77 : Dalam Dekapan Badai
Cring~ Gemerincing lonceng di pintu pertanda kehadiran pengunjung.
"Selamat datang di Mantra Coffee."
Harits tiba di Mantra dan langsung masuk ke kafe setelah memarkirkan motornya. Ia menatap Melodi yang sedang berdiri sambil berbincang dengan Cakra di dekat dapur.
"Tumben lu kerja?" sindir Harits sambil melewati mereka dan berjalan menuju area bar. Dengan santai, ia meletakkan tas ranselnya di lantai, tepat di balik meja bar yang terbuat dari kayu tua. Tempat bagi para barista meletakkan peralatan yang tak terlihat oleh pengunjung.
"Kangen lu ya?" ledek Melodi balik.
"Yeh, enggak kebalik tuh?" balas Harits.
"Lagi seneng dia, Rits," celetuk Cakra.
Harits mengenakan apronnya sambil memperhatikan Cakra. "Seneng ngapa dia? Otaknya ketemu?"
"Kurang ajar lu, bocil!" sambar Melodi kesal.
Harits menghela napas, ia berjalan santai hingga berdiri di depan Melodi. Di sisi lain Melodi sedikit mendongak memandangnya.
"Bocil?" tanya Harits. "Ceng-cengan lu udah enggak relate, Doy, gua sekarang udah ngebalap tinggi lu. Kalo dulu lu bilang lu enggak akan suka sama yang lebih pendek dari lu, sekarang lu udah bisa kok suka ama gua. Nyahahaha."
Melodi mendengus sambil menatap Harits yang sekarang memasang wajah tengil. "Suka ama lu? Mimpi aja, bocah!"
Harits tersenyum puas seolah mengejek Melodi. "Sekarang enggak kebalik, kan? Lu bisa jatuh hati kapan aja sama ketinggian gua. Nyahahaha."
Melodi merinding, ia merasa geli sekaligus sebal. "Jatuh? Ya ampun, yang ada juga lu yang jatuh dari kenyataan. Oke, sekarang lu lebih tinggi dari gua berkat pesugihan lu, tapi tetep aja lu jelek." Melo memeletkan lidahnya mengejek Harits.
Harits terkekeh. "Ah, masa?" Pria itu hendak menyenggol pundak Melodi untuk menggoda, tetapi malah kehilangan keseimbangan. Sepatunya yang licin terselip di lantai, dan dalam sekejap, tubuhnya meluncur ke depan. Refleks, Melodi berusaha menangkapnya, tapi malah ikut terjatuh.
Brukk!
Keduanya jatuh ke lantai dengan posisi yang--ah! Sudahlah. Harits menimpa Melodi dengan tangan saling memegang. Wajah mereka hanya beberapa senti terpisah, dengan napas yang bertemu.
Wajah Melodi memerah saat ia menatap lurus ke bibir Harits. Harits sendiri terdiam mematung, memandang dalam kedua bola mata Melodi.
Cakra tersenyum canggung menatap kedua orang yang sudah jatuh, tetapi malah saling membeku itu. "Ini ceritanya kisah perselingkuhan dua pasangan atau gimana deh konsepnya? Tapi kalo enggak senonoh jangan di dalem sini ya, Dek, ya."
Melodi yang masih merah padam buru-buru mendorong Harits. "Bangun, bocah! Siapa juga yang mau adegan beginian sama lu!"
Harits segera bangun dengan ekspresi malu. "I-ini musibah, Doy. Lu jangan gembira dulu."
Melodi melipat tangan di dadanya, memalingkan muka dengan kesal. "Idih! Pede banget manusia kadal."
Harits menarik apronnya yang sempat terlepas dan memasangnya lagi. "Jadi, lu seneng kenapa? Bukan gara-gara tadi, kan?"
Melodi menghela napas panjang. "Skripsi gua tinggal revisi bab empat. Gua sekarang cuma fokus buat persiapan pameran musik aja sambil revisian. Jadi mulai sekarang, gua udah jarang nginep lagi dan bisa bantu-bantu di Mantra."
Namun, di luar ekspetasi Melodi. Bukannya menghina atau memberikan selamat, ekspresi Harits mendadak sendu.
"Oh, selamat dah kalo gitu," ucap Harits. Nada dan ekspresinya agak datar.
Melodi hanya diam memperhatikan pria itu berjalan kembali menuju dapur, seolah tak terjadi apa-apa.
"Dia kenapa, Cak?" tanya Melodi.
"Dia bukannya enggak seneng," balas Cakra. Pria itu sudah bersama dengan Mantra cukup lama dan paham setiap raut wajah, serta gelagat mereka semua. "Itu eksprsi orang yang sedih."
"Dia sedih gara-gara ketinggalan atau gimana? Dia belum garap skripsi, kan?" tanya Melodi.
"Iya, dia masih simulasi, tapi kayaknya bukan gara-gara itu. Harits bukan orang yang peduli sama pace setiap orang kayak Nada. Entah, aksara di wajahnya lebih kebaca kayak orang yang ... takut kehilangan. Biarpun dia tengil dan suka ngata-ngatain orang, tapi dia yang paling peduli sama Mantra. Meskipun sibuk kayak kalian bertiga, tapi dia satu-satunya orang dari rantai pertama yang bolak-balik Kampus-Mantra buat menuhin dua kewajibannya. Dia enggak pernah protes soal kamu, Nada, sama Deva yang sekarang jarang di sini. Apa yang dia lakuin itu seolah menegaskan kalo dia cinta pekerjaan ini dan enggak sudi semuanya berakhir. Mungkin, tau kamu semakin deket sama akhir kuliah, dia seneng, tapi di satu sisi juga sedih karena tau waktu sama-sama kita semua semakin terkikis."
Wajah Melo pun tertunduk sendu. "Sebentar lagi aku, dia, Deva, sama Nada lulus ... kita enggak mungkin selamanya di sini, kan?"
"Semester depan pun aku sama Kevin udah mulai KKN," balas Cakra. "Kadang aku mikirin gimana nasib Mantra? Aku jauh-jauh dari Inggris pulang ke sini cuma buat nerusin apa yang ayahku pernah perjuangkan, tapi aku pun sadar bahwa apa yang kita perjuangkan pun kadang harus kita lepasin juga."
Melodi kini menatap Harits yang sedang fokus menuangkan air kopi secara pouring pada pesanan V60 yang ia buat. "Kita cuma ibarat pengembara yang kebetulan ketemu dan jalan sama-sama karena perjalanan kita searah, tapi pada akhirnya, kita semua bakal sampe di titik transit yang menyadarkan kita bahwa sebetulnya tujuan setiap kita itu beda."
Di tengah percakapan itu, tiba-tiba perasaan khawatir merayap di hati Melo. Ia mendadak sadar, bahwa begitu pula dengan Nada. Meskipun mereka bersama dari garis start, tetapi pada akhirnya garis finish mereka ada di tempat yang berbeda.
"Aku sama Nada juga pasti bakalan pisah, cepat atau lambat." Sebuah kegelisahan aneh mulai mengganggu pikirannya, hingga membuat matanya berkaca-kaca. "Nada apa kabar, ya? Aku khawatir, aku mau tau kabar dia."
"Kalo gitu, coba temuin aja. Kamu tau dia di mana?" tanya Cakra.
Melo mengangguk. "Tau."
Di sisi lain Kevin yang sedang minum tiba-tiba tersedak, mengetahui ada orang lain yang tahu di mana posisi Nada. Terlebih, orang itu adalah Melodi.
"Udah, Vin, udah cukup akting kaku lu," ucap Cakra. "Lu juga tau kan sebetulnya? Tapi Nada minta lu jangan bilang-bilang? Lu orang terakhir di sini waktu itu yang nemenin dia."
"Aku mau aja nemuin dia, tapi aku takut kalo sekarang bukan waktu yang tepat," ucap Melodi. "Kita lagi enggak baik-baik aja, dan alasan dia pergi itu karena aku. Kalo aku muncul, aku takut malah bikin dia jadi enggak mood."
Cring~ Gemerincing lonceng di pintu pertanda kehadiran pengunjung. Cakra tersenyum menatap seorang pelanggan yang wajahnya tak asing itu.
"Udah, tenang aja. Aku punya ide," ucap Cakra pada Melodi.
"Ide apa?" tanya Melodi.
Cakra memberikan kode pada Melodi untuk menoleh. Melo menangkap kode itu dan memutar arah tubuhnya. Ia terbelalak menatap siapa pelanggan yang datang itu.
"Maneh keur naon di dieu?" tanya Melodi dengan bahasa sunda yang terdengar kaku karena menggunakan logat Jakarta. Wajar, dari Jakarta ia baru sebentar di Bandung, lalu lanjut bertualang ke Jogja.
(Kamu ngapain di sini?)
Di tempat yang berbeda.
Di dalam kamar sementaranya, Nada duduk di depan laptop bersama halaman kosong di layar yang seharusnya penuh dengan tulisan skripsinya. Jari-jari mungil itu menggantung di atas keyboard, namun tak ada satu kata pun yang terketik. Matanya terpaku pada kursor mouse tanpa henti, yang seolah sedang mengejeknya.
Lama-lama, rasa sesak mulai menyeruak di dadanya. Gadis itu merasa buntu, terjebak dalam labirin pikiran yang tak kunjung berujung. Skripsi ini seharusnya menjadi jalan terakhir sebelum ia lulus, tetapi entah mengapa semakin ia mencoba menulis, semakin kuat rasa takut dan keraguan yang menyergapnya.
"Kenapa bego banget sih, Nada?" ucapnya bermonolog, menyalahkan dirinya sendiri. "Padahal udah dikasih judul, udah dibantuin juga, tapi tetep bego. Kenapa sih? Benci!"
Nada menghela napas berat, tapi tetap tak mampu mengusir beban di dadanya. Lelah sudah mentalnya. Semua orang di sekitarnya tampak maju, fokus pada tujuan masing-masing, sementara ia justru merasa semakin tertinggal.
Tatapannya penuh kekecewaan terhadap dirinya sendiri. "Pasti mereka udah pada jauh, kan? Gimana ekspresi Melodi nanti kalo aku sama sekali enggak maju? Dia pasti malu punya seseorang yang mirip dia, tapi bego." Satu demi satu pikiran-pikiran negatif mulai menyetubuhi gadis itu.
Tiba-tiba perasaan kesepian menamparnya. Perasaan bahwa ia sendirian menghadapi semua badai ini, tanpa ada yang benar-benar mengerti. Dadanya semakin sesak, matanya mulai memanas. Air mata yang ditahannya kini menggenang di pelupuk. Nada menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajah, mencoba menyembunyikan rasa rapuh yang mulai meledak dari dalam.
"Nada, kenapa kamu enggak bisa kayak mereka?" bisik suara kecilnya.
Lama-lama, suara itu berubah menjadi gema yang penuh tekanan di kepalanya. Berulang-ulang, hingga membuat Nada merasa gagal sebagai manusia.
"Ehmm ... ehmmm ...." Di saat sedang menggalau, tiba-tiba tenggorokannya seret. "Duh, aus lagi, mana kagak ada aer."
Ia pun menutup laptopnya dan berdiri. Kepalanya sedikit pusing, entah karena rasa lelah atau emosi yang bercampur aduk.
Nada keluar dari kamar, berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Rumah Sherlin sudah sunyi, hanya terdengar suara samar kipas angin dan desah lembut angin malam dari luar jendela. Ketika Nada baru saja membuka lemari es, suara ketukan terdengar dari pintu depan.
Tok. Tok. Tok.
Nada sontak melirik ke arah kamar kakaknya yang sudah tertutup rapat. 'Kak Sherlin pasti udah tidur'.
Nada mengusap matanya yang agak basah itu dengan tangannya, lalu melangkah pelan menuju pintu.
Tok. Tok. Tok.
Nada menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum membuka pintu. Ia mencoba memaksakan senyum seolah semua baik-baik saja, lalu dengan pelan ia memutar kenop pintu dan saat pintu terbuka, senyum palsunya luntur ketika melihat siapa yang datang bertamu.
"Faris ...," lirih Nada seolah tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca, tak bisa membendung air yang memberontak ingin keluar.
https://youtu.be/AQpEIZ8dNcU
Faris berdiri di depan pintu memandang Nada sambil memegang sebuah pot kecil berisi tanaman. Senyumnya pun ikut luntur saat melihat senyum Nada yang tiba-tiba turun. Pria itu mengendus aroma kesedihan dari gadis di hadapannya. Sontak satu tangannya terjulur menghapus air mata Nada yang tanpa gadis itu sadari terjatuh.
"Kamu tau dari mana aku ada di sini?" tanya Nada dengan suara bergetar.
"Aku udah bilang kan? Di mana pun kamu berada, aku selalu tau. Maaf, radarku agak rusak, telat sadar kalo kamu lagi enggak baik-baik aja." Faris menatapnya sejenak, lalu menyelipkan rambut Nada yang berantakan ke belakang telinganya. "Kamu tetep cantik meskipun lagi nangis, tapi lebih cantik kalo enggak nangis."
Air mata Nada semakin deras mengalir. Serpihan-serpihan rindu ikut gugur terbawa arusnya. Tangannya terangkat naik, menggenggam tangan Faris. Sekelebat memori terpampang dalam bioksop pikirannya, membawanya pergi pada waktu di mana mereka pertama kali bertemu. Seketika, Nada ingat aroma Bandung pagi itu.
Nada menyirami tanaman di pekarangan rumah sambil berjongkok, ia menopang kepalanya dengan tangan, menikmati aroma pagi. "Daun kuping gajah, bugenvil, bunga mawar, bunga lili, teratai di kolam kecil, surga oksigen," lirihnya sambil menghirup udara segar di sekitarnya.
"Cantik."
Sebuah suara memecah keheningan. Seorang pria menyandarkan dagunya di pagar, memperhatikan Nada kala itu.
"Iya," jawab Nada sambil tetap menyiram tanaman, tak sadar apa yang pria itu maksud.
"Kamu suka tanaman?" tanya pria itu.
Nada mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Kalo ada waktu, main ke rumah aku yuk. Orang tuaku jual tanaman hias," ajak pria itu sambil tersenyum.
Nada refleks berdiri dan menoleh ke arah pria itu. Namun, tanpa sadar selang yang sedang ia pegang mengarah ke pagar dan menyirami pria itu. "Eh, maaf!" ucapnya panik, mengarahkan selang ke tempat lain.
'Kampret, berharap disirami dengan kasih sayang, malah disiram aer.' Batin pria itu. Ia tertawa kecil. "Enggak apa-apa kok."
Nada masuk ke dalam rumah, dan pria itu berdiri di depan pagar dengan senyum yang awet. "Dia siapa, ya? Cantik."
Hingga akhirnya, Nada keluar dari rumah dan berjalan ke arahnya dengan tampang murung, lalu berkata pelan. "Mungkin lain kali deh."
Pria itu tampak kecewa, tapi tetap tersenyum. "Oke deh." Ia mengulurkan tangannya pada Nada. Setengah tangannya masuk ke dalam pagar. "Faris," ucapnya memperkenalkan diri.
"Nada," balas Nada, menjabat tangan Faris.
"Cantik."
Nada sontak menoleh ke belakang, ke arah tanaman-tanaman di halaman rumah. "Iya, bunganya cantik-cantik."
"Bukan." Faris menatap wajah Nada sejenak sambil menggeleng pelan, lalu menyelipkan rambut Nada yang berantakan ke belakang telinganya. "Kamu," sambungnya lagi diikuti senyum.
Wajah Nada langsung merona. "Eh?"
Faris tersenyum lagi dan beranjak pergi. "Sampai ketemu lagi." Ia pergi meninggalkan Nada yang masih diam di tempat, memandang punggungnya yang perlahan menjauh.
Hidung Nada mengeluarkan darah karena kelelahan menggunakan psikometri. Faris melepaskan tangan telanjang Nada dari tangannya, lalu mengusap darah di hidung Nada dengan tangannya sendiri. Ia letakkan pot bunga yang ia bawa, lalu ia dekap tubuh gadis itu erat-erat.
"Maafin aku yang susah dihubungin, ya. Maafin aku yang selalu enggak ada di sisi kamu waktu kamu butuh seseorang buat sekadar dengerin keluh-kesah kamu. Maafin aku yang selalu egois karena enggak pernah ngasih kamu kabar. Mulai sekarang, aku enggak akan ke mana-mana. Jadi, nangis aja sepuas kamu, Nad, malam ini aku jadi badainya dan kamu yang jadi hujannya. Tapi mulai besok, kita jadi pelangi dan segala kehidupan yang tumbuh dari sisa hujan malam ini."
.
.
.
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top