Chapter 2
"Sudah kuduga," gumamku.
Mila menoleh padaku dengan sejuta pertanyaan. "Maksudmu?"
"Dia satu kelas kalkulus denganku dan kelas bahasa juga." Perhatianku berada pada makan siangku lagi.
"Benarkah? Beruntung sekali kau," kata seorang gadis yang tidak begitu kukenal dalam kelompok ini.
Kusuap lagi bubur gandumku saat Mila mulai menghujamku dengan peluru pertanyaan. "Bagaimana sifatnya? Apa rambutnya sehalus yang aku bayangkan? Apa warna matanya terlihat lebih indah dari dekat? Apa aroma tubuhnya memabukkan?"
"Hey, kau sudah punya pacar Mila! Dan dia adalah kapten football sekolah kita, kuingatkan itu," seruku begitu saja.
"Terima kasih sudah diingatkan, tapi apa salahnya kan bertanya. Aku hanya ingin tahu," belanya.
"Ya, tapi seolah-olah kau ingin mengencaninya." Kuhabiskan sisa makananku dengan cepat. "Aku sudah selesai," ujarku sambil bangkit untuk membereskan sisa makanannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Mila yang melihatku beranjak dari kursi.
"Aku mau mendaftar tim football," jawabku.
Mila membiarkanku pergi. Yang kukhawatirkan sekarang, aku harus melewati sekumpulan badut bodoh yang sekarang menjadi enam. Aku bukan takut, aku hanya tidak ingin mencari keributan. Tapi untuk apa dipikirkan, lagipula para Monarki tidak akan peduli pada orang selain kelompok mereka.
Kulangkangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Tentu saja aku keluar dengan selamat. Yang kusuka dari sifat para Monarki adalah, mereka tidak pernah bersikap sombong di depan orang-orang atau mem-bully yang miskin. Tapi sikap angkuh mereka masih menjadi yang paling tidak kusuka.
Pelatih tim football adalah guru olahragaku. Dia tahu aku sangat ingin mendaftar menjadi tim, namun terkendala oleh peraturan sekolah. Tahun lalu dia berjanji akan mencari solusi agar wanita bisa masuk dalam team juga. Tidak banyak yang berminat, atau memang hanya aku saja yang mendaftar.
Kuketuk pintu ruangannya. Dan dia mempersilahkanku masuk. Sebuah roti sandwich sedang dilahapnya untuk makan siang. "Ah, Sanderson! Kau pasti ingin mendaftar tim football," katanya.
"You're the best Mr. Walts," pujiku.
Dia kemudian meletakkan rotinya dan memberikan secarik kertas padaku. "Ini, isi formulirnya."
"Hmm... Apa aku harus mengisinya sekarang?" tanyaku.
"Kau bisa mengembalikannya besok," jawabnya.
"Oke, terima kasih Mr. Walts." Aku tersenyum lebar padanya dan berjalan menuju pintu.
Kubaca formulir itu baik-baik sampai bel berbunyi. Di depan loker, aku masih membacanya, berniat untuk mengisinya sekarang juga dan mengembalikan sebelum pulang sekolah.
Teman loker sebelahku, si pemuda menyebalkan baru saja menyelesaikan makan siang bersama teman-teman satu Monarkinya. Aku melihat mereka sangat akrab saat Quentin merangkulnya seperti sudah lama kenal. Aku tidak tertarik sama sekali.
Kumasukkan bukuku satu-persatu ke tas sambil masih membaca dan secara cerobohnya, aku menjatuhkan tasku. "Sial," makiku. Kuletakkan kertas formulir dan mulai memungut barang-barangku yang tercecer.
Aku tentu saja tidak mengharapkan si pemuda menyebalkan itu membantuku. Tapi setidaknya dia tidak menginjak barang-barangku.
"Oh, tidak! Kau merusak gantungan kunciku." Kupungut gantungan kunci California pemberian bibiku yang terbelah menjadi dua.
"Itu hanya gantungan kunci, aku bisa membelikanmu yang baru," katanya tanpa rasa bersalah. Dia bahkan tidak meminta maaf. Dan pergi begitu saja.
Dia tidak tahu apa-apa dan menghakimiku. Kupukul lokerku kesal. Orang-orang menoleh ke arahku, tapi kuabaikan mereka.
Aku tidak bisa berbuat banyak, jadi kusimpan gantungan kunciku di dalam loker. Berniat untuk menyatukannya dengan lem nanti. Sekarang aku harus masuk ke kelas selanjutnya. Sambil berharap pemuda menyebalkan itu tidak satu kelas denganku lagi.
Untungnya saja, dia tidak satu kelas lagi denganku. Aku bisa bernapas lega untuk sesaat. Walaupun harus tetap bertemu dengannya setiap pergantian kelas.
Jam terus berputar sampai akhir pelajaran. Anak-anak keluar kelas tanpa memedulikan Mr George yang belum selesai berbicara.
Koridor dipenuhi lautan manusia yang mengobrol sana-sini. Aku bahkan mendengar para gadis menggosipi si anak baru. Dan kudengar satu nama yang terus mereka ulagi, Alpha. Apa itu nama si anak baru? Apa peduliku? Aku bahkan tidak ingin tahu.
Mila merangkulku secara tiba-tiba dari belakang. Disampingnya, Ed, pacar Mila, membawa sekantung bola football. "Hey, Ed," sapaku.
Yang kusenangi dari menjadikan Ed dan Mila pasangan adalah sahabat Mila berarti sahabat Ed juga. Yang berarti aku adalah sahahat Ed. Tapi tetap saja, kepopuleran Ed tidak menular padaku. Mungkin bisa saja menular, tapi aku lebih memilih berdiri dibalik bayangan dan tidak terlihat. Jauh dari radar.
Dia mengangkat kedua alisnya sebagai balasan. "Aku dengar kau mau mendaftar tim football," ujarnya.
"Ya, aku baru saja mengambil formulirnya hari ini." Kami berjalan melawan arah kerumunan orang yang berjalan menuju pintu keluar.
"Kau ikut latihan hari ini?" tanya Ed.
"Hari ini sudah mulai latihan?" tanyaku balik. Mr Walts tidak mengatakan apa-apa mengenai latihan hari ini.
"Ya, kami akan ikut kejuaran antar sekolah lagi tahun ini. Dan aku sangat optimis."
Miila kemudian memeluk Ed sambil berjalan bersama. "Tentu kita akan menang, Babe. Kau kapten teamnya."
"You're so sweet," balas Ed dan mereka berciuman.
Ugh, tidak bisakah mereka melakukannya saat tidak ada diriku. Oke, aku bukannya cemburu, apalagi karena aku tidak memiliki pacar. Aku hanya tidak suka melihat orang-orang mengumbar kemesraan mereka di depan umum.
Cinta membuatmu gila dan sakit hati. Mungkin karena itu aku tidak pernah memiliki pacar. Lihat saja teman-temanku yang mebayar jasaku untuk satu informasi mengenai orang yang mereka sukai. Itu membuatmu gila.
Dan nyatanya menjadi seorang Matchmaker tidak menjadikanku dengan mudahnya mendekati lawan jenisku. Aku menjadi tahu sifar-sifat semua pemuda yang bahkan mereka sendiri tidak sadari. Dan membuatku tidak tertarik dengan hampir semua pemuda di sekolah, hampir.
Ya mungkin di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku menginginkan seorang pemuda yang bisa mendampinginku di prom night nanti. Lagipula ini tahun terakhirku, jika memiliki pacar sekarang dan ternyata kami akan berbeda universitas, hubungan jarak jauh tidak akan berhasil. Jadi sekalian saja tidak.
"Oke, aku akan ikut latihan hari ini." Aku berusaha mengintrupsi mereka.
Ed melepaskan ciumannya. "Bagus, hari akan ada anak baru selain kau yang masuk ke team."
"Alright, then. Aku akan mengisi formulirnya sekarang." Aku beralih pada Mila. "Kau akan menonton?" tanyaku.
"Tentu saja. Melihat pacar kesayanganku." Mila mulai mencium Ed lagi.
"Ewh, guys! That's so gross! Aku lebih baik pergi." Kutinggalkan mereka berdua di koridor.
Saat sampai di depan loker, kulihat si anak baru yang menyebalkan berjalan bersama Brianna. Aku akan mengatakan hal yang jujur. Brianna dengan kulit semulus porselen, rambut lurus berwarna pirang seperti boneka, dan tubuh yang proporsional seperti model. Kemudian si anak baru, Alpha, rambut cokelat gelap, mata sebiru lautan, dan wajah super tampan. Mereka akan menjadi pasangan serasi, ditambah mereka sama-sama dari kalangan Monarki. Anak mereka akan kaya tujuh turunan atau mungkin lebih.
Masa bodoh dengan itu, aku tidak peduli. Apalagi dengan Alpha. Setelah menginjak gantungan kunci California pemberian bibiku tanpa meminta maaf, aku semakin tidak menyukainya.
Kubuka lokerku dan mengambil kertas formulir tim football untuk diisi. Dan hanya butuh waktu dua menit untuk melakukannya, kalau begitu kenapa tidak aku isi saja dari tadi.
Brianna masih berbincang dengan Alpha saat aku memindahkan buku-bukuku ke loker. Sampai Brianna akhirnya pergi juga. Aku tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan. Aku hanya tidak ingin mencampuri urusan apapun yang mereka diskusikan. Paling-paling urusan bisnis keluarga mereka. Siapa yang peduli.
Kututup lokerku tepat saat Alpha membuka lokernya. Aku sedang tidak ingin mencari keributan. Jadi lebih baik menghindarinya.
Lapangan football berada tepat di belakang gedung sekolah. Aku melihat Mila duduk di kursi penonton dan melambai padaku dan kulambaikan balik padanya. Mr. Walts sedang duduk sambil memperhatikan anak-anak pemanasan.
"Mr Walts," ujarku.
Dia berbalik. "Sanderson, kau sudah mengisi formulirnya?" tanyanya.
"Ya," jawabku sambil menyerahkan kertas formulir itu. "Apa aku bisa ikut latihan hari ini?"
"Ya, kau bisa mengganti seragammu di ruang ganti," ujar Mr. Walts.
"Thank you, Sir," balasku dan segera berlari menuju ruang ganti pemain.
Ukuran tubuhku agak kecil, jadi aku harus mencari baju yang pas denganku. Saat aku baru saja membuka seluruh pakaianku untuk menggantinya, seseorang dari depan pintu masuk begitu saja.
"Halo," serunya.
"Umm... Jika kau mencari Mr Walts dia ada di lapangan," sahutku agar dia tidak masuk dan melihatku hanya mengenakan pakaian dalam.
"Mr Walts menyuruhku mengganti pakaian di sini dan menemuimu." Dia diam sesaat dan aku menyadari bahwa pria itu berada di belakangku.
Saat aku menoleh, aku bahkan tidak percaya siapa yang kulihat, si anak baru, Alpha. Dan dia melihatku hanya mengenakan pakaian dalam, hebat sekali.
Ada satu hal kecil yang aku tidak banggakan sama sekali, yaitu tanda lahirku dari bahu dan menjalar hingga ke setengah lengan atasku. Warnanya begitu berbeda dengan warna kulitku dan dengan ukurannya yang besar, orang-orang mengira itu adalah luka bakar.
Kututupi tanda itu saat Alpha meliriknya. "Berbalik!" perintahku.
Tanpa berargumen sama sekali, dia membalikkan badannya. Cepat-cepat kuraih seragam tim football dan mengenakannya.
"Kau bisa cari pakaian yang pas di sebelah sana," kataku menunjuk tempat aku mengambil seragam yang kukenakan.
Alpha berjalan ke arah tempat yang kuberi tahu, bahkan dia mendapatkan ukurannya dalam sekali lihat.
Kuambil kaus kaki dan sepatu untuk kukenakan saat tiba-tiba Alpha melepas bajunya di depan mataku. "Bisakah kau tidak mengganti pakaianmu di depanku?" pintaku dengan nada kesal.
"Ini ruang ganti, tempat kau mengganti pakaian," ujarnya dengan begitu menyebalkannya.
Untuk beberapa saat, aku memperhatikan Alpha mengganti pakaiannya. Oh, God! Dan dia punya tubuh yang sangat bagus. Benar-benar tidak adil—sempurna.
Kualihkan pandanganku darinya saat Alpha mendapatiku mengamatinya. Ini benar-benar canggung. Dia melihatku mengenakan pakaian dalam dan sekarang aku melihatnya mengenakan celana pendek yang ketat.
Kuambil helm pelindung dari loker dan memberikannya satu pada Alpha. Aku masih kesal padanya, jadi kubiarkan dia jalan sendiran dengan mendahuluinya. Tapi entah mengapa dia bisa menyamai langkah kakiku padahal aku sudah cepat-cepat.
Di lapangan, yang lain sudah bersiap untuk membagi team. Sedangkan aku dan Alpha harus melakukan pemanasan sebelum bergabung ke dalam permainan. Mr Walts sudah membagi tim menjadi dua. Aku berada di timnya Ed. Sedangkan Alpha tim lawan.
Saat permainan dimulai, aku dan Alpha tentu harus melakukan pemanasan di pinggir lapangan dan menjadikan kami pemain cadangan. Yang menyebalkan, kenapa aku harus bertemu Alpha lagi dan lagi. Suatu kesialan yang bertubi-tubi.
Kurenggangkan otot-ototku sambil berlari ditempat. Di pinggir lapangan, terasa begitu sepi sekali. Semua perhatian teralihkan ke lapangan sedangkan aku harus terjebak dengan si pemuda menyebalkan.
"Kau tidak perlu malu dengan tanda lahirmu. Semua orang memilikinya," katanya tiba-tiba, dia kemudian mulai berlari keliling pinggir lapangan.
Kuulangi kata-katanya dalam otakku. Apa dia baru saja mengatakan tanda lahir? Tidak ada yang pernah mengira itu tanda lahir, bahkan Mila sekali pun. Apa yang membuatnya berpikir itu tanda lahir? Bagaimana dia tahu?
Oke, sebagai seseorang yang ahli dalam ilmu mencari rahasia orang-orang, untuk yang kali ini aku tidak tahu bagaimana dia mengetahuinya sebagai tanda lahir.
Selagi memikirkan hal itu, kuikuti Alpha mengeliligi pinggir lapangan. Pikiranku terus berputar pada bagaimana Alpha mengenalinya sebagai tanda lahir saat bola mengenai kepalaku dan menumbangkanku.
Semua orang berlari ke arahku. Ed yang paling dulu sampai dan berlutut.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil membantuku bangun dari rumput.
"Ya, aku rasa," jawabku.
Mr Walts berlari dari pinggir lapangan menuju ke arahku. "Kau baik-baik saja Sanderson? Kau mau dibawa ke ruang kesehatan?"
"Aku baik-baik saja Mr Walts. Lanjutkan permainannya, aku ingin masuk ke dalam tim," kataku bersemangat.
"Itu baru semangat!" serunya. "Game on! C'mon boys!"
Mereka melanjutkan permainan sedangkan aku melanjutkan lariku. Lima menit kemudian, Mr Walts menginginkanku dan Alpha masuk ke dalam lapangan.
Ini akan menjadi hari terbaikku jika aku bisa mengesankan Mr Walts. Aku bisa masuk tim inti untuk kejuaraan musim ini. Aku sudah bersiap-siap di tempatku dan saat peluit dibunyikan, aku mengikuti bola yang dibawa oleh Ed. Dia kemudian melemparkannya ke arah Hank dan kemudian melemparkannya padaku.
Aku harus membuat touchdown kali ini. Jadi kupikirkan strategi untuk menghindari ditindih. Tubuhku yang kecil tidak akan bisa menang beradu badan dengan mereka ynag bertubuh besar. Tapi, aku bisa berlari lebih cepat dari mereka. Kubuat lariku tidak terarah untuk mengecoh. Kakiku yang lentur berhasil menghindar satu persatu dan aku berhasil mencetak skor.
Ed memberikan tos padaku dan begitu juga yang lainnya. Aku tidak pernah merasa sehidup ini. Selanjutnya, aku berhasil mencetak skor lagi hingga tiga kali. Dan saat ke empat kalinya, Alpha berhasil menangkapku dan menindihku. Teman-teman satu kelompoknya berlari ke arahku dan bersiap menindihku.
Oh, tidak! Aku akan jadi daging gepeng. Tapi saat seseorang melemparkan tubuhnya, Alpha berusaha untuk tidak menindihku. Seolah dia membuat penghalang antara dirinya untuk menjagaku tidak tertindih. Aku tidak tahu dia benar-benar melakukan itu atau aku hanya membayangkannya. Mungkin kepalaku terbentur terlalu keras.
Permainan berakhir imbang dan Mr Walts meminta kami untuk menyudahinya. Dia juga memberikan selamat untukku karena sudah resmi bergabung menjadi anggota tim football.
"Good job, Mal." Ed memberikan tos padaku.
Mila yang tadi menonton sekarang sudah berada di dekapan Ed yang menyambarnya degan sebuah ciuman.
"Guys!" keluhku.
"Aku mau mandi dulu," kata Ed pada Mila dan dia memberikan ciuman lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami.
Mila tersenyum lebar padaku. "Bagaimana rasanya ditindih oleh Alpha Wide?" godanya.
Aku memutar bola mataku. "Yang benar saja, Mila."
"Aku serius," katanya.
"Entahlah. Aku merasa saat yang lain akan menindihku, dia seperti menjadi penghalang di antara yang lainnya. Aku sama sekali tidak merasakan berat," jelasku.
"Ya, ampum, Mal, dia pasti berusaha melindungimu dari pria-pria lain," goda Mila lagi.
"Aku mau mengganti pakaianku dulu," kataku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Tentu aku sangat ingin tahu fakta mengenai hal itu. Tapi aku tidak akan menanyakan apapun pada Alpha.
Di ruang ganti, mereka semua bertelanjang dada. Bahkan ada yang mengenakan handuk saja. Oh, God bless my eyes. Hal kedua yang membuatku lemah adalah melihat pria bertubuh atletis bertelanjang dada. Karena itu saat Alpha tadi membuka pakaiannya aku benar-benar tidak bisa berpaling. Tapi tentu saja aku tidak akan mengganti pakaianku di ruang ganti, apalagi mandi di sana.
Kuambil pakaian dan tasku saat salah seorang anak yang sekelas sains denganku menghampiriku. "Kau mau ke mana Sanderson?"
"Aku tidak akan mengganti pakaian di sini," kataku. Aku tahu dia pasti akan melecehkanku, jadi aku sudah bersiap jika dia melakukan sesuatu.
"Kau bagian dari tim sekarang. Dan yang kami lakukan adalah mandi di sini dan mengganti pakaian di sini." Dia mulai memojokkanku.
"Tinggalkan dia sendiri, John," seru seseorang.
Oh, dia tidak tahu bahwa aku belajar ilmu bela diri selama liburan musim panas dan jika dia melakukan sesuatu, itu saatnya untuk mencoba latihanku. "Bukan urusanmu aku mau mengganti pakaian atau mandi di mana. Akui saja kau ingin melihatku naked. But I tell you what, leave me alone, jerk."
John terkekeh. Aku baru saja akan meninjunya saat Alpha tiba-tiba meninju John lebih dulu. Dan keributan mulai terjadi.
Yang lainnya berusaha memisahkan Alpha yang memberikan bogem mentahnya pada John. Sedangkan aku hanya berdiri dan memeperhatikan. Tanganku setengah terangkat untuk meninju John, sebelum Alpha yang melakukannya secara tiba-tiba.
Aku terpaku. Tidak mengerti sama sekali apa yang baru saja terjadi. Mengapa jadi Alpha yang meninju John?
Mr Walts muncul akibat mendengar keributan dan berhasil membuat Alpha tidak melawan teman-temannya yang menjauhkannya dari John. "What the hell happened here?" Mata Mr Walts mengisyaratkan, 'ruanganku, sekarang".
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top