Chapter 12

"Enak..."

Mulutnya kini penuh dengan makanan, pipinya menggembung-- terlihat imut. Setelah lapar karena insiden pagi tadi, sekarang rasanya dia benar-benar dibawa ke surga disuapi roti lapis yang dibawa Ali. Awalnya Cassandra tidak tahu harus berbuat apa ketika Ali menyodorkan roti lapis ke mulutnya-- sebelum akhirnya dia tertawa kecil mengambil suapan besar dari sana.

Tangan besar Ali terampil menyuapi Cassandra yang semakin merasa dimanjakan. Bahkan Cassandra lupa, selain Ali sudah berapa lama dia tidak disuapi makanan. Kekanakan memang tapi itu adalah kejujuran. Beberapa pasang mata melihat apa yang dilakukan gadis pembully yang kini tenang, bahkan disuapi cowok pendiam di kelas. Cassandra kini berubah aneh sekali, walau tetap saja tatapan gadis itu serasa menusuk orang-orang. Tapi, jelas sekali bahwa itu tidak merugikan mereka. Di sisi lain budak-budak Cassandra dengan gaya mereka yang hedon, pakaian mahal, make up tebal, juga tingkah angkuh, merasa paling cantik tidak terima bagaimana pimpinan mereka membuang mereka dan malah berduaan di kelas disuapi cowok tidak menarik.

Bahkan tidak menyamai Avner yang terkenal sekali.

"Gapapa habis?"

Tapi, mau Cassandra atau Ali di antara mereka tidak ada yang terganggu dan sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tampak jelas di mata orang lain bahwa Cassandra sudah menemukan mainan baru yang bisa menghiburnya. "Kurang?" Cassandra menggeleng pelan, roti lapis Ali habis dimakan olehnya. Perlahan walau tidak ada noda dia bisa merasakan ibu jari cowok itu bergerak menggosok bibirnya membuat tatapan Cassandra melebar untuk sesaat sebelum tertawa.

"Dih, modus."

Ceplas-ceplos, Cassandra tahu betul ketika menatap cowok itu dengan seringai jahil dia mulai minum air putih. Berbarengan dengan itu dia mendengar notifikasi di handphone. Ada update terbaru dari akun yang pernah dia ikuti yang membuatnya tahu akan chat anonim. Untuk sesaat dia terpaku, terkejut melihat semua konten yang ada di sana terhapus. Tunggu, ada apa ini?

Di konten terbaru yang diupdate terdapat peringatan.

Alasan lo gak boleh main chat anonim!!!

Cassandra menegak ludah menekan video singkat itu-- di sana ada penjelasan bahwa chat anonim dicurigai sebagai web gelap yang mengakses lokasi tempat para pemainnya untuk alasan tertentu. Ada beberapa bukti menunjukkan chat anonim bekerja untuk mengakses informasi pribadi juga pembunuhan berantai yang menewaskan beberapa orang-- dan para korban memiliki satu kesamaan. Bermain chat anonim.

"Ada apa?"

Bahkan Ali sekalipun yang cuek bisa melihat wajah pucat Cassandra. Tapi, ucapan dia tidak dibalas sang gadis yang mengigit bibirnya sedikit gemetar, napas Cassandra tertahan, wajahnya pias terlihat jelas panik. "Nggak... Bukan apa-apa," balas Cassandra sebelum menggelengkan kepala dan membuka chat anonim untuk menghapus akun dan memblokirnya.

Kuudere-kun_

eh lo liat berita?

jangan percaya kayanya itu hoaks

Cassandra tidak berani membalas, tatapannya sedikit pun beralih dari layar, bulir-bulir dingin menyusuri punggung membuat ketakutan gadis itu semakin jelas. Bahkan chat anonim yang dia kira hiburan bisa membunuhnya.

Kuudere-kun_

heh ko gak bls

bls dong

padahal dh bc

Lagi-lagi gaya tulisan di sana berbeda, dia masih terpaku sebelum melihat chat anonim kembali mengetik mengirim pesan yang kali ini membuat Cassandra membanting handphonenya membuat satu kelas terkejut.

Kuudere-kun_

Cassandra jawab :)

.

.

.

Cassandra bahkan tanpa pikir panjang membuang handphone itu. Sialan! Selalu saja begini, dia akan menyesali hal apa yang telah dilakukan karena kecerobohannya. Perlahan dan pasti dia menarik napas sebelum merasakan Ali menyodorkan air putih.

"Baikan?"

"Iya."

Cassandra mengangguk merasakan tangan besar itu menyentuh pipinya, tatapan mereka bertemu. Cassandra bisa melihat seberapa dalam netra samudera Ali dan tenggelam di sana-- untuk beberapa alasan yang tidak diketahui perlahan dia mulai tenang dan tenang. Wajahnya yang pucat berangsur kembali berwarna.

Ali tidak bertanya apa pun dan hanya diam di sana sampai Cassandra baikan. Setelah membanting handphone di kelas tadi, orang-orang yang menganggap Cassandra tenang kini kembali menyebarkan rumor bahwa gadis penjahat itu tidak akan berubah. Setelah membuang benda pipih itu secara sembarang bahkan kini Cassandra bolos, pergi ke roof top ditemani Ali.

"Padahal lo ke kelas aja."

Ali tidak membalas selain tetap di sana, terduduk di samping Cassandra, menangkupkan wajah sang gadis yang kini mulai memejamkan mata. Langit masih mendung, benar, masih musim hujan. Cassandra menarik napas panjang merasakan angin berhembus menerpa kulit. Perasaan Cassandra kalut, satu masalah dengan Avner selesai-- tapi kini dia menambah masalah baru dengan Kuudere-kun yang dia sendiri tidak tahu siapa pemegang akun itu.

"Gimana misalnya kalau gue bakal dibunuh..."

Cassandra bergumam dengan tatapan takut sekaligus kosong. Netra ruby itu kehilangan sinarnya dan gelap memikirkan bagaimana dia mati. Tangan Cassandra menyentuh dadanya, entah kenapa cara kematiannya yang benar-benar gila itu diakhiri dengan pisau yang menusuk di jantungnya. Samar nyeri dari sana terasa membuat dia tidak bisa bernapas.

Cassandra yang kalut tidak menyadari untuk sesaat tatapan Ali goyah, genggaman di wajah Cassandra menguat. "Lo gak bakal mati dengan mudah." Cassandra melirik ke arah Ali terkekeh kecil. "Jangan anggap serius. Gue bercanda aja," ujar sang gadis kemudian tersenyum kecil. Tapi, Ali tidak percaya dengan senyuman itu dan memilih diam hingga melihat mata Cassandra tertutup dan tubuhnya condong terjatuh dalam pelukannya.

Cassandra mudah sekali tertidur jika merasa aman. Ali mengusap surai ungu Cassandra dengan cengkeraman posesif, tatapan kosong itu berubah mengggelap kembali menyentuh wajah manis di depannya penuh pemujaan, sentuhan itu beralih hingga pada bibir ranum sang gadis dengan ibu jari. Lembut dan manis.

Rasa bibir Cassandra manis, bibir Ali kini bersentuhan dengan milik sang gadis. Obat tidur dalam minuman yang dia berikan bekerja cukup baik, tanpa absen lidahnya bergerak menyentuh bibir mungil yang kini sedikit dingin. Di apartemen kemarin dia hampir sudah mencicipi bibir itu berjam-jam dan itu membuatnya candu.

"Gimana gue bisa biarin lo mati Ca?"

Suara serak itu terdengar rendah memeluk tubuh tidak sadarkan diri Cassandra kuat, kepalanya kini masuk dalam ceruk leher sang gadis dan menghirup semua aroma Cassandra dalam-dalam. Setelah sekian lama dia mendambakan memiliki gadis itu di sampingnya lagi, dia tidak akan membiarkan gadis itu pergi melupakannya lagi, dia akan selalu mengawasi Cassandra. Menjaga gadis itu tetap aman dengan cara apa pun.

Ali menatap penuh nafsu seiring melihat tubuh Cassandra yang lemah dan kurus ramping. Tapi, dia menahan diri dan mencoba merasa puas hanya dengan mencicipi bibir ranumnya. Ali sudah menanti ini semenjak dua tahun yang lalu, di mana gadis itu melupakannya. Bahkan tidak lagi menyadari kehadirannya, padahal mereka selalu bersama.

Perasaan murni yang pada awalnya karena kebutuhan memiliki seseorang yang ada di sisinya, berubah menjadi perasaan gelap di mana Cassandra tidak boleh meninggalkan dia lagi. Tidak boleh. Lagi-lagi menarik dagu gadis itu, Ali melumat bibirnya dan merasakan setiap sudut mulut Cassandra.

Bahkan jika menahan diri dia tidak akan pernah puas. Tidak akan pernah.

Bersambung ....

9 November 2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top