Gema Festival F'osa
Dunia Ghrunklesombe terancam kabut kegelapan yang menyebarkan negatifitas ke segala arah. Tidak ada yang tahu dari mana kabut itu muncul. Apakah disebabkan salah satu akal-akalan kaum jahat yang tengah menjajah Alterium, atau hanya siklus alam. Kabut ini tidak hanya terasa tidak nyaman, namun mampu mempengaruhi fisik maupun kesadaran makhluk-makhluk yang terpapar kabut itu. Menyebarkan rasa dingin dan ketakutan abadi.
Dalam masa-masa penuh perjuangan, kehidupan terus berjalan. Termasuk di benua Authere. Para penduduk maupun para pengembara terus menatap punggung pegunungan Haleon dan Alcher sembari berjanji dalam lubuk hati, bahwa mereka akan setegar gunung itu. Di kaki Pegunungan Alcher inilah, di dusun F'osa yang nyaris tidak tampak di peta, seorang ilmuwan Amberstar bernama Kier sedang merencanakan sesuatu yang megah-- meski sepintas tampak konyol.
"Aku dapat ilham lewat mimpi. Komposisinya sudah lengkap, liriknya juga. Semua akan beres saat festival besok." Kier bicara di depan sebuah tangki yang penuh air berlumut. Air itu sekejap menggelegak meletuskan buih.
"Jangan protes! Kita tidak punya waktu untukmu demam panggung." Kier membentak makhluk di dasar tangki yang tidak tampak karena tertutup lumpur serta ganggang. Air di tangki kembali tenang. Mungkin karena makhluk ciptaan Kier tidak punya pilihan lain.
Kier dan makhluk misteriusnya hanyalah serpihan mini di antara bermacam-macam ras supranatural yang datang dan pergi di F'osa. Sebagai satu-satunya dusun singgah untuk mengisi perbekalan sebelum perjalanan yang lebih berat ke Gurun Nuvuwat di timur atau Hutan Sher di barat, berbagai siluman, makhluk halus maupun makhluk campuran sudah biasa berseliweran di F'osa. Sekali dalam setahun, pada musim semi ada Festival Tiga Benua. Tahun ini dipusatkan di benua Authere, sehingga tentu saja penduduk F'osa tidak mau ketinggalan menyumbangkan kemeriahan mereka. Tentu karena merekalah pemilik dan satu-satunya pemakai gema istimewa di pegunungan Alcher.
Hari festival pun tiba. Para warga dari seluruh penjuru F'osa berkumpul di kaki gunung yang menghadap ngarai-ngarai Alcher. Masing-masing membawa alat musik. Ada puluhan terompet tanduk ukuran mega, beraneka drum baja, tak ketinggalan ratusan drone milik Amberstar yang dilengkapi pelantang serta mikrofon. Sebenarnya, mereka mau ngapain, sih?
Setelah sambutan singkat dari ketua dusun, tibalah giliran Kier. Sekawanan hewan tunggangan besar menyeret belasan tangki-tangki kotor ke pinggir lapangan. Dengan aba-aba Kier, di puncak setiap tangki muncul tubuh makhluk yang penuh lendir. Makhluk itu berkepala empat, dengan masing-masing mulut yang lebar sampai ke kuping. Chant, makhluk rawa dengan pita suara berkekuatan khusus, hasil eksperimen Kier.
Setelah memastikan seluruh pelantang terpasang pada tempatnya, Kier mengangkat tongkat baton di depan seluruh penduduk F'osa... dan para Chant pun mulai menyanyi.
Keempat kepala Chant masing-masing mengambil range suara yang berbeda. Seluruh pita suara mereka bergetar secara magis, menciptakan gelombang aneh yang bisa mempengaruhi pikiran. Dipimpin oleh Chant, suara segenap warga dusun F'osa turut berkumandang. Seluruh warga dusun, makhluk biasa maupun transparan, bernyanyi bergandengan tanpa peduli apa ras mereka. Gendang, peluit dan semua alat dibunyikan serempak. Ditambah hentakan kaki, tepukan tangan, dan segala jenis bunyi-bunyian yang bisa mereka ciptakan.
Paduan suara mereka bergema pada tiap relung tebing Pegunungan Alcher, dikembalikan berkali-kali lipat lebih besar. Gema gunung yang sangat absurd itu masih ditambah raungan terompet-terompet tanduk raksasa, nyaris menyerupai sangkakala. Merontokkan nyali siapapun yang mendengar.
Setiap puncak batu Alcher serta gua-guanya memantulkan gema itu ke udara, bersahut-sahutan, semakin lama semakin membahana. Semua drone terbang ke seluruh penjuru, merekam serta menyebarkan efek gema. Hingga seluruh nyanyian itu terdengar oleh setiap gemerisik pohon, setiap guliran pasir, seluruh alam. Mempengaruhi pikiran serta insting makhluk yang mendengarnya. Nyanyian gila itu terus menyebar ke timur dan barat. Seakan tidak ingin ketinggalan, di bawah pengaruh nyanyian Chant, para serigala di hutan Sher ikut melolongkan nada yang sama. Burung-burung dan hewan hutan meneriakkan tangga lagu yang serupa.
Gurun Nuvuwat, pusat markas para Amberstar pun merasakan dampaknya. Tidak bisa tidak, karena gelombangnya terdengar di mana-mana, sampai menembus dinding kedap suara. Dua orang penjaga sedang saling mengetikkan pesan di tengah kebisingan itu.
"Sepertinya sumbat telinga tidak berguna. "
"Masih mending daripada tidak ada. Kalau cuma semalam ini, aku bisa tahan."
"Semalam apanya? Festivalnya kan seminggu."
"Oh, sial. "
Hal ini berlangsung secara simultan, gema semangat nyanyian dusun F'osa terus naik ke angkasa dan terbawa angin pesisir ke Utara, membentuk selimut proteksi sihir yang mengusir kabut. Hingga nyaris setengah benua Authere, mulai dari selatan hingga ke tengah, terlindungi oleh suara suci maha daya.
Pelan tapi pasti, gema nyanyian tersebut pun sampai hingga ke Kuil Bulan. Seorang Amberstar tua penjaga mercusuar kembali meneruskan gema tersebut dengan puluhan pelantang sihir, diperkuat cahaya bulan purnama. Pegunungan Haleon yang kini dijadikan sasaran. Bagaikan sebuah tulang punggung raksasa yang menyangga Authere, gema pegunungan Haleon pun turut dimanfaatkan. Beresonansi dengan Alcher, gema dialihkan terus dan terus ke utara, hingga tiba ke Rawa Chant, tempat para Chant yang asli dan primitif bersemayam.
Mengenali gelombang suara salah satu kaum mereka, beribu-ribu kepala Chant tersebut turut menyanyi, memperparah kembali medan gaya magis itu ke seluruh arah. Hingga gema yang paling memekakkan tersebut sampai ke Dataran Tinggi Troll.
Setiap butir batu dan lereng di Dataran Troll bergetar hebat. Para Troll meraung ketakutan mendengar kebisingan yang menyakitkan kepala itu. Dikuasai kengerian, mereka semua langsung menggulung diri menjadi batu, bahkan mati seketika. Tak dapat menghindar dari kekuatan murni yang maha dahsyat.
Kekuatan gema adiluhung itu terus menekan seluruh sisa kabut gelap, sampai tidak ada lagi kegelapan yang tersisa. Tepat pada hari kedelapan, semua suara itu tiba-tiba berhenti, menyisakan hening penuh kedamaian. Seluruh penduduk F'osa pun tahu, upaya mereka semua telah direstui langit.
Demikianlah, lagu ajaib yang menginspirasi seorang pencipta Chant lewat mimpi, dibantu kekuatan seluruh kaum serta segenap hewan, tumbuhan dan ras di Authere, kala itu menjadi legenda. Semangat mereka semua berhasil membentuk medan sihir yang mengusir kabut jahat. Sisa gema mereka masih tersisa sayup-sayup di lautan. Tinggal soal waktu apakah Pulau Seineres yang lebih gaib lagi juga meneruskan gema itu dengan ilusi masif mereka. Itu adalah festival tujuh hari tujuh malam yang kegilaannya masih teringat oleh seluruh penjuru Authere hingga sekarang.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top