6# Jealous?

.
.
.
.
.

Penasaran adalah perasaan ingin tahu yang muncul begitu saja saat otak kita merasa mulai tertarik akan sesuatu. Bagi Hanna rasa penasaran sudah menjadi cap di kepalanya. Pertama, ia sangat penasaran kenapa ia bisa mati. Kedua, ia sangat penasaran sudah berapa lama ia mati, karena rasanya ia baru-baru saja menjadi hantu penasaran di kota Seoul ini. Ketiga, di mana rumah sakit tempat ia melihat tubuhnya dirawat waktu itu, dan masih banyak lagi hal yang sangat Hanna ingin tahu di dunia ini.

Namun, baru-baru ini ada satu hal lagi rasa penasaran yang muncul di kepalanya, yaitu tempat Taehyung setiap hari kunjungi. Hanna sering mencuri dengar saat Taehyung berbicara di telpon bahwa Taehyung akan pergi ke agensi. Yah, kata agensi sering keluar dari percakapan Taehyung. Kemudian Hanna mulai penasaran di mana agensi Taehyung berada. Taehyung tidak pernah mengizinkannya ikut jika ia pergi ke agensinya. Hanna pernah mencoba mengikuti Taehyung tapi malah kehilangan jejak dan tersesat. Lalu hari ini Hanna nekat berjalan menyusuri jalanan kota Seoul seorang diri. Ia bosan jika harus di rumah terus, terlebih jika Taehyung tidak di rumah. Tapi kali ini dia tidak berjalan tanpa tujuan. Ia berencana pergi ke tempat Taehyung berada.

Hanna mencari tahu Nama agensi Taehyung dari majalah yang ada di rumah. Lalu merasuki gadis SMA yang ia temui di jalanan dan mencari alamat melalui ponsel gadis SMA tersebut.

"Eonnie," panggil seseorang. Hanna menoleh dan didapatinya Min Ah berlari ke arahnya.

"Min Ah cantik apa kabar?"

"Baik, eonnie mau kemana?"

"Aku mau ke gedung Bigheart ent," jawab Hanna.

"Oh itu sudah dekat dari sini. Eonnie cukup berjalan lurus sampai simpangan di depan sana lalu belok kanan. Gedungnya tepat di kanan jalan. Ada tulisan besar sekali di puncak gedungnya, jadi pasti eonnie akan melihatnya."

"Aah. Araseo. Gomawo Min Ah."

"Sama-sama eonnie," sahut Min Ah dengan imutnya. "Oh maaf eonnie. Aku harus segera pergi. Eomma-ku sudah menunggu di mobil. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Bye bye eonnie," sambung Min Ah.

"Hm. bye bye."

Hanna pun melanjutkan perjalanannya. Ternyata benar yang dikatakan Min Ah. Ada tulisan yang sangat besar di puncak gedungnya. Jadi sangat mudah untuk menemukannya. Hanna pun masuk ke dalam gedung berencana menemui Taehyung. Ia sudah sangat semangat melangkah menuju pintu masuk. Namun belum lama ia berjalan di dalam gedung itu, langkahnya terhenti karena ada hal tak terduga yang terjadi.

"Omoo kenapa gedung ini seperti sarangnya pria tampan. Taehyung tampan tapi di sini banyak yang lebih tampan. Astaga aku bisa mimisan kalau seperti ini." ucap Hanna histeris sendiri. Saking gembiranya melihat idol-idol pria yang tidak sengaja lewat di depannya, Hanna pun melupakan niat awalnya dan sekarang malah mengikuti idol-idol tampan itu.


^^^^^

Tidak terasa 2 jam sudah berlalu. Hanna masih asik menonton latihan para idol di ruangan berdinding cermin itu.

"Fighting. Fighting. Fighting," teriak Hanna untuk bersorak menyemangati para idol tampan di depannya.

"Omooo keringatmu. Omoo kausmu... roti sobek, roti lapis legit."

"Aduh aku rasa aku mulai mimisan," ucap Hanna saat para idol tampan itu istirahat. Ada yang meminum air mineral, ada yang mengkibas-kibaskan kaosnya sehingga abs-nya terlihat. Ada juga yang tiba-tiba duduk di samping Hanna lalu dengan sexynya menumpahkan air yang berada di dalam botol minum ke kepala dan wajahnya. Hanna langsung pingsan tidak tahan melihatnya. Yah, tidak benar-benar pingsan. Hanya untuk mendramatisir saja. Hanna itu hantu bukan manusia jadi tidak mungkin ia benar-benar pingsan. Lalu, tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya saat kepalanya menempel di lantai.

"Astaga. Aku lupa untuk mencari pria jahat itu." Hanna langsung beranjak dari duduk nyamannya dan pergi mencari ruangan Taehyung.

Setelah mencari kesana kemari, akhirnya ia berhasil. Sekarang ia sedang berdiri di depan ruangan bertuliskan ANBOYS di pintunya. Tepat saat ia ingin masuk. Seorang pria tinggi dengan ponsel di telinganya datang.

"Tae kau dimana?" tanya Namjoon melalui ponselnya. "Di rooftop? apa yang kau lakukan disana?" ucap Namjoon membalas perkataan lawan bicaranya di telpon. Hanna tidak bisa mendengar suara lawan bicara Namjoon. Agar bisa mendengarnya, Hanna melompat-lompat kecil karena perbedaan tinggi badan ia dan Namjoon lumayan jauh, lalu berusaha menempelkan telinganya ke dekat ponsel Namjoon agar bisa mendengar percakapan mereka.

"Oke. Baiklah." Tutup Namjoon. Namjoon pun masuk ke dalam ruangan ANBOYS. Kenapa aku tadi merinding yah, batin Namjoon.

Hanna membatalkan niatnya untuk masuk ke ruangan yang dicarinya. Ia pun langsung berlari mencari tangga menuju rooftop.

"Apa yang dilakukannya di rooftop?" lalu mencoba berteleportasi. "Astaga dia tidak mungkin berpikir untuk bunuh diri kan?" tanya Hanna sebab selama menjadi roh, ia sering menyaksikan orang-orang yang mencoba bunuh diri dengan terjun dari rooftop gedung. Kini Hanna telah sampai di depan pintu menuju rooftop.


^^^^^


Langit malam kota Seoul kala itu sangat dingin, dan menusuk. Ramalan cuaca mengatakan akan turun salju malam ini. Mata Taehyung hanya menatap lurus ke arah langit yang sebentar lagi akan menurunkan air mata beku dan dinginnya. Meskipun suhu malam itu sangat dingin, Taehyung seperti tidak merasakan apa-apa, karena ada yang lebih dingin dari hembusan angin musim dingin, yaitu Hatinya.

Taehyung menghembuskan napas panjang saat satu kata merasuk kepikirannya. Sebuah kata yang sangat ia benci namun tak bisa dielakkan. Seandainya ia bisa kembali ke waktu itu, ia sangat ingin memperbaiki semuanya. Kata itu terlalu kuat untuk disimpan dan akhirnya terucaplah.

"Aku rindu," ucap Taehyung pelan dan dalam. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Taehyung.

"Oppa?"

Taehyung menoleh dan dilihatnya Jisoo sedang berdiri menatapnya. Yah, Jisoo lah yang ternyata mendekat ke arah Taehyung.

"Apa yang kau lakukan disini? Sebentar lagi salju akan turun. Apa kau ingin melihat salju pertama?" tanya Jisoo.

"Hm. Aku ingin melihatnya," jawab Taehyung sambil tersenyum manis.

"Boleh ku temani?"

"Iya boleh."

Setelahnya hening menyapa, tak satu pun dari mereka bersuara seperti sedang memikirkan kalimat masing-masing di dalam pikiran. Lalu keduanya menyebut nama lawan bicara untuk memecah keheningan. Namun suara mereka keluar secara bersamaan. Mereka terkekeh malu bersama.

"Kau saja duluan?" ucap Taehyung mempersilahkan Jisoo.

"Bagaimana persiapan comebackmu oppa?"

"Lumayan lancar. Oh iya bagaimana Tour mu? Menyenangkan?"

"Eoh. Menyenangkan," sahut Jisoo. "Oppa apa kau mengganti nomor kontakmu?" sambungnya.

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Aniya. Aku hanya penasaran kenapa kau tidak membalas pesanku."

Taehyung sedikit terkejut, "Ah. Jisoo-ya. Mianhae, sepertinya aku tidak menyadari ada pesan masuk darimu," ucap Taehyung berusaha menjelaskan.

Tiba-tiba sepasang tangan telah melingkar di tubuh Taehyung. Taehyung tersentak sesaat, lalu sadar Jisoo telah memeluknya.

"Oppa. Aku juga rindu," ucap Jisoo dalam pelukan.

Taehyung kembali terkejut,"I-iya," lalu berusaha membalas pelukan Jisoo.

Tanpa Taehyung sadari ada sapasang mata lagi yang menatapnya yaitu Hanna. Hanna sejak tadi sudah menyaksikan Taehyung dan Jisoo. Awalnya Hanna bernapas lega saat melihat Taehyung masih berdiri di lantai rooftop, bukan di pagar seperti posisi yang biasa orang-orang lakukan untuk bunuh diri. "Ah, masih sayang nyawa ternyata".

Saat ia mulai melangkah mendekat, dilihatnya seseorang lagi berjalan dari arah yang berbeda dengannya namun dengan tujuan yang sama, yaitu menuju Taehyung. Jisoo berada lebih dekat dengan Taehyung, sehingga Jisoo lah yang di lihat Taehyung lebih dahulu. Sehingga Hanna hanya bisa menatap dari kejauhan, berusaha mendengar obrolan mereka namun tidak bisa karena terlalu jauh. Akhirnya Hanna melangkah kembali untuk mendekat namun dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan Taehyung. Tapi langkahnya terhenti saat Jisoo tiba-tiba memeluk Taehyung.

Hanna tidak mengerti apa lagi yang ia rasakan sekarang. Sudah cukup banyak hal aneh yang ia alami selama menjadi roh. Tapi perasaan aneh ini yang paling tidak bisa ia terima. Saat melihat Taehyung juga membalas pelukan Jisoo, perasaan Hanna semakin aneh. Seperti kecewa tapi tidak tahu kecewa karena apa. Seperti ingin marah tapi tidak tahu marah kenapa, dan seperti terbakar tapi tidak tahu terbakar oleh apa.

Lalu salju turun tepat seperti ramalan cuaca ramalkan sebelumnya. Hanna masih betah memandangi pemandangan dua orang yang sedang merindu saling berbagi pelukan itu. Entah sampai kapan mereka akan berpelukan pikir Hanna. Yang Hanna pikirkan sekarang adalah betapa miris hidupnya yang harus mati jadi hantu lalu menyaksikan manusia yang sedang berpacaran. "Huh, inilah arti sebenarnya dari kata Jomblo Sejati. Jomblo sampai mati," ucap Hanna lirih.

Jisoo melonggarkan pelukannya. Lalu menatap bibir Taehyung sesaat, kemudian mengarahkan wajahnya agar jarak antara bibirnya dan bibir Taehyung semakin menipis. Hanna tak kuasa lagi untuk terus menatap. Ia pun membalikkan tubuhnya. Mengatur napasnya, lalu pergi. Hanna tahu sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menemui Taehyung. Lebih tepatnya Hanna tidak kuat jika harus melihat adegan yang sangat ia tahu apa lanjutannya itu.

Membayangkan wajah Taehyung bertemu tatap tanpa jarak dengan orang lain, membuat Hanna merasa ada ruang kosong di hatinya yang mulai tergores paku tajam. Goresan itu serasa mengeluarkan rasa perih seperti luka yang disiram air perasan jeruk. Tapi Hanna tidak mengerti kenapa ia seperti ini. Bukankah ia baru saja mengenal Taehyung. Kalau pun benar ia cemburu, apakah itu mungkin terjadi pada wujudnya sebagai roh gentayangan ini.

"Aku harus cari obat untuk ini?" ucap Hanna. "Let's go cari makan. Mungkin saja aku begini karena lapar."

.
.
.
.
.
.
.

bersambung-

Okeh man teman berhubung Hanna nya udah lapar jadi segitu dulu yah ceritanya. Ntar disambung lagi kalo dia udah kenyang wkwk.
Kasian Hanna udah terbakar api cemburu eh kelaparan juga ternyata.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top