2. Pelayan
"Nai? Jadi, kamu sudah punya teman sekarang?"
Suasana hening sesaat. Masih pagi hari Senin, suasana kelas cukup lengang, tetapi sekelompok anak itu bersiaga di depan kelas.
"Ya sudah." Perempuan berambut pendek itu berbalik. "I'm happy for you. Nai udah bisa menggaet orang."
"...."
Nai mengepalkan tangannya. Ia panik karena dapat tatapan dari tiga pasang mata sekaligus.
"Nai–"
"Peduli amat dia! Dikira orang enggak bisa punya teman apa?!"
Seruan sekaligus gebrakan meja khas Radya memotong ucapan Husna. Anak itu emosi mendadak.
"Oh, jadi kamu beneran menganggap Nai teman?" Husna mengubah fokus ke Radya.
"Aku yang lebih dulu mengakui Nai sebagai teman, tahu!" Radya menunjuk hidung Husna, lalu berbalik sambil mengomel panjang-pendek.
"Haha, dia jadi so sweet begitu," komentar Husna. Barulah ia menoleh ke Nai. "Dia temanmu yang kemarin, 'kan? Kayaknya memang teman. Sampai pagi-pagi nyamperin begini."
"Husna!" seru Nai. "Maaf kalau aku salah, tapi ... kamu enggak nyindir aku, 'kan?"
"Eh, kayaknya aku enggak sengaja menyindir." Husna menggaruk kepalanya. "Maaf."
"Duh, gimana sih, Ustazah!" celetuk Tantra.
"Diam kamu," sengit Husna.
Nai menghela napas. Ia senang melihat keributan kecil teman-temannya. Ya ... teman. Vera bukan temannya, dan anak itu sama sekali tak punya hak untuk ikut campur kehidupannya.
****
Apa takdir sedang mempermainkannya, Nai tak tahu. Yang jelas, ia jadi amat sangat sering berpapasan dengan Vera–setelah berbulan-bulan sebelumnya tak sadar sama sekali. Vera lebih sering mengabaikannya, meski sesekali melengos. Ada kekecewaan dari caranya memandang Nai. Ya, Nai tahu. Itu cara Radya menatapnya ketika dulu Nai lebih memilih Husna. Lucu sekali sebenarnya kalau dipikir-pikir.
"Nai, kayaknya tiap Jumat aku ada kegiatan rutin pulang sekolah." Husna tampak menyesal ketika mengatakannya. "Kamu pulang hati-hati, ya."
Nai mengangguk.
"Yah, aku juga ada." Tantra menimbrung tiba-tiba.
"Enggak ada hubungannya denganmu," sahut Husna. Kedengarannya jengkel.
"Kenapa? Aku tahu kamu cemasin Nai kalau dia sendirian, 'kan?" Tantra berlagak santai.
"Kenapa kalian cemas? Aku bisa sendirian, kok. Udah biasa banget malah," sahut Nai heran.
"Aku ikut-ikut dia." Tantra menunjuk Husna.
"Enggak tahu," malah itu jawaban Husna. "Waktu itu, pas aku merasa buruk, kamu benar-benar–"
"Setop!" seru Nai langsung. Wajahnya pias. "Jangan bahas lagi, oke? Aku sudah hidup tenang sekarang."
Husna menghela napas. "Oke, aku percaya. Semoga kejadian itu enggak terulang lagi."
Dari gelagatnya, Nai tahu Tantra ingin bertanya. Namun, ia pikir, sebaiknya laki-laki itu tak tahu.
****
Sebenarnya, kejadian lalu masih membekas trauma bagi Nai. Ia akan girang bukan kepalang jika Husna mengajaknya pulang bareng. Ia akan cukup bahagia jika ada teman menunggu angkutan bersama.
Jumat, ketika rata-rata sekolah negeri bubar pukul satu setelah jumatan, mereka tetap pulang sore. Karena itulah, jadwal ekskul juga terundur, kadang sampai magrib. Sebenarnya, karena kebijakan itulah, pengurus ekstrakurikuler bisa melakukan pembagian jadwal harian dengan lebih adil. Tiap hari ada giliran ekskul tertentu, rata-rata setiap ekskul memiliki jadwal dua hari sepekan, dari Senin sampai Jumat. Ekskul yang membutuhkan latihan lebih seperti paskibra menggunakan waktu tambahan pada hari Sabtu. Minggu, sekolah tutup.
Pokoknya, Nai tidak ikut ekstrakurikuler apa-apa.
Meski begitu, ia tetap bisa menyapa banyak orang. Nai tidak terlalu supel karena gagap, tetapi kebiasaan kecilnya menolong orang lain sangat dihargai.
Sore ini, Nai berencana mencegat Anggi dan mengajaknya ke gerbang bersama. Namun, rupanya, ada yang lebih dulu memanggilnya.
"Nai, Nai, ke sini deh."
Nai malah tertegun di koridor. Vera sudah ada di sana, bersedekap sambil nyengir lebar.
"Kenapa diam? Apa mukaku mengancam?" tanya Vera.
Sekarang sih enggak, kemarin-kemarin itu!
"Sini, kemarin ada yang nanyain aku. Siapa yang nemuin aku di kelas pas udah waktu pulang? Aku kenalin kamu, ya."
Nai hanya pasrah ketika Vera mencengkeram lengannya, tetapi ia masih bisa bicara. "Kenapa baru sekarang? Itu 'kan sudah minggu lalu."
"Soalnya aku baru berani sekarang."
Nai menelengkan kepalanya heran.
"Teman-teman barumu seram."
Nai hampir saja meledakkan tawa, tetapi ketegangan membuatnya bungkam.
"Mereka enggak bolehin aku ketemu kamu?"
Nai memang masih terlalu lugu, tetapi ia tahu ada nada yang tak wajar di sana. Pengalamannya menjadi penengah antara Radya dan Husna membuatnya sedikit paham. "Entah ... mungkin karena kalimat pertamamu yang mereka dengar itu enggak jelas."
Tentu saja. Siapa yang tidak menautkan alis ketika orang yang muncul tiba-tiba berkata, kamu sudah punya teman sekarang?
"Jadi, mumpung kamu enggak bareng mereka ... sebentar."
Nai menggigit bibirnya. Ia harap-harap cemas. Apa yang akan dilakukan Vera?
"Guys, ini Nai, teman SMP-ku." Vera tiba-tiba menepuk bahu Nai keras. "Masih penasaran sama dia? Nai orangnya baik banget. Banyak temennya."
Nai ketar-ketir. Hoaks dari mana ini? Namun, ia tersenyum saja. Senyum gugup.
Pandangan itu. Mereka menilaiku.
Nai sudah tidak setegang dulu jika ada yang menatapnya, seolah menolai rupanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia pendek, ia lusuh, ia cengangas-cengenges tak jelas. Beberapa hal dari dirinya sendiri membuat Nai sering merasa inferior, tetapi ia berusaha lebih percaya diri sedikit demi sedikit.
"Salam kenal." Nai akhirnya mengangguk. "Kata Vera, ada yang nanyain aku, ya?"
Butuh keberanian ekstra untuk Nai supaya bisa bicara begitu, apalagi Vera langsung mendelik.
"Udah-udah, sana. Thanks, Nai. Kalau enggak ada siapa-siapa, main sama aku aja." Vera malah mendorong Nai menjauh.
"Uh ... kalau sekarang? Lagi enggak ada siapa-siapa." Nai tetap nekat meski jantungnya berdebar tambah keras.
"Minggu depan aja, deh."
Vera mendadak gugup. Nai tak tahu mengapa.
Meski begitu, Nai mengangguk ringan. Sebaiknya ia pergi saja.
Lupakan yang tidak jelas, fokus ke yang pasti saja. Teman-temanku ... Husna, Tantra, bahkan Radya!
Nai sungguhan melenggang pergi. Sepertinya, Vera sedang menggalaukan sesuatu. Gelagatnya aneh. Nai buru-buru menggeleng. Kenapa ingat lagi? Pulang saja!
****
Kalau dihitung-hitung, penilaian akhir tahun tinggal sebentar lagi. PAT pertama bagi Nai yang masih semester 1. Teringat pengalaman ujian sebelum-sebelumnya, Nai hanya bisa menghela napas.
"Semester genap nanti bakal tambah sibuk."
Nai yakin sekali kalimat yang diucapkan Husna itu bernada keluhan.
"Kadang ingin leyeh-leyeh aja di rumah," sambung Husna. "Tapi aku jadi merasa enggak guna banget."
"Kamu, merasa enggak guna?" Nai sampai mengerjap.
"Kamu lebih produktif dari aku, Nai!" seru Husna. "Kamu punya kerjaan jelas di rumah."
"Ah, itu ...." Nai langsung menunduk.
"Sorry, sorry! Enggak maksud." Husna melambai panik, lalu menepuk bahu Nai. "Maksudku, kamu ... dibanding aku ... ah, sudahlah."
Nai tersenyum kecil. "Paham, kok."
"Mau belajar bareng?" Husna mengalihkan topik. "Sebentar lagi ujian."
"Oh, oh! Boleh." Nai mengangguk semangat. Seingatnya, ia tak pernah belajar ujian bersama Husna.
"Tiap pulang sekolah, di rumahku?"
"Rumahmu?" Nai selalu semangat jika Husna mengundangnya. Sebenarnya, ia sudah dijanjikan akan disambut jika ke rumah Husna. Hanya saja Nai terlalu minder untuk tiba-tiba menghampirinya.
Namun, mendadak mata Nai meredup. "Eh, aku banyak kerjaan di rumah. Kerjaan yang sulit dilimpahkan." Mengajari anak-anak SD PR mereka, siapa lagi kalau bukan ia?
"Kalau gitu, aku ke tempatmu?" tawar Husna ringan.
"Uapa?"
Meski mereka dekat, Nai masih merasa risi jika Husna menyambanginya di panti asuhan.
"Eng ... kamu enggak nyaman, ya?" Husna langsung merasa tak enak.
Nai jadi serbasalah sendiri. Lebih tepatnya, ia memang masih sering merasa bersalah. Penyakitnya yang tak kunjung hilang meskipun keberaniannya mulai bangkit.
"Ganti-gantian, deh." Suara Nai akhirnya muncul, meski amat pelan. "Soal anak-anak itu, aku akan coba ...."
"Anak-anak?"
Nai langsung menutup mulutnya. Bahkan sekadar keceplosan agenda hariannya, ia bisa langsung salah tingkah. "Lupakan."
Husna mengangguk-angguk sambil mengetukkan jari ke meja, seolah mafhum. Bel masuk terdengar, percakapan yang sudah tak bertopik itu terputus.
****
Terlepas dari persiapan PAT, Nai juga masih berusaha lebih akrab dengan yang lain. Tidak sulit bagi Nai untuk mengobrol dengan orang lain, tetapi mengobrol dengan normal, tanpa tatapan mata yang berlarian atau tangan yang menggosok-gosok ketakutan, masih merupakan hal berat.
Kalau dihitung-hitung, yang bisa Nai ajak bicara tanpa gelisah hanya segelintir. Tantra adalah yang pertama. Lalu Husna, Nai masih sering kikuk. Radya dan gengnya–Ana, Anggi, Key. Dua anak yang duduk di kursi belakangnya, Sintia dan Devi, juga termasuk. Nai hanya mengenal segelintir anak kelas lain, dan ia merasa tidak ada urgensi untuk berkenalan.
Vera?
Ketika nama itu muncul di kepalanya, Nai langsung berjingkat. Apa ia akrab dengan Vera? Atau ia yang sok akrab? Atau ... Vera yang pura-pura?
Nai jadi berpikiran buruk soal orang-orang yang dulu berinteraksi dengannya. Tidak ada yang menghendakinya, tidak ada yang memperlakukannya dengan baik. Hanya di awal, itu pun penuh kepalsuan.
Nai sudah terbiasa membaca ekspresi orang, hanya ia saja yang terlampau takut menatap wajah orang lain.
Apa Vera sekarang sudah berubah? Sikapnya juga membingungkan. Ia ingin bermain dengan Nai atau hanya mengusiknya? Seolah ingin Nai menoleh ke masa lalu, ketika ia ... direndahkan.
Ya, Nai direndahkan, salah satunya oleh Vera.
Kukira aku sudah berani dan beranjak dari masa lalu. Ternyata ... aku masih takut.
Jumat itu, Nai berjalan pelan di antara para murid yang lalu-lalang. Ia tak mau terlihat oleh Vera. Pikiran buruk menguasainya.
"Nai?"
Nai sempat tertegun, tetapi ia langsung kembali melangkah.
"Hei ... kamu tahu? Aku belum mengatakan kalau kontrak itu sudah selesai."
DEG.
Tiga tahun.
Tiga tahun sejak aku kelas tujuh, semester dua ....
Ingatan buruk seketika merasuk.
"Akhirnya aku menemukannya. Lihat ini, Nai! Tanda tangan dan cap jempolmu."
Suara Vera itu membuat Nai sempurna mematung. Di ingatannya yang memudar, kenangan yang paling ingin ia lupakan, hal yang membuatnya merasa janggal jika mendengar nama Vera ... semuanya berulang.
Kertas lusuh itu terpampang di hadapannya.
Nairella Amanita
Pelayan.
(Bersambung)
*****
*****
.
.
.
.
.
Akhirnya up lagi setelah lebih dari sebulan menata hati
Jkt, 20/5/22
zzztare
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top