01. Penghapusan-The Purge
Namaku adalah Luke. Mungkin di antara kalian ada yang mengenalku, tapi mungkin ada pula yang tidak tahu asal-muasalku. Tidak masalah, kita bisa secara perlahan saling mengenal.
Aku diciptakan dengan memiliki kekuatan yang dikenal dengan nama Nullification. Aku bisa menghilangkan apa pun yang tidak kusukai. Benda, tempat, manusia, bahkan mungkin dunia itu sendiri. Tapi, tentu saja ada bayaran atas setiap hal yang kuhilangkan.
Duniaku tidaklah pasti, aku bisa berada di dunia mana saja. Mungkin, aku bahkan berada di duniamu. Akan tetapi, kali ini aku sedang menetap di dunia yang dikenal dengan dunia Ghrunklesombe. Sebuah dunia yang memiliki berbagai macam makhluk dari ras berbeda di dalamnya.
Di dalam dunia Ghrunklesombe terdapat orang-orang yang memiliki kekuatan luar biasa yang berkumpul menjadi satu dan membentuk sebuah perkumpulan rahasia penjaga dunia Ghrunklesombe dengan nama Guardians, kelompok ini bekerja secara tersembunyi dari kesadaran manusia biasa. Tentu saja, aku termasuk salah satu dari mereka. Tapi, aku hanya seorang anggota baru yang masuk ke dalam kelompok itu beberapa bulan yang lalu.
Zaman yang dilalui Dunia Ghrunklesombe saat ini dikenal dengan zaman Matahari Keempat, zaman yang mana para manusia mulai kehilangan kepercayaan mereka terhadap hal-hal magis ataupun mereka yang memiliki kekuatan magis. Di sisi lain, para makhluk magis bersembunyi, menjauh, dan menunggu... menunggu datangnya zaman Matahari Kelima yang akan memberikan mereka kebebasan untuk kembali hidup di bawah terang sinarnya yang hangat.
Suatu hari, aku bersama dengan dua simpatisanku—Yua dan Lanse—sedang berkumpul di dalam ruangan khusus di gedung perkumpulan Elendall. Saat itu, keduanya sedang membahas beberapa hal penting mengenai masalah dunia Ghrunklesombe pada saat itu.
"Ras Elven meminta persetujuan untuk masuk ke dalam lingkungan manusia?" Yua memutar bola matanya dan membanting tumpukan kertas yang merupakan surat yang dikirimkan oleh pemimpin ras Elven. "Mereka sudah gila."
"Tidak heran, Yua." Lanse meletakkan cangkir tehnya. "Mereka telah bersembunyi dalam kegelapan dan menjauh dari matahari sejak zaman Matahari Ketiga. Sudah ribuan tahun lamanya sejak mereka menginjakkan kaki di tanah manusia secara bebas. Tidakkah kau kasihan kepada mereka?"
Mata Yua membesar mendengar ucapan Lanse yang seakan tidak mengerti keadaan dunia saat ini. "Kau kehilangan akal sehatmu, Lanse?! Kepercayaan manusia sudah hampir tidak ada terhadap keberadaan makhluk magis. Tidak. Magis itu sendiri sudah ditolak keberadaannya! Hal ini menyebabkan kekuatan makhluk magis telah berada di titik paling lemah mereka. Kalau mereka keluar dan mendekati lingkungan manusia sekarang, kau tahu dengan jelas apa yang akan terjadi!"
Banyak kemungkinan yang bisa terjadi; Tindakan anarkis akibat ketakutan manusia terhadap keberadaan para makhluk magis, kematian yang akan berujung pada kelangkaan makhluk magis, dan yang paling mungkin terjadi... perang di antara kedua ras.
'Sepertinya, mereka bertengkar lagi. Bersabarlah.' Seseorang mengirimkanku telepati dengan nada terhibur.
Dengan keras, aku berusaha menyembunyikan senyumanku. 'Tentu.' Lalu, aku berubah serius. 'Kenapa kau menghubungiku, San?'
San merupakan salah satu anggota Guardians, hubungan kami cukup dekat. Akan tetapi, jarang sekali ia menghubungiku melalui telepati kecuali ada keadaan mendesak.
'Luke... perasaanku tidak enak. Sesuatu yang buruk akan—"
Suara pecahan cangkir mengagetkan diriku dan aku pun mengembalikan fokusku terhadap Yua dan Lanse. Sepertinya, amarah Lanse tersulut oleh ucapan Yua. "Kalau begitu untuk apa mereka hidup?! Mati lebih baik daripada harus hidup dalam persembunyian!"
Bersamaan dengan ucapan Lanse, hal itu terjadi.
Jantungku berdebar kencang satu kali dan tekanan luar biasa menyelimuti diriku dalam sekejap. Tanpa ada yang menyuruh, aku melangkah mendekati jendela dan menatap ke langit. Matahari yang tadinya berwarna kuning cerah, secara perlahan memantulkan warna merah darah yang mengerikan.
Telah dimulai, pikirku dengan napas yang memburu.
Setelah matahari berwarna merah sepenuhnya, aku baru tersadar kalau San tidak lagi mengucapkan apa pun maupun berusaha melanjutkan ucapannya. Aku berkata melalui telepati, 'San, hal aneh terjadi di daerah Utara Ghrunklesombe, langit menjadi merah. Apa yang tadi ingin kau katakan?' Hening. 'San?' panggilku lagi.
Tidak ada balasan.
Melihat pantulan cahaya merah di lantai menara, Yua dan Lanse bertanya secara bersamaan, "Apa yang terjadi? Cahaya apa itu?"
Aku berbalik menghadap mereka. "Coba hubungi anggota Guardians yang lain," perintahku tanpa menjawab pertanyaan mereka.
Telingaku menangkap suara panik dari luar jendela, kerumunan orang yang keluar dari gedung menara mulai menunjuk ke arah matahari yang terlihat aneh di mata mereka. Tentu saja, hal itu bahkan terlihat aneh untuk diriku.
"Aneh, tidak ada balasan." Lanse kembali membuka mulutnya.
Yua menatap diriku. "Apa maksudnya ini?"
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan tempat kami berada untuk sesaat. Tapi, kemudian Yua berteriak, "Lihat itu!"
Aku kembali menatap ke luar menara dan mendapati sekerumunan hitam yang terlihat seperti burung sedang merendah ke arah daratan. Kepakan sayap mereka mengirimkan getaran aneh terhadap diriku, sebuah getaran yang kukenali sebagai rasa takut.
"Ada apa dengan burung-burung itu?" ujar Lanse yang juga merasa aneh.
Aku memicingkan mata dan menatap kerumunan burung itu secara lekat-lekat. Setelah tahu dengan jelas wujud asli makhluk yang kukira burung itu, aku terbelalak. "Itu bukan burung! Itu adalah—"
Yua melanjutkan ucapanku, "Iblis!"
Seakan merasa terpanggil oleh ucapan Yua, salah satu iblis melesat secara tiba-tiba ke arah kami dan berusaha menarikku bersamanya. Cakarnya yang tajam menyayat jubahku dan mengoyak sebagian dagingku membuatku berteriak kesakitan.
Di saat aku berpikir kalau nyawaku akan berakhir saat itu juga, Lanse, dengan kekuatannya untuk membentuk dinding pelindung dari gelombang elektromagnetik—Flyrogenesis—melemparkan iblis itu menjauh dari diriku dan menutup ruangan tempat kami berada dengan dinding pelindung.
Yua menangkap tubuhku yang mulai terjatuh ke depan. "Sial! Sial!" Aku mulai menyumpah akibat rasa sakit yang dihasilkan oleh sayatan iblis tadi. Marah, aku melirik iblis yang masih berusaha menembus dinding pelindung Lanse dan menghilangkan kepalanya dengan kekuatanku. Darah menyiprat ke tubuhku dan Yua sebagai hasilnya.
Kesal, Yua menekankan sapu tangan yang ia gunakan untuk menghentikan darah yang keluar dari lukaku dengan kencang membuatku mengerang kesakitan. "Diam dan jangan bertindak sembarangan! Aku tidak bisa menyembuhkanmu kalau seperti ini."
Ya, Yua memiliki kekuatan yang dikenal dengan Spiritual Healing, ia bisa menyembuhkan seseorang dengan kekuatan spiritualnya. Dengan itu, luka yang dihasilkan oleh cakar iblis tadi bukanlah masalah yang besar bagi dirinya.
Setelah Yua selesai menyembuhkanku, aku melihat Lanse sibuk memantau keadaan di luar. "Bagaimana keadaan di luar?" tanyaku yang masih terduduk sembari memegang pinggangku yang sebenarnya sudah sembuh sepenuhnya.
"Ini mengerikan..." Lanse berkata. Aku mengerutkan keningku. "Mereka berusaha menghabisi semua orang."
Mataku membesar dan aku pun menghampiri jendela untuk melihat keadaan di luar sana. Neraka telah berpindah tempat, pikirku.
Pemandangan yang kulihat adalah pemandangan berdarah yang mana jalanan dipenuhi dengan darah yang terlihat serasi dengan cahaya merah yang dihasilkan oleh matahari di langit. Beberapa orang masih berlarian menghindari para iblis yang berusaha menangkap mereka, beberapa iblis terlihat sedang menikmati jasad manusia yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
Tanpa berpikir dua kali, aku membalikkan tubuhku dan berniat untuk menghampiri neraka itu. Akan tetapi, Yua menghentikanku. "Lepaskan aku!" teriakku
"Kau tidak bisa melakukan apa-apa, Luke!" Ia berkata. "Jumlah mereka terlalu banyak! Kau akan mati setelah kau berhasil membunuh tiga atau empat iblis itu!" lanjut Yua membuatku menggertakkan gigiku.
"Aku tidak selemah itu, Yua," geramku berusaha mengintimidasi Yua agar gadis itu melepaskan pegangannya pada lenganku.
Di luar dugaanku, Lanse yang biasanya berpihak denganku kali ini berpihak pada Yua. "Dia benar, Luke. Kita hanya tiga orang. Kau beruntung aku berhasil menjauhkan iblis itu tepat waktu dan lukamu tadi tidak cukup parah sehingga Yua bisa menyembuhkannya dengan mudah."
Aku terdiam tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk membenarkan rencanaku. Sial, makiku dalam hati terhadap kenyataan kalau aku memang tidak bisa melakukan apa-apa.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benakku. "Lanse, kau bisa menyelimuti ruangan ini dengan dinding pelindung. Kalau begitu, bisakah kau melindungi satu gedung ini dengan dinding pelindung?"
Lanse terdiam sesaat, tidak yakin dengan kemampuannya. "Seharusnya, aku bisa melakukannya."
Yua menatap diriku curiga. "Apa lagi yang ingin kau lakukan, Luke?"
"Mungkin kita tidak bisa menghabisi iblis itu, tapi kita bisa melindungi orang-orang yang masih hidup dengan membiarkan mereka masuk ke dalam gedung ini." Aku berkata membuat Yua menatapku dengan tajam.
"Baiklah, lakukan ucapannya, Lanse." Yua berkata pada akhirnya membuatku menghela napas lega ia memutuskan untuk bekerja sama. "Kau tetap di sini fokus dengan dinding pelindungmu, Lanse. Aku dan Luke akan ke bawah untuk mencari tahu apakah masih ada yang selamat."
"Ucapanmu membawa pertanda buruk, Yua," ujarku.
Setelah itu, aku keluar bersama dengan Yua dari ruangan tersebut dan mulai menuruni tangga. Tiba-tiba, aku mendengar ada suara langkah kaki yang basah bertemu dengan lantai. Perlahan tapi pasti, suara langkah kaki itu mendekat ke arah kami. Hidungku mengendus bau belerang yang sungguh pekat sehingga tanganku secara otomatis menutup setengah wajahku.
"Suara apa—!"
Ucapan Yua terpotong ketika sepasang mata berwarna merah bertemu dengan mata kami berdua. Tubuh makhluk itu besar, lebih besar dibandingkan iblis yang berusaha menghabisi nyawaku tadi. Sebagian besar tubuhnya dialiri oleh darah yang kutebak merupakan hasil cipratan darah manusia yang telah menjadi korbannya.
Melihat keberadaan kami membuat iblis itu langsung melesat dengan kencang ke arah kami. Beruntung, aku sudah siap siaga dan mampu menghabisi iblis itu menggunakan kekuatanku. Sekali lagi, darahnya terciprat ke tubuh kami akibat kepala yang kuhilangkan.
Kali ini, Yua tidak berkomentar. Gadis itu hanya melihatku dan begitu pula dengan diriku. Sekarang, kami mengerti jelas situasi dalam gedung ini.
Tidak hanya manusia yang ada dalam gedung ini.
"Ini berbahaya, kita tidak bisa membiarkan Lanse mengangkat dinding pelindung karena takut para iblis akan masuk ke dalam gedung. Akan tetapi, kalau kita tidak membukanya, maka satu-satunya cara untuk mengamankan gedung adalah—"
"Membunuh mereka sekaligus mencari manusia yang masih bertahan." Aku memotong ucapan Yua.
Yua menoleh ke arahku selagi kami melangkah secara perlahan menuruni tangga. "Kau kira manusia biasa bisa bertahan melalui malapetaka ini?"
"Kalau ada manusia seperti kita di antara mereka, kenapa tidak?" balasku membuat Yua bungkam. "Tetap berada di belakangku, Yua. Kekuatanmu tidak mendukung situasi seperti ini," perintahku.
Satu per satu lantai kami lewati dalam kesunyian, hanya suara langkah kaki yang sedikit teredam oleh karpet merah yang menemani perjalanan kami menuju lantai dasar gedung ini. Satu dua kali, kami berhadapan dengan iblis yang sibuk menyantap manusia yang sudah tergeletak tak bernyawa. Tapi, kami bisa menanganinya.
Ketika di hadapan kami adalah tangga menuju lantai dasar, aku berhenti untuk sesaat karena jantungku tidak bisa diam. Napasku memburu karena perasaan tidak enak mengganjal hatiku. Setelah tenang, aku kembali melangkahkan kakiku satu per satu ke menuruni tangga.
Saat aku melewati tikungan terakhir yang mengarah ke lantai dasar, aku mencuatkan kepalaku terlebih dahulu untuk melihat pemandangan lantai dasar. Sungguh, saat itu, aku merasa kalau neraka memang benar-benar sudah terbuka di hadapanku.
Pemandangan yang sekarang memenuhi pandanganku adalah keberadaan puluhan iblis yang sibuk menyembelih, mengoyak, maupun mengunyah mereka yang tidak berhasil kabur dari makhluk jahanam itu.
Sadar kalau aku berniat menyerbu para iblis itu, Yua mencengkeram pundakku dengan kencang membuatku menoleh. 'Jangan gila! Kau berniat pergi ke tengah-tengah neraka itu?!' Itulah yang diteriakan ekspresi wajahnya.
"Aku bisa." Aku menjawab dengan yakin. "Kalau sesuatu terjadi, larilah kembali ke ruangan."
'Luk—'
Sebelum ia berhasil menyelesaikan ucapannya, aku langsung melompat masuk ke tengah-tengah ruangan dan membuat para iblis itu mengalihkan perhatiannya padaku. Sekilas, aku melihat warna mata mereka bukanlah merah, melainkan berwarna kuning terang. Akan tetapi, di saat mereka benar-benar menatapku, warna mata mereka berubah sepenuhnya menjadi merah menyala.
Secara bersamaan, para iblis itu mulai berlari ke arahku. Aku menutup mataku untuk sesaat dan mulai berkonsentrasi keras untuk menciptakan apa yang kusebut dengan 'Lingkaran Ketiadaan', mereka yang melewati lingkaran itu akan kehilangan nyawanya dalam seketika. Kurang-lebih, kekuatanku itu bekerja seperti laser, lewati laser itu dan dia akan membuat bagian tubuhmu saling terpisah.
"LUKE!"
Aku membuka mataku dengan cepat, tepat ketika di hadapanku terdapat wajah buruk rupa dan pantulan warna merah yang berasal dari mata iblis yang mengerikan itu. Kurang dari satu detik dan tentunya, sebelum ada cakar yang terbenam dalam tubuhku, satu per satu iblis yang berada dalam pandanganku kehilangan satu atau lebih bagian tubuhnya dengan suara yang memuakkan.
Sekitar dua puluh iblis berhasil kuhabisi dalam waktu sekejap. Luar biasa, bukan? Tapi, tentu saja... ada bayaran untuk hal tersebut.
Kakiku terasa lemas dan tidak lagi mampu menopang tubuhku sehingga aku jatuh berlutut di atas genangan darah yang dihasilkan oleh darah iblis dan darah manusia. Pandanganku membuyar dan energi dalam tubuhku terasa menghilang dalam sekejap. Aku merasa ada yang mengalir menuruni hidungku sehingga aku mengusapnya.
Darah.
Ketika badanku mulai mengarah jatuh ke depan, Yua menangkapku sebelum tubuhku bertemu dengan tanah. Dengan kepala bersandar di bahunya, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Tapi, nada suaranya menunjukkan ia marah dan panik.
"Gila! Kau benar-benar gila!"
Ia merebahkan tubuhku di lantai dan meletakkan tangannya di dahiku, aku bisa merasakan tubuhku menjadi hangat bersamaan dengannya.
"Aku berhasil, bukan?" tanyaku sembari berusaha untuk tersenyum bangga.
Yua mendecakkan lidahnya. "Ya, dan kau hampir berhasil menghilangkan nyawamu bersamaan dengan hal itu."
Sarkastis seperti biasanya, pikirku sembari tertawa dalam hati.
Untuk sesaat, kami hanya terdiam selagi Yua fokus menyembuhkan diriku. Setelah ia selesai, aku mendudukkan diriku dan mendapati gerakan bayangan dari penghujung ruangan.
Yakin kalau bayangan itu bukanlah iblis, aku berkata, "Keluar dari persembunyianmu."
Bayangan itu mendekat ke arah kami dan saat cahaya merah jatuh di atasnya, aku mendapati bayangan misterius itu adalah seorang gadis dengan paras cantik yang memiliki emblem Guardians di kerah bajunya.
"Leathea!" pekik Yua yang terlihat mengenal gadis itu.
Mendengar Yua menyebutkan nama gadis itu, aku langsung mengerti. Gadis itu adalah Leathea, salah satu anggota senior Guardians. Ia memiliki kekuatan untuk mendeteksi keberadaan seseorang maupun sesuatu dalam jarak tertentu, seorang Detector. Selain itu, ia memiliki keahlian dalam memanah.
Leathea menjelaskan kalau kekuatannya sebagai seorang Detector merupakan salah satu alasan ia mampu bertahan hidup, ia terus berlari menjauhi keberadaan para iblis itu. Bahkan ketika para iblis itu masih belum mulai mendarat, ia sudah bisa merasakannya dan berlari ke dalam gedung untuk bersembunyi.
"Kenapa kau tidak memberitahu yang lain!?" protes Yua. "Berapa banyak nyawa yang mungkin terselamatkan kalau kau melakukan hal itu?!" lanjutnya membuat Leathea terlihat tidak senang.
Aku menghentikan Yua dan berkata, "Kau pikir para manusia itu akan percaya? Ingat Yua, para manusia hanya berpegang pada kenyataan normal yang membosankan." Ucapanku membuat Yua langsung bungkam.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Yua yang terlihat begitu panik dengan keadaan saat ini.
"Ini adalah pergantian zaman," jawab Leathea.
Yua terlihat kaget. "Maksudmu?"
"Zaman Matahari Keempat akan berakhir," ucapku membuat Yua terbelalak dan pikirannya menjadi semakin kusut.
Leathea menjelaskan, sepanjang prosesi pergantian zaman yang disebut dengan Tiga Titik Hitam, kekuatan magis akan menghilang karena dunia Ghrunklesombe itu sendiri mengambil alih seluruh kekuatan magis yang ada untuk berevolusi. Hal ini mengakibatkan mereka yang hidup dan tercipta oleh kekuatan magis akan menghilang selama prosesi ini berlangsung.
Di sisi lain, para iblis akan terlepas karena segel magis yang digunakan untuk mengunci mereka di neraka menghilang. Di saat ini, para Guardians diharuskan menghalau para iblis dari menguasai bumi dan melindungi manusia biasa yang mampu bertahan hidup. Paling tidak, itulah yang dikatakan buku yang dituliskan oleh pendiri Guardians.
"Aku memerlukan bantuan kalian." Leathea berkata membuat aku dan Yua menoleh. "Sekitar enam manusia dan empat anggota Guardians berada di dalam gereja yang berjarak satu kilometer dari tempat ini. Mereka memerlukan bantuan, aku bisa mendeteksi beberapa di antara mereka terluka."
"Baiklah." Aku menjawab tanpa perlu berpikir panjang karena itulah tujuan kami pergi ke bawah. Melihat ekspresi enggan pada wajah Yua, aku bertanya, "Apa?" dan dia hanya menggeleng.
Setelah memberitahu Lanse kalau kami akan berusaha kembali secepatnya, kami langsung pergi dari gedung Elendall dan menuju gereja tujuan. Yang aneh dalam keadaan di luar adalah para iblis tidak terlihat, hanya tubuh tak bernyawa dan genangan darah yang menghiasi pemandangan di luar.
Perjalanan kami menuju tempat itu mulus tanpa ada halangan apa pun. Kalaupun kami melihat iblis, hanya tubuhnya saja yang kami temui. Luka tusuk yang dihasilkan pedang besar bisa terlihat menghiasi tubuh tak ber-roh itu.
"Ini adalah hasil kerja Sieg," ujar Leathea sembari tersenyum sedih. "Semoga ia tidak apa-apa."
Setelah beberapa saat berlalu, kami mencapai sebuah gereja dengan cat putihnya yang sudah ternodai oleh darah. "Inikah dia?" tanya Yua sembari menelan ludah.
Aku mengintip melalui jendela dan mendapati isi gereja itu kosong. "Kosong."
Akan tetapi, Leathea mengabaikan kami berdua dan hanya memberikan tanda kepada kami berdua untuk mengikuti dirinya. Ternyata, terdapat tangga rahasia yang tersembunyi di bawah podium khotbah yang menuju sebuah ruangan berisi mereka yang berhasil selamat.
Sembilan orang hidup, satu telah kehilangan nyawanya. Satu orang itu adalah dia yang bernama Sieg, pedang besar yang tergeletak di sebelah tubuhnya yang direbahkan memberitahuku akan hal itu. Ketika Leathea melihatnya, air mata menuruni wajahnya.
Tiba-tiba, gelombang perasaan tidak enak kembali bergumul dalam hatiku. Spontan, aku berkata dengan nada marah, "Hentikan tangisanmu, Leathea. Kita harus segera pergi setelah Yua menyelesaikan tugasnya."
Tentu saja, mereka yang mendengarku mengucapkan itu memberikan tatapan mematikan yang membuatku sempat menyesal. Akan tetapi, tidak ada waktu untuk bersedih maupun menyesal. Para iblis akan segera datang, penyesalan dan kesedihanmu akan menghilang dalam sekejap kalau makhluk jahanam itu berhasil menghabisi nyawamu.
Setelah Yua selesai menyembuhkan mereka yang perlu disembuhkan, aku langsung menyuruh rombongan itu untuk bergegas pergi keluar. Di saat aku berusaha membantu seorang wanita tua yang terlihat rentan, ia menepiskan tanganku. "Aku tidak memerlukan bantuan seseorang yang tidak punya hati."
Wah, wah, serius dia mengatakan hal itu padaku? Terserah saja, sih, pikirku sembari memutar kedua bola mataku.
Sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu, aku menatap jasad Sieg. Ia tersenyum. Melihat hal itu membuatku merasa kagum kepadanya, kepada jasad manusia tak bernyawa itu. Ia benar-benar pantas menyandang status seorang Guardians.
Selama perjalanan kembali menuju gedung Elendall, kami tidak bertabrakan dengan satu iblis pun. Saat melihat gedung Elendall menjulang tinggi di hadapan kami, aku bisa mendengar beberapa orang tertawa senang.
Naif, pikirku.
Bersamaan dengan itu, aku melihat sekumpulan iblis sedang terbang ke arah kami. "Lari! LARI!" teriakku sambil mulai berlari dan berusaha menjatuhkan iblis sebanyak yang kubisa.
Seakan hidup adalah drama, nenek tua yang tadi sempat menolak pertolonganku terjatuh. Melihat hal itu, aku langsung kembali menghampirinya dan membantunya berdiri. Tapi, kakinya tidak lagi kuat melanjutkan perjalanan. Hal ini membuatku berada dalam dilema. Aku tidak mungkin menggendongnya karena harus terus menahan gelombang serangan dari para iblis.
"Leathea!" panggilku membuat gadis itu berbalik dan menggantikanku membopong nenek itu.
Tetap saja, tempo berlari mereka terlalu lambat sehingga aku harus tetap berada di belakang mereka dan terus menjatuhkan para iblis yang berjarak paling dekat dengan kami. Yang lebih sial lagi... energiku mulai kembali habis.
Saat aku tidak kuat lagi menghabisi iblis yang berada tepat di hadapanku, Yua—entah apa yang ada di otaknya—kembali keluar dari gedung dan berdiri di hadapanku seakan untuk melindungiku dari iblis itu.
"YUA!" teriakku saat melihat cakar iblis itu terangkat.
Tiba-tiba, suara terompet panjang bisa terdengar dari langit. Bersamaan dengan hal itu, tanpa alasan yang jelas, pasukan iblis itu langsung berubah menjadi abu.
Yua berbalik menghadapku dengan sebuah senyuman konyol di wajahnya. "Aku gagal menjadi keren." Ia tertawa selagi aku menghela napas lega.
"Sial kau," balasku yang langsung meninggalkannya dan mengarah ke dalam gedung.
Tepat saat aku menginjakkan kaki di lantai gedung Elendall, aku merasakan tanah bergetar bersamaan dengan suara benda besar yang jatuh ke tanah. Aku langsung menoleh dan mendapati di belakang Yua terdapat seekor monster besar dengan kepala bertanduk, wajah seperti monyet, badan menyerupai anjing besar, dan buntut berupa ular.
Tidak sempat aku memperingatinya tentang keberadaan monster itu, setengah tubuh Yua sudah dilahap dan masuk ke dalam mulut monster tersebut.
Aku hanya bisa terdiam sesaat, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Yua..." Setelah kekuatan mulai kembali menyelimuti tubuhku, aku mulai menggila. "YUA!! KAU MONSTER SIALAN! AKU AKAN MEM—"
Ketika aku ingin kembali keluar menghampiri monster tersebut, Leathea dan beberapa orang lain langsung menahanku. Sekuat apa pun aku meronta, pada akhirnya mereka berhasil membuatku hanya bisa menatap monster itu melahap Yua.
Tidak lama setelah itu, warna merah pada matahari yang mulai terbenam berubah menjadi warna biru yang menyakitkan sebelum ia benar-benar menghilang dan digantikan oleh bulan.
Di saat matahari itu benar-benar menghilang, monster itu berkata dengan suara yang mengerikan, "Merah telah dilalui, terpenuhi oleh jumlah yang mati. Biru telah datang, pengorbanan yang ditantang. Violet berikutnya, siapa yang akan berdiri di antara para penjaga dunia?" Setelah mengatakan hal itu, ia terbang pergi membuat kami semua tenggelam dalam keheningan.
Malam itu, tatapan terakhir yang Yua berikan padaku terus membayangi pikiranku. Sesaat aku tertidur, tapi kemudian kembali terbangun karena kematian temanku itu masih menghantui diriku. Sampai matahari terbit, aku tidak bisa menemukan ketenangan.
Pagi itu dimulai dengan suara dentuman keras yang mengagetkan semua orang, kami langsung berkumpul di depan pintu utama dan menatap tibanya monster yang sama seperti yang kemarin kita lihat.
"Sampai matahari mulai terbenam, aku tidak akan menyerang. Satu kematian, sebuah keselamatan." Monster itu berkata.
Suara ribut mulai memenuhi ruangan, tapi Leathea hanya terdiam. Melihat ekspresi wajahnya, ia mengerti apa yang dimaksud oleh monster itu. Banyak manusia biasa yang bertanya, tapi ia enggan menjawab.
Pada kenyataannya, para Guardians tahu dengan jelas mengenai maksud ucapan monster itu. Aku teringat dengan apa yang dijelaskan oleh mentorku mengenai Tiga Titik Hitam di hari pertama aku masuk ke dalam perkumpulan Guardians.
Hari pertama, diperlukannya sejumlah kematian yang tidak tersebutkan jumlahnya. Hari kedua, satu pengorbanan akan menjauhkan makhluk itu dari membunuh semua orang. Hari ketiga, warna violet... melambangkan berdirinya seorang pemimpin dari akhir cobaan. Hari keempat, zaman ini akan berakhir dan zaman baru akan dimulai.
Tubuhku langsung merosot dan aku pun terduduk di lantai. Pengorbanan? Hah! Aku terlalu ingin hidup untuk merelakan nyawaku demi orang-orang ini, pikirku sembari menertawakan situasi saat ini. Mari kita lihat siapa yang mungkin berdiri untuk berkorban di antara kalian manusia.
Di saat itu, Lanse melewati diriku dan menatapku dengan sebuah pandangan mata yang kumengerti artinya. Aku terbelalak dan langsung berteriak, "Kau tidak akan—!" Ucapanku langsung terhenti ketika sebuah tinju yang cukup kencang diterima oleh perutku. Lanse berlari meninggalkanku membuatku memaki dirinya, "Lanse... sial kau..."
Dengan usaha keras, aku berusaha mengejar manusia bodoh itu. Akan tetapi, Lanse sudah berada di luar gedung berhadapan dengan makhluk mengerikan itu.
Sesuai ucapannya, makhluk itu tidak langsung menyakiti Lanse. Ia bertanya, "Apakah kau ingin menukarkan nyawamu untuk keselamatan?"
Ketika Lanse mengangguk, makhluk itu langsung membuka mulutnya. Sebelum ia berhasil melahap Lanse, sebuah panah yang datang entah dari mana menancap di mata makhluk itu membuatnya mengerang kesakitan.
"Siapa yang berani mengganggu prosesi pemenuhan janji!? Aku akan membunuhmu!" geramnya.
Aku menoleh ke arah Selatan dan mendapati Leathea dengan busur di tangannya sedang berdiri membelakangi hutan bagian Selatan. "Lepaskan dia, biarkan aku menukarkan nyawaku untuk keselamatan semua orang." Leathea berkata membuatku kaget.
Di luar dugaan, si Bodoh Lanse berusaha menjadi seorang pahlawan dan berkata, "Tidak, Leathea! Kau harus tetap hidup untuk hari esok. Kau adalah anggota senior Guardian, jiwa pemimpin ada dalam dirimu."
"Lanse, mereka yang masih hidup di dalam gedung memerlukan dirimu untuk tetap mendirikan dinding pelindung. Kalau kau mati, siapa pun juga tidak akan berhasil hidup." Sebuah senyuman yang dipaksakan bisa terlihat merekah di bibir Leathea.
Melihat perdebatan mereka tidak kunjung berakhir, sebuah ide muncul di benakku. Sedari awal orang-orang ini melihatku, aku bukanlah orang yang baik di mata mereka. Kenapa tidak menjadi jahat sepenuhnya?
Aku mengarahkan tanganku ke arah Lanse dan menghilangkan kesadarannya. Semua orang kaget melihatku melakukan hal tersebut. "Sekarang, kau bisa dengan santai menyerahkan nyawamu, bukan?" ujarku sembari menganggukkan kepala ke arah monster itu.
Semua orang mulai berusaha menghentikannya hanya dengan kata-kata: Leathea, jangan lakukan itu; Jangan tinggalkan kami; Jangan mati. Apa yang mungkin kami lakukan tanpa dirimu?
Memuakkan, makiku dalam hati.
Tidak perlu waktu lama bagi monster itu untuk menerima pengorbanan Leathea, ia melahapnya dan semua selesai. Bersamaan dengan hal itu, monster itu terbang pergi. Matahari biru perlahan berubah menjadi warna violet yang menusuk mata ketika ia mulai terbenam di sore hari.
Setelah beberapa saat berkabung atas kepergian Leathea, beberapa orang mulai mengarahkan kesedihan mereka kepadaku. Seorang gadis muda menghampiriku dan menudingkan jarinya ke wajahku. "Kenapa tidak kau saja yang mengorbankan diri? Orang sepertimu pantas mati! Membiarkan Leathea berkorban seperti itu."
"Benar! Kau pantas mati!" teriak yang lain sehingga menciptakan keributan.
Kesal, aku menepiskan tangan gadis itu. "Kau tidak salah? Bukankah kalianlah yang hanya menggunakan kata-kata dan tidak bertindak untuk menghentikannya? Kalau kalian benar-benar ingin menghentikannya, kalian akan melakukan sesuatu. Kenyataannya, kalian terlalu takut untuk mati dan akhirnya berakhir pada kesimpulan untuk membiarkannya mati agar kalian sendiri bisa hidup. Sekarang, kalian menyalahkanku? Menggelikan."
Semua orang terdiam mendengar ucapanku dan aku pun tidak memiliki kata-kata lain yang perlu diucapkan. Oleh karena itu, aku langsung meninggalkan lantai dasar menuju ruangan di puncak gedung.
Setelah Lanse terbangun dan mendengar mengenai apa yang terjadi, ia menghampiriku dan berniat untuk menamparku. Akan tetapi, dirinya terlihat enggan melakukan itu. "Kenapa? Bisa meninjuku, tapi tidak bisa menamparku? Hebat sekali, Lanse." Nada sarkastisku kembali menghiasi ucapanku.
"Kenapa...? Kenapa kau lakukan itu?"
Aku terdiam sesaat. "Ada sesuatu yang harus dilakukan dan sesuatu yang tidak harus dilakukan. Aku tahu dengan jelas apa yang kulakukan tidak salah. Ketika esok hari berakhir, sembilan orang di bawah akan memerlukanmu. Jiwa pemimpin, siapa lagi yang memilikinya kalau bukan dirimu?" ucapku.
"Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin—?"
"Tidak mengerti itu lebih baik." Aku memotong ucapannya. "Yang perlu kau lakukan adalah tetap melindungi gedung ini, Lanse. Besok, aku akan menyelesaikan semuanya."
Lanse tidak mengatakan apa pun lagi setelah aku mengucapkan hal itu. Mungkin, ia tidak tahu apa yang harus ia tanyakan maupun apa yang harus ia katakan ketika melihat ekspresiku ketika mengatakan semua itu.
Keesokan harinya, aku merupakan orang pertama yang terbangun dan bersiap menghadapi apa pun yang akan muncul di tempat ini. Makhluk terakhir, iblis terakhir. Akulah yang akan menyelesaikannya.
Sesuai dugaanku, tepat saat sinar matahari violet mengenai gedung Elendall, sebuah portal terbuka tepat di hadapan gedung Elendall. Sebuah kepala tengkorak yang begitu besar mencuat diiringi dengan bayangan hitam yang membentuk tubuh kepala tengkorak tersebut.
"Bane..." Aku membisikkan namanya dan menatap kagum kemunculan makhluk itu.
Karena suatu alasan, ketika mata Bane menangkap keberadaanku, ia terlihat bingung. "Kau..."
Tidak ada ucapan yang berarti yang perlu kudengarkan lagi, aku pun melesat ke arahnya dengan pedang yang kutarik keluar dari dalam portal kecil yang kuciptakan di telapak tanganku. Sebuah pedang dengan ukiran dalam bahasa Ibrani yang kutudingkan padanya membuat Bane terlihat enggan menyerang dan hanya berusaha melindungi dirinya sendiri.
"Serang aku! Aku akan menyelesaikan ini semua!" geramku membuat keraguan dalam diri Bane menghilang.
Makhluk itu melayangkan sabit besarnya ke arahku dengan cepat membuatku langsung melompat mundur ke belakang. Berkali-kali ia mengayunkan senjatanya itu, tapi tindakannya tidak kian membuahkan hasil.
Kesal, Bane mulai menggumamkan sebuah mantera yang langsung membuatku terbelalak. Bola-bola yang terbentuk dari bayangan hitam mulai terbentuk di sekelilingnya. Dengan kecepatan tembakan sebuah laser, bola-bola hitam itu melesat ke arahku. Kekuatannya yang besar membuat tanah di sekelilingku hancur dan membuat pandanganku kabur.
Dari arah gedung, aku bisa mendengar seseorang berteriak, "LUKE!!"
Lanse.
Walaupun berhasil menghindari sebagian besar serangannya, satu bola hitam berhasil menciptakan lubang besar di pinggang bagian kiriku. Darah mengalir deras membuat tekadku untuk menyelesaikan adegan ini lebih cepat menjadi semakin bulat.
Akan segera selesai, pikirku.
Sebuah senyuman kemenangan menghiasi wajahku ketika melihat Bane telah melangkah masuk ke dalam jebakan yang kusiapkan selama dirinya mengayunkan sabit itu dengan liar. Dengan pola pentagon yang kugunakan untuk menghindari serangannya, aku berhasil menyelesaikan sebuah persiapan untuk serangan yang kusebut dengan 'Pandemonium'.
Aku menutup mataku dan berucap, "Pandemonium..."
Cahaya hitam mulai mencuat dari setiap titik dan membentuk sebuah pentagon mengelilingi Bane yang hanya menatapku. Tidak ada pandangan kesal atau benci dari tatapan matanya. Hanya sebuah pandangan penuh hormat.
"Aku akan menunggu kepulanganmu, Putera Fajar," ucapnya sebelum sepenuhnya menghilang tanpa jejak.
"Luke!!"
Suara teriakan Lanse membuatku menoleh, wajahnya yang terlihat khawatir membuatku tersenyum. Tapi, berusaha terlihat kuat tidak bisa lagi kulakukan. Tubuhku terjatuh ke belakang dengan suara dentuman yang keras. Tapi, kejatuhanku itu tidak lagi bisa membuatku merasa kesakitan, bahkan luka yang ditorehkan oleh Bane tidak lagi terasa.
Lanse jatuh berlutut di sampingku dengan wajah khawatir. "Oh, tidak..." Ia bergumam melihat luka yang berada di pinggangku. "Bertahanlah, Luke! Komunikasi sudah kembali normal, aku baru saja menghubungi markas utama dan mereka sedang mengirim bantuan kemari."
Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Tidak perlu, Lanse."
"Apa maksudmu?!"
Mataku menatap matahari yang tadinya berwarna Violet perlahan berubah menjadi berwarna kuning cerah yang normal. Sinarnya yang membutakan membuatku menutup mata. "Apa yang dikatakan oleh markas utama ketika kau menceritakan kejadian ini?"
Lanse terdiam sesaat. "Selama tiga hari, iblis menyerang markas utama dan setiap pelosok dunia habis-habisan. S-sebagian besar yang selamat hanyalah mereka yang memiliki kekuatan seperti kita, anggota maupun yang bukan anggota dari Guardians." Lanse menutup matanya untuk menahan sesal.
"Ini baru awal, Lanse." Aku berkata membuatnya terbelalak. "Awal pergantian zaman. Para makhluk magis akan kembali, kalian... manusia yang memiliki kekuatan lebih akan dengan paksa dihadapkan dengan perang antarras."
"Apa?!"
"Alasan para makhluk magis tidak berani melangkah masuk ke dalam komunitas manusia adalah karena jumlah kalian terlalu banyak, bahkan para manusia biasa merupakan sebuah ancaman untuk mereka. Sekarang, dengan jumlah kalian yang berkurang drastis, para makhluk magis akan mengambil kesempatan untuk membalikkan keadaan," jelasku membuat ekspresi Lanse berubah menjadi sesuatu yang dikenal dengan kengerian.
Tiba-tiba, aku berdiri membuat Lanse panik. "Hei! Jangan berdiri dengan luka seperti—!" Ucapannya terhenti melihat lukaku yang telah sembuh sepenuhnya. "Hilang..." Kecurigaan mulai terpampang jelas di setiap inci wajahnya. "Bagaimana kau bisa mengerti mengenai semua ini? Kenapa kau merujuk kepada manusia dengan kata 'kalian'? Lalu,"—Lanse melangkah menjauh dari diriku—"bagaimana mungkin lukamu bisa menghilang begitu saja?"
Perlahan, lidah-lidah api berwarna hitam muncul dari tanah menyelimuti diriku. Aku berkata tanpa membalikkan tubuhku ke arahnya. "Lanse..." Aku berbalik menatapnya dengan mata yang berubah menjadi warna merah.
Lanse semakin melangkah mundur menjauh dari padaku. "Mata itu..." ucapnya. Matanya melayang ke pedang yang berada di tanganku. "Pedang itu, kekuatan peniadaan, lambang kegelapan..." Ekspresi tak percaya menghiasi wajahnya. "Kau adalah..."
"Cukup lama bagimu untuk menyadari semua itu, Lanse," balasku membuat ekspresi di wajahnya berubah menjadi marah.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku memberikan dirinya sebuah peringatan. "Siapkan dirimu Lanse. Siapkan juga seluruh umat manusia untuk kedatanganku yang berikutnya." Terlalu lama berada di dunia manusia membuat hatiku menjadi lemah. Seharusnya, aku tidak memberitahukannya hal ini. "Karena kali kedua aku, sang Bintang Fajar, bertemu dengan kalian, itu adalah saatnya kau menghadapi kami, para makhluk magis, yang menuntut keadilan dan pengembalian kekuasaan dunia ke dalam tangan kami."
Ekspresi marah pada wajah Lanse yang biasanya tenang sempat membuat tubuhku meneriakkan protes agar segera pergi. "Aku akan membunuhmu," ucapnya. "Demi Yua, Leathea, dan semuanya."
Lidah-lidah api yang semakin besar menghalangi pandanganku terhadap Lanse dan sebaliknya. Sebelum aku benar-benar menghilang dari pandangannya, Lanse mengucapkan namaku... nama asliku.
"Lucifer."
Aku tersenyum. "Aku akan menunggu saat itu tiba."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top