Failed Valentine Edition [Levi x Reader AU]
Kamu berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Bahkan matahari pun belum muncul di cakrawala. Suara burung dan segarnya udara pagi tidak menambah semangatmu dalam hal pergi ke sekolah. Kenapa? Karena itu sekolah.
Salju-salju ini mewarnai sepanjang perjalananmu. Hingga kamu harus memakai syal dan sarung tangan.
Alasanmu berangkat sepagi itu adalah; 1) kamu harus piket pagi 2) kamu kebagian jadwal membersihkan ruang osis 3) mencontek pr pada teman.
Oke, lupakan nomor tiga. Itu hanya bercanda walau benar, sih.
Tak bisa kamu bayangkan harus mengepel di udara sedingin ini.
Suasana sekolah di pagi hari sangat sepi--sudah pasti. Kamu masuk ke ruangan osis dan mulai merapikan seluruh berkas-berkas dan data-data yang berserakan di meja.
Lepas itu, kamu menyapu seluruh sampah dan debu, lalu mengepel. Sekejap saja, semua pekerjaan selesai.
Kamu meletakan kain pel tersebut, lalu berbalik ingin ke luar ruangan. Kau lupa bahwa lantai masih licin, hingga akhirnya kau tergelincir.
Kamu sudah menutup matamu dan menantikan rasa sakit yang datang akibat terpeleset, tapi sebuah tangan hangat menahan tubuhmu.
"Bodoh." Orang itu langsung berjalan menuju meja ketua osis. Meletakan segala berkas-berkas dan data-data entah apa di mejanya.
Matamu mengikuti gerak tubuhnya, hingga ia sadar dan kembali menatapmu. "Apa?" katanya, sambil memberikan death glare terbaiknya--walau memang biasanya dia seperti itu.
Kamu segera tersadar atas apa yang kamu lakukan. "Err, terima kasih. Atas yang tadi."
Kamu berjalan menuju ke luar ruangan osis, tapi langkahmu terhenti di ambang pintu karena sebuah suara. "Kau membersihkan ini semua sendirian?"
Kamu berbalik, menghadapnya. "Begitulah. Memangnya kenapa?"
"Bagus."
Aneh, pikirmu.
***
Pelajaran dimulai. Kamu memperhatikan guru dengan sangat serius, itulah yang menyebabkan nilaimu selalu tinggi. Apalagi kamu dikenal oleh seluruh warga sekolah. Bahkan anak sekolah lain pun juga tidak sedikit yang mengenalmu.
Selain karena kecantikan fisikmu, kamu juga dikenal orang karena statusmu sebagai wakil ketua osis. Kenapa wakil? Entah, kau tidak mungkin bisa menyaingi kepopuleran si Ketua Osis yang sekarang.
"[name]?" Gurumu memanggil. "Coba kerjakan nomor 5 di papan."
Dengan malas, kamu maju ke depan lalu mengerjakan soal--yang bagimu sangat mudah--sulit itu.
Bel pulang berdering nyaring. Terdengar teriakan para murid di beberapa kelas. Dengan tenang, kamu segera jalan ke arah ruang osis.
Di sana, para anggota sudah berkumpul, hampir lengkap.
"Ng, kenapa semua berkumpul?" Kamu bertanya dengan nada datar, seperti biasanya. Imejmu di sini selalu bersikap tenang, dan menunjukan wajah tegas. "Memangnya ada apa?"
Sang Ketua Osis angkat bicara. "Oi, kacamata, jelaskan."
Sekretaris Hanji berdeham. "Dasar Levi." Ia menoleh ke arahmu sambil membacakan isi kertas yang sedang dipegangnya. "Tanggal 24 Desember kita akan mengadakan pesta natal. Itu akan jatuh dua minggu lagi. Kita harus mempersiapkan alat musik, makanan, musik, dan lain-lain."
Kamu mendengarkan penjelasan, sambil berjalan ke arah kursi wakil ketua osis, ada tepat di sebelah kanan ketua osis. "Dananya bagaimana?"
"Nah, itu yang kita permasalahkan." Hanji merapikan kertas-kertas tersebut. "Apalagi untuk ukuran sekolah elite begini, kita juga akan menyiapkan acara dansa dan kalau bisa dibarenhi pesta topeng."
"Kenapa harus topeng?" Seseorang bertanya.
Hanji berdeham. "Karena... agar lebih asyik! Ha, ha, ha!"
"Bagaimana kalau kita minta dana dari para murid?" Armin mengusulkan. Ia bertugas menjadi bendahara.
"Boleh. Kita bisa minta izin guru, lalu selesai, deh!" kata Hanji. "Oke, rapat selesai, kita pulang!"
Levi pun beranjak bangun, merapikan tasnya. "Kau urus surat izin untuk guru, Kacamata."
Hanji berjalan menuju pintu, ingin ke luar. "Siap, Bos!"
Kamu membuka laptopmu dan mulai menulis sesuatu. Levi mengamatimu dari mejanya. Kini di ruangan tersebut tinggal kalian berdua.
"Oi," panggilnya. "Kau mengerjakan apa?" Ia bertopang dagu.
Kau meliriknya sedikit, sambil tetap mengetik. "Surat edaran untuk murid."
Levi menghampirimu, ia berdiri tepat di belakangmu, mengamati apa yang kauketik. Ia menjulurkan kepalanya tepat di sampingmu.
"Ini salah, bukan begini, bodoh. Kau mau dimarahi guru, hah?!" Ia menunjuk bagian yang salah, lalu membetulkannya dari belakang. Dada bidangnya mengenai punggungmu. "Tch, sudah kubetulkan. Dasar merepotkan. Untung aku mengeceknya."
Dengan kesal, kamu mengacak rambutmu. "Huh, terima kasih."
Kalau dia menganggapmu merepotkan, lalu kenapa membantu? Mendingan nggak usah sekalian.
Beberapa detik kalian lewati dengan hening dan canggung, hingga tiba-tiba Levi berkata,"Aku pulang duluan. Jangan lupa rapikan semuanya, hari ini jadwal piketmu." Lalu ia pergi meninggalkan ruangan. Kini hanya ada dirimu sendiri di ruangan osis yang sedang berkutat dengan pekerjaan.
***
Waktu menunjukan pukul 07.00 PM. Kau merasa ruangan osis sudah cukup bersih, kini saatnya untuk pulang.
Ck, kalau pulang sendiri jam segini bisa bahaya, nih, pikirmu. Ah, sudahlah, daripada sendirian di gedung sekolah yang mengerikan ini.
Gedung sekolah saat malam hari tampak sangat menyeramkan, di tambah dengan gosip dan rumor hantu klasik yang biasa beredar di kalangan murid.
Kamu mengunci ruangan osis dengan sedikit terburu-buru, dan berjalan sedikit lari menuju gerbang sekolah. Dibalik wajah jutekmu itu sebenarnya kamu adalah penakut.
Melewati gerbang sekolah, kamu harus melalui jalanan gelap--lampu jalanannya mati entah kenapa. Sungguh hari yang sial bagimu.
Tap, tap, tap...
Kamu mendengar bunyi langkah kaki di belakangmu. Apakah ada orang aneh yang mengikutimu? Ataukah itu hantu? Atau itu hanya perasaanmu? Kamu pun sedikit berlari untuk mencapai stasiun.
Tap, tap, tap...
Suara langkah tersebut makin mendekat, dan kini kamu sudah sepenuhnya berlari.
Tap, tap, tap... tep.
Ia sudah tepat ada di belakangmu.
Dengan sigap, kamu berbalik dan langsung meninju tanpa melihat wajahnya. "Mati kau!"
"Tenanglah, bodoh." Suara berat khas Levi terdengar. Ia menghentikan tinjumu dengan satu tangan, mencengkram pergelangan tanganmu. Ada perasaan lega bercampur kesal mengetahui Levi ada di sini.
Kamu sontak melepaskan diri. "Kau sedang apa, sih?! Menguntitku, ya?"
"Ada barang yang tertinggal di sekolah. Jadi aku tadi mengambilnya dan baru pulang sekarang," jelasnya. "Lagipula apa gunanya menguntitmu? Menghabiskan waktu saja."
Mengambil barang? Yang benar saja! Rapat selesai jam empat dan sekarang jam tujuh. Memangnya mengambil barang sampai tiga jam?!
"Entah harus lega atau takut. Tapi, karena ada kau, aku jadi nggak terlalu takut."
"Ya, sudah." Levi berjalan meninggalkanmu sendirian. Entah kebetulan atau apa, ternyata ia menuju stasiun yang sama denganmu. Kamu menyamai langkah Levi dengan terburu-buru.
Kakimu terantuk batu, dan kau pun terjatuh. Sungguh sial.
Levi menoleh, melihat dirimu yang kesakitan. "Kau ini tolol atau apa, hah?"
"Kata-katamu sangat membantu, terima kasih." Nada sarkastikmu keluar begitu saja.
Baru kau ingin berdiri, Levi langsung mencengkram lenganmu dan memapahmu jalan.
"Sudah, lepaskan!"
"Berisik. Kau ini benar-benar merepotkan."
Kau mendecih dan berusaha melepaskan cengkraman Levi, tapi sia-sia.
Hingga akhirnya kau pasrah, ia tidak kunjung melepaskanmu. Jujur, jantungmu sedikit berdebar jika ia menyentuhmu.
"Kau memang merepotkanku...," kata Levi tiba-tiba. "Tapi aku su--"
"Kau bicara sesuatu?" Kau menoleh ke arahnya. "Eh, daripada itu, lihat cokelat-cokelat di sana!" Kau menunjuk etalase toko cokelat terkenal di kotamu.
"Tch, aku tidak suka makanan manis."
Kau sedikit merengut. "Siapa juga yang mau memberimu cokelat, huh?"
"Tidak ada. Dan kalaupun ada, tidak akan kuterima."
"Dasar sok!"
***
Hari-hari berlalu damai, hingga tiba tanggal 24 Desember. Segala persiapan seminggu sebelumnya sangat merepotkan. Kau hampir selalu pulang malam, begitupula dengan Levi dan anggota yang lainnya.
Hari itu, aula sekolah dihias sedemikian rupa hingga menyerupai aula pesta dansa di cerita puteri kerajaan. Musik-musik mengalun lembut di sana-sini. Para anak perempuan mengenakan gaun terindah yang telah mereka siapkan dari jauh-jauh hari. Dan para anak lelaki mengenakan tuksedo.
Ya, akan di gelar pesta dansa di aula ini. Bahkan akan ada pemilihan raja dan ratu dansa.
Kau pun mengenakan gaun terbaikmu untuk hari ini. Walaupun kau tahu, kau tidak memiliki pasangan dansa. Setidaknya kau dapat menikmati pesta ini.
Dan satu hal yang terpenting, semua orang yang ada di sini mengenakan topeng. Pesta dansa, Natal, sekaligus pesta topeng, sepertinya tidak buruk juga.
Berbeda dengan semuanya, Levi hanya mengenakan setelan jas hitam. Ia juga tak bisa menikmati pesta karena harus berbincang dengan kepala sekolah.
Sedangkan kamu, kau duduk di sudut ruangan menikmati makanan dan minuman seorang diri. Efek topeng yang kau pakai, tidak ada seorangpun yang bisa mengenali wajahmu.
Seorang perempuan berambut pendek duduk di sebelahmu. "Kau sendirian saja."
"Ya, begitulah." Kau memperhatikan wanita itu lebih saksama. "Um, apakah kau Mikasa?"
"Ya. Eren kelelahan berdansa, jadi aku sedang istirahat." Mikasa terlihat begitu cantik dalam balutan gaun merah menyala seperti api, rambutnya ia gerai dan dia mengenakan topeng berwarna sama dengan gaunnya.
Mikasa memiliki Eren untuk diajak berdansa. Sedangkan kau? Tidak ada seorangpun yang mau berdansa denganmu--karena mereka sudah punya partner semua.
Ya, sudahlah, pikirmu pasrah.
Melewati pesta natal tanpa pasangan pun nggak akan membuatmu mati, lebih baik kau memuaskan diri dengan makanan yang berlimpah ini.
"Ah, itu Eren." Mikasa langsung berdiri. Eren dikejauhan pun berjalan mendekat ke arahmu dan Mikasa.
"Maaf, Mikasa! Aku terlalu lama dudukkah? Aku--" Mikasa langsung menyodorkan minuman ke wajah Eren, hingga dia berhenti berbicara. "Err, makasih!"
Dengan cepat, Eren mengambil minuman itu, dan tiba-tiba ada seseorang di belakangnya yang tidak sengaja menyenggol lengannya. Minuman itu pun tumpah mengenai gaun putihmu. Kini gaunmu ternodai warna cokelat bekas soda.
"A-ah! Ma-maaf! Maafkan aku, [name]!" Eren menunduk meminta maaf.
Kau mengamati nodanya, lalu menatap Eren. "Nggak apa-apa. Masih bisa dibersihkan... mungkin."
"Aduh, apa yang harus aku lakukan sekarang?!" Eren berteriak frustasi.
Tiba-tiba dari arah belakangmu, terlihat Levi berjalan menuju arahmu. Saat ia sudah tepat berada di depanmu, ia melepas jasnya dan dilemparkan padamu. "Pergilah, Eren."
"Eh? Ta-tapi?" Eren menjadi terbata-bata akibat kejadian yang terpampang di hadapannya.
"Perlukah aku mengulang? Biar ini aku yang urus." Levi menatap Eren tajam.
"Baik, Ketua Osis!" Eren langsung pergi, Mikasa pun ikut. Kini tinggal kau berdua dengan Levi.
Kau mengamati Levi sejenak dengan tatapan garangmu. Setiap kau bertemu dengannya, selalu saja ada hal yang membuatmu emosi... dan berdebar. "Apa? Mau menertawakanku? Tertawa saja!"
Tanpa diduga, Levi duduk di sebelahmu. "Tidak," katanya. "Kenapa kau selalu tampak konyol dihadapanku?"
Kau merengut. "Dan kenapa kau selalu datang di saat aku sedang konyol?"
"Kebetulan."
Kau menggeram, dan mengepalkan tinju. "Kebetulan macam apa?! Ini membuatku mal--" perkataanmu terpotong, karena Levi melemparkan sekotak cokelat kesukaanmu, tepat mengenai wajahmu. "--aduh!"
"Kau berisik." Levi mengalihkan pandangannya ke lantai dansa.
Kau mengamati kotak cokelat itu. "Apa ini?"
"Memangnya kau buta? Atau perlu aku bacakan?"
Rasa senang karena mendapat cokelat itu sudah hilang sepenuhnya akibat ucapan Levi. Emosimu sudah di ubun-ubun dan siap meledak. Takut hal itu terjadi, kau melemparkan kotak cokelat dan jas itu pada Levi sambil beteriak, "Aku nggak butuh! Kau menyebalkan!" Lalu berlari pergi ke luar ruangan.
Levi menatap kotak cokelat itu, lalu mendecih pelan. "Wanita sulit dimengerti."
***
Kau berlari ke taman bunga belakang sekolah. Di sana terdapat petak-petak untuk menanam bunga, karena sekarang musim dingin, petak-petak tersebut kosong dan berlapiskan salju tipis. Di sana juga terdapat sebuah kolam, yang sekarang membeku, dan pohon besar yang dilapisi banyak salju.
Kau menenangkan diri dengan berjongkok di pinggir kolam, sambil mengamati salju turun. Bodohnya dirimu, kamu hanya memakai gaun bernoda, dan kau berada di luar ruangan dengan suhu di bawah nol derajat.
Kau ingin kembali ke aula, tapi gengsimu terlalu tinggi untuk bertemu Levi. Tiap kali mengingat Levi, rasanya darahmu mendidih akibat benci dan amarah yang siap diluapkan.
Perasaanmu bercampur aduk. Kau senang, juga kesal. Tapi gengsi dan imej mu dipertaruhkan, hingga akhirnya kesal pun lebih mendominasi hatimu.
Beberapa saat pun berlalu, seseorang di belakangmu melemparkan jaket berbulu tebal padamu.
Kau menoleh dan seseorang itu adalah Levi. Kau terlalu gengsi untuk memulai percakapan, akhirnya memilih diam dan memalingkan wajah.
"Kau mau mati di sini?"
Oh, yang benar saja! Dari ribuan kosakata yang ada, ribuan kalimat yang ada, kenapa dia harus memakai yang itu?! Tak bisakah dia mengucapkan maaf atau sejenisnya? Apakah yang ada di pikirannya hanyalah kata-kata kasar dan menyebalkan?
Kau bangun dari jongkok, dan berdiri menghadap Levi sambil bersedekap. "Apa pedulimu, huh?"
Levi maju selangkah. "Aku ketua osis. Kau bawahanku. Kau wajib melakukan perintahku. Aku tak suka dibantah."
Kau mundur selangkah. "Jangan mendekat. Dan, oh, tentu saja aku bisa membantahmu!"
Levi maju selangkah lagi. Dan kau pun mundur selangkah. "Ak--Awas!"
Byur!
"AAH!" Kau tercebur ke dalam kolam. Lapisan atas yang tadinya membeku kini pecah akibat tubuhmu.
Sekujur tubuhmu langsung mengigil dan tak bisa bergerak akibat dinginnya air kolam. Jelas saja, berenang di musim dingin merupakan pilihan terbodoh yang pernah ada.
Levi langsung ikut masuk ke dalam kolam dan menyelamatkanmu. Ia berhasil membawamu naik ke darat, dan membaringkanmu di atas tanah yang tertutup salju.
Sumpah, ini adalah pengalaman termenyedihkan yang pernah kaualami. Kau tidak memiliki partner dansa, gaunmu juga tersiram soda, kau menghadapi Levi yang menyebalkan, dan sekarang kau tercebur kolam saat hujan salju.
Lengkap sudah.
Levi menggendongmu ke UKS sekolah secepat kilat. Antara sadar dan tidak, kau merasakan sedikit kehangatan tubuh Levi. Kau yang selalu sial dan selalu merengut atau berekspresi jutek ini akhirnya tersenyum. Tersenyum di saat yang sangat tidak tepat. Dan kau tahu dia tidak melihatmu tersenyum.
Atau kau tersenyum karena ada orang yang tahu sisi konyolmu. Paling tidak, bukan sisi pura-puramu.
***
Kau terbangun di ranjang UKS yang hangat. Bajumu juga sudah diganti--entah oleh siapa, mungkin guru atau dokter yang ada di UKS. Waktu menunjukan pukul 12 tengah malam. Pesta natal sudah bubar.
"Akhirnya bangun juga kau." Levi yang daritadiduduk di sudut ruangan pun sekarang berjalan ke arahmu. "Kukira kau mati."
Kau berusaha duduk dan enggan menatapnya. "Kaupikir ini semua karena siapa?"
Levi duduk di pinggir ranjangmu. Dia memeriksa suhu tubuhmu dengan belakang telapak tangannya.
"Makan ini." Tanpa aba-aba dia langsung menyodorkan sebutir cokelat ke mulutmu. Mau tak mau kau menelannya. Ada rasa manis dan pahit bercampur sempurna di mulutmu, membuat perasaanmu menjadi lebih baikan.
Dengan sedikit menunduk, menyembunyikan ekspresi dan wajahmu yang memerah, kau berkata pelan, "Terima kasih." Kau memakan sebutir cokelat lagi. "Aula sudah sepi?"
"Kenapa memangnya?" Levi menatapmu.
Menghela nafas kasar, kau merengut. "Tahun ini aku tidak merasakan berdansa. Dan itu gara-gara kau!" Kau menunjuk Levi dengan sedikit emosi.
Tiba-tiba, Levi menarikmu turun dari kasur, dan membuatmu berdiri. "E-eh, apa yang kau lakukan?!"
"Kau kuat berdiri, kan?" tanyanya.
Ia menggenggam lalu merentangkan tanganmu dengan lembut, dan memegang punggungmu. Ia menatapmu tepat di bola matamu. "Tak ada musik, tidak masalah, kan?" Kata-katanya yang datar itu membuat jantungmu berdebar keras.
Dengan canggung, kau menganggukan kepalamu. Kalian berdansa dengan rintikan hujan salju mengenai jendela UKS sebagai musiknya. Gerakan Levi menyesuaikan dengan gerakanmu, kalian bergerak dengan seirama.
Walaupun tak memakai gaun terbaikmu, walaupun tanpa musik, kau tetap merasa senang.
"Kau tahu?" Levi memulai berbicara, masih sambil berdansa. "Kau sangat menyebalkan dan merepotkan."
Kau pun bingung. Apa maksud Levi tiba-tiba berbicara begini? Apakah dia ngajak berantem lagi? Baru saja kau berdebar karenanya, sekarang moodmu mulai hilang.
Masih tetap berdansa, kau menahan emosimu. "Apa maksudmu, Levi?"
"Aku hanya mengatakan pendapatku."
"Siapa yang memintamu berpendapat? Lagipula satu-satunya orang yang menyebalkan disini adalah kau!" gerammu.
"Dan kau merepotkan."
"Apa katam--" Levi langsung memelukmu erat sebelum kau sempat menyelesaikan kata-katamu. Dansa kalian terhenti seketika.
Ia berbisik di telingamu dengan sangat pelan dan lembut. "Aku menyukaimu, idiot yang merepotkan." Ia melepaskan pelukan dan menyentil dahimu.
Otomatis kau tersedak salivamu sendiri sampai terbatuk-batuk. "Jangan bercanda!" Kau memegangi dahimu.
"Kau pikir aku terlihat begitu?"
"Dengar, aku tahu kau menyebalkan dan kuakui kau lumayan tampan. Kau juga cukup pendek untuk ukuran lelaki, walau aku lebih pendek darimu. Bukankah tidak lucu bercanda tentang ini?"
Levi terlihat tidak sabar. "Hei, idiot, aku tidak main-main dengan in--" kau menghentikan ucapannya dengan menyentuh bibirnya pakai jari telunjuk.
"Terima kasih." Untuk yang pertama kalinya, kau tersenyum di hadapannya. Kali ini saja, kau menurunkan gengsimu. "Aku hanya memastikan bahwa aku tidak bermimpi." Setidaknya aku baru sadar perasaanku beberapa jam yang lalu, tambahmu dalam hati.
Levi mendekatkan wajahnya padamu, matanya terfokus pada satu bagian. Bibirmu.
Kau menelan salivamu dengan canggung. Jarak diantara kalian semakin tipis, ia mendongakkan kepalamu, kaupun memejamkan mata.
Trililit~ Trililit~
Handphonemu berbunyi. Kenapa harus di saat seperti ini?! Dari seluruh waktumu yang ada, kenapa harus sekarang?!
Kau langsung memisahkan diri dari Levi (percayalah, rasanya sangat canggung), dan mengangkat panggilan masuk dengan cepat.
Selesai menelepon, Levi bertanya, "Siapa?"
"Ibuku. Dia khawatir karena aku belum pulang." Kau memasukan handphonemu ke dalam tas. "Tapi aku sudah menjelaskan apa yang terjadi, kok."
Levi tiba-tiba mendorongmu ke dinding. Ia menahan tubuhmu dengan kedua lengannya di kiri-kanan agar kau tidak bisa kabur. "Aku akan mengantarmu pulang," katanya setengah berbisik. "Sebelum itu, kau takkan kulepaskan."
"A-apa maksudmu?" Kau terbata, entah kenapa berada di dekat Levi tidak baik untuk kesehatan jantungmu.
"Pejamkan matamu," perintahnya.
Kau menolak. "Tidak!"
"Cepatlah."
"Tid--"
Cup.
Levi menciummu dengan lembut, bahkan sebelum kau sempat berkata-kata. Jeda tiga detik, ia melepaskan ciumannya, lalu menatapmu. "Jangan menatapku begitu. Wajahmu konyol. Dasar idiot."
"Kau memang menyebalkan!" teriakmu.
Levi tersenyum kecil. Ini adalah pertama kalinya kau melihat dia tersenyum. "Dasar pembohong sejati." Dia mengacak rambutmu kasar.
"Tidak." Kau bersedekap dan memalingkan wajahmu. Kau berbisik kecil sambil tersenyum, "Kau benar... aku pembohong sejati."
Kini kau sadar, bahwa tidak perlu banyak kata-kata dan perlakuan manis untuk membuatmu jatuh hati. Kata-kata Levi memang kasar dan menyebalkan, bahkan sampai menyakitkan hati, tapi bukan berarti dia jahat.
I would rather say 'I love you' just once and truly mean it than say it a thousand times and never mean it even once.
____________________
Behind the scene:
Levi kebingungan karena bajumu basah, dan nggak ada dokter atau pun perawat di UKS.
Tch, bagaimana cara menggantinya?! Ke mana semua perawat uks?! batin Levi frustasi.
Dan akhirnya Levi menutup matanya dengan dasi hitamnya, lalu berusaha membuka bajumu dengan mata tertutup. Percayalah, dia nggak mengintip sedikitpun, dan dia nggak berniat macam-macam. Yang levi pikirkan adalah, kesehatanmu.
Dengan baju training yang ada, akhirnya Levi selesai mengganti bajumu.
Sebenarnya selama mengganti bajumu, Levi gemetar setengah mati, dan menahan rasa malunya.
Reader: JADI YANG MENGGANTIKAN BAJUKU ADALAH LEVI?!
Author: errr, percayalah dia nggak ngintip!! *peace*
Reader: *siapin katana, kuah rawon, sendal jepit, batu kali, obor*
Author: e-eh... apa yang mau kalian lakukan?
Reader: menurutmu? *senyum simpul*
PIIIIIIPPPPPP------*adegan tidak dapat digambarkan*
*tawuran massal*
Author's Note:
Oke, ceritanya ini pengen edisi valentine, eh malah jadi natal. Yaudahlah sama sama sweet kok.
Eh tapi ini nggak terlalu bikin baper dan nggak terlalu sweet. #maafmengecewakan:'v
Tapi bagi kalian yang peka, pasti ngerti dimana bagian-bagian sweetnya Levi. HAHAHA. Bagi yang tau, selamat untuk kalian~ brati kalian udah mendalami sifat Levi.
Oiya, mnurut kalian ini critanya gimana? Ooc ? Cacat? Gagal? Jelek? Kritik saran yo~
Btw, ada yang bisa bantu ane ga? Deskripsiin sifatnya Eren dong. Nggak maksa kok. :)
With lots of tsundere,
Sherrynpu_
Update date: 21/02/16
Oiya, ada bonus behind the scene Levi sbelum berangkat ke pesta~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top