[11] Resepsi

Ini seperti de javu, semua kegiatan yang terjadi di kamar ini semuanya di rekam, mulai dari Hafa saat di make up, kemudian saat hijabnya dipasang, saat dirinya memakai sepatu, bahkan Ago hanya disuruh memakai kemeja di kamar mandi, setelahnya jasnya di pasang di dekat jendela untuk didokumentasikan, kemudian videografer menyuruh keduanya untuk bergandengan tangan dan turun ke lantai satu, kaki mereka direkam, dari sisi lain ada juga yang merekam mereka saat berjalan menuruni tangga, Hafa sebenarnya kurang suka dengan ini semua yang serba berlebihan, apalagi harus berpura-pura menjadi pasangan yang manis seperti ini. Namun mau bagaimana lagi, Hafa malas berdebat, dia sudah pasrah dengan semuanya.

Semua orang terpukau dengan dua pengantin yang mengenakan baju pengantin tersebut, Ago dengan jasnya tampak sangat pas, begitu juga dengan gaun pengantin Hafa yang sederhana namun terlihat elegant.

Mereka digiring hingga ke halaman belakang, dari pintu rumah, karpet merah terbentang menjadi jalan Hafa dan Ago, sepanjang jalan menuju ke pelaminan sederhana di depan sana para sepupu Ago yang masih kecil melempari mawar ke arah mereka.

"Fa! Senyum please, pura-puralah kalau kita bahagia," pinta Ago, Hafa menurut dia mulai tersenyum dan memindahkan tangannya yang semula digenggam Ago menjadi menggamit lengan cowok itu.

Resepsi ini terlalu niat untuk Hafa tidak sukai, setidaknya meski pura-pura Hafa harus menghargai usaha kedua mertuanya dalam membuat acara ini. Lagipula meski ini bukan pernikahan impiannya tapi acara ini terlihat sangat istimewa, Ago beberapa kali meliriknya dan berterima kasih dalam hati.

Sampailah Ago dan Hafa di pusat tempat ini, semua tamu menatap mereka. Dua pengantin itu kelihatan sangat muda, namun juga sangat serasi.

Hafa dan Ago disuruh membacakan janji untuk sehidup semati dan harapan-harapan mereka tentang pernikahan ini ke depannya.

Ago menatap Hafa, dia menatap manik mata yang sebenarnya menyiratkan kesedihan itu. "Hari ini dan seterusnya, aku berharap bahwa pernikahan kita selalu semanis ini, aku berharap kamulah bidadari surga yang akan menemaniku sampai nanti, sampai rambutku memutih, sampai aku tak sanggup lagi menggendong cucu, sampai nanti ada dua kuburan berdampingan yang tertulis nama kita. Aku harap kita selalu saling mencintai, saling mengingatkan dan saling percaya, semoga semesta mengamini setiap doa yang kita panjatkan bersama, semoga harapan-harapan ini di dengar malaikat dan diaminkan oleh penduduk langit." Ago mengakhiri harapannya dengan senyuman, kini mik berpindah ke tangan Hafa.

"Bismillah, harapku tentu saja sama dengan harapmu, menua bersama sehidup sesurga, aku mungkin bukan istri yang baik, tolong bimbing aku selalu agar menjadi yang terbaik untukmu. Harapku sederhana saja semoga setiap langkah yang kita lalui, hubungan yang kita jalani selalu diridai Allah."

Ago langsung mendaratkan ciuman ke kening Hafa, Hafa hanya diam selama beberapa menit, riuh tepuk tangan menggema ke seluruh penjuru, Kana dan Rika saling berpelukan terharu melihat anak mereka, sementara itu Hakim membuang muka, dialah satu-satunya orang paling tahu kalau di panggung sana, dua orang itu sedang berpura-pura, dia tidak ingin bahagia apalagi bersyukur atas keterpaksaan yang dua orang itu jalani.

Kemudian pembawa acara memberikan dua burung merpati putih, satu ke Ago dan satu lagi ke Hafa, lalu bersama-sama dalam hitungan ke tiga mereka melepaskan burung-burung tersebut, burung tersebut terbang menjauh setelah tak nampak Hafa menatap ke sampingnya yang ternyata Ago juga menatapnya.

Ago merangkul pinggang Hafa membawa istrinya itu lebih dekat dengannya, Hafa cukup terkejut namun kembali berusaha mengontrol ekspresinya.

"Terimakasih, I love you," bisik Ago yang hanya bisa didengar oleh Hafa. Pipi Hafa bersemu merah, namun dia sebisa mungkin untuk tak melihat ke arah Ago.

Kemudian pembawa acara mengatakan untuk membuang bunga yang sedari tadi sudah Hafa pegang, mereka berdua disuruh berbalik dan sama-sama memegang bunga tersebut. Semua sepupu yang jomblo dan anak-anak rekan kerja orang tua Ago yang juga jomblo disuruh berkumpul di depan panggung. Dalam hitungan ke tiga, bunga itu melayang di udara.

Ada dua orang yang mendapatkan bunga tersebut, Hakim dan seorang cewek yang sepertinya keturunan Tionghoa. Cewek itu tampak malu-malu hingga menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

Hakim juga menjadi salah tingkah. "Buat lo aja," kata Hakim menyerahkan bunga itu.

"Lo aja deh," kata cewek itu menyerahkan bunga itu kembali ke Hakim.

"Cieeeeeee...." lalu keduanya menjadi salah tingkah saat semua orang menatap mereka.

Hakim merangkul cewek itu dan mengatakan, "buat kita berdua." Dia berusaha untuk memperbaiki situasi. Hafa tersenyum dari atas panggung, lucu juga melihat abangnya itu jika berhadapan dengan seorang cewek. Hakim dan Ago sebenarnya sama saja, tak profesianal dalam urusan dengan wanita, bahkan bisa dikatakan amatir, Hakim sudah jomblo sejak lahir dan belum pernah merasakan jatuh cinta, sementara itu Ago hanya jatuh cinta pada satu orang yaitu Hafa.

Lalu Hakim dan gadis tionghoa itu pergi entah ke mana, menghindari kerumunan yang seolah tak puas-puas mem-bully keduanya.

Ago dan Hafa dipersilakan duduk, seketika Hafa merasa lega. Renda yang dijepit di kepalanya benar-benar berat, hingga membuat kepalanya pusing.

Kemudian musik mulai dimainkan dan orang-orang bergiliran bernyanyi.

"Kepala aku pusing banget, kain ininya berat banget, bikin kepala bolak balik dengak," keluh Hafa sambil menunjuk-nunjuk kain yang menjuntai di samping badannya.

"Pusing banget?" tanya Ago sambil memegangi jidat Hafa.

Hafa mengangguk sambil cemberut, Ago mengambil kain yang menjuntai dari kepala Hafa itu kemudian menyampirkannya ke sandaran tempat duduk mereka.

"Udah gak berat?" tanya Ago.

"Enggak tapi jadi pusing banget," keluh Hafa lagi.

"Sabar ya," pinta Ago sambil menggenggam tangan kanan Hafa dengan kedua tangannya.

***

Perasaan ini adalah acara kecil-kecilan, namun entah kenapa tamunya tak habis-habis, Hafa sudah lelah harus berdiri dengan sepatu hak tinggi seperti ini, apalagi tadi ada beberapa anak SMA Pengubah Bangsa yang mau tak mau membuatnya menunduk saat bersalaman, untung saja make up hari ini berbeda dengan kemarin, hari ini make up-nya lebih tebal dan mampu menutupi wajah asli Hafa, itu kenapa Ago menjadi tak suka, wajah asli Hafa sangat cantik, meski make up yang sekarang juga cantik, tapi tetap saja dia lebih suka Hafa yang natural.

"Kak lama lagi ya?" tanya Hafa, sebentar lagi magrib dan tamu-tamu seolah tak ada habisnya.

"Kenapa? Kamu capek?" tanya Ago.

"Banget, apalagi kakinya nih, mana kepala pusing banget," adu Hafa.

Karena para tamu di bawah masih antri di depan tangga menuju panggung, Ago mengatakan pada pembawa acara untuk menghentikan para tamu sejenak.

Ago berjongkok dan mengangkat rok Hafa, dia mengangkat satu kaki Hafa membuat Hafa refleks memegang bahunya, ternyata Ago melepaskan dua sepatu Hafa, meski menjadi pendek berdiri di samping Ago, tapi hal itu benar-benar membuat Hafa menjadi nyaman.

"Gak usah dipake aja ya?"

Hafa mengangguk dan Ago kembali berdiri, lalu tamu kembali naik untuk menyalami mereka, ini benar-benar bukan acara kecil-kacilan ini adalah pesta outdoor yang menurut keluarga Ago sederhana.

Keluarga Hafa sudah pulang sedari tadi, karena masih ada saudara mereka di rumah yang akan pamit pulang hari ini.

Saat lengang, Ago merangkul pinggang Hafa menahan agar istrinya itu tetap berdiri.

"Sabar ya, sebentar lagi," kata Ago sekali lagi, Hafa hanya bisa mengangguk lemah, apalagi mengingat habis ini dia masih harus mengerjakan PR karena besok dia sudah masuk sekolah.

Saat antrian tamu sampai ke ujung, Hafa mendesah lega dan terduduk di tempatnya, Ago juga sama, dia menatap Hafa, Hafa tampak mengurut betisnya.

"Mau langsung ke kamar?" tanya Ago, Hafa mengangguk.

"Mau Kakak gendong?" tanya Ago lagi.

Hafa menggeleng. "Kakak kan juga capek," kata Hafa.

Kemudian Ago mengangguk dan menarik tangan Hafa membantunya untuk berdiri. Ago melingkarkan tangannya ke pinggang Hafa dan berjalan bersama.

Mereka ke tempat Sandi dan Rika terlebih dahulu.

"Ma! Kita udahan ya, mau istirahat, lagian Hafa juga masih ada PR yang harus diselesain buat besok," ujar Ago meminta izin, Rika dan Sandi mengangguk membiarkan anak dan menantu mereka berjalan bersama menuju ke kamar.

Keduanya kemudian saling berpandangan tak menyangka kalau akan secepat ini memiliki menantu.

Saat Ago dan Hafa sampai di kamar ternyata kelopak mawar yang sebelumnya ada di dalam kotak telah ditabur ke atas kasur, namun karena sangat lelah, Hafa langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur, mereka tak lagi sempat untuk menyingkirkan bunga-bunga itu.

Keduanya memejamkan mata berusaha merilekskan diri, merasa kakinya nyeri, Hafa membuka matanya dan duduk untuk memijat betisnya.

Merasa Hafa bergerak Ago juga membuka matanya, dia lantas duduk.

"Kamu tiduran aja, biar Kakak pijitin," suruh Ago, mendengar itu Hafa malah merasa bersyukur, Ago sangat baik. Hafa tak menyangka kalau Ago memperlakukannya dengan sangat baik.

Ago menyingkap rok Hafa, membuka kaus kaki yang menempel pada kaki istrinya itu lalu mulai memijat betis putih mulus milik Hafa, sebelumnya dia belum pernah melihat kaki Hafa, karena gadis itu sering memakai kaus kaki atau legging, atau bahkan saat semalam mereka tidur bersama Hafa mengenakan baju tidur lengan panjang lengkap dengan celana panjangnya.

Hafa memejamkan matanya menikmati setiap pijatan Ago, ah...benar-benar menenangkan.

Kemudian musik dari belakang berhenti dan suara mengaji-ngaji dari masjid terdengar, Hafa menyuruh Ago untuk mandi karena mereka perlu melaksanakan salat magrib, setelah Ago, Hafa kemudian masuk ke kamar mandi.

Saat akan memakai baju dia mengamati baju tidur berbentuk entah gaun atau daster dia juga tidak mengerti, dia merasa salah mengambil baju, malam ini dia akan tidur dengan Ago, baju seperi ini akan aman atau tidak? Bentuknya memang tidak seksi, namun ini adalah rok yang sewaktu-waktu bisa tersingkap saat tidur. Setelah cukup lama berpikir dan waktu terus berlalu sementata adzan sudah hampir selesai, Hafa akhirnya keluar dari kamar mandi.

Ago ternyata sudah siap dengan sarung dan peci, setelah Hafa memakai mukena mereka salat bersama untuk yang kedua kalinya, lagi-lagi saat zhuhur dan ashar tadi mereka harus salat terpisah karena harus menemui tamu.

Setelah selesai salat Ago baru sadar kalau Hafa mengenakan baju tidur berbentuk gaun bukan yang seperti biasa cewek itu kenakan, dia tak masalah dengan itu, toh Hafa selalu terlihat cantik dalam keadaan apa pun.

Hafa langsung menuju meja belajar untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

"Fa! Sini dulu deh," panggil Ago menyuruh Hafa untuk bergabung dengannya di kasur.

Hafa naik ke atas kasur dan duduk di hadapan Ago, Ago memintanya untuk meluruskan kaki, Hafa menurut saja. Ago lalu mengeluarkan sebungkus koyo dan menempelkannya masing-masing satu di kaki Hafa.

"Panas, tapi besok pagi kakinya bakal jadi enak lagi buat jalan," kata Ago.

Hafa tersenyum. "Makasih ya Kak," ucapnya lantas kembali ke meja belajar kamar Ago dan mulai mengerjakan PR-nya di sana.

Ago sendiri membuka bajunya dan mulai memainkan ponselnya, Hakim mengajaknya untuk bermain game, Ago mulai berisik karena game tersebut, bahkan sesekali dia mengumpat kalau Hakim mengambil langkah yang salah untuk melawan musuh, Hafa megembuskan napasnya beberapa kali, suara Ago benar-benar mengganggunya, apa setiap bermain game cowok selalu seperti itu? Pasalnya Hakim juga sama sangat berisik saat bermain game.

Karena sudah tak tahan Hafa menggebrak mejanya membuat Ago terkejut. "Kakak bisa diem gak sih! Aku gak konsentrasi nih!!" omel Hafa membuat Ago menelan ludahnya dengan susah payah, akhirnya dia mengalah untuk bermain game di balkon agar Hafa tak terganggu, seram juga melihat Hafa yang biasanya kalem memasang tampang marah seperti itu.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top