[34]_Missing YOU.._

"Apa yang mereka inginkan, Damarion?"

"Takhtamu."

.

.

.

Danta memiringkan kepala, menyipitkan mata.

"Takhta?" Ia membeo.

Untuk sesaat, Rion tampak bersiaga. Berjaga-jaga saat melihat Danta yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Hanya sesaat. Ya, karena sesaat kemudian ...,

"Astaga! Apa menariknya takhta ini?!" Danta berteriak keras hingga membuat Rion dan Aylmer hampir tersedak ludah.

"Aku bahkan hampir gila karena setiap hari harus duduk di atas singgasana itu dan mereka menculik Hime hanya untuk mendapatkannya?!" Danta menunjuk-nunjuk singgasananya seakan kursi itu benar-benar seperti makhluk halus yang selalu menghantuinya.

Sang raja memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam sambil memijat pangkal hidungnya beberapa kali sebelum melambaikan tangan dengan gerakan mengusir.

"Berikan sajalah. Berikan."

Sebuah kalimat yang sukses membuat kedua adiknya melotot bersamaan.

"Kakak, ternyata kau lebih gila dariku," ucap Aylmer yang menggeleng-gelengkan kepala karena tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Sementara Damarion tak ingin ambil pusing dengan tingkah sang kakak dan memilih berbalik, berniat keluar dari ruangan itu sebelum ia juga kehilangan akal sehat.

"Jika kau berpikir begitu, maka aku tinggal menemui para keparat itu dan mengatakan bahwa kau bersedia menyerahkan kekuasaanmu sehingga aku bisa mengambil kembali gadisku."

"APA KAU SUDAH GILA?!"

Teriakan Danta setelahnya membuat seisi ruangan itu bergetar. Damarion yang tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu kembali menahan langkah. Berbalik menatap dua saudaranya bergantian, terutama sang kakak yang saat ini tengah memelototinya.

"Sebenarnya siapa yang gila?" ucap Rion bersedekap.

Danta berdecak. Memutar bola matanya malas, "Ayolah, Damarion, aku hanya bercanda. Kau tahu aku tak mungkin menyerahkan takhta ini begitu saja."

Danta menarik napas dalam sebelum memasang wajah serius yang membuat seluruh ruangan membeku seketika. "Ehem ... Ehem ... baiklah. Kita serius sekarang."

"Kakak, kau tidak jadi gila?" todong Aylmer yang membuat Danta ingin sekali melemparnya keluar dari neraka, tapi niat itu ia urungkan.

Suasana di ruangan itu berubah dalam sekejab. Menciptakan keheningan sesaat karena ketiga pria di dalamnya terdiam setelah Damarion menceritakan apa yang para Pangeran Behemoth inginkan.

Danta mengedarkan pandangan, menatap kembali singgasana yang hampir setiap hari ia duduki hingga membuatnya setengah gila. Dan para Pangeran Behemoth itu mengajukan permintaan yang lebih gila.

"Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?" Danta membuka suara, mencoba menerka setiap kemungkinan.

"Tapi, Kakak-" Aylmer ikut menimpali, tatapannya teralih pada Damarion penuh telisik. "Aku melihat Hime dan Chevalier seakan tak ingin dipisahkan. Hime juga kelihatannya sudah sangat mengenal Chevalier sebelumnya. Bahkan mereka terlihat begitu dekat. Kenapa bisa begitu?"

Aylmer menaikkan kedua alisnya, "Apa dia mengkhianatimu?"

"Jaga mulutmu, Aylmer!" Rion mendesis tajam. Dan itu membuat Aylmer semakin curiga.

Pangeran termuda itu melangkah mendekat, memicingkan mata dengan pemikiran yang tak dapat tertebak. "Apa yang kau sembunyikan dari kami, Damarion?"

Satu hal yang Rion lupakan. Kedua saudaranya masih belum tahu tentang buku mantra milik Behemoth yang Zean miliki. Azzuri memintanya untuk tak memberi tahu siapa pun, termasuk Dantalion sendiri.

Masih hening. Tak ada yang membuka suara. Ketiganya hanyut dalam pikiran dengan arus berbeda namun bermuara di tempat yang sama.

Hingga tiba-tiba ...,

BRAKK!

"Yang Mulia! Yang Mulia!"

Sebuah suara membuat ketiganya menoleh bersamaan. Menatap pintu raksasa yang tiba-tiba kembali terbuka. Menampakkan salah satu menteri yang tergopoh dengan napas tersengal-sengal.

"Ampun beribu ampun, Yang Mulia!" Ia bersujud di ambang pintu. Merasa melakukan kesalahan fatal karena telah mengganggu sang raja dan kedua pangeran yang sedang berada di sana.

"Katakan." Rion berucap. Tak ingin membuang waktu saat menteri itu terlihat begitu gusar.

"Ampun, Pangeran. Kastil timur telah diserang."

Satu kalimat yang keluar dari mulut menteri itu membuat Danta dan kedua adiknya melotot tajam.

"Apa maksudmu?!" Kini Aylmer membuka suara, menuntut penjelasan lebih detail.

"Am- Ampun. Tiba-tiba saja ratusan bola api meluncur dan menghancurkan wilayah kastil," jelas menteri itu dengan kepala semakin menunduk dalam.

"Bangsat!" Rion mengumpat. Dalam sekejab menghilang di balik kabut hitamnya, yang kemudian diikuti oleh kedua saudaranya.

.

.

.

Sesampainya mereka bertiga di sana, mereka hanya mematung tanpa berkedip melihat hampir setengah dari wilayah Kastil Timur kekuasaan Damarion sudah tak berbentuk.

Puing-puing reruntuhan berserakan. Kobaran api masih menjilat dimana-mana. Diiringi kepulan asap yang mereka yakin itu adalah abu dari para menteri dan penjaga yang tak sempat menghindar dari kekacauan.

"Astaga! Kastilmu hancur, Damarion!" Aylmer berseru dengan manik membelalak.

"Siapa yang berani mencari mati denganku?!" Rion menggeram. Kedua tangannya mengepal, bersiap menghantam jika ada musuh yang mendekat. Namun, saat ia mulai melangkah, satu rentangan tangan Danta menghadang langkahnya. "Tunggu dulu."

Danta maju beberapa langkah menggantikan adik pertamanya, memperhatikan lebih cermat gumpalan asap yang masih menguar bercampur udara.

Sang raja berjongkok, mengambil bongkahan kecil reruntuhan lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga.

BLEDAR!!

Tanpa diduga, bongkahan itu hancur berkeping-keping dalam jarak beberapa meter di depan mereka.

Membuat Rion dan Aylmer sempat terkesiap, sementara Danta berbalik dengan pongah. "Lihat? Kau memang tidak akan hancur, tapi jelas itu bisa melukaimu."

"Sebuah barrier?" Aylmer ikut maju beberapa langkah, menatap lekat barrier yang entah kenapa tak dapat mereka lihat. "Bagaimana bisa barrier ini bisa tak terlihat?"

"Aku tak peduli." Rion melangkah, menengadahkan satu tangan. Dalam sekejab, sinar biru menyeruak dari telapak tangannya dan membentuk sebilah pedang.

"Minggir kalian!" Ia berteriak. Kemudian melemparkan pedang itu hingga menancap pada barrier di depannya.

Krak.

Krakk.

Kratakk.

Pyarr!

Hanya dalam hitungan detik, barrier itu pecah tersapu udara bersamaan dengan pedang Rion yang perlahan ikut menghilang.

"Dasar keparat sialan!" Damarion kembali mengumpat, melesat dalam sekejab.

"Dasar tidak sabaran!" Danta ikut menggeram, menyusul Damarion diikuti Aylmer di belakangnya.

Tak berapa lama, Damarion sampai di depan sebuah ruangan. Ruangan di mana ia sering menghabiskan waktu jika berada di kastilnya. Diikuti oleh Danta dan Aylmer di belakangnya, mereka bertiga masuk ke dalam.

Tak jauh berbeda dengan ruangan yang lain, ruangan ini juga sama berantakannya. Sudah tak serapi dan semegah sebelumnya. Namun, dengan cahaya yang temaram pun, ketiga bangsawan iblis itu masih dapat melihat dengan sangat jelas.

Ketiganya menatap sekitar, hingga manik Aylmer tertuju pada sebuah gulungan kertas di atas meja, yang kemudian tanpa ragu mengambilnya.

"Kakak," Panggilannya membuat kedua kakaknya beranjak dari tempat mereka dan mendekat.

Sementara Rion langsung merebut kertas itu dari tangan Aylmer dan langsung membukanya.

"Datanglah saat langit merah muncul. Atau gadismu akan MATI. Dan ya, jangan cemas, kami akan memanfaatkan gadismu yang cantik itu dengan sangat baik."

Manik kelabu Damarion menajam dengan rahang mengeras. Kedua tangannya mengepal hingga tetesan darah mengucur karena kuku-kuku yang melukai telapak tangannya.

Rion sudah diambang batas. Kepalanya sudah tak bisa didinginkan, ia hanya ingin segera menghabisi lawan dan merebut kembali gadisnya.

"Akan aku enyahkan kalian sekarang juga!" Rion berbalik, hendak melesat menuju Kerajaan Asmodeus andai saja tangan Danta tak segera menahan bahunya dari belakang.

"Tahan, Rion. Hime akan dalam bahaya jika kau menyerang mereka sekarang." Danta berucap tenang penuh perhitungan. "Mereka pasti sudah menyusun rencana yang sangat matang."

Ingin membantah, tapi perkataan Danta ada benarnya. Mereka tak punya pilihan selain mengikuti permainan.

"Sial! Sial! Sial!!" Rion berteriak, mengamuk, dan menghancurkan semua barang yang ada di depan matanya. Meninju dinding hingga menimbulkan retakan.

"Dasar keparat!" Damarion mengumpat untuk yang kesekian kalinya. Napasnya memburu hingga terengah. Maniknya berkilat tajam, siap menerkam.

"Kita akan membawa Hime kembali, Damarion." Danta melangkah mendekat, menepuk bahu kiri adiknya. Ucapan Danta membuat Rion mendongak, menatap manik rubi yang menatapnya lekat.

"Takhta Lucifer dan gadis yang kau cintai. Kita tidak akan kehilangan keduanya. Kita akan mengalahkan Behemoth seperti sebelumnya." Danta menganggukkan kepala, berusaha meyakinkan.

Tersadar kakaknya memerlukan dukungan, Aylmer yang hanya berdiri beberapa langkah dari keduanya pun ikut mendekat.

"Kakak Dantalion benar. Kita akan merebut Hime kembali, Kakak." Aylmer menatap Rion dengan senyum mengembang, menganggukan kepala penuh keyakinan dengan tangannya yang menepuk bahu kanan Damarion. "Dan Lucifer akan tetap menduduki takhtanya."

Menatap kedua saudaranya bergantian, Rion melepaskan tangan mereka dengan lesu sebelum kembali melangkah.

"Aku akan segera kembali," ucapnya sebelum menghilang di balik kabut hitamnya.

Menatap punggung Damarion hingga menghilang, manik Danta beralih pada adik bungsunya yang masih terfokus padanya.

'Saat dunia manusia mengalami purnama, maka saat itulah langit merah akan muncul. Itu berarti, tidak akan lama lagi." Sang raja berucap dalam benak.

"Aylmer, perintahkan seluruh penghuni kastil barat dan kastil utama untuk bersiaga. Perintahkan para menteri dan prajurit tingkat tinggi untuk membuat barrier dan memperketat penjagaan di gerbang utama." Danta menjeda, menoleh pada jendela raksasa di sudut ruangan.

"Langit merah akan segera muncul. Kita harus memastikan pertarungan ini tidak akan melibatkan yang lainnya. Dan pastikan kerajaan lain tak akan ikut campur."

Setelah Danta menyelesaikan kalimatnya, Aylmer menekuk tangan kanannya ke depan. Menundukkan kepala penuh hormat. "Sesuai perintah anda, Yang Mulia."

Danta mengangguk, "Aku akan memeperkuat barrier di sekitar mansion Azzuri," ucapnya sebelum ikut menghilang di balik kabut yang menguar, diikuti Aylmer yang juga bersiap melaksanakan perintah sang kakak.

                       .......


Berbeda dengan kedua saudaranya. Rion yang tengah dilanda kekalutan memilih menjernihkan pikiran di dunia manusia. Karena jika berada di Helldon lebih lama, ia takut akan kehilangan kendali dan langsung menyerang Asmodeus sendirian.

Tentu saja itu tidak akan berakhir bagus untuk gadisnya.

Rion menatap dedaunan kering yang mulai terlepas dari tangkainya, terombang-ambing tanpa haluan. Mengikuti keinginan sang pembawa kesejukan musim gugur dikala senja. Meski akhirnya akan tetap terhempas tanpa arah, yang kemudian menapak di sepanjang jalan tanpa tahu di mana berada.

Manik kelabu itu menampakkan kekosongan yang mendalam. Bibirnya masih terkatup rapat, enggan untuk terbuka meski hanya untuk menghela napas berat.

Tubuh tegap yang sedari tadi berdiri di depan kaca raksasa transparan, terdiam tak beranjak. Entah apa yang sedang sang pangeran tampan itu lamunkan.

Hingga sebuah pantulan dari kaca transparan itu membuatnya terfokus sesaat. Seorang gadis cantik dengan surai coklat yang tergerai indah, menyilangkan tangan di depan tubuhnya. Dengan manik hazel yang membuat siapa pun akan terpaku saat beradu pandang dengannya.

"Lily ...." Rion menggumam. Sangat lirih hingga hanya terdengar seperti desahan.

Gadis itu tersenyum, senyuman lembut penuh ketulusan. Dengan kedipan perlahan, ia seperti mengungkapkan. 'Aku baik-baik saja.'

Senyuman itu membuat sang pangeran ikut melengkungkan bibirnya. Menatap sendu penuh kerinduan. Dengan harapan bak lilin yang temaram, berharap dapat menggapai gadisnya.

Satu tangannya terulur ke depan, hendak menyentuh benda bening nan dingin di depannya. Namun, saat jari-jarinya mulai terulur, bayangan sang gadis lenyap.

Menyisakan kehampaan yang semakin menyelimuti hatinya. Membuat lengkungan samar itu perlahan kembali menghilang. Menyadarkan sang pangeran kegelapan jika itu hanya sebuah hayal dalam kerinduan.

Rion memejamkan mata, menghirup udara senja dalam-dalam. Berharap dapat menghirup wangi Hime yang tertinggal di dalam ruangan di mana ia berada. Sebuah kamar milik sang gadis yang amat dicintainya.

Saat Rion kembali membuka mata, tatapannya tertuju pada seorang anak kecil yang tengah berlarian. Memunguti satu persatu daun-daun kering, lalu menuliskan sesuatu di selembar daun itu. Setelah anak itu selesai menulis, ia menutup mata sambil menggenggam daun itu erat-erat dengan menyatukan kedua telapak tangannya, lalu melemparkannya kembali ke udara. Membuat daun itu menari-nari oleh desiran angin yang membawanya tanpa arah.

Melihatnya, senyuman Rion kembali merekah. Bukan karena tingkah konyol anak itu, tapi karena apa yang anak itu tuliska. Tentu, sebagai iblis Rion memiliki ketajaman indra yang berbeda dengan manusia, termasuk penglihatannya.

Dari lantai dua, di mana ia berdiri di balik jendela dari kamar Hime. Rion dapat melihat apa yang tertulis di daun itu dengan jelas, meski lebih mirip cekeran ayam daripada kumpulan kata. Namun, setidaknya masih dapat terbaca.

Di sana,  si anak laki-laki berumur sekitar delapan tahun menuliskan keinginannya pada selembar daun kering, lalu membiarkannya terbang bersama angin.

Anak itu menuliskan, bahwa ia memiliki sejumlah uang yang ia sembunyikan di balik bantalnya. Ia berharap, tidak ada yang mengambilnya sebelum ia kembali ke rumah. Karena ia ingin membeli beberapa permen di sebuah toko di dekat rumahnya. Bahkan ia juga menuliskan pemilik toko itu, Pak Yohanes namanya.

Sebuah keinginan yang sangat sederhana.

'Dasar Konyol', pikir Rion di balik tawa gelinya.

Tapi kemudian, di tangan kanannya terdapat selembar daun kering yang entah ia munculkan dari mana. Rion memandangi daun itu sesaat dan sebuah sinar biru menyeruak menari-nari di atasnya.

Membentuk satu persatu deretan kata. Sementara tangan kirinya mendorong jendela besar di depannya hingga terbuka, menerbangkan surai gelapnya yang sengaja ia biarkan terurai begitu saja.

Dengan senyum menahan tawa, Rion menatap daun itu untuk yang kesekian kalinya. Meruntuki kekonyolan yang baru saja ia buat. Meniru seorang anak kecil yang sudah jelas-jelas masih sangat polos dan tak tahu apa-apa.

Mengarahkan tangannya keluar jendela, Rion merenggangkan genggaman pada daun kering miliknya. Membiarkan daun itu ikut tersapu embusan angin yang kian kuat menerpa. Terbang tinggi ke udara, menghilang dari jangkauan penglihatannya.

Dengan bibir melengkung, masih menertawakan dirinya sendiri, Rion berbalik dan kemudian menghilang.

Daun kering itu masih melayang, terbawa oleh belaian angin senja. Terbang semakin tinggi, membawa setiap kerinduan sang pemilik bersamanya.

Dalam uantaian kata yang teramat sederhana, menyampaikan sebuah perasaan tulus yang tak sanggup Rion ungkapkan dalam kata-kata. Di sana tertulis,

'Kembalilah ...,

.... Aku mencintaimu.'



                     ~°^°~

Okee.. Mungkin part ini agak gaje😄. Soalnya banyak yg masih bingung sama Danta..

Danta itu cuma sandiwara ya?

Danta mengkhianati Lucifer ya?

Yah, kebingungan semancam itu lah pokoknya.

Nah, di part ini udah tau kan yaa. "Danta udah berubah" 😊😘

See u next chap..😚😚

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top