanti. Setelah beberapa perawat datang, ia meminta waktu istirahat sebentar dan Yujin sebagai kepala perawat pun mengizinkan.

Ruang yang biasa dipakai masih penuh oleh karyawan yang baru datang, dan entah apa yang ada di kepala Junghwan karena kini ia justru berjalan ke arah gudang. Sambil berharap dalam hati, siapa tahu Doyoung juga ada di sana saat ini.

Tanpa sadar Junghwan tersenyum ketika menemukan Doyoung yang terlelap sambil bersandar di meja tidak terpakai di ujung ruangan. Wajahnya terlihat kelelahan dan Junghwan juga tidak memiliki tenaga jika Doyoung bangun lalu mengajaknya bertengkar karena kejadian minggu lalu.

Maka laki-laki itu memutuskan untuk melangkah pelan, berjongkok di samping Doyoung sebelum merebahkan dirinya di sana, menjadikan paha Doyoung sebagai bantalan kepala karena hanya itu satu-satunya ruang yang tersedia.

Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, netra Junghwan menatap wajah Doyoung yang tertidur pulas dari bawah, ia baru sadar kalau dirinya sedikit merindukan sosok Doyoung di sampingnya.

Kamar asrama terasa sepi tanpa kehadirannya.

Junghwan sebenarnya menyesal karena membuat kesan buruk pada Doyoung, padahal ia ingin mengenal laki-laki itu lebih dekat karena ayolah, penampilan Doyoung terlalu indah. Dengan bentuk tubuh sempurna untuk tingginya, kulit yang begitu halus dan bersinar bagai porselen, Junghwan bahkan yakin jika bukan karena sikapnya yang aneh, Doyoung pasti sudah didekati oleh para karyawan rumah sakit.

Terlalu banyak berpikir membuat Junghwan makin lelah, ia akhirnya terlelap tanpa perlu banyak usaha.

Namun rasanya ia baru tertidur selama beberapa menit sampai tiba-tiba dirinya merasakan sesuatu yang berat kini duduk di atas perutnya.

Tunggu, mimpi ini lagi?

Leher Junghwan rasanya kaku karena kedua tangan Doyoung yang terus mencengkramnya, ibu jarinya mengusap sisi pipinya dengan lembut, bibirnya terasa bengkak sebab terus dihisap bergantian.

Dengan mata yang setengah terbuka, Junghwan berusaha mendorong tubuhnya. Namun upayanya gagal karena Doyoung yang tidak bergerak sedikitpun dari sana.

Junghwan mengerang pelan dan itu menjadi kesempatan bagi Doyoung untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut Junghwan, menyapa seluruh isinya, membelit lidah Junghwan dengan miliknya sebelum kembali menghisapnya kuat.

Gila, mimpi ini terlalu nyata.

Kepala Doyoung mulai turun, Junghwan bahkan terpaksa memiringkan kepala karena kini Doyoung tidak berhenti menjilati lehernya. Rasanya basah, sangat dingin sampai Junghwan hampir membeku, dan ia takut begitu merasakan perih yang teramat sangat di sana.

Kepalanya mendadak pening, telinganya berdengung hebat hingga kini ia bahkan tidak sanggup untuk sekadar membuka mata.

"Astaga Junghwan!" Suara itu membuat Junghwan akhirnya terjaga, ia memicingkan mata karena cahaya lampu yang ada tepat di atasnya.

"Lo kenapa gak bilang kalo gak enak badan?"

Itu suara Yujin, wanita itu berdiri di samping brankar yang Junghwan tempati.

Tunggu, di mana ia sekarang?

"Doyoung nangis-nangis sambil nyeret lo keluar dari gudang, lo harus liat gimana khawatirnya dia pas nemuin lo pingsan di dalem sana. Lagian kenapa malah tidur di gudang, sih?" Omel Yujin kemudian.

Junghwan berniat mengusap rambut yang menutupi matanya, tapi gerakannya tertahan dia ia terkejut ketika melihat jarum infus yang tertanam di punggung tangan.

"Lo gapapa?"

Atensi Junghwan yang sebelumnya ada pada Yujin kini berpindah ke sisi yang lain. Kim Doyoung, laki-laki manis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang dipenuhi rasa bersalah.









...

Doyoung mending puasa aja gak sih

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top