16. The One with Hiu Trapped Bonnie in The Pool

Aku nggak keluar kamar selama dua hari.

Karena kondisi psikologisku masih belum pulih dan jiwaku masih terguncang, aku menolak membuatkan sarapan, atau bertemu siapa pun di rumah. Aku hanya menyelipkan sepucuk surat lewat celah pintu yang kutujukan pada Nahokai supaya disampaikan kepada Yang Mulia Helemano Hiu yang sudah 'memegang kartu'-ku. Entah kenapa aku memang selalu memandangi tisu yang habis kugunakan untuk mengelap alat vitalku.

Aku nggak tahu kenapa. Well ... mungkin aku tahu kenapa. Dulu waktu aku masih sangat kecil, bagian belakangku sering terasa nggak nyaman setelah aku main di bak pasir dan tidak mencuci tangan. Aku menggaruknya karena merasa sangat gatal, tapi nggak berani bilang ke Mami karena malu. Suatu hari aku menemukan cacing kecil saat membersihkannya dan aku histeris karena kupikir perutku sudah dijadikan inang oleh para alien yang hendak menginvasi bumi. Mereka menanamkan telurnya di perutku, lalu setelah mereka jatuh ke dalam lubang pembuangan, mereka akan tumbuh menjadi monster di lorong-lorong selokan. Suatu hari mereka akan muncul dari gorong-gorong dan menyerang kota Jakarta.

Aku diperiksakan dan diberitahu bahwa itu bukan alien, melainkan kuman yang datang karena aku tidak menjaga kebersihan. Sejak itu aku selalu melakukannya. Aku membersihkan diriku sampai sangat bersih dan mengecek apa ada sesuatu di tisu yang kugunakan untuk membersihkan diri. Hanya aku dan semua toilet yang kupakai yang tahu mengenai rahasia itu. Sekarang dia tahu. Orang yang kuharap tak akan pernah tahu, justru tahu.

Di surat itu aku menyampaikan permintaan maaf dan izin dari menunaikan kewajiban sebagai seorang istri sampai kondisiku pulih. Aku juga mengembalikan kartu kredit ajaibku karena merasa tak pantas menerimanya. Aku kotor. Mungkin lebih baik aku pulang ke rumah Mami. Nggak ada gunanya mempertahankan mahligai rumah tangga. Huhu ....

Biasanya aku baru keluar kamar kalau Hiu dan Nahokai sudah pergi.

Ini hari ketigaku nggak melihat mereka. Aku masih bisa, sih, bertatap muka dengan Nahokai, semoga saja Hiu nggak cerita kenapa kemarin aku sampai pingsan di kamar mandi. Tapi aku nggak bisa bayangin bersitatap dengan Hiu sebelum berhasil mengusir gambaran sesuatu yang gelap dan lebat di antara kakinya dari kepalaku pagi itu. Aku berguling ke kanan dan ke kiri sambil mengacak rambutku, mencoba mengusir sosok Hiu yang telanjang bulat terendam di dalam air dari kepalaku. Mengerikan sekali. Baru kali ini aku ngeliat begituan yang asli, bukan foto, atau video. Aaaarggghhh! Sana keluar dari kepalakuuu! Yang lebih mengganggu lagi, karena waktu itu aku nggak melihatnya dengan jelas, aku malah terus-menerus secara nggak sadar memikirkannya.

Aku melihat jam di sisi tempat tidur saat pintuku diketuk. Kalau itu Mirah—asisten yang kemarin aku cerita—berarti Hiu dan Nahokai sudah nggak ada di rumah. Kebetulan, aku pengin berenang buat nyegerin kepala. Mungkin nanti sore aku mau pulang ke rumah Mami, soalnya besok weekend. Hiu di rumah. Kalau stay di sini, bisa-bisa aku mati kelaparan.

Dengan malas aku turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu. "Hiu sudah ciao?" tanyaku.

Mirah yang manis dan masih seumuran denganku menjawab dengan riang, "Sudah, Nyah," sambil mengikutiku masuk dengan baki berisi segelas jus jeruk. Tadinya aku menolak dipanggil Nyonya, kupikir kami bisa jadi partner in crime di rumah ini. Jadi partner in crime, kan, harus akrab. Tapi lebih parah, sih, dia malah mau manggil aku Ibu. Akhinya aku menyerah, mau minta dipanggil Nona, nanti ada yang tersinggung ngerasa udah menikahiku. Kadang Mirah menambahkan jadi Nyonya Muda supaya aku merasa lebih baik. Nyonya Besarnya, kan, Mama mertuaku.

Aku menutup pintu dan meminum jus jeruk yang dibawakan Mirah.

"Hari ini gimana, Nyonya? Jadi mau belajar pancake-nya? Sudah mundur tiga hari, saya bingung kalau ditanya Nyonya Besar. Kalau bilang Nyonya sama Tuan Muda lagi ambekan, nanti makin panjang urusannya."

"Betul," kataku.

"Kalau bilang goreng telurnya belum perfecto, nanti dikira Nyonya gitu amat bikin mata sapi aja nggak becus."

"Betul juga," gumamku lagi. "Ya udah, habis berenang, kita belajar bikin pancake aja, biar kamu bisa jawab ke Nyonya Besar. Siapin baju renangku yang rainbow, ya. Kamu bisa siapin bahan-bahannya sementara aku olahraga bentar."

Mirah keluar dari kamarku setelah secepat kilat menemukan swimwear yang kumaksud dan melengkapinya dengan bathrobe. Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk di tepi kolam mengoles sunscreen ke seluruh tubuh, siap menceburkan diri, dan menyegarkan pikiranku. Menit berikutnya, tubuhku sudah basah kuyup terendam air. Aku melakukan gaya dada sekali dari ujung terjauh dan kembali dengan gaya punggung.

Napasku memburu. Kebiasaan burukku, nih, aku selalu males pemanasan, jadi sekali bolak balik lima meter aja ngos-ngosan. Alih-alih berenang, aku menceburkan seluruh tubuhku hingga ujung kepala ke dalam air. Biasanya kalau lagi stres aku sering begini. Dalam air tuh tenang banget rasanya. Seandainya aku bisa langsung nyemplung dari ujung kaki hingga kepala gini begitu ketemu Hiu, aku nggak perlu bingung memikirkan rencanaku sesudah ini. Masa aku mau lari dan bersembunyi selamanya dari suamiku sendiri? Nggak usah pake selamanya, deh, bentar lagi juga Hiu pasti udah ilang kesabaran.

Buahhh! Kepalaku muncul kembali ke permukaan air sebelum hitungan ke tiga puluh. Kalau kuteruskan, air kolam akan masuk melalui lubang hidungku yang sudah nggak kuat menahan napas dan aku akan terbatuk-batuk. Sebelum tuntas mengeringkan wajahku dari air kolam dengan menggosok-gosokkan kedua tangan, aku sudah menyadari adanya objek yang sangat besar, dan mampu menghalangi sinar mentari menjilati punggungku. Oke. Rencana jangka pendek: aku akan berenang ke ujung sana, lalu melarikan diri.

"Don't even think about it," katanya, seolah bisa membaca pikiranku. "Waktu kamu sampe sana, aku sudah bolak-balik jalan santai sambil menghabiskan secangkir kopi. Pilihannya cuma kita bicara, atau kamu mati kelelahan di kolam renang."

Lalu kenapa memangnya kalau aku milih yang kedua?

"Hey," hardik Hiu, aku terus berputar-putar di dalam air membelakanginya. "Look at me!"

"Nggak mau," rengekku. "Kakak udah tahu rahasia terbesarku. Aku lebih baik mati kalau rahasia itu sampai bocor. Rahasia itu cuma aku yang tau. Mami aja nggak tahu."

Hiu mendesah berat. "Aku nggak mau ngomong kalau kamu terus munggungin aku."

"Ya udah nggak usah diomongin, rencananya emang aku nggak mau ngomongin itu."

"Ya nggak apa-apa, aku juga nggak ingin tahu. Semua orang punya rahasia. Kalau kamu nggak ingin membicarakannya, that's fine. Tapi nggak gini caranya. Aku yang harus ngadepin mamimu dan mamaku sekaligus, kamu nggak bisa kayak gini terus. Kamunya juga nggak mau ngomong sama mereka, kalau mereka pikir kita berantem, malah bakal runyam urusannya."

Aku bergeming.

"Oke, kalau kamu nggak mau hadap sini, atau naik, aku yang akan turun."

"Jangan!" jeritku. Aku masih nggak sanggup melihatnya terendam air. Mungkin itu akan jadi traumaku seumur hidup. Aku nggak bisa melihatnya dan air secara bersamaan tanpa memikirkan sesuatu yang berbulu di antara kakinya. Perlahan, aku memutar, dan syukurlah ... dia mengenakan sweatshirt hitam dan celana katun yang sama sekali tidak memprovokasi alam bawah sadarku.

"Mendekatlah ke sini," bujuk Hiu, tapi aku masih belum bisa memercayainya. "Oke ... dengar, kamu nggak perlu malu. Memangnya kenapa kalau kamu melakukan kekonyolan di dalam kamar mandi? Semua orang melakukannya. Yang perlu kamu pastikan adalah ... ada atau nggak adanya orang lain di sebuah bilik, sebelum menggunakannya. Kamu harusnya mengecek di balik tirai, itu saja. Kalau saat itu kamu melakukannya, aku lah satu-satunya orang yang akan malu karena kamu ngeliat aku bugil. Rahasiamu, tetap hanya akan jadi milikmu."

"Dan milik Kakak," imbuhku resah.

"Cepat atau lambat, rahasia kita akan saling terkuak. Kita tinggal di bawah satu atap. Jangankan aku, lama-lama Nahokai, Mirah ... pelan-pelan akan tahu rahasia-rahasia ki ...."

"Nahokai?" aku memekik gara-gara kaget.

"Of course not," geleng Hiu. "Gila apa aku cerita-cerita gituan tentang istriku sendiri."

"Tapi Kakak cerita soal aku dikatain anak SMP di pesawat waktu itu, di depan banyak orang yang nggak kukenal."

"Itu, kan, bukan rahasia. Sudahlah. Lagi pula, maksudku Itu MI-SAL-NYA ... bukan lantas Nahokai tahu tentang rahasiamu di kamar mandi kemarin itu."

"Oh, ya, okay ... nggak usah diteruskan," aku buru-buru melarang. "Aku punya alasan. Itu bukan karena aku jorok, atau apa. Sebaliknya, aku hanya ingin memastikan kebersihan diriku sendiri. Aku nggak mau celanaku naik kalau area pribadiku masih belum bisa kuyakini kebersihan dan kekeringannya. Jadi aku ... ya ... gitu ...."

"I am not judging," kata Hiu, aku nggak yakin dia sungguh-sungguh, atau sambil menahan senyum. Soalnya brewoknya gerak-gerak.

Kubuat suaraku sememelas mungkin, "Apa Kakak janji akan melupakannya?"

"Aku nggak tahu apa aku bisa melupakan hal seperti itu." Dia lalu tertawa terbahak-bahak karena aku menyipratkan air dalam jumlah banyak ke arahnya. Ia menambahkan, "Tapi aku bisa janji aku nggak akan membahasnya."

"Dalam keadaan semarah apa pun?"

"Dalam keadaan semarah apa pun."

"Bener, janji?"

"Janji," dia mengangguk. "Nah, ayo naik. Atau aku seret kamu naik sekarang juga."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top