Chapter 4
Pagi ini aku terlalu bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Bukan karena hari ini adalah ulang tahunku, melainkan karena ingin mencoba vespa skuter baruku. Dad belum berangkat saat aku bangun pagi ini. Tentunya, karena aku tidak bangun telat kali ini.
Sambil membaca koran paginya, Dad menyapaku. "Jarang sekali kau bangun sepagi ini," ujarnya.
"Aku terlalu bersemangat untuk menaiki vespa skuterku," kataku bersemangat.
Mom yang sedang membuatkan sarapan untukku tersenyum saat mendengarku yang begitu bersemangat. "Jangan terlalu mengebut di jalan. Aku tahu bagaimana kau berkendara," goda Mom.
Kuberikan senyum lebarku. "Tidak janji." Bersamaan dengan itu, kulahap roti panggangku.
Kuhabiskan sarapanku cepat-cepat, tidak mau ketinggalan bus sekolah yang rasanya setiap hari mengejekku karena tidak bisa bangun pagi. "Aku berangkat." Kusambar tasku dan sambil memainkan kunci vespa skuter dengan bangganya.
Sudah berada di depan skuter vespa, aku siap berangkat saat bus sekolah sampai di depan rumahku. Thor, sang supir bus membuka pintunya sambil menggodaku. "Whoa, sekarang kau bisa telat kapan pun kau mau, Malia," katanya tertawa.
"Ya, Thor, kau juga bisa makan masakan ibumu lebih cepat karena tidak perlu mengantarkan anak malas ini," balasku dan dengan cepatnya kutancap gas.
Sesaat sebelumnya, kulihat ekspresi Thor yang begitu terkejutnya. Omong-omong, hanya aku yang memanggilnya Thor, hanya karena jenggot panjang dan perut buncit yang hampir sama saat Thor di dalam film berubah seperti itu. Selain itu, hanya aku yang tahu bahwa dia membawa bekal buatan ibunya.
Ya, Thor masih tinggal dengan orang tuanya. Aku pernah membuntutinya saat pulang sekolah, dan nyatanya dia tinggal di basement milik ibunya yang tinggal sendirian. Tentu saja dia akan merahasiakan hal ini, tapi aku adalah seorang Stalker, informasi adalah sahabatku.
Parkiran sekolah ramai dengan anak-anak lain yang membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Bagiku, ini pertama kalinya melihat pemandangan seperti ini. Karena biasanya datang telat, aku hanya mendapatkan parkiran dipenuhi kendaraan tanpa orang-orang di sekitarnya.
Kuparkirkan vespa skuterku di samping motor trail berwarna hitam. Bertanya-tanya siapa pemiliknya, karena rasanya aku belum pernah melihat motor ini terparkir di sini sebelumnya. Melupakan rasa penasaranku pada sang pemilik motor, kulangkahkan kaki masuk gedung sekolah.
Anak-anak lainnya ramai berseliweran ke sana-sini. Desas-desus pun mulai terdengar di telingaku, mengenai seorang anak baru. Awalnya aku kira mereka membicarakan Alpha, karena dia satu-satunya anak baru yang aku tahu.
"Mal, kau dengar mengenai anak baru?" Mila yang muncul tiba-tiba entah dari mana menyenggol pundakku.
"Alpha, kenapa lagi dengannya?" tanyaku, seolah-olah tidak ingin tahu saja, walaupun penasaran.
"Bukan-bukan, bukan dia." Mila menggeleng-geleng seolah itu hal yang sangat penting saja untuk dibicarakan. "Ada anak baru lagi hari ini dan dengar-dengar dia juga salah satu Monarki."
Sambil berjalan bersamaan menuju loker, kubiarkan Mila terus menggosip sedangkan aku mendengarkan ocehannya.
"Dan katanya, tidak kalah tampan dengan Alpha. Oh ya ampun, kenapa orang-orang seperti mereka diciptakan sempurna?" Keluhnya. Padahal, pacarnya yang ketua tim football saja super tampan dengan satu lesung pipi yang menghiasi wajahnya.
"Siapa pun pemuda itu, aku tidak peduli. Lagipula, para Monarki tidak akan melirik salah satu di antara kita." Sebuah kenyataan pahit yang selama ini memang terjadi, namun berbeda dengan Alpha. Hingga saat ini, yang kupikirkan mengenai dirinya yang berbicara denganku karena dia sedang bertaruh dan mempermainkanku.
Bel berbunyi tidak lama saat aku baru selesai mengambil bukuku dari loker. Mila sudah beranjak menuju kelas mendahuluiku. Saat tiba-tiba Alpha muncul sambil menggebrak lokernya. Ada yang sedang bad mood rupanya. Tidak mau ambil pusing, kutinggalkan dia bahkan tanpa menyapanya. Lagipula, untuk apa menyapanya? Kami tidak berteman dan dia menjengkelkan.
Belum sempat kulangkahkan kaki untuk menjauh darinya, Alpha sudah menarik lenganku. Apasih maunya? Batinku.
"Maafkan aku soal yang kemarin," katanya. Dia bahkan tidak menoleh padaku, seolah aku ini tidak menarik untuk dilihatnya.
Kutarik lenganku cepat-cepat, tanpa mengatakan satu kata pun, kutinggalkan dia di depan loker. Aku sedang tidak ingin berurusan dengannya. Apalagi setiap hal yang bersangkutan dengan Alpha selalu menyusahkanku, seolah dia adalah kesialan dalam hidupku.
Kelas bahasa kali ini, aku dan Mila memiliki beberapa kelas yang sama, salah satunya kelas bahasa. Mila tentu saja duduk di tempat kesukaannya, baris ke dua dari belakang, dan tentunya aku duduk di sebelahnya.
Mr Frank, guru bahasa kami berdiri dari kursinya. "Selamat pagi semuanya," katanya memulai kelas.
Di antara guru-guru yang lainnya, Mr Frank adalah guru kesukaanku. Oke, bukan karena dia termasuk guru termuda di sekolah dan bisa dikatakan cukup menawan. Ya, banyak murid-murid yang menggilainya, tertutama para gadis-gadis senior.
Namun, bukan karena itu dia menjadi guru kesukaanku. Mr Frank begitu terbuka terhadap semua opini, dia menerima semua masukan dan tidak menghakiminya. Dia termasuk guru dengan kategori paling santai yang pernah aku temui. Oh dan satu lagi, tidak ada rahasia di antara diriku dan Mr Frank.
Aku pernah menceritakan masalah-masalahku padanya, walaupun sekolah memiliki guru konseling, aku lebih nyaman menceritakannya pada Mr Frank. Dia juga tahu aku bekerja sebagai seorang Stalker dan satu-satunya guru yang tahu.
Dia pernah bertanya padaku apakah aku pernah memata-matainya. Aku menjawab ya, untuk beberapa murid yang menggilainya. Namun, satu hal yang tidak akan pernah kubocorkan jika seseorang membayar jasaku, aku tidak akan pernah menyebut namanya.
Mr Frank hanya tertawa saat aku beri tahu mengenai hal itu dan dia bilang, "aku tidak keberatan jika seorang muridku menjadi pacar atau istriku suatu hari nanti." Oh, itu adalah informasi yang sangat berharga.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, Alpha lah yang telah mengintrupsi Mr Frank. Selagi pemuda itu duduk di kursi kosong, mataku mengekor padanya. Dari yang bisa kusimpulkan, dia sedang kesal mengenai sesuatu. Tidak mungkin karena aku meninggalkannya di loker tadi kan? Tentu saja bukan.
Tidak lama setelah Alpha duduk, kepala sekolah kami Mrs Johnson masuk diikuti seorang pemuda di belakangnya. Alis tebal, rambut cokelat gelap, rahang tegas, dan postur tubuh yang sempurna, tidak diragukan lagi dia akan menjadi idola baru, atau bisa dikatakan pesaing Alpha.
Satu kelas langsung berbisik-bisik dan terasa seperti pasar. Apalagi gadis-gadis yang senyum-senyum, beberapa ada yang melambai pada si anak baru.
Mila yang duduk di sampingku, menepuk-nepuk pundakku seolah aku tidak menyadari kehadiran si anak baru saja. Tapi bukan si anak baru yang menjadi perhatianku, melainkan Alpha yang sama sekali tidak memandang si anak baru. Bahkan dia telihat tidak tertarik sama sekali.
Setelah kepala sekolah pergi, satu kelas semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai Mr Frank harus menggebrak papan tulis agar semua anak diam. Bagi mereka, si anak baru adalah idola baru, bagiku dia adalah ladang uangku.
Mr Frank akhirnya memulai pelajaran, seperti biasa, kami membahas mengenai beberapa buku, kali ini bahasan kami mengenai buku klasik. Aku tidak terlalu menyukai buku-buku klasik, karena bagiku bahasa sastra buku klasik terlalu berat, apalagi kalau yang sudah membahas filsafat. Ya, walaupun ada beberapa buku yang menurutku mudah untuk dipahami.
Aku lebih menyukai karya-karya modern seperti buku-buku young adult. Tidak jarang aku membeli buku-buku tersebut dan mengoleksinya. Seperti Harry Potter, siapa yang tidak suka dengan karya masterpiece buatan J. K. Rowling itu, kan? Atau Hunger Games yang membuatku ingin belajar memanah seperti Katniss.
"Sebelum liburan kemarin, aku memberikan kalian tugas untuk membuat sebuah prolog cerita kalian. Sekarang, aku ingin mendengar beberapa prolog dari yang kalian buat. Adakah yang ingin maju suka rela?" tanya Mr Frank.
Di saat-saat seperti ini, seorang Katniss Everdeen akan mengangkat tangannya, mengajukan diri sebagai seorang volunteer. Mungkin di saat seperti ini, aku juga harus melakukan yang sama. Kuangkat tanganku untuk mengajukan diri.
"Sanderson, silahkan," ujar Mr Frank.
Kutarik bukuku dari meja, membawanya bersamaku ke depan. Semua mata mengarah padaku saat aku berdiri tepat di depan. Saat kubuka lembaran bukuku, aku mulai membaca prolog yang telah kubuat beberapa minggu yang lalu.
"Debaran jantung terdengar begitu cepatnya di telingaku. Sampai-sampai kau kira itu adalah suara deru mesin tua dari pemotong rumput milik Ayah. Begitu keras, mengganggu, rapuh, dan rusak.
"Aku tidak pernah merasakan patah hati seperti ini. Oh, tentu saja itu karena aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelumnya. Itu sakit, sampai-sampai setiap malam kumenangis dibuatnya, tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Kesalahan terbesarku adalah membiarkan hatiku percaya bahwa ada setitik harapan padanya.
"Namun apakah itu salah? Tidak, mencintai seseorang tidak lah salah, kau hanya salah meletakkan hatimu pada seseorang yang pada awalnya kau tahu bahwa dia tidak mungkin untukmu, namun kau mengabaikannya. Mengabaikan semua tanda-tanda yang ada. Apakah cinta memang sebuta itu?
"Membuat dirimu jatuh ke lubang yang begitu dalam dan tidak bisa naik kembali ke permukaan. Bahkan, walaupun kau bisa meraih permukaan, luka akibat jatuh hanya akan sembuh perlahan, yang kemudian menjadi berbekas dan mengingatkanmu akan hal itu.
"Seberapa besar usahamu untuk melupakannya, itu tidak membuatmu membaik saat mengingat kenangan yang kau buat bersama dan mengetahui kenyataan bahwa kau pernah bahagia bersamanya." Kuakhiri prologku. Walaupun aku merasa itu seperti sebuah epilog ketimbang prolog.
Mr Frank bertepuk tangan, diikuti yang lainnya. "Bagus, Sanderson. Adakah yang ingin mengajukan diri lagi? tanyanya. Bertepatan dengan itu bel pergantian kelas berbunyi. "Baiklah, kumpulkan tugas prolog kalian, kecuali untuk Wide. Dan aku ingin kalian membaca sebuah buku, minggu depan aku ingin mendengar pendapat kalian mengenai buku yang kalian baca."
Aku dan Mila berpisah di depan ruangan. Mila memiliki kelas Geografi sedangkan aku mengambil kelas musik walaupun hanya bisa memainkan flute saja. Setidaknya itu bisa menambahkan nilaiku di akhir semester.
Saat keluar ruangan tadi, aku melihat Alpha yang berjalan berlawanan arah denganku. Untung sekali, karena kalau tidak jantungku sudah mulai dag-dig-dug takut kalau-kalau dia mengambil kelas musik.
Separuh anak sudah pergi menuju kelas selanjutnya, hanya ada beberapa anak di koridor dan yang berlarian menuju kelas. Kuedarkan pandanganku dan sampai pada si anak baru yang baru saja menutup lokernya.
Mata kami saling beradu saat si anak baru berbalik. Dan tahukah kalian? Dia punya warna mata biru yang begitu menghipnotis. Oh, dia akan menjadi saingan Alpha dalam perebutan mendapatkan penggemar gadis-gadis.
Kualihkan pandanganku dan mulai berjalan kembali, saat dia menghentikan langkahku. "Maaf, tunggu! Ruang musik ada di sebelah mana? Aku agak baru di sini," ujarnya.
Kuputar badanku sampai mendapati wajah tampannya lagi dan suaranya tidak kalah menggoda. "Kau mengambil kelas musik?" tanyaku.
"Ya," jawabnya singkat.
"Aku juga mengambil kelas musik," kataku lagi. Aku harap suaraku tidak terdengar gugup.
"Oh, bagus kalau begitu. Kita bisa berjalan bersama."
Oh, tidak. Jalan bersama menuju kelas dengannya? Kupandangi sekeliling, beberapa orang masih berada di luar kelas, yang berarti jika aku terlihat berjalan bersama si anak baru, akan ada gosip yang menyebar.
Tunggu sebentar, kenapa aku peduli pada hal itu? Tidak ada yang pernah menggosipiku. Rasanya aku mau tertawa mengingat hal itu, namun itu benar. Gadis-gadis di sekolah tentunya tahu reputasiku sebagai seorang Stalker, mereka tidak pernah menggosipiku karena tahu aku hanya sedang bekerja.
Lalu, kenapa tiba-tiba aku peduli akan ada yang menggosipiku? Rasanya benar-benar aneh memikirkannya.
"Ya, tentu," ujarku dari lamuman mengenai pemikiran yang aneh itu.
Selama berjalan menuju kelas musik, aku hanya diam. Si anak baru rupanya juga tidak seperti yang kupikirkan. Kukira dia akan bertanya banyak padaku, nyatanya dalam kesimpulanku, dia termasuk pemuda yang sedikit pemalu, walaupun itu tidak tergambarkan dari wajahnya sama sekali.
"Apa yang kau mainkan?" tanyaku akhirnya, memecahkan keheningan yang begitu canggung. Lagipula, ini kesempatanku untuk mendapatkan informasi yang bisa dijual.
Si anak baru mengusap tengkuknya seolah tidak suka ditanyai hal semacam itu. "Aku bermain gitar ..." dia diam sebentar. "Piano, drum, dan sedikit biola."
Kupandangi dirinya dengan ekspresi keterkejutanku. "Whoa, jadi kau seorang musisi?"
Dia terkekeh. "Tidak, aku hanya seseorang yang belajar musik dan menyukainya," katanya merendahkan diri.
"Aku hanya bisa memainkan flute," ungkapku. "Aku mengambil kelas musik agar bisa mendapatkan nilai tambahan."
"Kau bagus dalam menulis menurutku." Dia balik menoleh padaku. "Boleh aku tanya sesuatu padamu?"
Pertanyaan itu seolah membuat jantungku berhenti seketika.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top