Chapter 22

"Cassandra ...."

Panggilan lembut mengalun ke telinga sang gadis. Dia terhenyak, menyadari dirinya di tempat lain. Sangat damai, tenang, tidak terdapat sesuatu yang membuatnya khawatir ataupun gelisah. Terdapat telaga luas yang memantulkan sinar kebiruan.

"Cassandra ...."

Sekali lagi panggilan itu menarik atensi sang pemilik nama. Dia menoleh ke segala sisi lantas menemukan wanita yang persis seperti dirinya, hanya saja lebih tua. Ah ... Mamah?

"Mah? Mamah?!"

Cassandra berlari menuju pohon beringin dengan daun putih yang bersinar-sinar. Sang gadis memeluk ibunya yang kini balik memeluk hangat. "Mamah! Mamah!"

"Shhttt ... Mamah di sini. Mamah di sini, sayang."

Cassandra menangis, meraung, berseru-seru pilu. Semua kesedihannya dia tuangkan dalam satu waktu. Ibunda yang mendengarkan terdiam tak menyela barang sekali, mengeluh buah hati penuh kasih.

"Cassandra udah gak tahu harus apalagi, Mah. Cassandra takut ... Cassandra takut."

Tangisan Cassandra diusap oleh ibunda. Leora tersenyum mengecup dahi putri satu-satunya. "Sayang ... jangan takut."

"Tapi, Mah-"

Kata-kata Cassandra terpotong, Leora menangkupkan wajah sang gadis, mencium dahinya lembut. Tidak membiarkan kesedihan melahap buah hati yang dicintai. "Cassandra gak tahu harus gimana lagi. Avner mau lecehin Cassandra, Ali gak bisa dipercaya, Papah selalu mukulin Cassandra, Mah. Sedangkan Kakak, Kak Xhaiden dikirim papah ke RSJ. Cassandra, Cassandra takut, Mah. Cassandra takut mati."

Leora tersenyum sedih, perlahan mengangkat wajah putrinya lagi dan berbisik, "Kamu gak akan mati sayang ... gak akan. Kamu sekarang punya kesempatan kedua, dan itu gak akan buat kamu berhenti percaya ada harapan."

Cassandra tidak mengerti apa yang ibunya ucapakan. Tapi, dia jelas tahu bahwa di sisi ibunda semuanya akan aman. Aman. Satu kata yang sulit sekali dia raih. Perlahan memeluk Leora Cassandra kembali bicara, "Cassandra gak tahu harus percaya siapa."

"Kamu bisa percaya dirimu sendiri, sayang."

"Tapi, Cassandra gak tahu-"

"Karena itu kita cari tahu, bahkan jika mengorbankan banyak hal. Kita selalu tahu siapa yang paling kita cintai. Mamah ingin kamu lebih mencintai diri sendiri dibanding apa pun. Jangan lengah sayang, kamu bisa curiga sama orang lain, tapi tidak dengan dirimu sendiri."

Perlahan Leora kembali mengecup dahi Cassandra. Gadis itu tersenyum merasakan kasih sayang yang hangat. "Mah ini ada di mana?"

"Di perbatasan."

"Di perbatasan?"

"Ya? Perbatasan hidup dan mati."

"Mamah akan menunggumu di neraka sayang. Kita penjahat, dan kau tahu itu lebih dari siapapun."

"Cassandra tahu."

Cassandra tersenyum, memeluk ibunda yang mulai perlahan lenyap, benar. Dia penjahat dan akan menghalalkan segala cara demi memenangkan dirinya untuk tetap hidup. Percaya, dia harus percaya pada diri sendiri. Cassandra memejamkan mata, satu bisikan lagi kembali terdengar. "Mamah mencintaimu sayang. Juga Kak Xhaiden. Titipkan salam Mamah padanya."

.

.

.

Cassandra kini berdiri di depan Rumah Sakit Jiwa terpencil. Di mana tempat ini hanya dibuat untuk orang dengan penyakit mental yang tidak bisa diatasi. Setelah pembunuhan yang dilakukan Lucius pada ibunya.

Saat itu juga Xhaiden murka dan mengambil pistol yang tergeletak berusaha membunuh Lucius, atas dasar itulah Lucius dengan kejam mengirimkan anak pertamanya ke Rumah Sakit Jiwa atas pemberontakannya. Cassandra menelan ludah, gugup, sudah tiga tahun dia tidak bertemu dengan sang kakak juga tidak menengok. Dia ragu kakaknya akan menyambutnya.

"Pasien nomor 3445. Anda memiliki kunjungan."

Di ruangan kecil serba putih Cassandra terduduk di salah satu kursi, di depannya terdapat kursi lain yang dipersiapkan untuk pasien. "Cassandra ...," panggil Xhaiden tak percaya. Matanya membola melihat sang adik di depan mata dengan perban di kepala.

"Ada apa sama kepalamu?!"

Cassandra terkejut mendapatkan perhatian itu. Pandangannya melembut, merasakan tangan sang kakak yang kini mengusap wajahnya, berjongkok khawatir. "Kenapa? Siapa yang nyakitin kamu? Si bajingan itu?"

Cassandra tanpa sadar tergelak, dirinya menggeleng kemudian memeluk sang kakak. "Cassandra kangen Kakak." Ekspresi Xhaiden melunak, kemudian memeluk balik Cassandra dengan penuh cinta. "Kakak juga kangen sama kamu."

Cassandra terkekeh, ternyata pikirannya hanya mengelabui dirinya sendiri. Jelas bahwa Kak Xhaiden tidak membenci Cassandra sedikit pun. Normalnya dia tak peduli, tapi semenjak banyak kejadian terjadi dia jadi cukup waspada. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Cassandra mengeluarkan foto potret dari sakunya. "Kakak tahu ini siapa?"

Xhaiden mengerutkan kening, tampak tidak mengerti. Ekspresinya mengatakan bukankah jawabannya sudah jelas? "Itu Kak Xhaiden, kamu, dan juga Ali." Cassandra tersentak, matanya melebar, membuka telinga lebih jelas. "Kakak kenal Ali?"

"Ya ampun." Xhaiden berkata tak percaya, kemudian menunjuk foto di mana Cassandra memeluk Ali dari samping. "Dia kan sahabat kamu, Cassandra. Masa kamu gak inget? Kenapa kamu gak inget?"

"Hah?" Cassandra menatap tak percaya, perlahan kakaknya menceritakan lebih detail, bagaimana mereka sering bermain, berteman, dan juga bersama ke mana pun Cassandra pergi. "Maksud Kakak, Ali ini temen aku dari kecil?" tanyanya ragu, akan tetapi itu hilang ketika Xhaiden mengangguk semakin bingung.

"Cassandra. Apa yang udah terjadi sama kamu?"

Perlahan, sedikit demi sedikit memori kisah keduanya diulik. Xhaiden dengan sabar menceritakan terperinci, kisah demi kisah, cerita demi cerita yang ada. "Kamu inget gak? Dulu Kakak pernah ajak kamu camping. Kamu nangis-nangis pengen ngajak Ali sampai datengin rumahnya dn ngamuk di depan rumah Ali? Kamu inget apa yang terjadi saat itu? Kamu selalu ingin Ali di samping kamu Cassandra. Kamu gak pernah mau pisah sama dia."

Cassandra terpaku, tiba-tiba dia memegangi kepala. Lantas kesadaran memenuhi semua indra membiarkan rasa sakit menerjang kepalanya. "AHHHHHHH!"

"Cassandra!"

Cassandra terjatuh dari kursi, kepalanya nyeri bukan main, memori demi memori berhamburan memenuhi isi kepala yang sudah bising. Berteriak karena sudah lama terpendam, diredam sedemikian rupa hingga tak pernah timbul. Air mata menetes dari Cassandra. Kini dia ingat, dia ingat Ali. "Kak ...."

Xhaiden melirik Cassandra mengepalkan tangan. "Kakak tahu pasti ini ulah bajingan itu." Cassandra meringis, kepalanya semakin nyeri, dia didekap oleh kakaknya. Semua rahasia terbongkar. Cassandra mulai mengingat satu persatu memori. Di mana dirinya dicuci otak oleh Lucius agar melupakan kebenciannya pad pria itu.

Cassandra menyadari satu hal, Lucius sangat menyayanginya sampai tidak mau dibenci oleh putrinya sendiri. Dia bahkan menghipnotis Cassandra agar melupakan kebencian itu, akan tetapi itu tak sepenuhnya berhasil, yang ada hanyalah efek samping yang menyebabkan dia melupakan ingatan-ingatan berharganya, termasuk Ali.

"Kak ... Cassandra tahu harus apa sekarang."

Dan Ali yang mencintainya dari lama, semenjak mereka kecil kecewa karena Cassandra melupakannya. Jelas. Padahal mereka selalu bersama, tak pernah berpisah. Sangat menyakitkan mengetahui orang terdekat melupakan kita. Cassandra bangkit, menatap kakaknya yang masih khawatir.

Namun, cinta Ali tidaklah murni seperti masa kanak-kanak. Ali sudah terobsesi dengannya hingga mengawasi dia dari setiap tempat. Bahkan dengan cara kotor, menjadi stalker, obsesif mengerikan. Cassandra menyugar rambut menghembuskan napas.

"Cassandra harus kembali, Kak. Ada yang harus Cassandra urus."

Cassandra hendak melangkah keluar akan tetapi tertahan dengan cengkraman Xhaiden. Pemuda itu mulai mengerti apa yang dialami sang adik. "Sebelum itu ada satu hal yang harus kamu tahu."

Cassandra mengernyitkan dahi, oh, dia lupa telah menceritakan dia mengulang waktu. Tentu seharusnya Xhaiden tak percaya, tapi pria itu mendesaknya untuk pergi bersama sang kakak. "Kita harus pergi ke Keluarga Valentine, keluarga mamah. Ada hal yang perlu kita tahu."

Cassandra menatap sesaat sebelum mengangguk. Kini semua misteri seolah terbuka satu persatu, kepalanya masih pening, dia terduduk meremas tangannya. Tunggu saja. Dia kan membuktikan seberapa kuat dia menjadi penjahat. Tak ada yamg bisa menyaingi kemampuannya untuk bertahan hidup.

Tidak bisa.

Bersambung ....

15 November 2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top