Chapter 1

Seperti biasa, pagi ini aku harus berangkat ke sekolah. Bosan, tentu saja, tapi kalian pernah mendengarkan omelan para orang tua? Ya, lebih bosan medengarkan omelan mereka ketimbang pelajaran di sekolah. Oh, dan Mom bilang padaku jika tidak bersekolah maka aku akan jadi gelandangan. Well, aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu, setidaknya itu yang aku pikirkan.

Sambil menggosok gigi, aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajah kusam, rambut berantakan, mana ada pria yang mau melirikku jika seperti ini, batinku dalam hati. Mengingat, pria-pria jaman sekarang suka dengan gadis cantik yang bertubuh sexy dan tinggi semampai. Bahkan, tinggiku hanya seratus lima puluh lebih sedikit.

"Malia!" teriak Mom dari luar kamar mandi. "Jam berapa ini? Bus sekolah sudah menunggu, jika kau tidak keluar sekarang mereka akan berangkat tanpamu."

Aku melototkan mata saat mendengar Mom mengatakan itu. "Tidak! Jangan telat lagi!" Cepat-cepat kubasuh wajahku dan berkumur-kumur.

Pakaian tidurku bahkan belum diganti. Sambil membopong tas dan menyambar sarapan pagiku, aku berlari keluar rumah menuju bus sekolah yang selalu datang lima menit sebelum bel sekolah berbunyi.

Kebiasaanku yang suka bangun kesiangan memang tidak bisa diantisipasi. Padahal aku sudah menyalakan alarm untuk bangun pagi, tapi rasanya seperti jam itu tidak berbunyi sedikit pun. Mom selalu bilang bahwa dia yang mematikan alarmnya dan sudah membangunkanku, tapi aku selalu merasa semua kejadian itu tidak pernah aku alami dan alarmku tidak pernah berbunyi.

Koridor sekolah ramai dengan anak-anak baru masuk. Setelah liburan musim panas ini, kami baru saja masuk sekolah lagi. Seperti biasanya, anak populer selalu mendapatkan perhatian paling besar saat baru masuk ke sekolah. Sedangkan aku, termasuk anak biasa-biasa saja. Tapi aku terkenal dikalangan gadis-gadis. Mereka menyebutku sebagai Stalker, karena kemampuanku yang hebat dalam mencari tahu mengenai sisi lain dari orang-orang.

Misalnya, aku tahu apa kesukaan makanan setiap teman-teman satu kelasku. Aku tahu bahwa pak tua Jenkins suka pulang larut malam jika istrinya sedang marah. Aku tahu, kepala sekolah kami juga mengajar di sekolah lain yang lebih menjanjikan dengan mendapatkan bayaran yang besar. Aku juga tahu si playboy Rodrick suka tidur sambil mengigau tentang ibunya.

Semua itu aku dapatkan dari hasil kerja kerasku menguntit orang-orang. Bisa dibilang, pekerjaan sampingan sebagai penguntit. Setidaknya aku dibayar, karena kalau tidak, mana mungkin aku mau melakukan semua hal itu. Semua ini karena uang, karena aku membutuhkan uang tambahan untuk biaya kuliahku nanti, ditambah untuk liburan ke California. Yang itu bonusnya.

Oke, kembali mengenai diriku. Orang-orang mengenalku walaupun aku tidak populer. Bisa dibilang, selain predikat Stalker aku memiliki predikat Matchmaker. Semua gadis yang membayar jasaku kebanyakan untuk mengulik informasi dari pria yang mereka sukai. Ada juga yang ingin tahu apakah pacar mereka berselingkuh.

Hampir semua pasangan di sekolah adalah keberhasilanku. Begitu juga dengan sahabatku Mila, aku menguntit pacarnya selama dua minggu untuk mendapatkan informasi dan hasilnya, tidak sia-sia. Keahlianku sudah tidak diragukan lagi.

"Mal, kau dapat brosur klub football?" Mila yang tiba-tiba berada disampingku, menyodorkan secarik kertas.

Aku meliriknya. "Belum, kenapa?" tanyaku.

"Kau harus baca sendiri dan terima kasih padaku nanti," kata Mila.

Kuambil kertas yang Mila sodorkan padaku dan kubaca perlahan-lahan. "Mereka membuka lowongan anggota untuk wanita juga!" teriakku kegirangan.

Beberapa orang di lorong menoleh ke arahku, tapi tidak kuhiraukan. Tidak saat aku akan mendaftar masuk team football. Tahun lalu mereka tidak membukanya untuk wanita. Tentu semua itu karena peraturan yang mengaharuskan memiliki tubuh yang bisa dikatakan cukup besar. Aku tahu aku tidak memenuhi kualifikasi sama sekali, namun aku tidak akan menyia-nyiakannya dengan tidak mendaftar.

"Kau berhutang makan siang padaku. Sekarang aku harus pergi, kelas sejarah. Sampai jumpa makan siang." Mila melambaikan tangannya padaku.

Di depan loker, aku tersenyum sambil memegang brousur. Hingga seseorang dibelakang berbisik tepat ditelingaku.

"Kau bisa minggir, ini lokerku," katanya.

Napasnya terasa panas di telingaku. Dan aroma tubuhnya tercium aroma mint yang maskulin. Kuputar tubuhku untuk melihat si pemuda yang begitu tidak sopan. Baru hari pertama saja dia sudah memiliki mood yang buruk.

Alih-alih berharap mendapati seseorang yang kukenal, aku malah menatap seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia mengenakan kaus putih dengan jaket kulit hitam yang terlihat seperti baru dengan kilauannya. Dan kuakui dia super hot, lebih hot bahkan jika dibandingkan dengan Uriah dan Hansel yang punya reputasi super hot satu sekolah.

"Kau anak baru," ujarku.

Pemuda itu mengerutkan keningnya. Namun dia menghiraukanku dan membuka lokernya tanpa menjawab apa-apa. Ya, walaupun aku mengatakan sebuah pernyataan bukan pertanyaan.

"Rude," gumamku dan beralih pada lokerku yang berada di sebelahnya.

Kuambil sepasang pakaianku di dalam loker, mengingat aku belum mengganti pakaian tidurku.

"Bahkan kau tidak sanggup untuk mengganti pakaian tidurmu pagi ini," ujar si pemuda menyebalkan itu.

Kualihkan pandanganku padanya. "Tidak ada yang meminta pendapatmu, anak baru." Kutekankan kalimat terakhirku.

Dia menyeringai, kemudian menatapku balik seolah aku adalah orang bodoh. Rambutku yang diikat menjadi buntalan masih berantakan. Jika saja aku pakai kaca mata, orang-orang pasti akan mengira aku semalaman mengerjakan tugas milikku dan teman-temanku yang memanfaatkanku.

"Aku tidak menyatakan pendapat, aku menyatakan fakta, Kitty." Pemuda itu kemudian menutup lokernya, menoleh ke arahku sesaat sambil menaikkan sebelah alisnya dan berjalan melewatiku.

Saat itu juga, dia membuatku lemah."Namaku bukan Kitty, you freak!" Teriakku sebelum dia benar-benar jauh.

Ya, ampun. Kenapa dia menaikkan sebelah alisnya seperti itu? Jika kalian ingin tahu, aku sangat lemah saat seorang pemuda menaikkan sebelah alisnya di depanku, terutama jika dia adalah pria super hot seperti anak baru itu. Kututup lokerku dengan kesal. Betapa sialnya diriku, pagi-pagi sudah bertemu seseorang yang menyebalkan sekaligus hot.

Cepat-cepat kubawa baju gantiku dan menggantinya di toilet, kemudian kembali ke loker untuk menaruh baju tidur. Gara-gara pemuda itu aku jadi telat masuk kelas kalkulus.

Aku berlari sepanjang koridor menuju kelas. Kubuka pintu kelas dan masuk cepat-cepat.

"Sanderson, kau harus bangun lebih pagi lagi jika masih ingin masuk ke kelasku." Miss Henigan menatapku tegas, tapi tidak dengan nada yang menjengkelkan. "Kau boleh duduk."

"Maaf," ujarku.

Mataku akhirnya mengarah ke sekitar, mencari tempat duduk kosong. Dan hal menyebalkannya adalah, si pemuda menyebalkan itu berada di kelas yang sama denganku. Kulirik dirinya yang duduk tepat di sebelah kursi yang kososng.

Oh, God! Jika aku duduk di sebelahnya selama sisa semester ini, akan ada perang dunia ketiga. Batinku dalam hati. Ditambah aku tidak akan kuat jika dia menaikkan sebelah alisnya lagi saat menatapku.

Dengan berat hati, kutarik kursi di sebelah pemuda itu dan duduk. Kukeluarkan alat tulisku satu-persatu. Dan kulirik pemud itu sesaat untuk memastikan bahwa dia tidak akan menggangguku selama pelajaran.

Pemuda itu awalnya tidak menoleh sama sekali, dia bahkan tidak peduli dan seperti kami tidak pernah bertemu sejak awal. Tapi akhirnya, dia menoleh juga saat aku menatapnya untuk waktu yang cukup lama. Cukup untuk membuatnya memperhatikanku.

"Apa? Kau tidak punya seseorang untuk diperhatikan?" bisiknya dengan begitu menjengkelkannya.

Kualihkan pandanganku ke arah papan tulis dan tidak menjawabnya sama sekali. Balasan untuk di loker tadi.

Kelas berakhir dengan cepat, Miss Henigan sudah memulai pelajaran seperti biasanya. Untungnya, dia belum memberikan tugas apa-apa. Kelas selanjutnya adalah bahasa. Aku kembali ke loker untuk mengganti buku-bukuku.

Si pemuda menyebalkan itu mengikutiku dari belakang. Jika bukan karena loker kami yang bersebelahan, aku akan meneriakinya penguntit. Well, walaupun predikat penguntit adalah punyaku.

Mila tiba-tiba saja menghampiriku saat pikiranku tertuju pada si pemuda menyebalkan. "Bagaimana kelas kalkulus?" tanyanya.

"Tidak ada yang menarik," jawabku. Tentu saja si pemuda menyebalkan belum dihitung. Mengingat dia ada di belakangku, aku tidak akan membicarakannya sekarang. "Bagaimana dengan kelas sejarahnya?"

"Jika maksudmu apakah ada anak baru, jawabannya tidak. Sayang sekali, padahal aku ingin bertemu dengannya." Suara Mila terdengar sedikit kecewa.

Aku sangat ingin tertawa saat ini. Tapi kuredam dengan menjawabnya. "Percayalah, tidak semenyenangkan yang kau duga."

Mila mengerutkan keningnya padaku. "Memangnya kau sudah bertemu dengannya?" tanya Mila penasaran.

Aku tidak menjawabnya. Alih-alih aku mengalihkan pembicaraan. "Omong-omong dari mana kau tahu ada anak baru?" tanyaku balik.

"Well, Malia, rumor sudah tersebar di mana-mana." Mila kemudian melirik jam tangannya. "Aku harus pergi, kelas sains menungguku. Kau masih berhutang makan siang padaku," katanya sebelum pergi meninggalkanku.

Di depan loker, aku terdiam sesaat. Pertengkaranku dengan si pemuda menyebalkan memang konyol. Tapi aku tidak berniat meminta maaf padanya. Mungkin untuk sekadar berdamai saja tidak apa.

Kuarahkan badanku menghadap si pemuda menyebalkan. "Hey, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak memiliki dendam apapun padaku dan begitu juga aku tidak memiliki dendam denganmu. Jadi, berdamai?" kuulurkan tanganku untuk bersalaman.

Pemuda itu masih membungkam mulut sampai dia selesai mengganti buku-bukunya. "Jika kau bermaksud mendekatiku, lupakan, kau tidak menarik sama sekali, Kitty."

Mulutku terbuka begitu lebar sampai-sampai aku mau meninjunya saja. "Oke, lupakan saja. Anggap kau tidak bertemu denganku." Kubuka loker dan buru-buru mengganti buku-bukuku. "Oh, ya dan satu lagi. Namaku bukan Kitty, jadi berhenti memanggilku dengan sebutan itu, karena kita tidak saling kenal."

Aku sangat yakin baru saja menutup pintu loker dengan keras. Sampai-sampai beberapa orang yang lewat menoleh padaku. Tapi kuhiraukan dan berjalan menuju kelas berikutnya.

"Apa sih masalahnya? Lagipula, siapa yang tertarik dengan pemuda menjengkelkan sepertinya," gerutuku.

Aku masih saja mengomel sampai aku berada di depan kelas dan berniat membuka pintu saat seseorang di belakangku mendorongnya terbuka lebih dulu. Aroma mint maskulin yang seperti pertama kali aku kenali itu membuat jantungku mau copot seketika.

Si pemuda menyebalkan itu masuk ke kelas yang sama denganku, lagi. Tidak bisa dipercaya. Aku mengekor di belakangnya dan berharap kursi kosong tidak berada di sampingnya lagi. Kekecewaanku semakin menjadi-jadi, kali ini aku harus duduk disampingnya, lagi.

Mau tidak mau, aku melempar tas di atas meja, kesal. Kesialan macam apa ini? Bukan main.

Aku sama sekali tidak menoleh padanya, walaupun aku sangat ingin. Salah satu kebiasaanku, menatap orang dalam waktu yang cukup lama. Aku melakukannya untuk mempelajari seseorang. Tapi tanpa menatap ke arahnya saja aku sudah bisa mempelajari bahwa pemuda itu orang yang menyebalkan, arogan, sinis, dan tidak peduli.

Lagi-lagi waktu berjalan begitu cepat. Kubereskan barang-barangku dengan cepat dan keluar ruangan lebih dulu. Aku tidak mau dia berjalan dibelakanhku lagi dan aku tidak mau melihatnya di loker. Jadi aku harus lebih dulu sampai.

Cepat-cepat kumasukkan bukuku dan meluncur ke kafetaria. Mataku menjelajah sekitar untuk mencari Mila setelah berhasil menerobos antrian makan siang. Aku mengambil porsi yang sedikit lebih banyak untuk Mila karena aku berhutang makan siang katanya. Dia memang selalu seperti itu. Tidak heran tubuhnya berisi.

"Malia!" Mila melambai padaku.

Kafetaria satu-satunya tempat yang aku benci di bagian sekolah ini. Kenapa? Karena di tempat ini orang-orang akan mengelompokkan dirinya. Yang terpintar, yang tercantik, yang terkaya, yang terbuang, dan yang biasa-biasa saja.

Aku tidak menyukai pengelompokkan itu, tapi Mila tentu duduk di antara yang terpintar. Dia salah satu yang mendapatkan predikat juara umum.

Kuletakkan nampan di meja dan duduk di samping Mila. Gadis-gadis mulai menggosip saat aku baru saja menyuap bubur gandumku.

"Kalian sudah bertemu anak baru disekolah kita?" tanya Gina, teman Mila yang sangat menyukai kebersihan.

"Belum," jawab yang lainnya.

"Aku dengar, dia anak orang kaya. Kita lihat saja dia akan duduk di kelompok mana." Gina terdengar antusias.

Tiba-tiba saja, kafetaria terasa sunyi seketika. Sekumpulan orang masuk dengan aura yang tidak menyenangkan. Tentu saja para Monarki. Well, saat aku bilang kelompok yang tekaya, mereka masih memiliki kelompok lagi.

Pemerintah, yaitu kaya karena pekerjaan orang tua mereka. Penguasa, yaitu kaya karena memiliki saham di banyak perusahaan. Dan Monarki, yaitu gabungan antara keduanya ditambah karena mereka kaya turun-temurun. Bisa dibilang kelompok Monarki sangat kaya, bahkan bisa membeli sekolahan kami.

Dan hanya ada lima orang di sekolah ini yang termasuk golongan Monarki. Michael, Quentin, William, Briana, dan Kira. Dari kelima orang itu, tidak satu pun dari mereka yang pernah berbicara denganku atau bahkan berbicara dengan yang lainnya selain kelompok mereka.

"Whoa, Monarki bertambah satu anggota," ujar Gina.

Kuputar tubuhku untuk melihat anggota baru Monarki. Yang tidak lain adalah si pria menyebalkan.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top