21. The Missing Puzzle
Untuk sahabat ane di Magetan tengs buat kritikannya.
Rate di bawah 17+ diharap tidak membaca part ini.
Yuhuuu selamat membaca
Jin
Beware to a guy with yellow jacket!!!
Bayu menutup aplikasi pesan whatsapp. Mendesah berat sambil mengusap mukanya frustasi. Kepulan asap rokoknya melompat-lompat diterpa kipas angin. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi putar. Kedua iris madunya mensktetsa dua pemuda yang duduk di hadapannya.
Nico sesekali membenarkan letak frame-nya yang melorot ke hidung, sementara Rizal memainkan pulpen di antara ruas-ruas jarinya.
"Jadi gimana nih Mas Bay?" suara Nico mengalun, "Panitia penyelenggara Baronas kemarin telfon, mengkonfirmasi tim kita dalam perlombaan nanti."
"Kita sudah nggak mungkin lagi membuat robot baru Mas Bay, sementara droone kita seratus persen nggak bisa diselamatkan. Bagaimana kalau kita mengikutsertakan robot yang pernah kita buat aja dalam Baronas nanti?" Rizal membenarkan posisi duduknya, memandangi Bayu penuh harap.
"Selama hampir empat tahun aku menjadi tim Mas Bay, sekalipun kita nggak pernah mangkir dalam perlombaan robot dimanapun itu. Tingkat regional, nasional. Nggak peduli kita menang atau kalah, tujuan utama kita kan meng-robotkan pendidikan. Ayolah Mas Bay, apapun robotnya, pokoknya tahun ini kita harus ikut perlombaan itu."
"Kita punya stock robot lumayan banyak di laborat. Ada robot pendeteksi kebocoran gas, robot pendeteksi panas, robot pendeteksi emosi tumbuhan, robot penetas telur, dan masih banyak lagi yang pernah kita bikin tapi belum pernah kita ikutkan lomba," timpal Rizal, mengingat kembali list robot yang pernah mereka buat setahun terakhir ini.
Bayu mendesah, mengetuk ujung rokok untuk membuang abu yang menumpuk di sana. Pikiran Bayu benar-benar berkecamuk sekarang. Semua puzzle dalam hidupnya berlubang dan meninggalkan ruang-ruang kosong. Hidupnya tak lengkap, ada pertanyaan besar yang menganga minta berpuluh-puluh jawaban. Masalahnya, Bayu nggak tahu harus mengeja jawaban itu seperti apa. Jangankan untuk mengeja, meraba alfabet dari tiap masalah yang mengintip minta disibak pun rasanya masih tabu.
Puluhan whatsapp dari Jin yang diterimanya seminggu terakhir ini benar-benar membuat Bayu nggak tenang, apalagi ditambah laporan Andis tentang perkembangan demo yang akan diselenggarakan besok. Seakan semua informasi yang saraf pengelihatannya tangkap tersebut, semakin mendekatkannya dalam marabahaya yang masih terpenjara dalam demo besok.
Besok? Ya ampun besok?
Kewaspadaan Bayu meningkat. Naluri dasar manusianya, bertahan hidup, terus membunyikan genta dalam tiap langkah kakinya. Orang Berjaket Kuning?
Bayu bertanya-tanya, pesan-pesan Jin selalu mengarahkan Bayu untuk waspada dengan orang berjaket kuning. Jika nanti para demonstran-nya berjumlah tak kurang dari sepuluh orang sih, Bayu nggak akan sepanik sekarang. Tapi bleh, yang namanya demo mana ada pengikutnya sedikit. Minimal seratusan oranglah, apalagi kata Andis, yang bakal ikut demo ntar tak kurang dari 500 orang. Bah, yang pake jaket kuning nggak Cuma sebiji dua biji kan? Trus Bayu mau waspadain siapa?
Namun entah mengapa, kewaspadaan pemuda bertubuh kapur tulis tersebut, selalu bermuara pada sosok Yani yang selama seminggu ini, mengadakan praktik di salah satu rumah sakit swasta di daerah Sidoarjo.
Bayu sendiri juga bingung, kenapa kali ini intuisinya sangat gemar mengarahkan praduga-praduganya pada sosok Yani? Dia memiliki alibi cukup kuat kan? Dan lagi, dalam sejarah demonstrasi di Indonesia, mahasiswi akper hampir tidak pernah tercatat jejak kakinya.
Bayu mengangguk dengan tatapan menerawang. Dasar retina coklat mudanya menembus teralis-teralis jelaga pekat yang mangancamnya. Demi Tuhan, hidupnya selama dua puluh tiga tahun ini selalu tenang dengan ideologi bebasnya, kenapa sekarang setiap dia melangkah ada ceruk ranjau yang kapan saja bisa meledakkannya?
"Kamu atur aja gimana enaknya lah Nic, aku nurut aja. Sudah saatnya kalian menentukan pilihan, apalagi kalian mahasiswa akhir. Seharusnya sudah dari dulu kalian memimpin proyek-proyek robotic kita," balas Bayu mengulas sebuah senyum lelah, memutar-mutar kursi putarnya. Dari sudut pandang, dia melihat Bram yang berkutat dengan notes yang selalu dia bawa kemana-mana.
Siang ini, basecamp mapala menyisakan sedikit orang. Yasin pergi keluar begitu mendapat telfon dari Anjas, entah mengenai apa. Sementara Bram, tampak mengadakan sedikit pengarahan dengan beberapa anggota mapala, mendiskusikan pendakian selanjutnya.
"Tapi Mas Bayu nanti bakal ikut kan pas perlombaan ntar?" Rizal memberi penegasan. Diliriknya Nico yang lagi-lagi membetulkan letak kacamatanya dengan ujung telunjuk.
"Ya pasti aku ikutlah, robotkan dunia aku yang kedua setelah gunung," jawab Bayu mengangguk mantab, senyum manis terukir di sudut bibirnya, tumpang tindih dengan gemawang asap putih dari rokok kretek yang terus menghajar pernafasannya.
Ponsel Bayu berbunyi lagi.
Jin
Sebnarnya siapa yg pgen banget ngebunuh lo Jun? Knp org yng pgen mclkakan lo pnya dndam sgtu kuatnya buat lo?
Bayu mengernyit, jantungnya berdebar nggak karuan. Dia nggak tahu harus menjawab apa. Jika Bayu ditanya, apakah dia punya seseorang yang dia benci selama ini, Bayu akan menjawab tegas dengan dua huruf, YA. Tapi kalau Bayu ditanya apakah ada yang dendam dengan Bayu, Bayu nggak tahu. Selama ini hidupnya sejajar dengan kebaikan yang coba dia tawarkan kepada siapapun mereka. Namun, entah juga lah, siapa tahu diantara benih kebaikan yang Bayu sebar, beberapa ada yang menuai buah bongkeng.
"Ya udah Mas Bay, kalau gitu kami ke laborat dulu, mau menentukan robot yang akan kita ikut sertakan Baronas."
Bayu mengangguk sambil tersenyum, asap rokoknya berdansa seiring kepergian dua adik tingkatnya. Dia menghadapi lagi layar Iphone yang masih menyala, yang memamerkan barisan huruf-huruf tegak dari Jin. Namun, belum sempat jempolnya memberikan jawaban yang menggantung di liang memorinya, benda tipis tersebut menyala dan berbunyi lagi. Pesan dari Jin tersemat di bawah pesan yang belum terjawab. Kali ini jauh lebih panjang dari pesan yang sudah-sudah.
Jin
Jun setan, lo bnar-bnar bkin gw jntungan dengan pnglihatan gw ttg lo. Lo prgi demo berarti mati. Dan gw brsumpah, gw bkal terbng ke Sbya klo sampe gw denger lo tnggal mayat doang pulang dari demo. Tpi klo gw dnger lo smpe g jadi ikutan demo, hnya gara-gara ada orang yg mw ngebunuh lo, gw berjanji bakal tulis satu kata dgan huruf besar di nisan lo. BENCONG!!! Gw nggk pnya bro pngecut, Indonesia malu pnya pemuda yg tkut berjuang. Tp Jun, klo lo pngen pulang, lo nggk btuh peta untk ke rmah gw. Di rmah gw slalu ada secangkir kopi pekat buat peretas ketakutan lo, di beranda gw slalu ada Dji Sam Soe untk melebur taik anjing yang ada di otak lo. Gw tw lo btuh gw. Klo ini mlbihi batas kekuatan lo, just go home and let me erase all of your fucking shit anxiety.
===
Bayu memacu gegas langkahnya ke area parkiran Fakultas Teknik, tadi sebelum dia memutuskan untuk pulang, dia sempatkan dulu untuk berkunjung ke laborat elektro, memastikan pekerjaan tim roboticnya dalam persiapan Baronas.
Setelah ngobrol sebentar dengan Jin beberapa jam lalu di telfon, Bayu merasa beban yang dijinjing kedua bahunya terasa sirna. Sekarang dalam pikirannya, jika dia akhirnya mati dalam acara demo nanti, maka, mungkin memang takdirnya seperti itu. Persetan dengan dengung Yani yang sirine bahaya tubuhnya raungkan. Asal ular berbisa itu tidak sampai menyakiti Mike, Bayu tidak memiliki kepentingan berlebih untuk mengawatirkannya.
Bayu memutar-mutar ponselnya, sambil melompat-lompat melewati anak tangga. Kekehan mengerikan terkembang lagi di wajah menakutkannya yang selama ini hilang entah kemana. Dari sibakan surai berantakannya, tercium aroma melon, senada dengan shampo yang dia dan Mike pakai keramas tadi pagi. Gigi-gigi kecil kuningnya mengintip menawan, saling menyusul dengan asap dari rokok entah keberapa batang siang itu.
Kali ini dia pengin banget ke bengkel Bang Reza, mungkin sorenya ngajak Gaple skateboard-an di Bungkul bareng Erick. Atau kalau nggak, dia ingin ngusilin abang gaharnya bernama Gahar yang sering banget marah-marah. Ngajakin touring kecil-kecilan, mengelilingi Gresik, sebelum besok, berjuang bareng Andis dan ratusan Aliansi Mahasiswa Surabaya untuk berdemo di Kapolda Jatim. Lalu nanti malam, entah kesusupan setan binal seperti apa, Bayu pengen banget menggoda majikannya untuk ngentot. Yah siapa tahu aja, entot perpisahan gitu, sebelum dia dan segenap pantatnya terbujur kaku di medan perang. Ah, pokoknya isi otak di kurungan batok kepala pemuda setipis kapur tulis itu lagi nggak waras deh.
Bayu bersiul, nada merdu bertasbih nista dari lipatan bibir kenyalnya yang tersumpal sebatang tar yang tinggal separo. Memasukkan ponsel pemberian Gempita ke dalam saku, mengambil kontak Nobita dan sudah akan berbelok ke arah buntut skuternya yang sudah terlihat, tatkala seseorang berbadan tinggi dari arah berlawanan melanggar garis tubuhnya.
Bayu terhuyung beberapa langkah ke belakang dan langsung meratap pilu seperti tangisan anak tiri ketika netra madunya menangkap dengan gerakan slow motion, batang rokoknya lepas dari bibirnya, lalu jatuh anggun dan menggelinding dengan sangat menawan sebelum berakhir ke kolong got.
'Rokok terakhir ku,'
Bayu menengadah, dan pupilnya menciut terbirit-birit.
Laki-laki tua, bertubuh ramping, dengan kulit putih, rambut selaksa helaian perak keperakan, serta ain hijau tenang tapi merampas, menjulang tak terbantah di hadapan Bayu. Dengusan kasar berhawa tidak suka, kocar-kacir dari ujung hidung bengkoknya.
Bayu sedikit ketakutan. Menangguhkan liurnya sukar. Dia tersenyum kecut, sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada rektornya, lalu mencoba melintasi lekukan tubuh menawan tersebut sebelum jemari panjang nan kurus milik Pak Burhan mencengkeram daging terepes membalut pundaknya.
"Apa lagi yang kali ini kamu rencanakan?" suara tegas, berwibawa, dengan aksen indah tapi meluluhlantakkan terdengar dari dekat cuping telinga Bayu.
Rahang Bayu mengeras, senyum kecutnya lindap, kedua tangannya mengepal kuat. Bayu melangkah ke hadapan Pak Burhan, sedikit memicingkan matanya.
"Maaf, tapi sepertinya apapun yang saya lakukan tidak ada hubungannya dengan Anda," suara bariton Bayu berbisik di tenggorokan.
Satu dengusan lolos lagi, menerpa jaringan kulit Bayu. Pak Burhan menatapnya arogan.
"Apakah kamu mau menghancurkan kampus saya? Apakah kamu akan mencuci otak semua mahasiswa saya, supaya mereka memiliki kelakuan bodoh seperti kamu? Selama kampus saya berdiri, Cuma kamu mahasiswa di sini yang tidak bisa lulus-lulus."
"Maafkan saya Pak Burhan, tapi saya tidak akan sudi lulus sebelum seseorang mengembalikan sesuatu yang pernah saya miliki."
Netra hijau itu membunuh Bayu seandainya mereka dua bilah clurit. Cara pandang tajam, meremehkan, sangat tidak suka dan sangat menganggap Bayu hanyalah seonggok sampah berpendar kuat dari dasar retinanya.
"Kamu tidak pernah memiliki sesuatu, mengapa sampai kamu merasa kehilangan?"
Bayu tersenyum miring, menyenggol bahu angkuh Pak Burhan, kemudian berlalu sebelum ucapan yang dia dengar berikutnya benar-benar membuat Bayu nyaris kehilangan kontrol.
"Seperti itu cara kamu berkelakuan terhadap orang yang lebih tua dari kamu?"
Bayu berbalik. Menatap sinis, "Maaf Pak, saya tidak memiliki orang tua yang bersedia mengajarkan saya sopan santun."
Bayu nyaris berbalik, tapi lagi dan lagi Pak Burhan mengusik pendengarannya.
"Saya tidak akan mengijinkan kamu untuk demo besok."
"Itu bukan urusan Bapak."
"Saya rektor kamu, saya berhak atas kamu," Pak Burhan mendekat, menyeringai menakutkan, "Akan saya hancurkan apapun yang menjadi rencanamu dan menghambatmu menyelesaikan skripsi. Saya pastikan tahun depan nama kamu tercatat sebagai salah satu wisudawan dari kampus saya. Saya tidak sudi, kampus saya memiliki mahasiswa abadi seperti kamu."
"Anda tidak―
"Apa hancurnya robot buatanmu dan teman-temanmu masih kurang menghambat langkahmu menyusun skripsi Sa―
"Maksudnya?" Bayu mengernyit. Dadanya berdebar tidak tenang, nafasnya terlerai sepenggal demi sepenggal.
Pak Burhan terhenyak, bibir merah pucatnya mingkem.
"Jadi maksudnya, Anda―"
Bayu memejamkan mata kuat, emosi itu, kemarahan itu, yang selama ini bercokol tidak tahu diri dalam nalurinya, tercetak nyata di balik pori-pori kepala Bayu. Kedua belah bibirnya tertekuk tipis. Kemudian dia membuka kelopaknya, mengangsurkan nafas lebih lega secara paksa.
"Saya tidak tahu, jika selama ini saya mempunyai rektor yang sangat bisa menggagalkan kesuksesan mahasiswa-mahasiswanya sendiri hanya untuk sebuah ambisi. Oh, seperti ini namanya sebuah instansi pendidikan? Seharusnya saya sudah menduga lebih awal bahwa Bapaklah yang berada di balik dalang penghancuran robot saya. Seharusnya saya tidak bingung-bingung mencari orang yang patut disalahkan, yang sudi merepotkan diri mematikan seluruh cctv di gedung teknik hanya untuk merusak droone saya. Seharusnya saya, seharusnya saya, ya seharusnya saya―" segala kemarahan Bayu yang meledak-ledak tersebut, tiba-tiba bermuara pada satu pusaran emosi yang dia buat sendiri. Sangat mungkin, dan berkolerasi, "Seharusnya saya sudah menduga bahwa Bapaklah satu-satunya orang di muka bumi ini yang menginginkan saya mati."
Satu alis keperakan Pak Burhan naik, keningnya mengernyit, dia tersenyum. Miring.
"Saya memang sangat menginginkan kamu lulus dari kampus saya. Saya memang tidak mau citra kampus saya mejadi jelek hanya gara-gara memiliki satu mahasiswa bodoh di dalamnya, tapi―" Pak Burhan mencondongkan tubuhnya, kembali mencengkeram bahu Bayu, meremasnya, "Saya memiliki kekuatan terlalu besar hanya untuk melakukan hal remeh temeh sedemikian menjijikkan jika saya memang menginginkan mahasiswa saya sendiri hancur. Kamu tahu, kejahatan yang kamu tudingkan kepada saya, sangat melukai keangkuhan seorang Satya L―
Ponsel Bayu memekik. Pak Burhan tersentak, melepaskan cekalan tangannya, berdiri tegap kemudian meninggalkan Bayu begitu saja.
Bayu berpaling gusar. Meninju udara bebas di sekitarnya. Di tariknya ponsel dari dalam saku. Nomor tak dikenal berkedip minta diangkat.
Dia menyentak tombol hijau yang diangsurkan layar ponselnya dan sudah mencak-mencak nggak ketulungan, tatkala suara tegas dari sebrang sana membungkam seluk beluk emosi Bayu.
"Lencana―"
Bayu berkedip nggak percaya. Bahkan, dada terepesnya sangat berani menahan nafas, hanya demi memastikan namanya disebut dengan berbeda oleh orang di sana.
"Mom―"
Satu senyum kecil terukir mengerikan di wajah Bayu yang berjambang liar. Sudut bibir berpayung kumis tipisnya berkedut-kedut menjijikkan.
"Ehm," Bayu berdeham sok cool, "Ya," dia mendesah, maunya sih menciptakan kesan seksi, mengingat bagaimana nanti malam dia merencanakan pengen ngentot perpisahan dengan majikannya tersebut, namun, suara yang mengalun dari batang tenggorokannya, malah kayak suara pekikan kodok disunat minta kawin.
"Kamu dimana mommy?"
Haduh, roman-romannya kalau Panji memanggilnya mommy, dia ingin Bayu balik menyebutnya daddy. Ya ampun, romantis banget deh pokoknya, hiruk pikuk romansa lanjut usia Bayu dan Panji.
"Aku ada di parkiran kampus―," Bayu celingak-celinguk, memastikan tidak ada satu centel telingapun yang bisa menyadap kelanjutan kalimatnya, "―Dad. Ada apa?"
"Kamu pulang nanti malam?"
Bayu menggaruk tengkuknya, cengengesan nista.
"Mungkin, besok aku nggak libur kerja. Jadi pasti aku pulang ke rumah mu, ehem Dad." Demi Tuhan bleh, Bayu itu benar-benar sosok berbanding terbalik dengan rona-rona merah di pipi gitu. Blushing di kedua belah pipinya, malah membuat kesan semrawut di tampang kurusnya jadi terlihat semakin menakutkan dan minta dibacok. Lubang anusnya berkedut, berimajinasi dengan entotan rasa sayonara. Sebelum dia mati, dia ingin rahimnya banjir sperma dari Panji. Eh ― Bayu tidak memiliki rahim. Dia khilaf. Pemikirannya benar-benar minta digampar siang itu.
"Ada apa?" lanjut Bayu.
Tidak ada jawaban. Hanya desahan sexy nafas Panji yang membelai saraf pendengarannya. Dan itu jauh lebih mengacengkan nobita kecil di balik sempak doraemonnya yang baru Bayu beli kemarin sore, dua puluh ribu dapat tiga.
"Saya hanya ingin melihat kamu Mom. Saya ingin makan malam dengan kamu," jeda lagi, dan nyawa Bayu melayang di ambang batas, sebelum perkataan Panji berikutnya menjatuhkan kembali nyawanya ke dasar jurang, "Saya kesepian tidak ada Yani di sini."
Bayu tertawa miring. Mendengus datar dan melengoskan pandangannya menyisiri area parkir yang tidak begitu rame. Lama tidak ada lanjutan dari Panji, sampai Bayu yakin panggilan telfon sudah diakhiri secara sepihak. Dia menarik ponsel ke hadapannya, lalu menyematkannya lagi di sisi kuping, benar-benar tidak ada tanda kehidupan dari seberang sana dan Bayu sudah mulai gusar pengen mematikan sambungan tatkala suara Panji meledakkan dengusannya.
"Saya juga kangen sama kamu Mom. Baiklah, saya lanjutkan pekerjaan saya. Erm―"
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
"Jangan lupa makan ya Mom. Jaga kesehatan kamu!"
Ya ampun, apa-apaan itu tadi.
===
Bang Reza membawakan secangkir kopi hitam ke hadapan Bayu. Dia kemudian mengambil rokok pemberian Gaple yang menyumpal bibir Bayu, membuang dan menginjaknya begitu saja. Tubuh toplesnya penuh dengan tatto aneka macam. Tepat di dada sebelah kirinya, terlukis indah nama Steven dengan bentuk kaligrafi.
Dia menghempaskan pantatnya di sebelah Bayu, mendesah berat, mengambil cangkir kopi bagiannya dan menyesapnya perlahan. Kepulan asap putih tipis menciptakan siluet wajah penuh tindiknya.
"Gue ama Steven belum bisa memecahkan kode virus yang menjangkiti laptop temen lo," suara Bang Reza mengetuk gendang telinga Bayu, "Waktu kami seminar di Malang, dan kami tunjukkan jenis virus di laptop itu, para peserta seminar pun nggak ada yang tahu dan bisa memperbaikinya. Sampai akhirnya, saking gregetannya Steven ama virus itu, dua hari lalu dia balik ke negaranya untuk menjumpai salah satu peretas handal yang pernah dimiliki Selandia Baru," Bang Reza mengambil setengah jeda, "Lo tahu Bay, lo sedang berhadapan dengan monster mengerikan di dunia jaringan komputer."
Bayu tersenyum kecut. Miris dengan nasib rokok pemberian Gaple beberapa waktu lalu yang berakhir di bawah injakan Bang Reza, sementara stock gulungan tembakaunya sudah habis tak bersisa. Dia benar-benar mau menagih empat puluh bungkus rokok Dji Sam Soe yang sudah Andis janjikan kepadanya. Jika sampai tuh pemuda blesteran cina nggak menepati janjinya, Bayu sudah berancang-ancang ingin memberi balasan setimpal buat andis. Oh, Andis memang adik kesayangan Bayu selain Gempita. Di depan Andis, Bayu bisa selalu tersenyum manis walaupun tatapannya teritimidasi, tapi kali ini, dia nggak mau berbaik budi ama Andis. Prosesi bercumbunya dengan demo harus mendapat ganjaran senilai. Empat puluh bungkus rokok. Nggak boleh kurang, kalau lebih, wow pemuda berdada terepes tersebut mau banget.
"Sebelum gue ama lakik gue berkubang terlalu jauh dalam masalah lo, ada yang pengen gue tanyakan ke lo dulu Bay. Pertanyaan yang pengen gue tanyakan sejak pertama kali gue ngelihat lo di Kanvas."
Bayu terkesiap. Bang gahar dalam Kanvas emang paling ditakuti karena kegarangannya, tapi Bang Reza, paling disegani karena kewibawaannya, yang selalu bisa mengorek dan mengendalikan apapun. Dan Bayu, waspada sekarang. Selama ini, belum ada yang bisa melawan Bang Reza, bahkan Bang Gahar sekalipun.
Bayu mengangguk lamat-lamat.
Bang Reza memakunya dengan pancaran mata tajam, "Siapa lo sebenarnya?"
Punggung Bayu menegak. Kedua telapak tangannya bertaut, saling meremas. Bulu romanya merinding.
"Sepulang gue dari Auckland lo tahu-tahu udah masuk Kanvas. Gue nggak tahu latar belakang keluarga lo. Gue nggak tahu nama kedua orang tua lo. Gue bahkan nggak tahu nama lengkap lo. Lo hadir gitu aja dan merampas semua perhatian Kanvas. Jujur pada gue Bay, jujur tentang jati diri lo sendiri. Siapa tahu gue bisa menarik benang merah dari kasus droone dan virus di laptop temen lo. Kalau lo emang mau banget gue bantu, setidaknya bantulah abang lo ini untuk mengenali siapa Bayu S. Lencana?"
Tidak ada jawaban. Bayu masih bergeming.
Bang Reza mendesah berat, menyandarkan punggungnya di sofa reyot yang penuh ngengat. Mengusap rambut gimbal Bob Marley-nya frustasi.
"Lo tahu Bay, penyesalan terbesar dalam hidup gue?" ain Bang Reza berselasar menerabas tirai waktu, raut mukanya berubah murung, dan segala pijar-pijar yang tadi menyala menuding Bayu, lenyap begitu saja, "Gue bela-belain tinggal di Surabaya, meninggalkan bokap, nyokap serta kakak gue di Bandung, hanya karena gue jatuh cinta dengan Surabaya dan karena gue pengen menjaga eyang kakung gue yang tinggal seorang diri. Selama tiga tahun gue menetap di Surabaya, hasrat berpetualang gue timbul gitu aja. Sampai akhirnya, di usia delapan belas tahun, karena gue nggak bisa membendung birahi liar dalam diri gue, gue memutuskan backpackeran ke Selandia Baru. Gue Cuma setahun Bay di sana. Tak lebih dari dua belas bulan. Tapi gue mendapat ganjaran yang sangat berat Bay. Setahun itu, gue kehilangan orang tercinta gue, eyang kakung gue. Satu-satunya manusia di muka bumi ini yang sangat gue sayangi, melebihi kasih sayang gue ama orang tua gue. Dan sedihnya Bay, gue nggak ada di sampingnya saat eyang gue menghembuskan nafas terakhir."
Bang Reza menyesap kopi hitamnya, mengambil singlet hitam yang terselampir di punggung sofa, kemudian mengenakannya. Dia bangkit dari tempatnya duduk. Melayani pengguna jasa bengkelnya yang ingin membayar tagihan bill dari balik meja kasir.
Gaple kemudian masuk, mengambil sebuah knalpot modifikasi yang tergantung di salah satu sisi tembok. Muka coklat eksotisnya belepotan oli kotor, dia mendekati Bayu, tersenyum menawan, lalu menyeruput gitu aja kopi Bayu yang setengah dingin. Melap telapak tangannya yang penuh dengan oli ke kaos putih dekilnya, lalu kembali ke bengkel tatkala namanya dipanggil salah satu pengguna bengkel tersebut.
Telpon di dekat meja komputer berdering, Bang Reza tersenyum kepada konsumennya sebagai penutup transaksi jual-beli, lalu mengangkat gagang putih telpon tersebut. Senyum tulus dan penuh cinta terukir di raut muka penuh tindiknya.
"Ya dear, kamu baik di sana? Jangan lupa mengenakan jacket sayang, aku tahu di sana sedang musim dingin........ heeh...... iya..... sudah bertemu dengannya? Apa?.... iya, iya, kamu laporin terus perkembangan virusnya ke aku sayang..... iya... Bayu di sini..... aku sedang mengintrogasinya........ baiklah Steve jaga dirimu. Aku sayang padamu.... muaach..."
Bayu bergidik sedikit ngeri. Bang Reza yang selalu lo-gue ama semua orang, ceplas ceplos nggak ketulungan itu, berwibawa luar biasa itu, tiba-tiba saja menjadi manis seperti gula-gula penuh sayang di hadapan seorang Steven, mana senyumnya terkembang terus lagi. Benar-benar luar biasa pesona bule gigantisme tersebut.
Bang Reza menutup telfonnya, mengambil beberapa kunci busi dari rak penyimpanan dan mengangsurkannya pada Gaple yang sedari tadi berteriak-teriak minta benda tersebut. Bang Reza mendekati Bayu lagi, menenggak sebotol air minum kemasan yang ada di sana, kemudian menepuk paha Bayu yang masih berenkarnasi antara alam sadar dan tidak sadar, masih sibuk menelaah kemana arah bicara Bang Reza yang tubuhnya full tatto tersebut.
"Bang, sebenarnya apa yang mau abang omongin padaku?"
Bang Reza tersenyum, "Gue dengar cerita anak-anak sanggar kalau lo hampir mati di acara kampus beberapa minggu lalu."
Bayu mengangguk samar.
"Katanya, dua lampu raksasa yang ada di atas bangku tempat lo duduk tiba-tiba jatuh gitu aja."
Lagi-lagi Bayu menangguk.
"Mendengar cerita dari anak-anak sanggar, dan melihat bagaimana orang menghancurkan droone lo dan menginvasi laptop temen lo dengan virus mematikan, cukup membuat gue menarik satu kesimpulan, bahwa lo lagi berada dalam bahaya besar."
Bayu tahu itu, bahkan besok dia berniat mendatangi marabahaya itu demi empat puluh bungkus rokok kretek berbungkus hijau yang sangat menggiurkan.
"Lo mengingatkan gue pada seoarang anak Bay," Bang Reza menghela setengah nafas, "Sehari sebelum eyang gue meninggal, beliau menelpon gue Bay. Waktu itu, beliau menginginkan gue untuk pulang tapi gue tetap bertahan di sana," gemawang awan hitam berarak di dasar kornea Bang Reza, "Beliau bilang 'Ja, pulang le, eyang sakit. Nggak ada yang ngerawat, orang tua kamu nggak datang menjenguk eyang. Eyang udah telpon tapi mereka sibuk.'"
Bang Reza membusungkan dada, sudut mata hitamnya tercederai setitik embun air mata yang mencuri malu-malu, menghela nafas berat lalu menghembuskannya pelan.
"Bay, itu peristiwa yang sampai saat ini belum gue temukan obat buat penawar penyesalan yang terus membayangi gue. Sebulan gue seperti mayat hidup di Auckland gara-gara gue nggak ada di samping eyang sewaktu beliau menghembuskan nafas terakhir. Tapi lo tahu Bay, yang bikin gue penasaran sampai sekarang?"
Bayu menggeleng, kali ini sedikit gentar, nyalinya menciut tiba-tiba.
"Kalimat terakhir eyang gue Bay, sebelum beliau menutup telponnya,"
Bayu berdeham, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba meranggas.
"'Ja, kalo eyang sudah meninggal, kamu lindungi adi kamu. Kasihan, dia sedang dalam bahaya. Cuma eyang yang dia percaya di sini.'"
Tubuh Bayu menengang, keringat dingin berselancar satu-satu. Matanya membulat, bibirnya pucat.
"Gue bingung Bay, gue nggak pernah memiliki seorang adikpun di dunia ini. Satu-satunya sodara yang gue punya Cuma kakak gue. Setelah gue balik lagi ke Surabaya dari perjalanan travelling gue, gue nggak menjumpai adik yang eyang gue maksud. Gue tanya ke Gahar, dia bungkam. Sampai sekarang Bay, sampai detik ini mulut gue dongengin cerita masa lalu gue ke lo, sosok adik tanda kutip yang eyang titipkan ke gue, nggak pernah gue jumpai. Sepuluh tahun Bay, dan cerita adik itu ikut terkubur bersama jenazah eyang gue. Gue harap siapapun adik itu, dia bukan lo, walaupun nggak tahu kenapa, intuisi gue selalu mengarahkan lo sebagai jawabannya. Anak-anak Kanvas tahu kalau lo juga punya eyang. Tapi di antara kita semua, Cuma Gahar lah yang kenal siapa eyang lo. Cuma dia yang menaruh hormat sedemikian tinggi buat eyang lo. Gue nggak tahu Bay, apakah dua potong kisah tersebut memiliki satu nyawa atau memang kebetulan mampir di mimbar gue."
Bang Reza memegang bahu Bayu, meremas kecil-kecil, kemudian lanjutnya, "Percaya gue Bay, mendiang eyang gue itu orang yang sangat kuat yang pernah gue kenal di muka bumi ini. Beliau seorang veteran, panglima perang saat Indonesia dalam masa penjajahan Belanda. Dan jika beliau mengumbar kata bahaya, itu berarti situasinya benar-benar dalam bahaya. Gue sangat takut dengan adik yang eyang gue sebut di telpon terakhirnya. Karena siapapun dia, dimanapun dia berada, dia nggak aman Bay, hidupnya benar-benar dalam bahaya. Sumpah demi Tuhan, gue harap adik gue bukan lo."
===
Bayu melajukan nobita dengan pikiran double berantakan di sepanjang jalan menuju rumah majikannya. Prosesi sayonara Ijab Qobul antara kepala penis Panji dan lubangnya menguap begitu saja di pikiran Bayu. List jalan-jalannya sebelum demo besok pun, ikutan terserak. Alhasil, dia sekarang langsung pulang selepas keluar dari bengkel Bang Reza.
Hawa sedikit dingin, arak-arakan mega hitam menggantung rendah di langit. Angin berhembus sesekali, meremangkan bulu Bayu. Pemuda kurus itu merapatkan kaos oblong abu-abu pudarnya. Dia menghentikan Nobita di stopan lampu merah, merogoh saku untuk mencari sebatang rokok pemberian Gaple saat mau pulang tadi untuk di sulut, namun, belum sempat rokok tersebut Bayu ambil, retina coklat mudanya terlebih dulu menangkap sosok Karina sedang berdiri termangu, dengan mendekap tubuh langsingnya di halte tak jauh dari perempatan.
Bayu sedikit mengernyit. Begitu lampu menyala hijau, dia mengarahkan laju Nobita mendekati Karina.
"Karin, ngapain?" tanya Bayu saat Nobita berhenti manis di dekat Karina.
Gadis cantik tersebut terkesiap, dia menoleh ke arah Bayu, lalu tersenyum lebar dan berjalan mendekatinya.
"Mas Bayu, aku sedang menunggu bus nih, mau pulang ke kos. Tadi ada acara senat jadi pulang sore," bibir merah ranumnya merekah segar. Hari ini Karina memakai kaos putih agak transparan, yang di balut cardigan hitam. Kontras dengan kulit putihnya.
"Mau aku antar?" tanya Bayu ikutan tersenyum.
"Boleh kalau nggak ngerepotin Mas Bayu sih," pipi seputih susu itu merona, tambah manis, tambah cantik. Gadis jawa memang mengalahkan pesona bule mauapun cangkokan deh.
Bayu mengangguk, Karina duduk manis di belakangnya, melingkarkan kedua tangan mulusnya di perut Bayu. Lalu mereka bergerak meninggalkan halte, beriringan dengan tirai gerimis yang mulai berjatuhan menimpa Surabaya.
===
Tubuh Bayu kuyup begitu sampai di kosan Karina. Kaos, beserta seluruh celana jeans serta sempaknya basah. Titik-titik air hujan yang meluncur satu-satu di badannya, semakin menggigilkan pemuda berambut kriwil tersebut.
Karina menyuruhnya masuk ke kamar kos.
Nuansa putih gading langsung menyalami mata Bayu begitu dia menginjakkan kaki di ubin keramik kamar Karina. Poster-poster Jessie J tertempel di tembok, sebuah tv 14 inch, single bed dengan bed cover bermotif bunga lavender, meja belajar, almari, dan rak buku terletak pas dan sangat rapi. Ditambah penerangan lampu teduh, membuat kesan kamar Karina terlihat tambah girly.
Karina mengangsurkan sebuah handuk lembut berwarna putih kepada Bayu. Pemuda tipis tersebut sedikit terperangah dan tersenyum gugup menerima handuk dari Karina. Dia menggunakannya untuk mengusap rambutnya yang basah diguyur hujan. Matanya berkeliaran menyusuri tiap sudut kamar Karina.
"Eh―Karin, kamu ngapain?" tanya Bayu dengan mata melotot, tatkala Karina melepaskan cardigannya dan sudah akan membuka kaos putih yang juga basah di hadapan Bayu.
Karina tersenyum. Hujan yang membasuh tshirtnya membuat kaos tersebut menempel sempurna di lekukan tubuh moleknya. Bra hitamnya tercetak jelas. Kulit putihnya ikutan terpeta.
"Mau ganti baju Mas Bayu. Baju aku basah, kalau nggak diganti bisa masuk angin," Karina tersenyum. Genit. Kedua tangannya kembali memegangi ujung kaos, menariknya ke atas hingga pangkal kepala.
Darah Bayu berdesir. Panas dingin, melihat tubuh indah Karina yang putih mulus, hanya dengan bra warna hitam yang juga basah.
Dua payudara Karina yang besar seperti mau berontak dari kurungan bh itu. Montok. Gemuk. Karina kemudian membuka kancing celana jeansnya.
"Rin, kamu bisa mengganti baju di kamar mandi. Kamu nggak malu ada aku di sini?" tegur Bayu dengan suara tercekat. Matanya terus mengabsen tiap inci garis tubuh Karina yang menawan di hadapannya.
"Memangnya kenapa Mas Bayu? Aku nggak nyaman ganti baju di toilet," senyumnya menyeringai. Sedikit nakal. Atau memang sudah nakal?
Karina meneruskan membuka kancing celananya, menurunkan resletingnya lalu memelorot jeans tersebut hingga tanggal.
Nampaklah di hadapan Bayu paha putih mulus kecil-kecil yang ditumbuhi bulu-bulu lembut. Jantung Bayu berdegup kencang. Celana dalam merah dengan renda-renda itu sangat menggoda Bayu untuk melihat isi di dalamnya.
Karina berjalan mendekati Bayu. Tubuhnya yang hanya terbungkus bra hitam dan celana dalam merah, meremangkan bulu kuduk Bayu. Dia kemudian mengambil handuk putih yang masih bertengger di kepala Bayu, membuangnya begitu saja. Tangannya yang satu, mencekal telapak Bayu lalu mengarahkan tepat di payudaranya.
Bayu tersentak, berusaha menepis tapi Karina dengan kuat memeganginya.
"Sudah lama aku sayang sama Mas Bayu," Karina berbisik, matanya sendu, senyumnya terluka, "Cuma Mas Bayu tidak pernah melihat keberadaan Karina."
Bayu terkesiap, tangannya menempel dengan sangat pas di payudara kenyal Karina, bahkan dengan sengaja dia meremas sedikit gundukan tersebut.
"Sejak dulu aku selalu memperhatikan Mas Bayu, sejak pertama kali aku diospek ama Mas Bayu. Seluruh pikiranku berpusat pada Mas Bayu seorang, Cuma aku nggak berani membeberkannya kepada Mas Bayu," Karina mendesah, berjinjit lalu mengecup kecil bibir Bayu yang mengkerut kedinginan, "Aku sayang ama Mas Bayu, aku mohon, Mas Bayu mau menjadi bagian dari hidup aku. Aku mohon, Mas Bayu mau menjadi ayah buat anak-anakku kelak. Aku mohon, Mas Bayu menjadi imam aku."
Kedua tangan Karina tersimpang di balik punggungnya, melepas pengait branya. Dan detik berikutnya, payudara besar, sintal, padat, putih, dengan puting berwarna merah muda yang sudah teracung tegak, terpampang nyata di hadapan Bayu. Tangan Karina kemabali menuntun tangan Bayu untuk menyentuh payudaranya.
Dan darah Bayu mendidih. Benda itu terasa sangat lembut di tangannya. Dia meremas payudara Karina, hingga membuat gadis tersebut mengerang sambil memejamkan mata.
"Mas Bayu mau kan meenjadi pacar Karina?" Karina memohon tulus dengan suara parau, mukanya memerah menahan hasrat untuk dijamah oleh tangan kasar dari seorang Bayu.
"Maaf, Rin, tapi aku nggak bisa."
"Kenapa Mas Bayu? Apa aku kurang cantik? Apa Mas Bayu sudah punya pacar? Aku rela menjadi kekasih gelap Mas Bayu. Aku terlanjur sayang ama Mas Bayu."
Ya ampun, apa-apaan sih ini. Kenapa begitu banyak yang mau menjadi simpanan Bayu? Bayu bukan sosok flamboyan tapi kenapa dia berasa dikejar-kejar orang-orang menawan di kampusnya?
Bayu tersenyum kecut. Merasa de javu dengan pernyataan Karina. Sosok Kevin, tiba-tiba melintas gitu aja di benaknya.
"Bukan, Rin. Tapi aku nggak bisa jatuh cinta."
"Maksud Mas Bayu apa?"
"Aku nggak bisa merasakan jatuh cinta Rin. Nggak kepadamu, nggak kepada orang lain. Aku sakit. Aku nggak normal. Secantik apapun orang itu, hati aku nggak akan pernah terketuk."
"Artinya, sekarang Mas Bayu nggak punya pacar?"
Bayu mengangguk, ragu.
"Kalau gitu biarkan aku yang akan mengetuk pintu hati Mas Bayu. Aku mohon Mas Bayu, izinkan aku mendekati Mas Bayu. Ijinkan aku menaruh perhatian pada Mas Bayu."
Lagi-lagi Bayu tersenyum kecut. Dua orang berbeda kelamin, tapi sangat menawan, sama-sama ingin menumbuhkan kata ajaib cinta di ceruk hati Bayu. Apakah memang seperti ini jalan cinta yang harus Bayu tempuh? Mengorbankan perasaan dua orang terdekatnya, hanya demi menyemai benih-benih ajaib di lahan tandusnya selama ini?
Dan menit berikutnya, entah siapa yang memulai, dua anak cucu Adam tersebut sudah telanjang bulat, saling menghisap di atas tempat tidur.
Dua tangan Bayu meremas payudara Karina yang padat dan sintal, sementara bibirnya membungkam bibir Karina yang terus mendesah memanggil namanya sexy.
Bayu mencium bibir mungil Karina, menghisap, dan menggigitnya, hingga mulut Karina terbuka dan Bayu bisa memasukkan lidah kenyalnya di rongga Karina. Jari-jarinya mencubit puting Karina, memeluntir dan menariknya ke atas
Karina melenguh dalam ciumannya, tubuhnya yang ditindih Bayu melengkung indah. Dia gosokkan vagina berbulu lembutnya di seputaran batang penis Bayu yang mengeras.
Ciuman Bayu turun ke leher Karina. Menyapukan lidahnya di kulit Karina, menggigit dan memberi kiss mark, lalu turun ke belahan dada Karina. Menghirup aroma payudara Karina yang wangi. Dia gesekkan hidung dan pipinya di sisi payudara Karina.
Karina menggelinjang, kedua tangannya meremas sisi-sisi sprei.
"Engh.... Mas Bayu," Karina memekik, ketika Bayu mengulum puntingnya, mengemut dan menyedot puntingnya dengan rakus. Sementara tangan Bayu yang satu, memainkan payudara Karina lainnya.
Bayu hisap dalam-dalam puting Karina, lidahnya dengan gesit membelit pentil Karina yang kenyal di dalam mulutnya.
Karina membuka lebar kakinya, sehingga Bayu leluasa menindih selakangannya yang basah dan hangat. Dia mencengkeram punggung Bayu yang basah keringat. Sementara mulutnya terus mengerang penuh gairah.
Puas memainkan dua payudara Karina, ciuman Bayu turun ke perut kencang Karina. Lidahnya menjilati setiap inci kulit padat Karina. Turun lagi, hingga akhirnya ciumannya menggesek jembut tipis Karina.
"Karina, wangi sekali kamu."
Karina menggeram, geli dan birahi memantik tubuhnya. Kedua kakinya semakin mengangkang sehingga kepala Bayu yang sekarang menghadapi vaginanya semakin bebas bergerak leluasa.
Bayu menjulurkan lidah, menggesek daging lembab dan becek di sana. Kuncup lidah merahnya merangsang klitoris Karina, menjilatinya, sambil mencelup-celupkannya ke dalam lubang Karina.
"Ohh... mas... Bayu..." Karina mendesah hebat. Vaginanya semakin becek dengan cairan kental.
Dengan tekun Bayu menjilati dan menghisap cairan yang keluar dari lubang Karina, menyedot sambil menghirup dalam-dalam. Kepala penisnya semakin teracung tegak lurus. Dan saat dia mengangkat bokong Karina, dan menyiapkan kepala penisnya untuk menembus lubang Karina, ponsel yang tersimpan di ranselnya memekik nyaring.
Bayu tersentak, tubuhnya menegang.
"Mas Bayu, hahh hahh aku mohon, aku pengen di sentuh Mas Bayu. aku sayang sekali ama Mas Bayu. hah hah,, lakukan sekarang Mas Bayu, nggak peduli Mas Bayu cinta ama aku atau nggak, aku hanya ingin dimasuki Mas Bayu," Karina memintanya penuh harap.
Bayu terlihat bingung, kemudian mengangguk samar-samar dan kembali menusukkan kepala penisnya yang tak terbungkus kulup dan berwarna merah muda tersebut ke lubang sempit Karina. Namun lagi dan lagi Iphone Bayu meraung. Berteriak lantang, memecah dengungan suara hujan yang mengalun di luar kamar.
"Mas Bayu, please, jangan tinggalin aku."
Kepala penis Bayu perlahan memasuki Karina, gadis di bawahnya tersebut menjerit dengan suara sexy, namun belum sampai batang penis Bayu masuk sempurna di liang vagina Karina, ponselnya kembali menggema, kali ini menyambung tanpa henti.
"Karina, aku harus angkat telfon dulu."
"Tapi Mas Bayu..."
Bayu memberikan senyum, menarik penisnya dari lubang Karina yang lembab dan hangat, berjalan dengan penis yang teracung tegak lurus di selakangannya, mendekati tempat tas ransel.
Nomor Panji yang belum tersimpan, menjerit memintanya menjawab telfon.
"Sayang, anak kita sakit."
"Hah, maksudnya?"
"Mike, panas mom. Nyariin mommy-nya dari tadi."
===
Suhu tubuh Mike mencapai 39 derajat celcius. Setelah diberi obat penurun panas oleh Bayu, dan dikompres tiada henti, akhirnya dia bisa tertidur.
Dengan perasaan cema,s Bayu terus membelai rambut Mike, netranya berair. Satu tetes air mata lolos dari semayam. Dia mencium kening Mike lembut dengan penuh perasaan. Hatinya hancur, berkeping-keping. Ingatannya tentang Karina yang dia tinggalkan begitu saja tatkala mendapat telfon dari Panji, melebur seketika saat melihat buah hatinya menggigil kedinginan dengan suhu tubuh tinggi.
Dan kali ini, slide-slide temaram masa lalu, tentang penderitaan mendiang sahabatnya yang meregang nyawa, bersenggama kuat dengan tiap desahan nafasnya. Perasaan itu, rasa sakit itu, rasa kehilangan itu, kembali meminang kesakitan Bayu.
Bibir Mike pucat, sepucat almarhum sahabatnya. Tubuh Mike rapuh, serapuh tubuh almarhum sahabat sejatinya. Bayu tidak ingin kehilangan lagi. Sungguh. Apapun akan dia lakukan, agar orang yang sudah mengisi hatinya tak lagi terenggut oleh sesuatu bernama kematian. Kematian itu memang pasti ada. Tapi setidaknya, untuk saat ini, Bayu belum ingin berjumpa dengannya.
Bayu menutupi tubuh kecil Mike dengan selimut bergambar Cars-nya. Dia kemudian ikut menyusup di balik selimut dan mendekap tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Bisa Bayu rasakan panas dari badan kecil Mike, menjalar di kulitnya. Bayu tumpukan pipinya, di puncak kepala Mike. Menciumi kecil-keci ubun-ubun anak semata wayangnya, yang sumpah demi apapun sangat Bayu cintai.
"Lencana..."
Suara Panji mengalun ke permukaan pendengaran Bayu, dan detik berikutnya Panji ikut menceburkan tubuhnya di bawah selimut Mike, memeluk dari belakang tubuh Bayu yang terasa pas dalam rengkuhannya.
Mata Bayu terpejam, membiarakan dua panas tubuh dari dua orang berbeda mengalur di garis-garis badan kecilnya.
Bayu merasakan puncak kepalanya diusap secara lembut oleh Panji. Dan perutnya didekap penuh perlindungan ama lengan kokoh Panji.
"Terimakasih atas kasih sayangnya kepada Mike, mom," Panji berbisik dari ujung kepala Bayu. Desahan suaranya menerpa helaian surai Bayu yang masih lembab. Satu tangan Panji meremas dada Bayu, satunya lagi melingkar posesif perut Bayu.
"Saya tidak tahu bagaimana jadinya Mike, jika kamu terlambat datang sayang," Panji sedikit membungkuk, mencium tengkuk Bayu penuh sayang, "Terimakasih Lencana. Terimakasih."
Bayu terkesiap, sudah tak menghiraukan lagi segala serapah Panji. Itu semua bullshit. Panji hanya butuh lubang anusnya, tak lebih dari itu. Bayu Cuma terdiam. Tertegun dalam kecamuk hatinya. Kejadiannya begitu cepat, belum selesai Bayu mengumpat dalam hati tentang segala ucapan manis berhawa busuk dari sosok Panji, kalimat Panji berikutnya menegangkan serat-serat tubuh Bayu. Dia terdiam, membeku.
"Saya sayang kamu Lencana. Sayang kamu."
===
Bayu tidak terkejut dengan jumlah masa yang ikut berdemo pembebasan Bu Risma. Jumlah lima ratus yang Andis ujarkan tempo dulu, sekarang menggandakan diri. Tak kurang dari seribu mahasiswa dengan jas almamater berbeda berkumpul menjadi satu, tumpah ruah di depan Tugu Pahlawan. Lautan mahasiswa bergerak beriringan, meneriakkan yel-yel free Bu Risma dengan segala macam atribute poster-poster, spanduk, banner yang bertuliskan bebaskan Bu Risma. Andis bak seorang jendral, memimpin lautan mahasiswa tersebut dengan berdiri menjulang di depan garda. Tangannya mencengkeram megaphone, meneriakkan transparansi hukum, ketegasan hukum, keadilan atau apalah itu yang Bayu nggak ngerti.
Itu semua nggak cukup membuat Bayu terkejut. Pun kehadiran David di tengah masa. Yang membuatnya cukup terkejut adalah sosok orang memakai jaket kuning berdiri tak jauh darinya, di salah satu kerumuman masa. Dia berbalik, menghadapi Bayu. Lalu menyeringai.
Yani.
Berjaket kuning, membawa poster Bu Risma, sambil meneriakkan yel-yel.
Jantung Bayu mencelos. Rasa takut mati tiba-tiba menggerayangi sanubarinya.
"Yo Bay, tumben-tumbenan lo ikutan demo," David berteriak, mengimbangi suara pekikan masa yang sekarang bergerak bersama-sama menuju Polda Jatim.
Bayu tersenyum, gamang. Diliriknya David yang merangkul pundaknya.
"Lha kamu, mahasiswa Brawijaya kenapa ikut demo masalah politik di Surabaya?" Bayu balas menjerit, iris madunya lekat-lekat menelisik sosok Yani. Dia takut. Sangat!!
David tertawa, meremas pundak Bayu, "Gue bentar lagi mau jadi bokap, Bay. Makanya gue sekarang pindah ke Unair, biar lebih dekat sama calon bini gue yang juga kuliah di Surabaya."
Bayu mengernyit. Sedikit nggak percaya dengan apa yang diucapkan pemuda manis tersebut. Dia Cuma manggut-manggut.
Arak-arakan mahasiswa tersebut semakin mendekati Polda Jatim. Dan Andis semakin gencar meneriakkan isu politik, dan segala macam manuver pembegalan Bu Risma dibalik dalang penangkapan Bu Risma.
Kejadiannya begitu cepat, Bayu sampai sangsi tidak melihatnya jika insiden tersebut tidak terjadi tepat di sampingnya.
Saat Bayu ikut-ikutan menyuarakan aspirasinya, David tiba-tiba menjerit memanggil namanya. Dan detik berikutnya, tubuh Bayu di hantam badan David yang memeluknya erat. Tepat di belakang David, seseorang berjumper baseball warna kuning menghunuskan pisau di punggung David.
Bayu terkesiap. Terkejut bukan main.
David limbung dengan rembesan darah dari tubuh bagian belakangnya. Kerumunan di sekitar Bayu pecah, dan berantakan. Demo yang awalnya damai, menjadi rusuh akibat David menjadi korban penusukan. Suara tembakan pistol dari polisi-polisi yang mengawal arak-arakan demo, tumpang tindih dengan suara sirine. Dan gas air mata, diluncurkan ke awan, bersamaan dengan bom molotov yang meledak entah dari mana.
Tapi satu hal yang pasti, tersangka penusukan itu, yang juga terkejut karena hunusannya tidak mengenai tubuh Bayu, bukan Yani.
Dia berjaket kuning.
Tapi bukan Yani.
Dan sumpah demi apapun, sosok itu sangat familiar buat Bayu. Bayu pernah bertemu dengannya. Bayu yakin. Tapi dimana dan siapa. Bayu tidak ingat. Cuma, dia sangat familiar.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top