Deru Ombak Pantai

   Terik matahari di siang hari,tak menyurutkan keinginanku untuk pergi ke pantai,dimana hari ini ayah akan bersiap-siap pergi melaut. Langkah kaki yang berat dengan sebuah kotak makanan membuat keringat bercucuran dari wajahku.Sesampainya ku ditepian pantai,ku telah disambut lambaian daun kelapa yang rindang dan menjulang tinggi.ku lihat ayah dan teman-temannya sedang menyiapkan peralatan melaut di atas kapal.

 ”Ayah !” Teriakku dari kejauhan.

   ”Iya,cepat kemari Andri.” Jawab Ayah.

   ”Ayah,ini bekal melaut dari ibu,ayah sudah mau berangkat ya,apa Andri boleh ikut ?” ucapku polos.

   ”Tidak boleh Andri,kamu masih kecil untuk mencari ikan di laut,nanti kalau kamu sudah dewasa ayah akan mengajakmu.” Ucap ayah tersenyum.

   ’’Baiklah ayah.” Keluhku.

   Sambil berdiri ditepian pantai,aku menyaksikan kepergian ayah.Lambaian tanganku mengisyaratkan aku sebenarnya ingin ikut ayah melaut,namun aku juga tidak tahu apa bahayanya bagiku,aku hanya bisa menunggu ayah pulang.

   ”Andri,sampaikan ucapan terima kasih atas bekal tadi pada ibumu dirumah !” Teriak ayah dari kejauhan.

   ”Baik ayah !” ucapku sambil berlari pulang.

   Dirumah,seperti biasa aku membantu ibu,membereskan rumah adalah pekerjaan rutinku setiap hari selain bersekolah di sebuah SD Negeri didesaku.Rumahku memang tidak jauh dari pantai,dan penduduk di sini bermatapencaharian sebagai nelayan,termasuk ayahku.Satu hal yang paling aku takuti adalah badai ombak pasang dari laut yang sewaktu-waktu bisa merobohkan semua rumah didesaku.Seperti beberapa tahun yang lalu,terjadi badai angin di laut,namun tidak sampai meluluhlantakkan desaku.Sejak saat itu hanya ayahku dan beberapa temannya yang masih melaut.

   Sore harinya kulihat awan mendung,hitam pekat seperti lautan malam menyelimuti langit. Aku dan ibu merasa takut dan langsung masuk ke dalam rumah.Tersirat perasaan khawatirku pada ayah,apakah ayah sudah pulang atau masih melaut.

   Hujanpun turun dengan derasnya,petir bergerumuh bersahut-sahutan,langit sangat gelap dan daun-daun kelapa melambai-lambai ke sana kemari.

   Aku masih berdiri dibalik jendela,menanti kalau saja ayah sudah pulang.

   ”Andri,ayo masuk ke kamarmu,jangan berlama-lama disamping pintu.” Ucap ibu.

   ”Iya bu,tapi Andri sedang menunggu ayah pulang,apa ayah baik-baik saja bu ?” Tanyaku gelisah.

   ”Kamu berdo’a saja Andri, semoga ayahmu baik-baik saja.” Ucap ibu menghampiriku dan memelukku.

   Didalam pelukan ibu,tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar rumah.Akupun segera membuka pintu berharap ayah datang.Namun ternyata bukan ayah,melainkan teman ayah melaut tadi.Raut wajah yang sedih dan pakaian yang basah kuyup menyertai paman Anto tersebut.

   ”Ada apa paman ?” Tanyaku.

   ”Andri,ayahmu…” Ucapnya tertatih-tatih.

   ”Kenapa dengan suamiku pak.” Tanya ibu heran.

   ”Marni,suamimu hilang ditengah laut saat kami tadi melaut.Maafkan kami,namun saat badai menerjang kapal,suamimu mencoba memperbaiki mesin kapal dan setelah itu ia tercebur ke laut,kami tidak berhasil menemukannya,terpaksa kami pulang dengan kapal yang masih rusak.” Cerita paman Anto terbata-bata.

   ”Benarkah itu?” Tanya ibu dan saat itu juga ibu pingsan.

   ”Ibu..!!” Teriakku melihat ibu terjatuh.

   Ditengah derasnya hujan yang masih turun,kabar buruk tersebut cukup membuatku menangis terisak-isak.Tak ku hiraukan badai diluar rumah,aku langsung berlari kearah pantai,teriakan paman Anto tak kuhiraukan lagi.Aku ingin ayah pulang.

   ”Andri,jangan ke pantai,badai masih belum berhenti !” Teriak paman Anto.

   ”Tidak paman,aku akan mencari ayah.” Ucapku sambil terus berlari.

   Air hujan yang sangat deras langsung membasahi semua pakaianku.Sempat beberapa kali aku tersandung batu,namun aku terus berlari berharap ada jawaban dimana ayah berada sekarang.

   ”Ayah,ayah !” Teriakku.

   Namun hanya deru ombak laut yang menjawab pertanyaanku.Sesampainya ditepian pantai aku mencoba berteriak sekuat tenaga kembali.

   ”Ayah,ayah !” Teriakku.

   Teriakkanku tak berarti,akupun berlari ke bawah sebuah pohon,mencoba berteduh kerena pakaianku sudah basah kuyup,akhirnya karena badanku yang mulai lemas,aku pingsan di bawah pohon tersebut.

   Ada suatu suara terdengar tak jauh dari telingaku,suara yang sedang memanggilku.Saat ku buka mata,ternyata aku berada di rumah dan ada ibu disampingku.

   ”Andri,kamu sudah sadar ya ?” Tanya ibu.

   ”Mana ayah bu,Andri ingin bertemu ayah ?” Ucapku lemah.

   ”Kamu yang sabar ya nak,penduduk desa ini dari kemarin sudah menelusuri pantai untuk mencari dimana ayahmu.” Ucap ibu.

   ”Andri ingin ikut mencari ayah juga bu.’’ Pintaku.

   ”Jangan Andri,badanmu masih lemah karena jatuh pingsan kemarin.” Ucap Ibu.

   Aku tak kuasa lagi menahan diri,akhirnya aku memaksakan diriku bangun dan ikut mencari ayah,ditemani oleh ibu kami menuju pantai.Terlihat banyak sekali orang berada disana.Bukan untuk berekreasi namun untuk mencari ayahku.Badai kemarin sore memang cukup mengerikan.

   Tak berapa lama,terlihat seseorang dari kejauhan tepian pantai melambai-lambaikan tangannya pada kami dan berteriak-teriak.

   ”Hai ! Pak Lukman sudah ketemu !!” Ucap orang tersebut.

   Mendengar kabar tersebut,sontak semua berlarian ke arah orang tersebut. Akupun langsung berlari dengan ibu.Tak dapat ku bayangkan bagaimana kalau itu memang ayah,semoga ayah selamat.

   Sesampainya di sana,tergeletak seorang lelaki tua diatas butiran pasir pantai.Aku mencoba mendekatinya dan benar saja itu adalah ayahku.

   ”Ayah,ayah tak apa-apa ?” Teriakku hingga meneteskan air mata.

   Namun tak ada jawaban,ku peluk erat-erat tubuh ayah dan setelah itu ayah dibawa orang-orang ke rumahku.Kondisi ayah sangat lemah,sudah dua hari ayah pingsan,aku hanya bisa menemani ayah disampingnya.

   Keajaibanpun terjadi,ditengah tidurku dipelukan ayah,ada suara yang memanggilku.

   ”Andri,andri…” ucap ayah lemah.

  ”Ayah sudah sadar ya? Ibu,ayah sudah sadar !” Teriakku sambil berlari ke arah dapur.

   ”Ada apa Andri ?” Tanya Ibu.

   ”Ibu,ayah sudah sadar.” Ucapku gembira.

   ”Syukurlah nak.” Ucap ibu dan kami langsung menuju kamar.

   ”Ayah,apa yang telah terjadi kepadamu ?” Tanya ibu pada ayah.

   ’’Ayah terbawa ombak besar bu.” Ucap ayah.

   ”Syukurlah ayah selamat,lebih baik ayah istirahat saja dulu.” Ucap Ibu.

   ”Iya ayah,Andri sudah memasak masakan kesukaan ayah tadi bersama ibu,ayah pasti senang.’’ Ucapku sambil duduk disamping kasur ayah.

  ”Iya Andri,kamu memang anak kebanggan ayah.” Ucap ayah tersenyum.

   Setelah itu banyak orang-orang yang berkunjung menemui ayah.Ayah memang selamat,namun badai kemarin nyaris saja memisahkanku dengan ayah.Ayah rela melakukan apa saja untuk mencari nafkah,bahkan bahayapun tetap dilawan demi keluarga dirumah.

   Terima kasih ayah,atas semua pengorbanan dan semua jerih payahmu.

SEKIAN

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: