36# The first step
.
.
.
.
.
Aku ingin menjadi pianist lagi.
Kalimat yang ia ucapkan dalam saluran telepon tadi kembali terulang dipikirkannya. Ditatapnya sepasang tangan yang dulu sangat lincah menari di atas tuts piano memainkan ratusan partitur. Mengulas kembali kenangan lamanya akan sebuah dunia melodi. Merangkumnya menjadi satu keyakinan utuh untuk kembali ke masa itu. Masa di mana kejayaannya layaknya emas yang berkilauan.
Namun, sepercik keraguan tak luput hadir dalam benaknya. Merusak sedikit kepercayaan diri.
"Apakah aku sanggup melakukannya?" tanyanya lirih.
Tanyanya itu memiliki makna ganda. Pertama adalah tentang kesanggupan dirinya memulai lagi sebagai seorang pianist. Sedangkan yang kedua adalah tentang kesanggupannya menjalankan serangkaian rencana di balik makna yang pertama.
"Sanggup apa?" tanya Jaehyun yang tiba-tiba sudah berada saja di dalam kamarnya.
"Oppa sejak kapan kau masuk?"
"Baru saja. Tepatnya saat kau mengucapkan kalimat terakhirmu." jelasnya sambil mengambil posisi duduk di sudut kasur dan menghadap ke arah Hanna.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Jaehyun.
"Bukan apa-apa. Hanya saja aku baru selesai menelpon tante Ahra."
"Oh. Jadi kau sudah ingin memulainya lagi?"
Hanna membalas dengan anggukan dan tersenyum.
"Sudah ku duga." jawab Jaehyun dengan senyum manisnya yang tak mau kalah. Tiba-tiba satu tangan Jaehyun terangkat untuk merapikan poni adiknya itu dan dilanjutkannya dengan membelai lembut bagian kiri kepala sang adik. "Kau pasti sanggup melakukannya. Aku yakin itu."
Hanna mencoba tersenyum mendengar ucapan kakaknya. Oh sungguh manis sekali, sampai-sampai rasanya ia ingin menampar wajah yang ikut tersenyum di hadapannya. Kalimat itu sungguh tak cocok dengan tabiat buruknya.
"Hanna-ya."
"Eoh, wae? (iya, kenapa?)"
"Ada yang ingin ku tunjukkan padamu."
"Apa?" sambil mengerutkan keningnya.
Jaehyun tak menjawab. Justru berdiri dan mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Hanna. "Ayo." ajaknya.
Hanna pun meraih uluran tangan Jaehyun dan pasrah saja saat lengannya diarahkan untuk melingkar di lengan Jaehyun. Lalu melangkah perlahan mengikuti tuntunan Jaehyun.
"Kita mau kemana?"
"Tidak kemana-mana." jawab Jaehyun yang semakin membuat Hanna kebingungan.
Tetapi yang dikatakan Jaehyun juga tidak salah. Mereka memang tidak pergi kemana-mana. Hanya berjalan di dalam rumah. Dan akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pintu yang tidak ia ketahui apa yang ada di balik pintu itu. Sebuah kamar kah atau hanya sebuah ruangan lainnya.
Jaehyun pun membuka pintu tersebut, kembali menuntun Hanna untuk melangkah masuk. Terlihat seorang wanita dengan kardigan berwarna khaki dan syal berwarna krem duduk diam di atas sebuah kursi roda yang menghadap ke arah jendela kaca.
Tanpa diberitahu lagi, Hanna langsung menyadari wanita itu siapa. Hanna langsung melepaskan lengan Jaehyun dan melangkah gontai ke arah wanita itu. Napasnya naik turun, sampai-sampai kakinya tersandung dan jatuh melantai.
"Hanna-ya." panggil Jaehyun dan berusaha membantunya bangkit. Namun ditepis oleh Hanna.
Entah mengapa rasanya kakinya terasa melemah. Dengan sekuat tenaga ia mencoba bangkit tanpa bantuan Jaehyun lalu berjalan perlahan ke arah wanita tersebut.
Sesampainya di hadapan wanita itu, tungkainya kembali melemah dan jatuh terduduk di hadapan lutut sang wanita. Perlahan Hanna mengangkat tangan kirinya yang sedikit bergetar untuk menyapa wajah wanita tersebut dan mencoba untuk mengarahkan wajah itu untuk menatapnya.
"Eo..mma. Eomma." ucapnya lirih diiringi senyum dan airmata.
"Eomma. hiks..hiks.. eommaaaa." ucapnya dengan tangis yang pecah sambil memegangi lutut eommanya, sebab dirinya tak mampu berdiri untuk memeluk.
^^^^^
"Kau dan Eomma mengalami kecelakaan saat di London. Kondisi kalian sama-sama kritis. Bedanya eomma bisa sadar sedangkan kau tetap koma. Namun, kondisi eomma tidak jauh beda dengan orang yang koma. Terjadi cedera parah pada otaknya yang menyebabkan traumatic jangka panjang dan kelumpuhan."
"Ia tidak bisa diajak berbicara dan terkadang juga tidak bisa mendengar." sambung Jaehyun.
"Apa karena itu, ia tidak menyadari kedatanganku?"
"Benar."
"Kecelakaan apa tepatnya yang aku dan eomma alami?"
"Mobil." jawab Jaehyun.
Pembohong. Hanna membatin. Sangat jelas diingatannya kecelakaan apa yang ia alami saat itu.
"Jadi aku mengalami kecelakaan mobil dua kali. Di Korea dan di London. Sungguh sial diriku." ucap Hanna pura-pura tidak tahu.
"Tidak Hanna. Kau tidak sial. Buktinya kau berhasil selamat dari maut dua kali."
Benar juga.
"Omong-omong. Bagaimana kau bisa mengingat bahwa ia adalah eomma. Padahal aku belum memberitahumu."
"Entahlah oppa. Hatiku seperti langsung mengingat sejak pertama melihatnya." belanya.
Semoga saja Jaehyun percaya akan ucapannya. Karena jujur, ia seketika lupa dengan aktingnya saat melihat eommanya tadi.
Hanna bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah eommanya yang masih menatap lurus ke luar jendela.
"Eomma." ucap Hanna halus.
"Tangan eomma masih cantik. Kulit eomma juga masih halus. Wajah eomma juga belum banyak keriput." ucapnya lalu tersenyum kembali.
Tanpa sadar airmatanya kembali mengalir. Digenggamnya tangan sang eomma dan berucap, "walaupun eomma tidak bisa bicara." ucapnya bergetar menahan tangis. "walaupun eomma tidak bisa mendengar." jedanya untuk menarik cairan yang terasa ingin keluar dari hidungnya. "Atau bahkan jika eomma tidak bisa melihat Hanna. Hanna yakin di hati eomma." putusnya lagi karena tenggorokannya semakin sesak berucap.
"Hanna yakin di hati eomma ada Hanna. Ada nama Hanna dan ada rindu untuk Hanna. Bogoshippeo eomma." Diarahkannya tangan yang ia genggam itu untuk membelai pipinya. "Gomawo eomma." ucapnya lagi. "Dan juga mianhae."
^^^^^
Sejuta lelah rasanya ingin segera ia lepas. Penat di puncak kepala memintanya beristirahat dari segala aktivitasnya hari ini. Namun, lelah itu justru membuatnya malas bergerak bangkit dari kasurnya untuk membersihkan diri sebelum beranjak tidur.
Jadwalnya sungguh padat hari ini. syuting di dua lokasi. Serta dilanjut menghadiri event penghargaan di malam hari. Jadwalnya yang padat seperti itu, seharusnya sudah cukup baik untuk membantunya menghilangkan Hanna dari pikirannya. Namun, nyatanya tak semudah itu.
Hanna masih saja muncul di kepalanya. Terlebih parahnya lagi jika ia sedang di rumah seperti ini. Bayangan-bayangan ingatan tentang Hanna yang pernah tinggal di rumahnya terus terlintas di setiap aktivitasnya.
Di kamar, di dapur, di ruang tengah, dan bahkan di kamar mandinya. Wajah Hanna selalu muncul tanpa ijin dalam memorinya.
Seperti sekarang contohnya, saat netranya tak sengaja menangkap seutas tali menjuntai dari atas meja riasnya yang sontak mengundang memorinya untuk mengalir lagi.
"Tae-ya. Ini tali yang kau pakai di TV tadi yah. Wah apa kau tidak merasa tercekik, uhuk-uhuk." sambil berlagak tercekik
Di depan pintu kamar mandi, "Kau ingin mandi? hehe boleh aku ikut?"
Di depan pintu kamarnya, "Ya! Taehyung-ah cepat buatkan sarapan. aku sudah lapar."
"Haha.. haha.. pabo (bodoh). Hantu mana coba yang bisa kelaparan. Sudah begitu sangat mesum. haha pabo." tawanya yang terdengar sedih.
"Pabo. hiks.." dengan suara yang tercekat, serta tangannya yang kini berusaha menghentikan airmatanya mengalir namun tak bisa.
"Eottokke? Aku sangat merindukanmu. Eottokke? (bagaimana ini)."
"Eottokke?"
"Bogoshippeo."
^^^^^
Telunjuknya terus bergerak memutar tali pada sebuah pena berlogo chimchim. Jimin masih terbayang akan pembicaraan singkatnya dengan kakak iparnya siang tadi.
"Karena aku sedang sibuk, jadi aku akan langsung ke intinya. Apa hubunganmu dengan Hanna selain sebagai dokter dan pasien?"
"Maksudmu?" tanya kangjoon.
"Sepertinya pertanyaanku kurang jelas. Baiklah aku ganti, Apa yang sedang kau dan Hanna sembunyikan sekarang. Apa benar Hanna hanya pura-pura amnesia?" tanya Jimin skakmat.
Kangjoon takjub dengan pertanyaan Jimin. "Ternyata benar yang dikatakan orang-orang kalau kau memang sangat peka."
"Ah sudahlah tak usah bahas itu. Jawab saja pertanyaanku hyung. Aku sungguh penasaran setengah mati karena ini. Tidurku sampai tidak nyenyak."
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang."
"WAE? (kenapa?)" protes Jimin.
"Karena ceritanya sangat panjang dan kau tidak punya banyak waktu. Besok saja kau kembali lagi. Aku janji akan menceritakan semuanya."
Jimin merasa geram sendiri. "Ah. jinjja. Dasar dokter satu itu. Senang sekali membuatku penasaran."
Tiba-tiba terdengar seseorang menekan tombol passcode untuk membuka pintu asrama. Jimin yang sekarang sedang duduk di ruang tengah tiba-tiba bersikap waspada. Karena semua member sudah berada di asrama dan sudah tenang di kamar masing-masing. Lalu siapa yang datang tengah malam begini?
"Astaga." Jimin terkejut bukan main melihat sosok yang kini berdiri di depannya.
"Ya! Taehyung. Kau itu manusia apa zombi? Kenapa wajahmu lusuh sekali?"
Taehyung lah yang ternyata datang. Ia datang dalam keadaan lesu. Mata merah dan sembab mendominasi wajahnya. Tak heran jika Jimin bertanya ia manusia apa zombi.
"Aku lelah. Ingin tidur." jawab Taehyung.
"Eoh. Tidurlah. Miris sekali aku melihatmu, seperti satu tahun tidak tidur saja."
Taehyung sedang malas bereaksi. Ia hanya butuh istirahat. Karena jujur tubuhnya lelah, akan tetapi matanya tak bisa tertidur selagi ia di rumahnya tadi. Pikirannya terus menciptakan garis wajah Hanna yang membuatnya ingin terus menangis. Minuman beralkohol pun tak mempan mengatasi dilemanya. Alhasil di sinilah kini dirinya terbaring. Di kasur lamanya, di asrama.
"Ku mohon tidurlah. Aku lelah." ucapnya sendiri.
Di sisi lain, Jimin mengintip keadaan Taehyung dari balik pintu yang sudah ia buka sedikit. Ada apa lagi dengan sahabatnya itu. Kenapa ia akhir-akhir ini terus terlihat murung. Pertanyaan itu berkecamuk dalam otaknya. Pertanyaan yang ingin ia cari jawabannya lewat Kangjoon, kakak iparnya esok hari.
Sabarlah Tae.
^^^^^
Di depan sebuah piano berkaki tiga, Hanna menarik napasnya perlahan. Kemudian melambungkan sebelah tangannya ke udara mengambil posisi bersiap.
Kau bisa. Kau pasti bisa. Kau ahlinya.
Perlahan Hanna membuka maniknya. Menatap lembar partitur yang tersemat di hadapannya.
Mulai.
Seketika sunyi senyap ruangan latihannya berganti dengan alunan indah melodi yang mengalir lewat jemarinya. Terdengar manis, hangat dan emosional. Iramanya terus mengalir merdu, membuat siapapun yang mendengar pasti akan tersentuh. Diseretnya sebelah jemarinya untuk berpindah posisi dari kiri ke kanan. Mengalirkan melodi yang membuatnya lupa segalanya, sampai-sampai ia terus mengabaikan rasa ngilu di pergelangannya.
"Ya! Apa kau waras?" ucap tante Ahra setelah berhasil menghentikan permainan Hanna.
"Lepaskan tanganku tante." pinta Hanna.
"Hanna-ya. Sebenarnya apa keinginanmu? Kenapa kau berlatih sekeras ini?"
"Bukankah sudah jelas aku akan mengadakan konser satu bulan lagi."
"Iya kenapa harus satu bulan lagi? Apa yang kau kejar Hanna-ya ?"
Hanna menghadapkan tubuhnya ke arah tante Ahra yang ada di sampingnya lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap tante Ahra yang sedang berdiri.
"Tante?" panggilnya dengan raut wajah serius.
"Nde."
"Kau cukup memantau latihanku, tak perlu banyak tanya." masih dengan ekspresi seriusnya.
"A--arasseo (baiklah), Kalau itu memang maumu." sedikit kesal.
Tante Ahra pun berbalik meninggalkan ruangan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. "Hanna. Tante memang tidak tahu apa-apa. Tapi tante punya banyak waktu untuk kau repotkan mendengar masalahmu." ucapnya lalu melanjutkan langkahnya. Namun sekali lagi langkahnya terhenti, karena kini di hadapannya telah hadir seseorang.
"Oh. Jaehyun-ssi. Mencari Hanna?" ucap Tante Ahra tepat setelah membuka pintu. Ternyata Jaehyun ada di balik pintu dan kebetulan ingin masuk.
"Nde." jawab Jaehyun.
"Silahkan masuk."
"Nde. Terimakasih."
Selagi Jaehyun berdiri di depan pintu, Hanna telah menyambutnya dengan senyuman dari tempat duduknya. "Kau sudah siap?"
Hanna membalas pertanyaan Jaehyun dengan anggukan, lalu berdiri dan meraih uluran tangan Jaehyun. Hari ini ia memutuskan pergi ke suatu tempat bersama Jaehyun.
Tempat yang dipilihnya sebagai awal dari langkah pertamanya.
^^^^^
bersambung.
See you next part:)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top