CHAPTER SEVENTEEN

WARNING!

Ziang Wu kembali melirik jam dinding. Ia sudah menyelesaikan satu ronde tetris di ponsel tetapi Su Li belum juga menampakkan batang hidungnya. Kembali ia membuka room chat terakhirnya bersama sang Istri. Pesan yang dikirimkan oleh Su Li sepuluh menit yang lalu menyatakan bahwa gadis itu sedang berada di lift.

Pemuda itu menengok ke arah dalam di mana sang Ayah sudah kembali tertidur pulas. Kemudian mencoba menghubungi ponsel Su Li. Suara nada tunggu yang tidak berhenti membuat Ziang Wu menjadi cemas dan memutuskan untuk keluar kamar.

Pada dering ke lima akhirnya panggilannya terjawab. Belum sempat ia bernapas lega, suara lirih Su Li yang memanggilnya membuat jantungnya kembali berpacu.

“Su Li, kau bisa mendengarku?” Tak ada jawaban dari seberang membuat Ziang Wu memacu langkahnya menuju lift.

Berkali-kali ia mencoba memanggil Su Li tetapi nihil, masih kesunyian yang menyapanya. Ziang Wu hampir mengutuk ketika ada suara yang terdengar di panggilannya.

“Halo.”

“Halo. Bisa berikan ponsel ini kepada pemiliknya?”

“Mohon maaf, pemilik ponsel ini pingsan dan sedang dibawa ke UGD.”

Tanpa berbicara lebih banyak, Ziang Wu memacu langkahnya menuju UGD. Di dalam hati ia tidak berhenti untuk berdoa semoga tidak ada hal yang serius terjadi pada Su Li. Seingatnya gadis itu baik-baik saja sampai sebelum keluar dari ruangan inap Ayahnya.

Sesampainya di UGD ia  berlari menuju resepsionis dan menanyakan keadaan Su Li.
Ziang Wu bernapas lega kala dokter mengatakan bahwa istrinya itu pingsan karena kelelahan dan tidak menemukan gejala berbahaya lainnya.

“Kau selalu menahannya sendirian,” gumamnya sambil memperbaiki anakan rambut yang menutupi wajah tenang Su Li.

Beberapa pemikiran berkelebat di kepalanya. Senyum getir itu jelas tercetak kala manik sehitam malam itu memandangi sosok yang sedang terpejam di hadapannya.
Tangan kanannya menggenggam jari-jari kurus itu dengan hati-hati seolah barang berharga yang sangat rapuh.

Tumpukan pekerjaan dan juga persiapan pernikahan pastilah menguras seluruh energi Su Li. Belum lagi masalah kasus pembunuhan ibunya. Gerakan halus jemari yang ia genggam membuat Ziang Wu tersadar dari lamunannya. Perlahan mata itu terbuka. Mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna.

Su Li merasakan kepalanya yang begitu berat seperti habis terhantam sesuatu. Su Li negerang dengan mata memejam menahan sakit, kepalanya dua kali lebih berat seperti dihantam sesuatu tak kasat mata. Perlahan ia mencoba membuka mata. Bias lampu terlalu terang, memaksa matanya kembali menutup. Setelah beberapa detik, ia kembali mencoba membuka mata perlahan. Setelah retinanya terbiasa dapat ia tangkap bagaimana wajah lega Ziang Wu yang berada di sampingnya.

“Dimana aku?” tanyanya dengan suara serak.

“UGD. Tadi kau pingsan. Kata dokter kau boleh pulang setelah selesai menghabiskan satu botol infus ini.”

Gadis itu melihat tangan kirinya di mana jarum menancap. Cairan infus mengalir melalui selang, terhubung dengan botol bening yang dikaitkan pada tiang stainless.

“Tidurlah lagi, aku akan menemanimu,” ucap Ziang Wu.

***

Keadaan Ziang Chen menunjukkan perkembangan yang baik. Pria paruh baya itu hanya menghabiskan waktu tiga hari pasca operasi apendisitisnya. Pasangan pengantin baru itu pun tinggal di rumah Ziang Chen karena Ziang Wu bersikeras ingin merawat sang Ayah hingga pulih. Pun Su Li tidak keberatan dengan hal tersebut.

“Maaf, karena Ayah, kalian jadi tidak  bisa pergi berbulan madu.”

Pagi ini Ziang Chen bangun lebih awal, memperhatikan punggung sang Putra yang sedang menyiapkan sarapan. Secangkir teh herbal terhidang di depannya.

“Masa pelatihan Su Li juga sudah dimulai. Kami bisa kapanpun jika ingin bulan madu.”

Ziang Wu memindahkan bubur yang telah matang ke dalam mangkuk, ada beberapa yang ia masukkan ke dalam termos tahan panas. Kemudian ia membawa mangkok dan menatanya berdampingan dengan telur rebus dan juga cakwe goreng yang sudah terhidang lebih dulu di atas meja.

“Kau cocok dengan apron itu,” seloroh Ziang Chen yang hanya dibalas dengan kekehan dari Ziang Wu. Pemuda yang sudah rapi dengan kemeja lengan pendek berwarna toska itu melepas apronnya dan mendudukkan diri di hadapan sang Ayah.

“Kau tak membangunkan istrimu?”

Ziang Wu menggeleng, “Ia tidak pulang semalam. Lembur.”

“Pelatihannya sudah mulai, ya?”

“Sejak kemarin. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa kami tidak bisa melakukan perjalanan bulan madu. Jadi yah tak perlu merasa bersalah.”

Pernikahan Ziang Wu dengan Su Li merupakan kejutan terbesar untuknya tahun ini. Ziang Chen tahu bahwa anaknya tidak pernah berhubungan dengan wanita dan khawatir akan itu. Tak ia sangka bahwa Ziang Wu ternyata menjalin suatu hubungan asmara dengan Su Li. Anak dari atasannya yang sudah ia layani puluhan tahun.

“Baik-baiklah pada Nona Su. Kau tahu sendiri bagaimana ia dibesarkan. Ayah ingin kalian berdua bisa berbahagia.”

Ziang Wu melahap sendokan terakhir buburnya. Mengangguk dan beranjak dari tempat makan. “Ayah tidak perlu khawatir, percayakan saja padaku,” ucapnya sebelum berlalu. “Maaf tidak bisa menemani Ayah sarapan, aku memiliki tugas penting pagi ini,” ucapnya lagi sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

***

“Nona Su, ini kopi anda.”

Su Li melepas kacamata baca yang sudah bertengger semalaman menemaninya menganalisis setumpuk laporan yang berada di depannya. Gadis itu meregangkan tubuhnya, melepas bantal leher dan berjalan menuju jendela kaca yang menampilkan kemegahan Beijing di pagi hari. Menghirup dalam aroma kafein yang menguar dari larutan hitam pekat dalam genggamannya.

“Kau tidak bermaksud sarapan hanya dengan secangkir kopi itu bukan?”

Su Li memutar tubuhnya cepat. Senyumnya tersungging kala mendapati kehadiran Ziang Wu yang berjalan mendekatinya. 

“Darimana kau tahu kalau ini kopi?”

Sambil menatap makanan di atas meja, Ziang Wu menjawab, “Kau bukanlah anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi itu tidak mungkin segelas susu.”

Gadis itu mendekat sambil terkekeh. Tidak menyangka bahwa seorang lelaki kaku seperti Ziang Wu bisa berseloroh. Maniknya takjub dengan hidangan yang disiapkan oleh suaminya tersebut. Semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap hangat itu berhasil membuat perutnya keroncongan.

Dua potong cakwe dan sekotak buah segar juga terhidang di atas meja.  Tak lupa sebotol air mineral juga disiapkan oleh Ziang Wu. Su Li meletakkan cangkir kopinya ke atas meja, mengambil mangkuk bubur yang disodorkan oleh Ziang Wu.

“Saat perut kosong kau tidak akan bisa konsentrasi. Jadi jangan sampai meninggalkan sarapan.”

Sudah lama rasanya tidak ada yang memperhatikan dirinya membuat sebagian sudut hati Su Li menghangat. Gadis itu mengangguk patuh seperti sedang mendengarkan petuah dari sang Ayah. Senyum tipis Ziang Wu terbit kala melihat Su Li yang begitu lahap menghabiskan sarapannya.

“Buburnya enak. Lain kali beli lagi di toko ini,” ucap Su Li yang sukses membuat Ziang Wu sempat terdiam dan mencerna ucapan gadis yang masih melahap sarapannya dengan antusias. Ia hanya bisa menggeleng tidak percaya.

“Baiklah, besok akan kubelikan dari toko yang sama.”

***

“Ini pertemuan yang terakhir?”

Nona Lin sekali lagi mengecek jadwal Su Li pada tablet yang berada dalam pelukannya. Memastikan tidak ada yang terlewat kemudian mengangguk. “Benar, Nyonya. Pertemuan tadi adalah yang terakhir. Besok anda bisa beristirahat di rumah.”

Akhirnya. Su Li meregangkan badannya. Selama tiga jam ia terduduk di depan layar mengikuti pertemuan secara daring dengan beberapa pimpinan cabang Liang Tech yang tersebar di beberapa benua.

Tidak semua pertemuan diberikan padanya, Tuan Su masih memilah pertemuan yang bisa ia hadiri. Selama sepekan dalam periode pelatihannya, Su Li tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga mental serta emosionalnya. Bahkan ia hanya bisa pulang dua kali, sisanya ia tertidur di kantor.

Sang Ayah juga sudah mengatakan bahwa Su Li bisa perlahan saja, tidak perlu buru-buru tetapi gadis itu tidak bisa kehilangan waktu lebih banyak lagi. Apalagi dengan keberadaan fakta baru yang ia dengar di rumah sakit, ia sudah bertekad tidak akan menyerah begitu saja.

“Apakah Nyonya akan pulang?”

Panggilan itu masih terasa asing baginya. Su Li menatap cincin perak putih yang melingkar di jari manisnya. Kilau dari berlian seberat 4 karat itu seperti menyadarkannya akan sesuatu. Bahkan ia pun lupa jika dirinya sudah menikah!

“Kau tidak perlu mengantarku. Sampai bertemu di hari senin, Nona Lin,” ucapnya kemudian bergegas pergi setelah menyambar blazer hitam di gantungan.

Alih-alih menuju rumah, Su Li membawa Mercedes Maybach S-Class hitam metalik itu ke Mai Bar. Bar itu benar-benar telah menjadi favoritnya. Tidak ada yang berubah dari kali terakhir ia berkunjung.  Bahkan tatapan genit dari bartender itu juga masih ia dapatkan.

“Negroni,” ucapnya pendek saat sang Bartender menanyakan pesanannya.

“Kau berniat mengakhiri malam ini dengan cepat, Manis?”

Su Li menulikan rungunya. Memilih untuk berkutat dengan ponselnya daripada meladeni celotehan genit bartender. Mengambil sebuah foto dan mengirimkannya kepada seseorang.

Sebuah gelas yang berisi cairan berwarna merah dengan irisan jeruk kering yang mengapung tersaji di depannya.  Dengan pasti ia sesap minuman yang berasal dari Italia tersebut. Walaupun bersikap genit, Su Li akui bartender yang sedang sibuk di depannya saat ini sangat pandai meracik minuman.

Campuran Gin dan juga red vermouth dalam minumannya terasa pas. Bartender itu benar. Ia membutuhkan sesuatu yang strong yet sweet sebagai penghargaan bagi dirinya sendiri karena sudah melalui minggu ini dengan baik.

***

Ziang Wu sudah bersiap tidur kala sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pemuda berpiyama abu-abu itu segera bergegas mengganti baju saat melihat pesan yang dikirimkan Su Li untuknya. Mengingat kegilaan yang terjadi saat terakhir gadis itu mabuk membuat Ziang Wu segera memacu mobilnya ke Mai Bar.

Ponselnya berdering kala perjalanannya terhambat oleh lampu merah. Setelah mengaktifkan handsfree Ziang Wu mengangkat panggilan tersebut.

“Halo, apakah benar ini suami nona ini?”
Suara pria yang terdengar di seberang telepon membuat ia kembali memastikan bahwa benar Su Li yang telah menghubunginya.

“Siapa kau?” tanyanya dingin.

“Nona ini sudah tidak sadar. Bisakah kau menjemputnya?”

“Saya sedang di perjalanan. Tolong temani istri saya sebentar.”

Tak berapa lama, lelaki jangkung itu sudah sampai di pelataran Mai Bar. Ia bergegas membawa langkah panjangnya memasuki Bar dan menemukan Su Li yang sudah menelungkupkan kepalanya di atas meja. Melihat kedatangan Ziang Wu, bartender itu kemudian menyerahkan ponsel Su Li.

“Pantas saja ia begitu membanggakan suaminya,” gumam bartender itu kemudian berlalu. Ia sedikit kerepotan meladeni ocehan Su Li sejak tadi.

***

Ziang Wu bernapas lega kala melihat Su Li yang terlelap di sampingnya. Untung saja malam ini Su Li mabuk dan hanya tertidur. Gadis itu sempat terbangun sesaat saat mereka sampai di pekarangan rumah.

Melihat wajah ayu yang begitu letih itu, Ziang Wu tidak tega untuk membangunkannya. Sehingga pemuda itu memutuskan untuk menggendong istri kecilnya tersebut.

“Sebaiknya kau berbaring sebentar —”

“Hanya kalau kau ikut berbaring denganku” gumam Su Li pelan. Tangan itu masih bergelayut di leher Ziang Wu. Dengan bingung pemuda itu tidak paham mengapa Su Li mengajaknya tidur bersama.

“Jangan melakukan hal yang akan kau sesali esok hari,” ucap pemuda itu walau ia tahu bahwa itu tidak ada gunanya karena Su Li tidak sadar saat ini. Dengan perlahan Ziang Wu meletakkan Su Li di tempat tidur.

Tubuhnya menegang kala Su Li tiba-tiba memotong jarak dan menyesap lehernya. Aroma manis ceri itu kembali menyeruak memasuki indra penciumannya.

Ziang Wu masih berusaha berpegang teguh pada pendiriannya. Su Li mabuk saat ini. Ia tidak akan menjadi lelaki brengsek yang mengambil kesempatan. Perlahan dilepaskannya kedua tangan dari lehernya.

Su Li membuka matanya dan menatap Ziang Wu seakan menuntut penjelasan. Kembali lagi Ziang Wu merasakan sensasi aneh yang menjalari tubuhnya saat manik kecokelatan itu memerangkapnya. Tidak lagi memperdulikan prinsip yang sejak tadi ia pegang teguh. Fokusnya turun kepada bibir yang berpoles lipstik merah pudar tersebut.

Tidak ada rasa bosan baginya kala kembali mendapat kesempatan menyesap bibir ranum tersebut. Sedikit  rasa Gin yang tersisa dapat ia cicipi saat tautan bibir mereka terlepas.

Ziang Wu merangsek maju, mencoba membuka secara hati-hati seolah gadis di dekapannya adalah sebuah kado yang berharga. Berhenti sejenak untuk mengagumi ataupun menggoda apa yang ia lihat dan sentuh. Su Li mengerang di atas seprai sutra tersebut, kabut gairah jelas melingkupi keduanya. Tubuh polos yang dihujani cahaya temaram kamar membuat Ziang Wu tidak dapat menahan untuk tidak melucuti pakaiannya sendiri. Sepenuhnya terlena dalam gairah dan terlucuti dari rasa malu.

Su Li memberikan respon yang baik atas semua rangsang yang ia terima. Tangan Ziang Wu terasa hangat di tubuhnya saat mereka bercinta. Irama pemuda itu membuatnya bergairah. Dengan jantung berdebar dan napas terengah, keduanya mencapai puncak dan meledak dalam kenikmatan secara bersamaan. Gadis itu terkulai ke tempat tidur dengan Ziang Wu yang memerangkapnya.

Ziang Wu berguling untuk membebaskan Su Li kemudian berbaring di sebelahnya. Menarik tubuh polos itu dalam pelukan. Berharap tidak akan ada yang menyesal dengan apa yang telah terjadi.

“Selamat malam,” bisiknya lirih sebelum sebuah kecupan yang  ia daratkan di pucuk kepala Su Li.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top