Jurnal Sang Peneliti

Kalau kau membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah mati. Tubuhku mungkin dalam proses pengawetan sebelum akhirnya disimpan di balik kaca. Kematianku mungkin tragis, tapi bukan Argen Rustav namanya kalau mengkaji tanpa hasil. Tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari.

Ada sebuah kotak yang tersembunyi di balik mantel cokelat kesayanganku. Tolong jangan dibuka tanpa mengikuti instruksi yang tertulis dalam surat ini. Ingat. Kotak itu adalah bagian dari penelitianku yang belum selesai. Teruntuk Honra, sahabatku, kaulah yang harus meneruskannya.

Olvay, 28 Honfa

Ck. Argen Rustav sialan! Sudah mati pun ia tetap merepotkan.

Clobain, 4 Masesion

Akhirnya aku tiba di tempat tujuan. Tidak terlalu asing karena kami pernah datang ke sini sebelumnya. Aku juga mengenal beberapa dedaunan dan buah-buahan yang ramah untuk dimakan. Beberapa yang kukonsumsi asam, tapi aku memang menyukai citarasa seperti itu. Membuatku tetap waspada sekaligus terjaga.

Argh. Tetap saja ada bagian terburuknya. Kalau saja aku tak bersahabat dengan Argen, mungkin ini takkan terjadi. Raga ini tak harus melintasi Pegunungan Alcher dan menyeka ingus berkali-kali. Awas kau, Argen. Setelah mati pun aku akan mengejar rohmu!

Tapi ... kalau bukan karena Argen, aku takkan bisa meneliti makhluk paling kukagumi di planet ini. Hmmm. Sebenarnya aku tak suka berutang budi, tapi bagaimana membalas kebaikan orang yang sudah mati?

Erroit, 6 Masesion

Beberapa jam sebelum purnama

Baiklah. Ini hari yang tepat untuk membuka kotak misterius sesuai arahan Argen. Malam nanti aku akan mendekati Sungai Flache, tunggu hingga bulan purnama muncul, lalu bawa kotak itu hingga ke dasar perairan.

Eh, tunggu. Sepertinya aku lupa membuat ramuan Plovska. Sialan! Tanpa ramuan itu, aku takkan bisa berada dalam perairan selama berjam-jam.

Aku sangat berterima kasih pada Gerry. Tak kusangka dia akan setia menemaniku sejauh ini. Sebagai penunggang yang baik, sesekali aku berjalan bersamanya. Ia juga tampak lebih suka di sini daripada di markas. Aku setuju denganmu, Gerry.

Baiklah. Hari masih sore dan ramuan Plovska sudah siap. Tepat setelah menutup botol dengan gabus, aku mendengar suara gemerisik dalam radius kurang dari sepuluh meter.

Aku bangkit berdiri seraya mengedarkan pandangan.

"Wahai pemuda, apa yang kau cari di sini?"

Aku mengembuskan napas lega. Kukira itu suara musuh.

"Aku ingin melanjutkan penelitian mendiang sahabatku." Segera aku membungkukkan badan ke arah asal suara. "Maaf karena aku baru meminta izin sekarang."

Hampir saja aku lupa dengan penghuni di hutan ini. Strang berwujud seorang kakek lantas mendekatiku, irama serta derap langkahnya mengingatkanku pada prosesi upacara peringatan pahlawan.

Ketika ia mendekat, aku hanya bisa menatap kakinya yang menyerupai akar pohon. Strang satu ini sepertinya belum berusia seribu tahun karena suaranya masih stabil dan posturnya masih cukup tegap. Hanya saja, tebakanku bisa saja keliru.

"Berdirilah, wahai peneliti."

Aku pun menegakkan tubuh, mendapati bahwa ternyata ia masih benar-benar tegap.

"Perkenalkan dirimu dan jelaskan apa yang sedang kau teliti," ucapnya.

"Namaku Honra. Amberstar asal Vultassa. Aku peneliti junior yang tengah melanjutkan kajian mendiang sahabatku. Dia ... berpesan padaku untuk membuka sebuah kotak saat bulan purnama muncul." Aku mengangkat bahu. "Aku sendiri belum tahu apa isi di dalam kotak itu."

Strang di hadapanku mengelus dagu dengan tangannya yang menyerupai kayu. "Kotak dan bulan purnama, ya? Tak salah lagi. Pasti kotak suara."

Mataku terbelalak. Bagaimana ini? Kalau mereka tahu aku tengah meneliti tentang makhluk itu, bisa jadi mereka mengusirku!

"A-aku belum tahu—"

Sekarang, giliran kedua mata di hadapanku terbelalak.

Aku mundur satu langkah. Di belakangku, Gerry sepertinya juga ciut.

"Boleh kami melihat kotak itu?"

Perutku serasa terpelintir. Akankah aku berakhir seperti Argen?

Dengan terpaksa kukeluarkan kotak seukuran tangan. Kukira si kakek akan merebutnya, tapi ia menatap benda itu seolah teringat akan sesuatu.

"Ah, ya. Aku ingat sekarang."

"Kau pernah melihatnya?" Mungkin saja ia mengenali kotak ini sebagai salah satu atribut kami.

Ia mengangguk tanpa makna yang kupahami.

"Bulan purnama akan berlangsung sebentar lagi. Sebaiknya kau bergegas, Nak. Kau mendapatkan izin kami sepenuhnya."

Lho? Kalau memang mereka tak mempermasalahkan, berarti aku aman dan rumor sialan soal kemarahan kaum Strang hanyalah bualan.

"Sesungguhnya, ini bukan sebatas kotak suara, Kek."

Ucapanku menghentikan langkah si kakek yang hendak meninggalkanku. Ia pun berbalik dan menanyakan maksudku.

"Ini adalah rekaman suara Seirenes. Kami menciptakan benda yang bisa menirukan nyanyian Seirs. Dengan mendengarkannya saat bulan purnama di Sungai Flache, itu akan mengurangi dampak ilusi yang ditimbulkan sehingga aku bisa mempelajari bahasa serta arti nyanyian itu."

Tanpa kusadari, aku berucap sambil tersenyum semringah. Senyumku memudar saat menyadari si kakek hanya mengedipkan mata.

"Seirenes? BWAHAHAHAHAHA."

Hah? Memangnya apa yang salah? Kok mereka malah tertawa? Bisa kudengar tawa yang berasal dari pohon-pohon lain. Agaknya banyak pencuri dengar di sini.

Si kakek tertawa hingga membungkuk dan memegang perutnya. "Kalian dengar itu? Seirenes! Hahahahahaaa."

Aku ikut tertawa sambil menggaruk ujung telinga yang tak gatal. Kenapa sih mereka bereaksi seperti itu?

"Astaga. Demi pita suara Seirenes, aku yakin sahabatmu keliru."

"A-apa?"

Si kakek mengisyaratkan kawan-kawannya untuk menciptakan keheningan.

"Nak, suara Seirenes tak pernah bisa ditirukan. Terlalu keramat dan agung. Kalaupun ada yang berusaha, petaka akan segera menimpa."

Aku menatap kotak hijau dengan sangsi. Jadi, Argen menjebakku?

Jangan-jangan ia mati karena bencana tersebut?

Terlalu banyak pertanyaan dalam benakku. Kedua tanganku terjatuh di kedua sisi tubuh.

Kotak itu terlepas dari genggamanku.

Untuk yang terakhir kali aku menatap benda yang sejak bulan lalu kujaga sepenuh jiwa.

"Sialan kau, Argen Rustav."

Aku lantas membalikkan badan. Di luar perkiraanku, si kakek bertanya—jauh lebih antusias.

"Siapa nama yang baru kau sebutkan?"

Aku menjawab tanpa menoleh. "Argen Rustav."

Tubuhku berbalik. Kalau aku tak salah dengar, barusan terdengar banyak suara terkesiap.

"Kenapa? Kalian mengenalnya?"

Si kakek mengangguk tanpa ragu. "Dengar, Nak. Biar kuralat perkataanku. Argen mungkin keliru mengenai Seirenes, tapi ia tak mungkin keliru mengenai dirimu."

"Hah? Maksudmu?"

"Apa pun yang berada di kotak itu, pasti akan bermanfaat untukmu. Sesuatu yang kau butuhkan. Sesuatu yang lebih dari sekadar suara Seirenes. Percayalah, Nak. Lakukanlah ritualmu seperti yang Argen perintahkan."

Aku berdecak. "Dia pernah melakukan apa sampai kau membela dia seperti itu?"

Si kakek masih berusaha meyakinkan. "Kami membela siapapun yang bijaksana, Nak. Kau tahu kan, tak sembarang orang bisa masuk ke dalam wilayah kami. Nah, begitu juga denganmu. Kumohon, lakukanlah. Atas nama pribadi, Strangershianvyr memohon kau melakukan apa yang Argen Rustav arahkan."

Aku menelan ludah. Konon, kalau seorang Strang mengucapkan nama aslinya, berarti ia memercayaimu beserta seluruh kaumnya.

"Kumohon," pintanya. Ia bahkan membungkuk hingga membuatku menatapnya kikuk.

"Ba-baiklah, baiklah. Aku akan melakukannya."

Si kakek membungkuk singkat seraya tersenyum penuh kasih. "Kau adalah orang istimewa. Itulah kenapa kau memiliki tugas istimewa."

Erroit, 6 Masesion

Beberapa menit sebelum purnama

Perkataan terakhir si kakek masih terngiang-ngiang dalam kepalaku. Setelah meminum ramuan Polvska, aku mengamati kotak hijau lebih saksama.

Ukiran pada ketiga sisi mewakili tiap benua, tertulis dalam bahasa kuno. Authere di sisi kanan, Vultassa di sisi belakang, serta Alterium di sisi kiri, sedangkan sisi atas serta depan tertulis kata lain yang tak kumengerti.

Aku mulai melangkahkan kaki ke arah sungai. Tubuhku sempat bergidik, tapi ramuan ini sepertinya secara perlahan bekerja sehingga aku bisa melihat kedalaman sungai dengan jelas dan napasku diambil alih oleh kulit di bagian belakang leher, menciptakan semacam insang buatan.

Fauna di sekitarku menghindar, tapi kurasa bukan karena takut. Mereka agaknya tak asing dengan efek seseorang dengan ramuan ini.

"Kenapa sih kau terobsesi dengan laut?"

"Kalau memilih, kau mau menguasai sihir mana dulu? Bumi, air, kayu, atau angin?"

Aku teringat perkataan Argen tepat saat permukaan kotak dalam genggamanku disinari cahaya emas. Saat semua permukaannya diselimuti cahaya, aku pun membuka kotak itu dengan perlahan.

May it be an evening star

Shines down upon you

May it be when darkness falls

Your heart will be true

You walk a lonely road

Oh! How far you are from home

Mornië utúlië (Darkness has come)

Believe and you will find your way

Mornië alantië (Darkness has fallen)

A promise lives within you now

Bagian dalam kotak rupanya turut berkilau. Awalnya aku tak memercayai penglihatanku, tapi cahaya itu seolah membentuk sulur yang menjalar ke ujung jemari hingga ke seluruh tubuhku. Rasa hangat menyeruak begitu pula kedamaian dalam jiwa serta benak.

May it be the shadow's call

Will fly away

May it be you journey on

To light the day

When the night is overcome

You may rise to find the sun

Mornië utúlië (Darkness has come)

Believe and you will find your way

Entah hanya perasaanku saja, atau memang aku bisa merasakan aliran darah dalam tubuhku. Tak hanya itu, setiap gerakanku seakan dapat menggerakkan aliran air sungai.

Mornië alantië (Darkness has fallen)

A promise lives within you now

A promise lives within you now

"Aku suka menyukai laut karena aku ingin menjelajahinya. Meneliti banyak hal di sana."

"Tentu saja sihir air paling menarik. Aku ingin seperti mendiang kedua orang tuaku yang menguasai sihir tersebut."

Sekarang aku memahami ucapan si kakek. Nyanyian ini amat berguna untukku. Untuk kemampuan sihirku. Aktivasi sihir turun-temurun yang seharusnya kuasah ketika remaja. Terima kasih, Argen. Jurnal ini kupersembahkan untukmu.


TAMAT

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top