42# Random memory

.

.

.

.

.
Jimin meneguk segelas air putih. Pagi ini ia merasa sangat segar. Tidurnya sangat berkualitas. Ia pun kembali membayangkan betapa bahagianya perasaannya sejak tadi malam. Memang pilihan yang tepat untuk mengungkapkannya. Tak perlu lagi menunda-nunda perasaan yang sudah sangat lama terpendam. Namun sayang, interaksinya dengan Jisoo tidak berlanjut di chat, karena Jisoo duluan mengabarinya ingin tidur lebih dulu karena mengantuk. Akhirnya Jimin berinisiatif untuk mengirim pesan kepada Jisoo duluan pagi ini.

Jimin: Jisoo-ya, sudah bangun?

Jimin mengirim pesan kepada Jisoo. Hanya terkirim, tidak dibaca oleh Jisoo. Jimin pun beranggapan bahwa Jisoo belum bangun. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi saja untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan aktifitas mandinya, Jimin kembali mengecek ponselnya. Dan hasilnya masih sama, yaitu belum dibaca oleh Jisoo. Jimin pun memutuskan untuk mengirim pesan lagi kepada Jisoo.

Jimin: Aku ada jadwal pemotretan iklan kosmetik hari ini sampai jam 11.
Jimin: Jika kau tidak sibuk, selesai pemotretan aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama
Jimin: Saranghae.

Jimin tersenyum sendiri saat mengirim pesan terakhirnya. Ia masih tidak menyangka bisa mengetik pesan seperti itu kepada Jisoo. Rasanya ada berjuta kupu-kupu kini berterbangan di hatinya. Gembiranya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.

"Ya! Jimin kau kenapa senyum-senyum sendiri? gila yah?" tanya Jin yang berlalu di hadapannya.

"Iya aku telah gila. Haha."

Jungkook ikut berlalu di depannya, lalu mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya! maknae. Kenapa kau menggeleng-gelengkan kepalamu?"

***


Taehyung melakukan sesi pemotretannya dengan sangat lancar. Kini ia duduk di kursi tunggu, sambil memakan cemilan

"Huaa ini dia si pangeran pembalik halaman kita," ejek Hoseok.

"Haha. Pangeran apanya."

"Jadi bagaimana latihanmu bersama pianis cantik itu?"

"Lancar."

"Hari ini tidak latihan?"

"Tidak. Dia ingin istirahat katanya."

Jimin datang dengan raut wajah tertekuk, lalu menghempaskan bokongnya kasar ke tempat Taehyung dan Hoseok sedang duduk. "Ya! ada apa dengan wajahmu? buruk sekali," tanya Taehyung.

"Pesanku tidak dibalas sejak tadi pagi."

"Siapa?"

"Jisoo."
"Budak cinta 1 dan budak cinta 2," ejek Hoseok kemudian berlalu meninggalkan Taehyung dan Jimin. Taehyung hanya menatap sekilas ke arah Hoseok, lalu kembali fokus kepada Jimin, "Sudah kau telepon?"

"Sudah. Tapi tidak diangkat," sambil mencoba menelepon kembali, "Hah, bahkan sekarang ponselnya tidak aktif," keluhnya.

"Tenang-tenang. Coba kau hubungi teman-temannya." Taehyung berusaha menenangkan Jimin.

Jimin pun mencoba mencari kontak teman sekamar Jisoo yaitu Lisa.

"Halo Lisa."

"Nde, oppa. Ada apa?"

"Apa Jisoo sedang bersamamu sekarang."

"Tidak. Tadi malam ia mengirim pesan bahwa akan menginap di rumah ibunya. Dan sampai sekarang belum kembali?"

"Benarkah?"

"Nde. Memangnya kenapa oppa?"

"Ah. Tidak  apa-apa. Terimakasih infonya Lisa. Bye."

"Bye."

Jimin langsung terdiam setelah menutup teleponnya. Pikirannya mulai menerka-nerka berbagai hal. Rumah ibunya? bukankah tadi malam aku mengantarnya ke asramanya? apa karena ini alasannya tidak ingin ku antar sampai depan pintu? kenapa? kenapa harus menutupinya dariku jika hanya ke rumah ibunya?

"Apa katanya?" Taehyung mulai bertanya karena penasaran melihat Jimin yang tiba-tiba terdiam.

"Jisoo sedang di rumah ibunya."

"Oh. Yasudah kalau begitu kau tak perlu khawatir berlebihan Jim. Nanti dia pasti akan menghubungimu."

"Hm. Semoga."

***

Suara tetesan air mulai terdengar. Bau besi berkarat mulai tercium, dan suara wanita memanggilnya, "Eonnie. Eonnie. Hanna-eonnie." Hanna pun perlahan membuka matanya. Ruangan tanpa penerangan. Gelap. Hanya sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah ventilasi. Apa yang terjadi? aku di mana?

"Auw." Hanna meringis sakit di area lehernya dan sedikit pusing di kepalanya.

"Eonnie. kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang berjarak kurang lebih dua meter di depannya. Hanna menyipitkan matanya, "Jisoo?"

"Iya ini aku Jisoo."

"Apa yang kau lakukan, kenapa tanganmu—" terhenti karena baru menyadari bahwa kondisinya sama seperti Jisoo. Duduk dengan tangan terikat di belakang sebuah tiang. "Kenapa kita berdua ada di sini?"

"Aku tidak tahu. Saat aku bangun, aku sudah seperti ini. Bagaimana ini eonnie?" ucap Jisoo sambil menangis. "Ruangan ini sangat gelap dan kotor. Aku takut."

"Tenanglah Jisoo. Jangan takut." Hanna berusaha menekan rasa takutnya agar Jisoo tidak menjadi lebih ketakutan lagi. Hanna mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Seingatnya ia sedang tidur di kamarnya tadi malam, lalu seseorang menyuntikkan obat bius dan sekilas bayangan pria. "Sepertinya, aku tahu siapa yang membawa kita ke sini?"

"Siapa?" tanya Jisoo.

Tiba-tiba suara pintu dibuka terdengar. Seorang pria dengan Hoodie Hitam, celana hitam dan masker hitam masuk menghampiri mereka. Jantung Hanna berdetak kencang. Suara engsel pintu yang menjerit saat ditutup kembali menambah kesan menakutkan dari sosok pria yang masuk barusan. Hanna berusaha mengenali sosok yang sedang berjalan ke arahnya sekarang, namun usahanya sia-sia karena minimnya cahaya dan betapa tertutupnya wajah pria itu. Seketika silau menerpa matanya saat sang pria mengarahkan senter kepadanya dan kepada Jisoo.

"Ah. Sudah bangun rupanya," ucap sang pria.

***


Taehyung berusaha menghubungi Hanna beberapa kali. Namun hasilnya masih sama. Belum ada satu pun pesannya yang dibaca apalagi dibalas. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Itu artinya sudah lebih dari setengah hari pesan-pesan dan teleponnya diabaikan oleh Hanna. Taehyung mulai khawatir. Padahal dengan kerennya pagi tadi ia menasihati Jimin untuk tidak khawatir. Justru sekarang dirinyalah yang khawatir berlebihan.

"Apa aku datangi saja rumahnya?" Tiba-tiba ponselnya berdering. Taehyung dengan sigap meraihnya, berharap Hanna yang memanggil. Namun, nyatanya bukan Hanna melainkan Jimin.

"Ada apa?"

"Jisoo tidak ada di rumah ibunya."

"Lalu?"

"Sepertinya Jisoo diculik?"

"Mwo?"
"Aku berhasil melacak keberadaannya. Dan lokasinya berada jauh dari keramaian."

"Tunggu. Kenapa kau yakin Jisoo diculik. Dan bagaimana caramu melacaknya."
"Pesan yang Jisoo kirim tidak seperti tulisan Jisoo biasanya. Orang tuanya Jisoo juga berkata Jisoo tidak pulang ke rumah sejak tadi malam, tidak sama seperti yang dikatakan Lisa. Lalu liontionnya—maksudku pelacak yang ku letakkan di liontinnya menunjukkan lokasi Jisoo sekarang berada."

"Di mana kau sekarang?"

"Di ruang kerja Kangjoon-hyung."

"Aku harus mencari Hanna terlebih dahulu," ucap Taehyung lalu menutup teleponnya dan bergegas pergi. Terjawab sudah rasa khawatir berlebihan yang Taehyung rasakan sejak tadi. Ternyata memang ada yang tidak beres terjadi. Kini ia hanya bisa berdoa semoga firasatnya tentang Hanna sedang dalam bahaya tidak benar terjadi.

Sesampai di rumah Hanna, Taehyung langsung bergegas menuju kamar Hanna. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati kamar itu kosong tak berpenghuni. Taehyung masuk ke dalam kamar mandi dan ke ruang penyimpanan pakaian. Namun, Hanna tetap tidak ditemukan.

"Apa yang kau cari?" suara pria di ambang pintu mengejutkannya.

Taehyung yang sekarang penuh dengan emosi berjalan ke arah Jaehyun. Mencengkram kerah kemejanya dan berteriak di depan wajahnya. "Di mana kau sembunyikan Hanna, brengsek."

"Apa maksudmu?"

Satu kepalan tinju melayang dan menghantam wajah Jaehyun, "Tidak usah berkelit lagi sialan. Aku tahu semua kebusukanmu, cepat katakan di mana kau sembunyikan Hanna."

Jaehyun menyeka sudut bibirnya yang berdarah, "Tcihh. Kau bilang kau tahu semua kebusukanku? Apa kau yakin semua kebusukan itu milikku?"

Taehyung kembali mencengkram kerah Jaehyun. Emosinya telah membuncah tinggi. "Apa maksudmu hah? Semua kebusukan itu jelas milikmu."

"Haha. Tidak. Itu tidak benar." Taehyung kembali menonjok Jaehyun, bahkan kali ini pukulannya membuat Jaehyun sampai tersungkur.

Ponsel Taehyung berdering. Nama Jimin tertera di sana. Namun, Taehyung mengabaikannya, ia belum puas menghajar bajingan di depannya ini. Saat kepalan tangannya melayang untuk pukulan yang ketiga, Jaehyun menangkisnya dan berucap, "Kau salah orang bung. Selama ini kau sudah tertipu."

"Apa?"

"Jika kau tidak percaya. Coba saja angkat panggilan di ponselmu itu."

Taehyung menggapai ponsel yang sebelumnya ia lempar di atas kasur, "Halo Jimin," ucapnya terengah-engah.

"Kita sudah tertipu Tae."

***


Hanna mulai merasa takut saat si pria semakin mendekat. Jemarinya mulai bergetar, begitupun dengan kakinya. Ia berusaha melihat sosok yang mendekat itu. Namun tak terjamah. "Ah. Sudah bangun rupanya." Suara pria itu terdengar familiar di telinganya. Hanna mendengar suara tarikan napas Jisoo yang mungkin juga merasa terkejut seperti dirinya. Pria itu menyalakan satu-satunya lampu di ruangan yang mirip gudang  itu. Lampu yang tidak begitu terang, namun cukup jelas untuk memperlihatkan wajah si penculik mereka berdua.

Wajah itu adalah wajah dr. Lee Kangjoon.

Hanna dapat melihat dengan jelas ekspresi terkejut dan raut ketakutan Jisoo sekarang. Lalu ia juga dapat melihat jelas dr. Lee yang kini sedang menarik sebuah kursi. Ia sengaja menyeret kursi itu hingga menghasilkan gesekan antar besi dengan lantai semen. Suaranya cukup mengilukan telinga. Lalu ia meletakkan kursi itu di tengah-tengah mereka berdua. Kemudian duduk diatasnya dan kembali menyenteri wajah Hanna dan Jisoo bergantian.

"Aigoo. Dua gadis cantik korea selatan yang memiliki banyak penggemar kini sedang terduduk lemah tak berdaya di hadapanku."

"dr. Lee. Apa yang kau lakukan? menculik kami?" tanya Hanna.

"Benar."

"Untuk apa?"

"Untuk bersenang-senang."

"Aku tidak mengerti. Kenapa kau menyebut hal seperti ini untuk bersenang-senang?"

Kangjoon mulai terkikik kecil dan perlahan menjadi tawa terbahak. "Karena aku muak dengan kalian berdua," ucapnya sambil tersenyum menyeramkan.

"dr. Lee. Please katakan kalau kau hanya bercanda. Selama ini kami sangat mempercayaimu," ucap Jisoo dengan suara yang hampir menangis.

"Apa yang ingin kau lakukan kepada kami?" tanya Hanna berusaha tenang.

Kangjoon mencondongkan tubuhnya ke arah Hanna, "Apa lagi kalau bukan untuk membunuhmu, mantan pasienku."

"Alasannya?"

"Hm.. apa yah? ah, bukankah sudah ku bilang tadi, karena aku muak dengan kalian."

"Alasan kau muak kepada kami apa?" teriak Jisoo. Kangjoon melemparkan kayu ke samping Jisoo hingga Jisoo sontak menjerit ketakutan.

"Yang boleh berteriak di sini hanya aku, dasar jalang."

Hanna terkejut melihat adegan barusan. Sosok dr. Lee yang berada di hadapannya kini benar-benar berbeda dengan dr. Lee yang biasa ia temui. Ia hampir menangis namun ia tahan, ia tetap harus tenang dalam kondisi seperti ini. Agar Jisoo tidak ketakutan berlebihan.

"dr. Lee, apa selama ini kau telah menipuku?"

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Yah, Mungkin. Karena sebenarnya aku tidak tahu arti menipu itu apa. Haha. Aku lebih suka kata bermain peran. Seperti yang sedang kau lakukan di hadapan Jaehyun," Jelasnya sambil tertawa.

***

"Aku telah kecolongan," ucap Jaehyun yang merasa bersalah karena begitu mabuk tadi malam, sehingga tidak memantau keberadaan Hanna.

"Jadi Kangjoon-hyung seorang psikopat," ucap Taehyung lirih saat melihat lembaran-lembaran foto jurnal pembunuhan dan target pembunuhan milik Kangjoon yang berhasil di foto oleh Jaehyun lima tahun yang lalu. Kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang berhasil di lacak Jimin. Ada satu mobil detektif di belakang mereka yang sedang mengikuti juga. Jaehyun telah mempersiapkan penangkapan ini dengan matang.

"Aku sengaja meletakkannya di atas meja Kangjoon untuk kalian temukan hari ini."

"Kenapa tidak langsung memberitahu kami saja."

"Memang kalian akan langsung percaya? bukankah kalian mengira akulah penjahatnya di sini?"

"Jihyo seorang adik kelas semasa kuliahku. Menyukaiku terus menerus dan sangat menggangu. Akan ku jadikan ia pasien nerakaku selanjutnya. Dan Jantungnya akan ku gunakan untuk istriku." Jimin membacakan tulisan tangan yang tertera.

"Bukankah itu Jihyo kakaknya Jisoo?" tanya Taehyung. Jimin tidak menjawab, hanya saja tangannya yang mengepal dan air matanya yang menetes telah menjawab dengan sendirinya.

"Benar itu Jihyo kakaknya Jisoo. Aku adalah saksi mata saat Kangjoon membunuhnya. Ia melakukannya dua kali. Percobaan pertama gagal, dan yang kedua sangat mudah karena ia hanya perlu melepas alat bantu pernapasannya saat terbaring di rumah sakit."

"Kenapa kau tidak melaporkannya dari dulu," ucap Taehyung.

"Posisiku tidak dalam kondisi yang dengan mudah melaporkannya saat itu. Tidak jika saja ibumu, Taehyung, tidak mengambil semua bukti-bukti kejahatan yang kukumpulkan."

"Astaga. Jadi semua bukti yang dibicarakan Hanna adalah miliknya, dan sekarang telah jatuh ke tangannya." Jimin frustasi.

"Telah Jatuh ke tangannya?" tanya Jaehyun. "Dasar Hanna bodoh. Kenapa diberikan kepadanya."

"Karena dia mengira kaulah penjahatnya sialan," kesal Taehyung.

***

"Sebelum aku membunuh kalian, aku ingin berterimakasih karena kalian telah memberikan semua bukti-bukti kejahatanku—kepadaku. Hahaha."

"Jadi maksudmu, berkas yang di simpan Jisoo selama ini adalah berkas bukti kejahatanmu bukan milik Jaehyun."

"Hm. Benar."

"Bagaimana mungkin, di foto-foto itu aku melihat Jaehyun yang memukuli kakakku," ucap Jisoo.

"Apa kau melihat wajahnya? tidak kan? foto-foto itu hanya tampak belakang. Itu hanya spekulasi kalian."

"Bajingan," umpat Hanna.

"Dan kau Hanna. Aku kasihan padamu sebenarnya. Kau itu bodoh sekali. Otak dan ingatanmu mudah sekali ku manipulasi. Jatuh bunuh diri dari balkon rumahmu di London? Aniyaa—bukan seperti itu kejadiannya. Kejadian sebenarnya kau hanya jatuh dari tangga karena kesehatanmu yang belum stabil pasca kecelakaan di Korea dan bekas operasi di kepalamu kembali terbentur sehingga kau harus koma selama 5 tahun."

"Eonnie," ucap Jisoo merasa kasihan. Sedangkan Hanna menatap tajam ke arah Kangjoon. Kilatan emosi terpancar di sana.

"Lalu bagaimana ingatanku tentang Jaehyun yang mencoba melecehkanku?"

"Itu juga hasil dari manipulasiku. Otak manusia dan memorinya itu adalah sains Hanna-ya. Sangat mudah untuk di atur, di reset dan di isi ulang layaknya perangkat lunak. Asalkan kau tahu ilmunya."

"Dasar kau Biadab. Bajingan." Kini air mata Hanna tak tertahan lagi. Ia sudah tidak kuat menampungnya. Amarahnya ingin sekali meledak sekarang. Ia benar-benar merasa tertipu. Dan sekarang ia bingung ingatan mana yang nyata dan ingatan mana yang palsu. Rasanya ingatannya kini bukanlah miliknya. Apa yang ia rasakan selama ini ternyata hasil rekayasa dr. Lee, dokter yang selama ini merawatnya.

Lalu bagaimana dengan ingatanku tentang meninggalkan Taehyung di sudut jalan malam itu? apakah itu palsu juga? ataukah itu satu-satunya yang nyata?

***


"Aku baru menyadari bahwa Hanna tidak ada di rumah saat ia mengirim pesan kepadamu bahwa ia akan beristirahat. Padahal ia tidak di rumah. Aku sungguh terlambat menyadarinya. Seandainya aku tidak menerima ajakan minum bersama Kangjoon tadi malam—"

"Bagaimana kau tahu Hanna mengirim pesan kepadaku?"

"Aku menyadap ponselnya."

"Sialan." Taehyung sontak mengumpat.

"Bukan hanya menyadap. Aku banyak meletakkan kamera tersembunyi di tempat-tempat yang sering di kunjungi Hanna—Jangan salah paham, aku tidak berniat buruk. Tujuanku hanya untuk menjaga Hanna."

"Jika benar kau tidak berniat jahat selama ini, kenapa kau memfitnah ibuku?" tanya Taehyung.

"Aku tidak pernah memfitnah ibumu. Berita itu muncul begitu saja. Namun, benar jika munculnya berita itu aku manfaatkan sebagai caraku memisahkanmu dengan Hanna. Dan aku mengaku pada Hanna bahwa itu perbuatanku agar ia mau menuruti perkataanku."

"Kenapa kau ingin memisahkanku dengan Hanna?"

"Sepertinya kau belum membaca habis jurnal Kangjoon."

Taehyung langsung mengambil lembaran foto jurnal dr. Lee kangjoon yang berada di tangan Jimin. Taehyung mencari dengan teliti. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kalimat, AKU MUAK MELIHAT MEREKA, BERPURA-PURA SALING TIDAK MENGENAL DI DEPAN UMUM. AKAN KU BUAT KALIAN TIDAK MENGENAL SELAMANYA DI NERAKA, to : Taehyung dan Hanna.

"Apa maksudnya ini? Kenapa ia menargetkanku dengan Hanna juga?"

"Sudah ku bilang ia itu psikopat. Jalan pikirannya tak bisa di prediksi. Aku telah mengenalnya sejak kami masih berada di panti asuhan dulu," ucap Jaehyun. "Dulu ia sering meracuni kucing liar dengan alasan ingin mengirimnya ke surga. Aku tidak berani berpikir buruk saat itu karena kami masih 7 tahun."

"Jadi selama ini kau juga menipu Hanna dengan berpura-pura jahat di hadapannya?"

"Benar," ucap Jaehyun, "Dan maaf, Lima tahun yang lalu aku telah memisahkan kalian. Aku tak punya pilihan lain. Aku juga tidak menyangka Hanna bisa mengucapkan kalimat seperti itu kepadamu," ucap Jaehyun merujuk pada kejadian Taehyung yang dicampakkan oleh Hanna tepat di malam sebelum Hanna meninggalkan Korea. Jaehyun mendengar semua percakapan mereka lewat panggilan telepon yang terhubung ke ponsel Hanna.

Taehyung tidak menjawab kata maaf Jaehyun. Ia juga tidak penasaran dari mana Jaehyun mengetahui kalimat yang diucapkan Hanna padanya malam itu. Pikirannya sudah terlampau rumit untuk mencerna semuanya. Kini yang ada dalam benaknya adalah bagaimana keadaan Hanna dan bisakah ia menyelamatkan Hanna.

Hanna bertahanlah.

.

.

.

bersambung

Hai...hai...haiiiii..kisanaaak

Aduh gila aku sampe sakit kepala nulis part ini.

GILA, BENER-BENER GILA MAH INI CERITANYA WKWK.

Semoga kalian paham apa yang aku sampaikan karena sebenarnya part ini banyak merujuk ke adegan-adegan di part pertengahan. Jadi kalo kalian lupa sama alur ceritanya coba aja baca lagi dari part 17 hehe. Dan sebenarnya di part 30 sama 32 itu ada dialog yg menunjukkan kepsikopatan Kangjoon cuma gak kalian sadari aja seeeh hehehe.

Untuk yg udah baca, vote dan koment..
GOMAWOOOOOO

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top