Chapter 3

Setelah John dan Alpha pergi mengikuti Mr Walts yang sudah pasti mereka akan mendapat hukuman, aku pergi menuju loker untuk mengambil pakaian gantiku.

Aku masih kebingungan dengan semua yang terjadi. Kenapa Alpha membelaku? Sejujurnya, aku sedikit menyukai sikapnya yang membelaku, walaupun tetap tidak menghapus sikap menyebalkannya padaku sebelumnya.

Di depan loker, entah sudah berapa lama aku berdiri dan berdiam di sana. Kulihat Alpha yang sudah mengganti pakaiannya menyusulku ke loker. Atau dia memang mau mengambil sesuatu dari lokernya.

"Kau seharusnya meninjunya sebelum dia melecehkanmu. Atau kau memang menunggu seseorang meninjunya untukmu? Jika bukan aku, kau pasti sudah menjadi sasaran empuk John." Tas menggantung di bahu kirinya. Perkataannya yang menjengkelkan benar-benar ingin membuatku meninjunya.

"Aku sama sekali tidak meminta bantuanmu," ketusku.

"Ya, tapi kau terlihat seperti seseroang yang membutuhkannya."

Untuk kali ini, aku tidak bisa diam saja. Tangganku yang sudah tergenggam melayang menuju wajah tampannya. Sebuah pukulan yang membuat Alpha mundur beberapa langkah dariku karena serangan mendadak. Aku tahu dia tidak mengira hal itu dan itu bagus.

Kutinggalkan dia begitu saja. Tanpa berkata apapun bahkan tanpa meminta maaf padanya. Nyatanya, aku puas telah melakukan hal itu. Seperti sesuatu yang sudah kutahan cukup lama dan akhirnya berhasil kulakukan.

Mila dan Ed mengantarku pulang, padahal sudah kukatakan pada mereka bahwa aku akan naik Uber saja, tapi mereka bersikeras untuk mengantarku. Sesampainya di rumah, kulihat Mom yang sedang sibuk dengan teleponnya.

Kudengar dia mengundang orang-orang untuk acara ulang tahunku besok. Padahal, aku sudah katakan tidak mau ada pesta ulang tahun, walaupun ini ulang tahun ke-17-ku. Tidak setuju dengan pendapatku, Mom bersikeras untuk tetap mengundang orang-orang. Mom bilang dia hanya akan mengundang tetangga, teman-teman kerja Dad, dan tentu saja Mila dan Ed. Tentu saja mereka pasti akan datang dengan anak-anak mereka juga, jadi tetap akan ramai.

Kuambil jus di dalam kulkas, menuangkannya di gelas dan membawanya ke kamar. Setelah berganti pakaian, kuminum jusku sambil membuka laptop. Mungkin menonton film di Netflix adalah pilihan bagus, jadi kubuka aplikasi berbayar itu dan mulai mencari film yang ingin kutonton.

Tiga jam kemudian, ponselku berbunyi. Nomor Mila tertera di layarnya. "Halo, ada apa?" tanyaku.

"Aku dan Ed akan pergi ke Mall, kau mau ikut?"

"Entahlah, aku sedang sibuk dengan kasur dan acara Netflix-ku." Kugulingkan tubuh untuk mengubah posisi.

"Oh ayolah, Malia. Kau bahkan menghabiskan liburan musim panas di rumah, sekarang waktunya kau untuk keluar dari sarangmu."

Sejujurnya, aku bukannya tidak mau ikut bersama mereka. Aku hanya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam setiap acara kencan mereka, walaupun Ed tidak keberatan sama sekali. Tetap saja, tidak enak menjadi orang ketiga. "Baiklah, aku akan bersiap," kataku akhirnya.

"Aku dan Ed akan menjemputmu 30 menit lagi," kata Mila dan menutup sambungannya.

Dengan malas kuseret tubuhku untuk berganti pakaian. Setelah itu, kuambil tas kecil untuk dompet dan ponselku. Di ruang tamu, aku lihat Mom masih sibuk dengan telepon-teleponnya.

Mom kemudian melirik ke arahku. "Kau mau pergi?" tanyanya.

"Ya, dengan Mila dan Ed." Kubiarkan diriku menunggu di ruang tamu.

Tidak lama setelah itu, bunyi klakson mobil dari luar terdengar. Itu pasti Mila dan Ed. Aku bangkit dari sofa dan menoleh ke arah Mom sesaat. "Mom, aku beragkat," kataku.

"Ya, jangan pulang malam-malam. Aku mencintaimu," teriak Mom saat aku sudah berada di depan pintu.

Mila melambai dari dalam mobil. Dia tersenyum seolah sedang merencakan sesuatu. Oh pasti ini karena ulang tahunku besok. Aku tidak suka kejutan. Kubuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Ed dan Mila menatapku sambil tersenyum saat aku duduk.

"Ada apa sih dengan kalian berdua?" protesku. "Jika kalian merencakan sesuatu, aku akan kembali ke dalam saja."

"Ayolah, Malia. Tenang saja, tidak akan seburuk yang kau kira." Ed mulai menyalakan mesin dan menjalakan mobilnya.

Dari perkataan Ed aku jadi mulai berpikir mereka membohongiku dengan megatakan akan pergi ke Mall. Tidak kupikirkan, kubiarkan diriku terhanyut ke jalanan. Sampai Ed memarkirkan mobilnya pada sebuah bar yang di depannya beruliskan 'Jack & Jill's Bar'.

"Tunggu, kenapa kalian berhenti di sini?" tanyaku bingung.

Mila menghadap ke arahku. "Kau akan berumur 17 besok. Aku dan Ed berencana untuk membawamu ke bar sebagai hadiahmu."

"Apa? Tidak, aku bahkan belum punya ID," protesku.

Ed kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dalam jaketnya dan memberikannya padaku dengan senyuman yang seolah bangga. Kuambil kartu itu dan melihat namaku yang tetera dan fotoku di sana.

"Kau membuatkanku kartu identitas palsu?" kataku tidak percaya.

"Setidaknya sampai kau mendapatkan yang asli," tambah Ed.

"Sekarang, ayo kita masuk." Mila membuka pintu mobil dan membukakan pintu untukku.

Kutatap ID palsuku. Tidak yakin apakah mereka akan percaya pada identitas palsuku ini. "Aku tidak bisa," kataku sambil membuka pintu mobil untuk masuk kembali.

Ed dan Mila tidak menerima penolakan, jadi mereka memegangi lenganku dan menyeretku untuk masuk. Suara musik dari dalam bar terdengar sampai di pintu depan. Aku bahkan sudah pusing duluan saat di pintu depan.

"ID," kata petugas bar.

Ed dan Mila memberikan ID mereka, tidak denganku. Aku terpaku diam di tempat. Tidak yakin mau memberikan ID-ku. Namun, Mila meraih ID milikku dan memberikannya pada petugas. Dia memindainya sebentar dan memberikannya kembali pada kami sambil memperbolehkan kami masuk.

Di dalam, suara musik tertunya terdengar lebih keras. Kami mulai masuk menembus kerumuran, mencari tempat duduk. Ed dan Mila memilih duduk di meja bantender dan memesan sebuah minuman untuk kami bertiga. Aku bersikeras untuk tidak akan meminum apapun yang berbau alkohol, tapi Mila memaksa.

Saat Ed dan Mila akan melakukan shoot untuk pasangan yang saling menyilangkan kedua tangan mereka selagi mereka meneguk minuman, kulemparkan minumanku dan berpura-pura meminumnya. Tentu saja kau pernah merasakan minuman beralkohol dan rasanya benar-benar tidak enak. Aku kadang bingung, kenapa banyak orang menyukainya.

Alunan musik berganti seketika, namun rasanya ditelinganku sama saja, dengan DJ yang memainkan alat musiknya dengan lihai.

"Aku mau menari, kau mau ikut?" tanya Mila padaku.

Tentu saja jawabanku adalah tidak. Bukan karena kau tidak bisa menari, melainkan jika aku sudah mengikuti alunan musik, aku akan menggila. Tarianku tidak buruk, hanya saja saat aku mulai menari, para pria akan mulai mendekatiku dan menyentuh tubuhku. Aku tidak suka bagian itu.

"Tidak, aku akan duduk saja," jawabku.

"Terserah kau saja, Mal." Dia kemudian melirik Ed. "Kau, tidak bisa menolak." Mila menarik lengan Ed dan menyeretnya ke lantai dansa.

Secara tiba-tiba, seseorang menarik lenganku. Membuatku refleks hampir meninjunya saat dia berhasil menangkisnya.

"Kau baru saja menumpahkan minumanmu ke wajahku," kata pemuda itu.

Kupandangi wajah itu cukup lama sampai aku sadar bahwa aku mengenalinya. "A ... aku tidak menumpahkan apapun ke wajahmu," kataku ragu.

Dia melirik gelas kosongku, menandakan bahwa aku tidak bisa berbohong padanya. Sekarang, matanya menatapku lekat-lekat, sambil menaikkan sebelah alisnya. Sebuah lebam di pipinya terlihat cukup jelas walaupun dia pasti sudah menyembunyikannya dengan make up.

Di situlah jantungku rasanya ingin copot seketika. Alpha si anak baru menyebalkan yang lokernya bersebelahan denganku memberikan tatapan mautnya padaku. "Maaf," gumamku pelan. Tidak tahu harus mengatakan apa.

Selagi kedua lengannku masih dipegang olehnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah permintaan maafku tidak diterimanya, dia menggeleng-geleng. "Permintaan maaf tidak cukup," katanya.

Oke, sekarang aku takut. "Apa maumu?" gerutuku.

"Aku ingin kau ikut makan malam bersama keluargaku akhir pekan ini," pintanya.

Kali ini, aku sama sekali tidak bisa berkata-kata. "What?" hanya itu yang keluar dari mulutku. Apakah dia tidak ingat aku meninjunya kemarin? Atau aku terlalu keras meninjunya hingga dia jadi lupa ingatan?

"You heard me, Malia," katanya. "Tidak ada penolakan, aku akan menjemputmu pukul 7. Kenakan pakaian yang pantas."

Tanpa menunggu apapun yang akan aku lontarkan, Alpha menerobos kerumunan dan kulihat dia menemui kelompoknya yang sama dengan di sekolah. Para Monarki, mereka semua berada di sini, termasuk Brianna yang memberikan ciuman tepat di bibir Alpha.

Sekarang aku benar-benar bingung. "What the hell just happened? Dia baru saja mengajakku makan malam bersama keluarganya dan sesaat kemudian Brianna menciumnya."

Alpha pasti sedang mempermainkanku. Dia pasti sedang bertaruh dengan teman-teman Monarkinya. "Dasar, kau kira aku bisa tertipu olehmu," gerutuku.

Tentu saja aku tidak akan datang walaupun dia memaksaku. Lagipula, siapa yang akan memberi tahunya alamat rumahku, aku tidak akan memberikannya. Dia hanya satu dari sekian banyak bad boy yang tidak akan mempengaruhiku.

Oke, walau aku akui, kebanyakan pria yang aku sukai adalah bad boy. Tentu saja itu karena mereka mempunyai daya tarik yang bisa membuat setiap gadis menoleh padanya. Lagipula, mereka tidak akan pernah tertarik padaku, aku tidak masuk dalam kualifikasi gadis-gadis incaran mereka. Jika pun iya, mereka hanya mempermainkannya.

Seperti Emma yang dipermainkan Hansel. Aku sudah memperingatkan Emma bahwa Hansel hanya mempermainkannya, namun dia tidak mendengarkanku, sampai aku harus turun tangan dengan memberikan beberapa rahasia Hansel yang berhasil kudapatkan untuk pembalasan dendam Emma. Tentu saja itu berhasil, setidaknya untuk tidak macam-macam dengan Emma lagi.

Kuembuskan napas panjang. Merasa bosan, kubiarkan diriku untuk pergi ke luar bar. Perutku juga terasa lapar seketika, mengingat aku belum makan malam. Mencari tempat makan terdekat, atau mungkin mini market yang menjual makanan seduh.

Yang bisa kutemukan hanya mini market, jadi daripada tidak sama sekali, lebih baik kubeli makanan seduh. Mie instan dalam cup adalah pilihanku. Setelah membayar, kupilih tempat duduk yang membelakangi pintu masuk.

Baru satu suapan kumenikmati kesendirian dengan makananku, suara gaduh orang-orang masuk ke mini market mengusikku. Kulihat melalui kaca toko di depanku dan mereka adalah para Monarki termasuk Alpha yang datang.

"Sial," gumamku.

Aku berusaha tidak mencolok sedikit pun atau tidak memedulikan mereka. Berharap mereka juga tidak mengenaliku. Namun, tiba-tiba seseorang mendekatiku. Aku tidak berani melirik ke kaca lagi, berharap dia hanya lewat saja.

"Hey, kau Sanderson." Kukenali pemuda itu adalah Quentin.

"Kau salah orang," jawabku, tidak ingin mereka mengusikku.

Seseorang mendekatiku lagi, kali ini si Michael. "Tidak, kau Sanderson. Kau masuk tim football hari ini dan membuat Alpha kena tinju John karena membelamu."

Perkataan itu membuat Brianna ikut-ikutan dalam bincang-bincang mengenai diriku yang di sponsori oleh para Monarki. "Jadi gadis ini yang membuat Alpha memiliki lebam di wajahnya," katanya dengan sinis.

Untuk catatan, aku yang meninjunya, bukan John, tapi aku yakin Alpha tidak mengatakan itu karena dia malu jika mengatakan ditinju seorang gadis. "Apa kalian sudah selesai bicaranya?" tanyaku berusaha setenang mungkin.

Mereka tidak menjawab apa-apa, jadi kulanjutkan makanku. Namun, ternyata Brianna tidak puas dengan omelannya. "Aku belum selesai bicara," desisnya.

Tidak kuhiraukan dirinya dan terus melanjutkan makanku. Merasa kesal tidak kuhiraukan, seketika Brianna menarik makananku dan menumpahkan ke bajuku. Aku tidak kesal sama sekali, justru aku begitu kasihan pada dirinya yang sudah pasti memuja Alpha.

Aku bangkit dari kursi, tidak memaki Brianna dengan kata-kata yang tidak pantas atau membalas apapun itu. Kulirik Alpha yang hanya menikmati pemandangan ini. "Lain kali, jika ingin membalasku, sebaiknya jangan meminta bantuan wanita untuk membelamu."

Kuberikan dua dolar kepada penjaga kasir untuk membayar makananku yang tumpah agar dia bersihkan. Dengan baju yang penuh dengan tumpahan air mie instan, aku berjalan pulang. Tidak berniat untuk kembali ke Jack & Jill lagi. Sebelumnya, kukirimi pesan pada Mila aku pulang duluan agar dia tidak mencariku.

Jam di ponselku menunjukkan pukul sembilan, tapi jalanan sudah sepi sekali. Berharap tidak ada orang-orang yang akan macam-macam lagi denganku. Aku sudah tidak bisa menahan kesabaranku lagi jika ada yang macam-macam lagi.

Untungnya, aku pulang dengan selamat. Di ruang tv aku lihat Mom dan Dad sedang menyaksikan acara berita. Mereka menoleh padaku saat aku masuk. "Ini dia gadis kita," kata Mom.

"Malia, kemari sebentar. Kami ingin bicara denganmu." Dad mengisyaratkanku untuk duduk.

Kuikuti perkataan Dad dan duduk di sampingnya.

"Kami tahu kau tidak menyukai pesta ulang tahun, tapi aku harap kau tidak apa-apa dengan hal ini besok. Ayah dan ibumu hanya ingin orang-orang mengenal anaknya yang begitu cantik dan hebat."

Kutatap wajah Dad yang lelah sehabis bekerja. Aku tahu dia menyayangiku, begitu juga Mom. Kuberikan pelukan sebelum akhirnya aku pergi ke kamarku. Namun Dad menghentikanku sesaat.

"Kau tidak ingin lihat hadiahmu?" tanya Dad sambil menyuguhkan sebuah kotak kecil hadiah padaku.

Aku berputar kembali dan meraih kotak itu. Sambil tersenyuk, kubuka hadiahku dan mendapati sebuah kunci di dalamnya.

"Hadiahmu ada garasi," ujar Mom.

Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju garasi dan mendapati sebuah vespa skuter terbaru berwarna merah. "Mom, Dad, aku menyayangi kalian," ujarku dan memeluk mereka erat.

"Kau menyukainya?" tanya Dad.

"I love it."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top