Part 67 - Sorry

Hola semua.

Ada yang nungguin cerita ini gak nih?

Now playing|| Devano Danendra - Ini Aku

Happy Reading.

🍁🍁🍁
Semua tanya ada jawabnya. Semua rasa ada balasnya. Dan semua hati ada pemiliknya.
🍁🍁🍁

Melody dan Willona menjauh dari mading setelah membaca berita hari ini. Gosip tentang dia yang terharu karena Gitar menyanyikan sebuah lagu romantis di pesta Viola kemarin telah menyebar.

Melody merasa malu dengan hal itu. Memang ya, anak jurnalistik SMA Kencana Bakti turah semua, dapat berita langsung di sebar. Jika saja tidak punya hati, Melody sudah mematahkan semua jari anak jurnalistik yang mencetak berita ini.

"Ya ampun. Sweet banget sih, Mel, lo sama Kak Gitar."Willona semringah. "Kenn aja gak pernah gitu ke gue."

Melody menganga dengan dahi yang mengkerut. "Lo ini gimana sih. Gue lagi malu karena berita gue menyebar lo malah bersyukur."

"Lo malu punya pacar ganteng kayak Kak Gitar?"

"Bukan itu. Gue gak mau jadi bahan gosip. Sampe muka gue ditempel segala lagi di mading. Terus sekarang sana sini gosipnya gue sama Gitar mulu. Kan gue pingin privasi."

Berita-berita itu mengangu kenyamanannya. Banyak anak eskul jurnalistik yang memintanya untuk wawancara. Namun Melody menolak.

Ada juga yang sering menganggu untuk mendapatkan tanda tangan, foto bersama, dan itu sama sekali mengganggu waktunya.

"Wajar sih. Lo kan pacarnya dia sekarang. Lo juga vokalis Axellez," ucap Willona, menaggapi.

Melody menghela napas, menghilangkan masalahnya sejenak.

"Lo kenapa semalem gak ke sana? Gak diundang atau gimana?" tanya Melody.

"Diundang sih. Tapi gue sama Kenn udah terlanjur beli tiket nonton dari dua hari yang lalu. Jadi gak dateng deh, itu film kesukaan gue banget soalnya." Willona diam sejenak. "Tapi gue udah ngucapin pas di sekolah kok, kadonya gue titipin Kak Beca."

"Padahal asik lho, kalau kalian ikut."

"Asik karena bisa lihat lo nangis di sana gitu?"

"Ih sialan. Gak usah dibahas." Melody melangkah terlebih dahulu.

"Ody tungguin woy. Jangan ngambek dong." Willona segera menyusulnya.

Langkah keduanya beriringan. Menuju kelas mereka.

🍁🍁🍁

Kumpulan kali ini di gelar di ruang musik. Tidak semua anak yang mengikuti eskul musik, tapi hanya Axellez.

Kaiden sudah membahasnya kemarin di grub. Tapi ada beberapa masalah yang tidak bisa dibahas di sana. Untuk itu ia meminta semuanya berkumpul.

"Tinggal Ody nih," ucap Kaiden. Dia dapat memaklumi karena di kelas Melody ada ulangan dadakan, dan tidak bisa izin saat jam pelajaran.

"Lama,'' decak Derby.

Marvel menoleh. "Tunggu aja. Bentar lagi juga dateng."

Semua mengarah pada pintu, saat Melody datang. Gadis itu segera bergabung dengan yang lainnya.

"Sorry. Lama ya?"

"Enggak terlalu." Kaiden menjawab. "Jadi, kalian semua udah ngumpul di sini nih. Gue mau jelasin sesuatu. Bentar lagi ada Festival Musik Nasional yang diadakan setiap tahunnya. Berhubung Axellez tidak bisa mengikuti karena sebentar lagi anak kelas 12 ujian, jadi lomba ini diambil alih buat anak eskul musik lainnya."

"Kan lombanya sebulan sebelum ujian. Emang sekolah gak bisa ngajuin anak kelas 12?" tanya Gitar.

Dia ingin 3 tahun full mengikuti ajang musik ini. Festival Musik akhir tahun yang diselenggarakan sekolah seprovinsi sama saja dia tidak ikut, karena datang terlambat sehingga Melody yang menggantikannya. Dan untuk lomba yang berstandar nasional ini Gitar ingin ikut, tak ingin Melody atau siapapun menggantikannya.

"Tidak bisa, Gitar. Justru itu. Waktu sebulan itu kalian gunakan buat belajar sebaik-baiknya. Supaya hasil ujian kalian memuaskan." Kaiden menjawab sesuai apa yang telah dirapatkannya bersama Pak Kepala sekolah dan guru lain.

"Kita udah mulai nyicil belajar dari sekarang. Menurut gue, bisa-bisa aja kok. Yang penting kita, kan enggak meninggalkan kewajiban sebagai murid yang sebentar lagi ujian." Gitar menyalurkan pendapatnya.

"Lo ngomong gitu karena merasa jago dalam pelajaran, Gitar. Coba tanya sama yang lainnya, sanggup atau enggak?" Marvel bersuara. Sebenarnya dia juga ingin mengikuti lomba tersebut, tapi apa boleh buat. Lagipula tidak ada salahnya memberi kesempatan untuk adik kelas mereka.

"Yang dibilang Marvel ada benernya sih." Tristan menanggapi, membuat semua mata tertuju padanya. "Apalagi Milo, gak cukup dia belajar jauh-jauh hari. Sebulan sebelum lomba les kita padat-padatnya."

"Wah, pengertian banget lo sama gue, Tris," ucap Milo, tersenyum bahagia.

"Jadi, kalau misalkan kita dikasih kesempatan, kalian gak bisa?" tanya Gitar.

Derby menghela napas, sebelum bersuara. "Kalau untuk sekolah, kita bisa usahakan. Lagian, siapa coba yang gak bangga bisa mewakili sekolah untuk lomba ini?"

"Gue tau, kalian semua mampu. Tapi kita juga harus ngasih kesempatan buat anggota eskul musik lainnya." Kaiden kembali bersuara. Dan kali ini semua mata tertuju padanya, mendengar dengan seksama. "Kami dan para guru lain sepakat buat mengajukan Melody sebagai vokalis, dan nantinya memilih beberapa anggota eskul musik sebagai gitaris, pianis, dan drumer."

"What. Kok Gitu?" Gitar protes. Dia tidak terima dengan apa yang diucapkan Kaiden. "Axellez itu band buatan gue, Kai. Gue yang buat dari nol. Gak bisa dong tiba-tiba ganti anggota dan vokalis."

Bersamaan dengan itu, tatapan Gitar beradu dengan Melody. Dia melihat Melody menunduk. Seperti ada rasa bersalah yang menyelimuti.

"Kak. Gue juga gak sanggup buat jadi vokalis. Gue anak baru juga kan, di eskul musik?" Sekian lama diam, Melody membuka suara. Dia rasa, dia memang tidak mampu menjadi vokalis untuk band nanti, di Axellez saja dia masih belajar bersama Gitar.

"Nahkan, masalahnya jadi rumit." Milo geleng-geleng.

"Gue jelasin ulang. Buat lo, Gi ...." Tatapan Kaiden mengarah ke Gitar. "Melody memang jadi vokalis Axellez juga kan, sekarang. Jadi gak ada yang menggantikan posisi vokalis saat ini. Artinya masih tetap Melody. Tapi gak ada lo. Dan untuk masalah band, kita gak pakek nama. Ini lomba tingkat nasional, jadi nama sekolah kita yang digunakan. Paham?"

Ucapan Kaiden begitu tegas dan tajam. Jika sudah seperti itu, pasti tidak bisa diganggu gugat lagi. Gitar hanya bisa diam, dengan hati yang berang.

Pandangan Kaiden beralih ke Melody. ''Dan lo, Ody. Kenapa gak percaya diri lagi? Lo udah bisa, lo mampu. Buktinya tahun lalu lo bisa gantiin Gitar walau latihan cuma semalam. Dan kita masih ada satu bulan dari sekarang. Gue yang akan ngelatih lo, Mel. Jangan khawatir."

"Tapi kan, Kak. Tahun lalu itu cuma lomba antar sekolah. Lah ini tingkat nasional, pasti saingan dari provinsi yang lain bagus-bagus."

"Ody, Ody. Belum perang aja lo udah merasa kalah. Jangan gitu. Semangat dong. Demi nama baik sekolah, inget." Kaiden terus memberi semangat pada gados yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.

Demi nama baik sekolah, demi cita-cita yang sempat tertunda.

Kalimat itu tertanam di hati Melody saat ini. Gadis itu mengangguk, tanda dia yakin dan mau mewakili sekolah dalam hal ini. Membuat semua yang ada di sana tersenyum, tidak semua senyuman tulus, ada pula senyuman yang misterius.

"Gue minta tolong sama lo, Mel. Pulang sekolah nanti bagikan formulir ini sama anak eskul musik yang berminat ikut lomba. Yang bener-nener serius." Kaiden memberikan lembaran formulir itu pada Melody.

"Iya, Kak."

Kaiden melihat arloji di pergelangan tangannya. "Gaes. Gue harus cabut. Ngejar kelas soalnya."

Kaiden memakai tas ranselnya, lalu pergi dari sana.

Satu per satu anak Axellez pun pergi dari sana karena keperluan masing-masing.

Hanya tinggal Melody dan Gitar. Ya, hanya mereka.

"Gitar." Panggil Melody pelan.

Gitar menoleh perlahan. Alisnya terangkat, seolah berkata 'kenapa?' Pada Melody.

"Gak jadi deh."

Gitar mendengus. "Kamu gak keluar?"

"Ngusir nih ceritanya?"

"Enggak." Sebenarnya Gitar ingin sendiri. Tapi ia juga tidak tega menyuruh Melody pergi. "Oh, iya. Nanti pulang sekolah, pulang sendiri ya. Aku gak bisa nganterin kamu pulang, ada urusan soalnya."

"Urusan apa?"

"Gak penting buat kamu tahu."

Melody tertohok dengan perkaraan Gitar. Sepertinya sebagai pacar masih ada beberapa hal yang terahasiakan.

"Oke."

Gitar bilang, dia yang mengantar-jemput Melody sekarang. Tapi baru beberapa hari, cowok itu tidak bisa mengantarkannya pulang. Dan sepertinya, Melody harus naik lendaraan umum lagi. Dia tak mungkin nebeng dengan Kenn, yang ada sahabatnya itu malah berpikir yang macam-macam.

🍁🍁🍁

Setelah membagikan formulir, Melody melangkah ke arah halte. Suasana mulai sepi. Awan mendung perlahan menghampiri.

"Mana mau hujan lagi."

Melody mendesis, seharusnya ia membagikan membagi formulir itu lebih awal, supaya tidak tertinggal kendaraan pulang.

Melody menggeser posisi duduknya, saat dua orang pria asing duduk di sebelahnya. Orang itu malah ikut bergeser, membuat Melody ikut bergeser.

Gadis itu beranjak berdiri. Merasa risi dengan kehadiran pria asing itu.

"Cewek. Kok ngejauh sih. Sini dong duduk bareng Abang," ucap salah satu cowok asing itu.

"Udah deh, gak usah jual mahal gitu. Palek menghindar segala." Pria yang satunya juga menyahut.

Melody tak menanggapi keduanya. Dalam hati ia berdoa semoga ada malaikat baik hati yang dikirimkan Tuhan untuk membantunya.

Ia sangat takut. Apalagi dia sendirian. Matanya menerawang ke depan, menunggu kendaraan yang tak kunjung datang.

Telinganya mendengar derap langkah yang mendekat. Kedua pria itu berdiri di sampingnya.

"Jangan pegang-pegang!" teriak Melody, merasa tangan kekar itu siap menyentuhnya.

"Uh, galak nih."

Kedua pria tak dikenal yang mirip seperti preman itu tertawa keras, lebih tepatnya menertawakan Melody.

"Nungguin apa sih, Abang udah di sini lho. Mending ikut abang aja."

"Jangan sok kenal. Pergi sana jauh-jauh!" Melody menghindar.

Bukannya pergi, kedua pria itu malah senyum sumir, semakin mendekat ke arah Melody.

Melody yang merasa  ketakutan segera berlari tak tantu arah, meninggalkan tempat itu. Rintik hujan mulai membasahi bumi, baju Melody pun mulai basah.

Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Tangannya memeluk tubunya sendiri yang dingin, terguyur hujan.

"Bunda, Ayah, Ody mau pulang."

Melody tidak tahu harus kemana, jalanan yang terguyur hujan agak menganggu penglihatannya. Bajunya basah semua. Hawa dingin menembus hingga ke tulang.

Gadis itu menghentikan langkah, saat kakinya bertubrukan dengan kaki lain. Wajahnya mendongak, saat merasa ada yang memayungi tubuhnya.

"Kenapa jalan sendiri?"

Bukannya menjawab, tangis Melody makin pecah. Dia segera memeluk cowok itu. Sang dewa penyelamatnya.

"Takut."

🍁🍁🍁

Gombrolan anak Axellez itu bermain basket dilapangan indoor. Mereka latihan sekaligus melatih adik kelas yang mengikuti eskul basket sekolah.

Tangan Gitar memantul-mantulkan bola basket ke lantai, lalu memasukkannya ke ring dan berhasil.

Cowok itu senyum kemenangan. Melirik semua temannya dengan bangga.

"Emang lah, lo paling jago deh. Gue gak bakal bisa ngalahin lo," ucap Derby.

"Jago lah, orang mainnya pekek emosi." Tristan menimpali.

"Jangan mancing macan dong, Tris. Kena amukan mampus lo." Milo memperingati.

Gitar hanya memandang Tristan tajam. Lalu kembali merebut bola dari tim lawan.

"Untung Gitar gak ngeladenin." Marvel menghela napas lega. Dia kembali ke timnya. Bermain basket bersama yang lainnya.

Sudah 20 menit lamanya mereka bermain di sana. Sampai kaos basket yang dipakai basah karena keringat.

"Bro. Lo masuk. Gue mau istirahat," ucap Gitar pada teman sekelasnya yang bernama Rafi.

"Oke."

Gitar keluar dari lapangan. Dia duduk  di kursi penonton. Menengguk air mineral yang ada di sana.

Marvel bergabung di samping Gitar. Mengelap wajahnya dengan handuk kecil.

"Lo gak nganter Melody pulang?" Marvel tiba-tiba bersuara.

"Dia udah gede. Bisa pulang sendiri," jawab Gitar, sambil menutup botolnya.

"Lo yang jemput dia, lo biarin dia pulang sendirian?" Marvel tertawa sumbang. "Aneh."

Gitar menoleh. "Terus, urusannya sama lo apa?"

Gitar tidak suka dicampuri urusannya. Apalagi dengan orang yang sok menasehati dirinya. Toh, hidup juga hidupnya.

"Sebenarnya lo suka beneran gak soh sama dia? Atau cuma main-main doang?" Bukannya menjawab, Marvel malah mengucapkan pertanyaan lain.

"Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?"

"Gak tau, lagi pengen aja." Marvel diam sejenak. "Dia cewek, Gi. Hatinya mudah rapuh. Sekali lo sakitin dia, maka dia mengalami trauma akan cinta."

Gitar tertawa sumbang. "Dia gak selemah itu kali."

"Terserah."

"Vel. Gue ingetin sama lo. Jangan ganggu hidup gue. Apalagi yang berkaitan sama Melody. Mending lo urus hidup lo sendiri."

Marvel diam, tak menjawab lagi. Memang sepertinya yang dikatakan Gitar benar. Selama ini dia terlalu ikut campur dalam urusan orang. Memang salah ya, jika ia ingin melindungi Melody?

Gitar merogoh ponselnya yang bergetar. Dahinya mengerut, melihat nama si-penelepon.

Kenn?

"Halo."

"Alat musik. Lo lagi dimana?"

"Di sekolah. Why?"

"Oh jadi masih di sekolah. Ngapain sih emangnya? Ody ditungguin nyokap bokapnya suruh pulang."

Alis Gitar mengerut. "Melody?"

"Iya, lo lagi sama dia,  kan?"

Gitar diam, pikirannya campur aduk. Seketika ia teringat kejadian Melody yang diculik oleh Yasa.

"Halo? Eh lo kok diem aja sih? Jangan bilang kalau__"

tut.

Gitar memutuskan sambungannya sepihak. Dia tak mau Kenn tahu yang sebenarnya.

Jadi Melody belum pulang?

Pikiran Gitar berkecamuk. Dia segera meraih ranselnya. Dan pergi dari sana.

"Gitar, lo mau ke mana?"

Pertanyaan dari Tristan yang baru saja ingin menghampirinya ia abaikan.

"Urusan cinta." Marvel menepuk bahu Tristan, membuat dahi cowok itu mengerut.

🍁🍁🍁

Pandangan Gitar tetap terjaga, melirik kanan kiri untuk mencari gadis itu.

Lalu mobilnya ia tepikan di halte, tempat biasa Melody menunggu kendaraan umum. Dia menghampiri dua orang pria di sana. Yang terlihat brandalan.

Tanpa basa-basi, Gitar langsung melontarkan kalimat tanya "Kalian lihat cewek lewat sini gak? Kulitnya putih, rambutnya hitam sepunggung."

"Oh, jadi tuh cewek, cewek lo?" tanya salah satunya.

Alis Gitar terangkat.

Yang satunya ikut menyahut dengan tawa yang mengejek. "Tadi dia emang di sini sih tapi...."

"Tapi kenapa? Lo ganggu dia ya?!"

"Santay dong, Bro."

"Sekarang dia dimana? Jawab!" Gitar berteriak. Dia tidak suka diajak main-main.

"Mana kita tau. Terakhir kita kejar, dia malah lari ke jalan arah hutan. Kita tinggalin deh."

"Bangsat!"

Emosi Gitar sudah tidak bisa dikendalikan lagi, dia memukuli keduanya secara bergantian. Baru satu bodeman saja pipi mereka sudah membiru.

"Kalau sampai dia kenapa-napa. Gue gak segan-segan bunuh kalian berdua!" Peringat Gitar.

Dia langsung kembali ke mobilnya. Mengendarai mobil pun pikirannya berkecamuk. Untung saja jalanan sepi, jika ramai sudah nabrak orang kali.

Perlahan matahari tertutup awan hitam. Rintik-rintik hujan turun membasahi bumi.

"Ody. Kamu dimana sih?" Gitar memijit pelipisnya.

"Ini salahku. Gak seharusnya aku biarin kamu pulang sendirian."

Pandangannya dari dalam mobil pun samar-samar. Saat hujan mulai deras. Pandangannya menyipit, melihat gadis yang sedang berjalan di tengah keramaian hujan. Dia menepikan mobilnya. Tanpa aba-aba langsung berlari menghampiri gadis itu.

Dia memayungi gadis itu dengan jaketnya. "Kenapa jalan sendiri?"

Gadis itu mendongak. Dengan tatapan sendu yang menyayat hatinya. Gadis itu memeluknya erat. Menangis, meraung di bawah hujan. Gitar membalas dekapannya hangat.

"Takut."

"Jangan takut. Ada aku di sini."

"Mereka ... hiks ... mereka mau berbuat jahat. Aku takut Gitar, aku takut."

Gitar tahu apa yang dirasakan Melody. Dia memberi kehangatan dan ketenangan pada gadisnya.

Gitar melepas pelukannya, menangkup pipi Melody. "Kamu tenang aja, ya. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Gak akan aku biarkan satu orang pun nyakitin kamu."

Gitar memberi kecupan singkat di pelipis Melody. "Sorry, Mel. Sorry. Seharusnya aku gak biarin kamu sendirian."

Melody masih terisak. Tapi perasaannya mulai tenang mendengar suara Gitar.

"Aku akan selalu ada di garda terdepan buat kamu. Tanganku akan mengenggammu saat jatuh, bahuku akan menjadi sandaranmu saat rapuh. Dan aku akan memelukmu, saat kamu sedih. Jemariku akan menghapus air matamu dan menggantikannya dengan kebahagiaan."

Melody terpaku dengan perkataan Gitar baru saja. Hatinya menghangat kala mendengar itu.

"Aku sayang kamu, Melody. Aku sayang kamu."

Perasaan Melody campur aduk. Senang, sedih, dan terharu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tangannya kembali memeluk orang di depannya. Orang yang telah membuatnya jatuh cinta.

Gitar merenggangkan pelukan Mereka. "Kita pulang yuk."

Melody mengangguk.

TBC

Sorry typo.

2500 word.

Panjang kan ya.

Maaf ya baru bisa update. Sibuk di dunia nyata soalnya.

Gaes yang lagi libur mari merapat. Butuh hiburan baca ceritaku aja. Jangan lupa rekomendasikan ke temen-temen kalian ya!

Gimana part ini, dapet gak feelnya?

Sorry ya kalo akhir-akhir ini telat update maupun sebagainya.

Aku lagi sibuk nugas. Tugas online gak selesai-selesai. Wkwk curhat.

Jangan lupa vote dan komen. Karena itu sangat berharga buat aku. Kita simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan. Kalian nulis komen yang banyak, aku nulis chapter selanjutnya.

Follow

Wp = @DellaRiana
Ig = @della_riana24

Love.

Dedel

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top