CHAPTER THIRTY THREE
Su Li membuka matanya perlahan. Menatap wajah tampan suaminya yang tertidur. Karena perasaan canggung setelah akhirnya mereka kembali bersatu dalam keadaan sadar, Su Li memutuskan untuk pura-pura tertidur. Tangan Su Li terangkat menyentuh jembatan hidung Ziang Wu perlahan, berusaha agar tidak mengusik tidur lelakinya.
Jika mengingat bagaimana hubungan di antara mereka bisa terjalin, Su Li sama sekali tidak memprediksi jika akhir dari hubungan mereka akan seperti ini. Bagaimana dirinya yang tidak mempercayai sebuah hubungan dan membatasi diri dengan dinding yang kokoh, dapat luluh dengan perlakuan Ziang Wu yang tidak pernah lelah untuk terus memberinya sebuah cinta dengan wujud kepedulian dan perhatian yang tidak berkesudahan. Memberinya bukti bahwa hubungan setiap orang itu tergantung dari siapa yang terlibat.
Su Li pernah membaca sebuah buku yang menyatakan, jika manusia akan mengalami tiga fase dalam jatuh cinta. Fase pertama first love yang akan memperkenalkan apa itu cinta, fase kedua hard love yang akan membuat manusia merasakan bahwa cinta itu juga bisa menyakiti, dan terakhir unconditional love dimana akan hadir cinta tak terduga yang yang berhasil memikat ketidaksempurnaan menjadi keindahan.
Mungkin ia begitu cepat menyimpulkan tetapi baginya Ziang Wu adalah unconditional love yang tidak hanya mengajarkan bagaimana jatuh cinta tetapi juga bagaimana cara membalasnya. Pemuda yang tertidur pulas di depannya ini tidak pernah gentar meyakinkan bahwa dirinya layak untuk menerima semua cintanya serta mengajarkan untuk berani menerima apa yang selama ini berusaha ia tolak.
Sedikit demi sedikit rasa takutnya akan hubungan dapat teratasi dengan keberadaan Ziang Wu di sisinya. Tak dapat Su Li mungkiri, hubungan kedua orang tuanya memberikan sebuah luka yang membuatnya tidak mempercayai sebuah hubungan yang dinamakan dengan pernikahan.
Su Li kemudian membenamkan diri dalam pelukan hangat sang Suami. Mendengarkan detak jantung yang sayup terdengar menjadi lagu pengantar tidurnya. Tempat ternyaman baginya mulai saat ini.
“Aku juga mencintaimu,” lirihnya di ujung kantuk yang menyerangnya.
***
“Selamat pagi,” ucap Ziang Wu saat melihat Su Li yang masuk ke area dapur.
“Selamat pagi,” jawab Su Li sambil menyeret langkah kakinya. Wanita itu masih setengah sadar ketika membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin. Langkah malas itu kemudian kembali ia seret menuju kamar mandinya.
“Cepatlah bersiap kemudian sarapan,” ucap Ziang Wu yang hanya diberikan acungan jempol oleh Su Li.
Tak berapa lama kemudian, Su Li kembali hadir dengan tampilan yang lebih segar. Ia memilih menggunakan blus katun berwarna kuning pastel yang ia padukan dengan celana kulot cokelat. Rambut yang sudah melebihi bahu itu ia ikat ekor kuda. Tas kerja warna putih ia letakkan di atas meja makan. Senyumnya merekah saat mendapati bubur favoritnya terhidang. Aroma harum yang menguar membuatnya duduk tidak sabaran.
“Aku menambahkan buncis dan kacang polong, bagaimana?” tanya Ziang Wu sambil memperhatikan tanggapan Su Li.
“Tetap enak seperti biasanya,” ucap Su Li sambil mengacungkan dua ibu jarinya.
“Syukurlah. Aku takut tidak sesuai dengan seleramu.”
Wanita itu menggeleng. “Pada dasarnya aku bisa makan makanan apapun. Kau tidak perlu khawatir.” Ziang Wu tersenyum melihat bagaimana istrinya itu bisa makan dengan lahap.
Ziang Wu memperhatikan dengan seksama menunggu apa yang akan dikatakan oleh Su Li selanjutnya. “Apa Nona Lin sudah melaporkan hasil pencariannya padamu?”
“Hari ini dia ingin menyerahkannya. Kita lihat apa saja yang dapat Nona Lin temukan.”
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Ziang Wu menghentikan sejenak sarapannya.
“Kita bisa bertemu dengan temanku hari ini. Dia bisa membantumu,” ucapnya kemudian melanjutkan sarapan. Su Li hanya mengangguk, walau tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh sang Suami.
***
Su Li membaca dengan teliti apa saja isi amplop cokelat yang barusan ia terima dari Nona Lin.
“Jadi Dokter Bao sekarang sedang tidak berada di Tiongkok?”
Nona Lin mengangguk. “Dokter Bao sekarang berada di Kanada. Ia sedang menempuh pendidikan doktoral dokter spesialis sejak dua tahun yang lalu. Informasi lainnya bisa anda lihat di berkas yang sudah saya berikan.”
“Oke, kerja bagus. Terima kasih, Nona Lin,” ucap Su Li. Informasi yang diberikan oleh Nona Lin sangatlah berharga. Banyak hal yang dapat ia keruk dan selidiki lebih dalam lagi. Termasuk kemungkinan keterkaitan Cosmo Tech dalam kasus pembunuhan ibunya.
Perkataan Ziang Wu tentang Ayah mertuanya yang sedang memperhatikan apa yang sedang ia kerjakan membuatnya sedikit siaga. Wanita itu kemudian meminta Nyonya Lin kembali ke mejanya. Di saat seperti sekarang, yang bisa ia percayai hanyalah Ziang Wu. Semua orang memiliki potensi untuk menusuknya dari belakang.
Setelah memastikan ia tidak ada jadwal yang mendesak, Su Li mengemasi seluruh barangnya. Ia ada janji temu dengan seseorang bersama Ziang Wu sore ini. Setelah memastikan semua bawaannya tidak ada yang tertinggal, Su Li beranjak meninggalkan kantor. Sekilas ia melihat bilah notifikasi pesan masuk dari Ziang Wu.
[Ziang Wu 14.45: Aku sudah di lobi.]
“Nona Lin, aku pergi,” pamit Su Li pada sang Sekretaris ketika melewati mejanya.
“Baik, Nyonya.”
Kotak besi yang membawanya telah sampai ke lobi membuat Su Li bergegas melangkah keluar. Wajahnya berubah menjadi datar ketika melihat Ziang Wu sedang berbicara dengan Shen Yue.
“Sayang.”
Dua orang yang sedang mengobrol itu serentak menolehkan kepalanya. Melihat tatapan dingin Su Li membuat Shen Yue menjaga jarak dari Ziang Wu. Sedang Ziang Wu berusaha untuk tidak tersenyum.
“Kau sudah lama menunggu?” ucap Su Li sambil menggandeng salah satu lengan Ziang Wu.
“Tidak, karena kebetulan Shen Yue juga sedang bertanya sesuatu padaku.”
Tatapan Su Li beralih kepada gadis muda yang memberikannya salam hormat. Ia mengangguk membalas salam tersebut, karena walaupun ia sebenarnya kesal melihat perempuan itu menempeli suaminya, Su Li harus tetap bisa menjaga wibawanya. Biar bagaimanapun Shen Yue adalah pegawainya.
“Sudah selesai? Aku sudah lapar,” ujar Su Li. Ziang Wu menahan senyumnya, tingkah Su Li sangat menggemaskan untuknya.
“Pembicaraan kami sudah selesai. jadi kita bisa pergi makan sekarang,” ucap Ziang Wu kemudian pamit kepada Shen Yue. Jika dibiarkan terlalu lama, ia takut Su Li akan merajuk padanya. Begini saja lengannya sudah menjadi korban.
“Bisakah aku minta sesuatu padamu?” tanya Ziang Wu ketika keduanya sudah memasuki mobil. Istrinya itu hanya berdehem. Ziang Wu baru tahu ternyata sang Istri adalah pencemburu.
“Bisa kau panggil aku seperti tadi?”
Bukannya menjawab, permintaan Ziang Wu hanya dibalas dengan tatapan tajam Su Li. membuat Ziang Wu hanya bisa terkekeh dan tidak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi sang Istri.
“Mengapa kau terlihat menggemaskan ketika sedang merajuk?” ucapnya lagi yang masih tetap tidak digubris oleh Su Li.
***
“Su Li itu kalau kesal tinggal kau bujuk dengan dessert kesukaannya. Walau awalnya menolak, ia tetap tidak bisa tahan jika sudah disuguhi makanan-makanan manis itu. Tunggu saja sampai ia memaafkan semua kesalahanmu.”
Ziang Wu menggosok tengkuknya kala mengingat petuah sang Ayah mertua. Sepertinya ada bagian yang tertinggal dari petuah tersebut. Hingga mereka sampai di salah satu kafe yang berada di kawasan Wangfujing itu, Su Li masih betah mendiaminya. Padahal wanita itu sudah menghabiskan satu porsi banana split.
Untung saja orang yang mereka tunggu tak lama kemudian jadi mereka tidak terlalu lama terjebak dalam kesunyian itu.
“Su Li, kenalkan ini Bai Wan. Teman SMAku.”
Su Li membalas jabatan tangan pemuda yang Ziang Wu katakan bisa membantu mereka mengumpulkan bukti sekaligus membantu Su Li untuk mengurus pengajuan kasus pembunuhan ibunya. Karena pemuda tersebut adalah seorang pengacara.
“Secara garis besar, saya sudah mendengarnya dari Ziang Wu, tetapi informasi itu belum cukup sebagai acuan kita untuk mengajukannya ke pengadilan. Jadi kita harus mengumpulkan bukti lebih banyak.”
Mendengar hal tersebut, Su Li kemudian mengeluarkan amplop coklat yang tadi diberikan oleh Nona Lin. Bai Wan kemudian memeriksa berkas yang berada di amplop tersebut dengan teliti.
“Jadi, menurut kalian Dokter Bao ini adalah kaki tangan dari tersangka utamanya?”
Su Li mengangguk mantap. Karena ia tidak dapat menebak sama sekali apa motif dari Dokter Bao untuk membunuh Ibunya jika itu atas dasar kemauannya sendiri. Selain itu, nama yang berubah di rekam medis sang Ibu membuatnya yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan.
“Ada seorang dokter yang diberhentikan karena dianggap teledor menjaga Ibuku,” ucap Su Li sambil mendorong sebuah map di atas meja kepada Bai Wan. “Dokter Lao, dokter residen yang sedang piket jaga malam itu,” lanjutnya. Selain ingin mengungkap siapa sang pembunuh, Su Li juga merasa ia harus mengembalikan nama baik dari orang tidak bersalah yang ikut mendapat dampaknya.
“Baiklah, saya mengerti. Saya akan mempelajari berkas-berkas ini dan mencoba mengumpulkan bukti-bukti yang lain.”
Su Li menatap Ziang Wu, seperti ada sebuah kelegaan ketika satu persatu ujung dari misteri ini terkuak. Mereka sudah menemukan benang merahnya, tinggal bagaimana usaha mereka selanjutnya untuk mengurai satu per satu dan merunutnya. Sepeninggal Bai Wan, Su Li dan Ziang Wu juga bergegas untuk pulang karena Ziang Chen mengatakan ingin berkunjung.
***
“Jadi kalian belum ada rencana untuk pergi bulan madu?”
Ziang Wu dan Su Li hanya mampu saling tatap. Merasa takut membuat Su Li merasa tidak nyaman, Ziang Wu berinisiatif untuk berbicara, tetapi tidak dsangka ucapan Su Li menginterupsinya.
“Setelah finalisasi proyek dengan SOHO Group, kami berencana untuk pergi ke Luzern. Ayah pasti mengerti bagaimana padatnya pekerjaanku maupun Ziang Wu saat ini.”
Walau sedikit merasa terkejut, tetapi Ziang Wu dapat dengan cepat mengerti situasi. “Betul, Yah. Kami sudah merencanakannya sejak lama. Hanya saja waktunya selalu tidak ada.”
Ziang Chen menghela napas panjang. Beginilah yang terjadi ketika workaholic disatukan. Namun melihat hubungan keduanya yang sangat dekat, pria paruh baya itu bisa menghilangkan kekhawatirannya. Keputusannya untuk mengunjungi kediaman anaknya itu juga karena merasa harus memastikan rumor yang mengatakan bahwa mereka tidak akur.
“Bibimu mengatakan bahwa, Ziang Lian, sepupumu akan menikah minggu depan.”
Ziang Wu mengangguk, ia juga sudah dikabari sang Sepupu agar dapat hadir. Hanya saja ia tidak sempat memberitahu Su Li. Pemuda itu bermaksud untuk tidak mau mengganggu jadwal Istrinya yang padat. Lagipula perjalanan ke Yunnan akan memakan waktu beberapa hari, Su Li tidak akan bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.
“Ziang Wu juga sudah mengatakannya, Yah. Kami akan menghadiri pernikahan itu.”
Lagi-lagi Ziang Wu hanya bisa menatap Su Li yang sedang tersenyum manis padanya. Ia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya Su Li pikirkan.
“Aku tidak pernah mengunjungi Yunnan. Kau harus menemaniku berkeliling, Sayang.”
Dengan kikuk Ziang Wu mengangguk. “Tentu saja. Aku akan mengantarmu berkeliling,” ucapnya sambil menatap Su Li meminta penjelasan.
Ziang Chen sangat puas setelah melihat bagaimana mesra pasangan muda di hadapannya saat ini. Pria paruh baya itu hanya dapat tertawa melihat interaksi keduanya. “Di Yunnan juga terkenal dengan banyak makanan enak, daerahnya yang dikelilingi oleh pegunungan membuat Yunnan memiliki banyak tempat-tempat indah. Sangat bagus sebagai tempat liburan,” ucapnya yang disambut binar antusias dari Su Li.
Ziang Wu hanya mampu tersenyum tipis saat melihat bagaimana Su Li yang bersemangat menanggapi seluruh cerita sang Ayah mengenai Provinsi Yunnan yang merupakan kampung halamannya. Ia tidak menyangka jika Su Li tertarik dengan sesuatu seperti itu. sampai sang Ayah pulang, sisa-sisa semangat itu masih ada.
“Maaf karena aku lupa memberitahumu tentang pernikahan itu.”
Su Li yang sedang meneguk jus jeruknya menggeleng. Ia paham alasan sebenarnya adalah suaminya itu tidak mau membuatnya harus memilih antara kesibukan atau dirinya. “Aku tidak sabar. Pekerjaan membuatku jenuh, aku perlu rehat sejenak,” jawabnya dengan wajah penuh semangat.
“Lagipula aku juga ingin mengenal lebih dekat bagaimana lingkungan keluargamu, bagaimana rumah tempat kau dilahirkan dan dibesarkan, serta bagaimana pria luar biasa ini menghabiskan masa kecilnya,” lanjut Su Li yang kemudian tenggelam dalam pelukan sang Suami.
“Dasar, Wanita Nakal. Aku mengkhawatirkanmu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Jika kau merasa tidak nyaman, jangan lakukan.”
Su Li mendorong tubuh Ziang Wu menjauh kendati tangannya masih berada di pinggang sang Suami. “Tidak ada yang memaksaku. Aku hanya ingin mengenal lebih jauh suamiku. Apakah itu salah?”
Ucapan Su Li berhasil membuat dadanya bergemuruh senang. Satu kecupan ia berikan kepada istri cantiknya. Ziang Wu kembali mengeratkan pelukan keduanya.
“Terima kasih, Sayang,” ucapnya sambil mengecup pucuk kepala Su Li berkali-kali.
‘Selain itu aku ingin menghilangkan salah satu kemungkinan terburuk yang kita punya.’
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top