Babak #22
SELAGI melirik jam putih polos yang melingkar di balik pergelangan tangannya, Harum menepuk-nepuk bahu si abang ojek online yang baru saja dipesannya agar melajukan motornya lebih cepat lagi. Ia terlambat dua puluh menit dari waktu yang dijanjikan.
Euforia yang Harum rasakan kemarin, membuat ia sulit tidur semalam. Sehingga mendadak siang ini tidurnya pulas sekali. Padahal jika diingat lagi, Harum tidak pernah melakukan rutinitas tidur siang bahkan itu di hari libur seperti sekarang ini.
Sejak saat itu, setelah hampir tiga bulan tak ada kabar, Yazar tiba-tiba saja mengirim pesan kepadanya. Laki-laki itu mengajaknya bertemu sore ini. Jelas, itu membuat Harum terjaga sepanjang malam. Tak sabar ingin segera bertemu dengan orang yang paling dirindukannya itu. Namun, ia malah terlambat untuk sesuatu yang ditunggu-tunggunya.
Dari kejauhan, Harum bisa melihat sosok Yazar duduk di sana. Di sisi birai jembatan sambil memainkan ponselnya. Harum meminta si Abang ojek online menurunkannya beberapa meter dari lokasi Yazar berada saat ini. Gugup, Harum segera berjalan mendekati Yazar. Di sepanjang derap langkahnya ada sesuatu bertabuh dalam dadanya. Entah apa itu, yang pasti mendadak tubuh Harum bergetar hebat.
Di sana, laki-laki yang saat ini tengah mengenakan sweater abu-abu itu adalah orang yang paling ingin Harum temui. Orang yang begitu Harum khawatirkan. Orang yang setiap malam tak pernah alfa Harum sebut dalam doanya. Orang yang begitu Harum rindukan. Orang yang Harum inginkan hadir dalam setiap mimpinya.
“Yazar ...” Lembut, Harum memanggil nama itu. Si pemilik nama kontan menoleh. “Maaf, ya, gue telat,” sambungnya kemudian.
Senyum simpul Yazar tersemat. “Enggak apa-apa,” ujarnya sementara matanya berputar, memberi isyarat agar Harum duduk di sampingnya.
Harum mendudukkan dirinya. Seperti Yazar, ia biarkan kakinya menjuntai ke bawah. Mata hazelnya menyapu keadaan sekitar sebelum akhirnya fokus pada aliran air di bawah kakinya.
“Enggak ada yang berubah, ya? Kayak perasaan gue sama lo.” Yazar memulai pembicaraan. Ia terkekeh kecil.
Harum tersipu. “Kondisi lo gimana? Enggak ada pusing atau apa, kan?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.
Gelengan singkat Yazar berikan. “Enggak. Cuma sesak aja di sini.” Ia meraba dadanya.
“Asma?”
“Bukan. Kangen gue sama lo udah numpuk banget di sini. Makanya sesek.”
“Yeee ...” Lagi, Harum tersipu, sementara Yazar tertawa kecil.
Hening. Lama.
“Yazar.”
“Hm?”
“Tahu enggak, kalau gue seneng banget pas dapat SMS dari lo?”
“Tahu, dong.” Melihat ekspresi Harum yang tampak malu-malu saat ini, jujur membuat Yazar tak ingin berhenti menggoda gadis itu.
“Gue ... pas lo koma terus dibawa ke Singapura, gue takut banget lo balik dalam keadaan lupain gue.”
Yazar memang sempat koma hampir seminggu lamanya. Tim medis rumah sakit bahkan nyaris menyerah. Sebabnya, keluarga Yazar memutuskan untuk membawa Yazar ke luar negeri dan mencari pengobatan yang lebih baik di sana.
Mengingat alasan kenapa Yazar tertidur berminggu-minggu di rumah sakit, sungguh membuat Harum takut pada akhirnya Yazar harus bernasib sama seperti dirinya.
Amnesia.
“Kayak lo lupain gue?”
Harum mengangguk. “Iya, kan, enggak lucu. Di saat ingatan gue udah balik, lo malah lupa ingatan.”
“Kalaupun gue harus amnesia, gue pastiin lo satu-satunya orang yang bakal gue inget.” Kekehan kecil Yazar mengudara, berpadu dengan suara riak air di bawah kakinya.
“Gue yakin ada yang enggak beres sama otak lo. Kok mendadak lo jadi pinter ngegombal sih?”
Yazar nyengir. “Oya, kabar Kanis, Mika, sama Ginan gimana?”
“Kanis pindah ke Bandung, Zar.” Beberapa hari setelah insiden pengeroyokan itu, Harum menceritakan semuanya pada Kanis. Dengan tulus ia meminta maaf lantaran di saat-saat kenangan lamanya belum kembali, ia pernah menyakiti Kanis.
Kanis tak banyak bicara waktu itu. Gadis tomboi itu memeluknya lama. Lama sekali. Dalam dekapan itu, Kanis menangis panjang. Harum tahu ada banyak hal yang Kanis tangisi. Selain cerita tentang dirinya, kondisi Yazar yang tak kunjung membaik, juga rencana kepindahannya ke Bandung di saat hubungannya dengan Mika begitu buruk adalah alasan kenapa gadis sekuat Kanis harus menangis tersedu-sedu di bahunya malam itu.
“Gue enggak yakin, tetapi kayaknya Mika sama Ginan lagi musuhan, deh. Semenjak lo masuk rumah sakit, mereka enggak kelihatan bersama-sama lagi.”
Yazar ingat. Sebelum ia terpenjara di alam bawah sadar, hubungan Ginan dan Mika memang tak begitu baik. Yazar tidak menyangka kalau semuanya makin buruk tanpa kehadirannya.
“Oya, Aya masuk ke SMA Globantara sebagai murid pindahan, loh. Dia masuk ke kelas yang sama dengan kita. Di hari pertama masuk, cowok-cowok langsung menyukainya. Kecuali satu orang.”
“Siapa?” tanya Yazar penasaran.
“Ginan.”
Yazar tak berkomentar lagi. Tidur panjangnya membuat ia melewatkan banyak hal. Selain kisah sahabat-sahabatnya, juga tentang Heris dan Kikan yang sejak ia membuka mata, tak terdengar lagi kabarnya. Baik Dina maupun Sandi, sama-sama bungkam saat ia menanyakan kabar kedua kakaknya itu.
Yazar sadar, hubungan mereka—orang tuanya dan Heris—yang nyaris membaik harus kembali retak karena kejadian malam itu.
Kenyataan itu entah kenapa selalu berhasil membuat Yazar serasa di lempar ke lembah duka paling dalam. Jika ada satu kesempatan lagi, Yazar ingin memperbaiki semuanya. Tak hanya hubungan keluarganya, tetapi hubungan persahabatannya juga.
Yazar berharap waktu memberinya kesempatan di sisa-sisa waktunya yang kian menyempit.
“Harum, sebenarnya gue mau kasih tahu lo sesuatu.” Sejak awal, niat Yazar mengajak Harum bertemu memang untuk memberitahu gadis itu tentang satu hal.
Harum tak lantas merespons. Hanya menatap wajah Yazar sekilas sebelum akhirnya berdiri dengan semangat. “Bagaimana kalau lo cerita di atas bianglala? Gue juga mau kasih tahu lo sesuatu sebenarnya.”
Refleks, Yazar memutar bola mata, berpikir. Batalnya rencana naik bianglala dengan Harum malam itu, akhirnya membuat Yazar mengangguk setuju.
***
Mendadak, Yazar merasa kepalanya pusing. Padahal ia belum menaiki bianglala, tetapi segala sesuatu dalam penglihatannya terlihat berputar. Guna menahan diri untuk tidak tumbang di antara desakan orang yang tengah mengantre untuk membeli tiket, Yazar refleks menggenggam tangan Harum dan menarik gadis itu keluar dari antrean.
“Yazar kenapa? Padahal loket pembay—”
“Enggak sekarang, Harum,” Dengan lesu Yazar memotong kata-kata Harum, memohon pengertian. Ia membungkukkan badan saat tiba-tiba saja rasa mual ikut berkonspirasi menyiksa tubuhnya.
Sadar ada yang tidak beres dengan Yazar, Harum menelan protesannya dan segera memapah Yazar ke area yang lebih sepi. Tiba-tiba saja, ia merasa khawatir dengan kondisi Yazar saat ini. Laki-laki itu terlihat begitu kesakitan. Dan kekhwatiran itu makin memuncak saat tiba-tiba saja Yazar ambruk sebelum akhirnya tubuhnya mengalami kejang-kejang.
“YAZAR! Lo kenapa? Tolong! Siapa pun tolong gue!” teriak Harum panik.
Bersambung
Bandung, 01 November 2022
Follow ig : @queenofsadending_
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top