03. Intel Squad


Rio sampai di rumah tepat jam empat sore. Seragam sekolahnya sudah terasa lusuh bermandikan keringat, dasi melonggar dan ia biarkan menggelayut terbalik di belakang punggung. Rio melihat sekilas cerminan rambut ikal awut-awutan saat melewati panel kaca yang memisahkan ruang keluarga dengan dapur. Untungnya, tampangnya tidak seburuk anak remaja bau knalpot.

Langkah kakinya menelusuri lantai marmer yang bila dihitung jarak dari pintu depan rumah, mungkin akan memakan panjang sekitar dua puluh meter. Rumah yang ia tinggali bersama keluarga Almira berlantai satu, tetapi luasnya bisa jadi membuat kaki lelah jika berkeliling. Furnitur serba mahal dan didominasi dengan warna kelabu menjadi padanan yang indah bila dipadukan dengan dinding berwarna biru langit. Panel kaca membentang hampir di setiap sisi rumah. Desain lantainya mendatar dan mulus. Tak ada undakan satu pun sebab dirancang khusus untuk memudahkan akses bagi penyandang difabel seperti Almira.

Bukan hal yang sulit bagi Almira dan suaminya mencari rumah di Jakarta karena rumah itu sudah ada sejak Arjuna masih melajang. Namun karena orang tua Arjuna dan Almira lahir dan menetap di Sumatera, mereka lebih nyaman tinggal di sana. Sesekali ke Jakarta untuk urusan pekerjaan Arjuna dan proyek-proyek besar yang harus melibatkan Almira.

Tawa lelaki dan perempuan terdengar di ruang santai keluarga ketika Rio hendak menuju kamar. Jeritan Almira yang bercampur tawa menandakan bahwa wanita itu sedang tidak sendiri.

"Turunin! Turunin, Pa! please, aku nggak bisa nahan ketawa."

Suara Almira membuat Rio penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dilakukan pasangan suami istri tersebut. Ia pun mampir sejenak mencari tahu.

"Nggak semudah itu. Keringat Papa bahkan belum netes."

"Aduh, ampun ... air liurku mau keluar."

Melihat tingkah pasangan suami istri itu, membuat Rio berdecak dengan kening mengerut. Tawa-tawa melebur dan memenuhi ruangan. Bukan hal yang langka melihat pasangan legendaris itu melakukan hal konyol. Terkadang, sepasang suami istri tersebut bertengkar hanya karena memperebutkan hak membacakan dongeng sebelum tidur untuk Fidell. Berdebat soal tontonan televisi, berdebat soal destinasi wisata pilihan, sampai-sampai berdebat soal misi-misi rahasia yang tak seharusnya Rio dengar.

Profesi Arjuna memang serawan dan serahasia itu dari apa yang pernah diceritakan Almira saat Rio baru lulus SMP. Pertanyaan yang tak pernah ia ajukan itu akhirnya terjawab dengan sendirinya. Faktanya, Arjuna merupakan seorang intel berkemampuan khusus yang bekerja untuk kepentingan negara. Kedua suami-istri itu bahkan dipertemukan dengan cara yang luar biasa ketika terlibat dalam misi ekstrim dan berbahaya. Sudah diduga bahwa kemampuan Almira sebagai Penembak Jitu bukan sembarang skill. Rupanya ia pernah beberapa kali terlibat dalam misi penting untuk melumpuhkan musuh dari jarak jauh.

Sebenarnya Rio sendiri tidak tahu, harus bangga atau takut menjadi bagian dari keluarga seorang anggota intelejen. Toh juga kebanggaan itu tak bisa diceritakan pada siap pun kecuali pada Pedro, kucing persia kesayangan Almira.

"Mama bilang turunin!"

Buk!

"Aww!!!"

Arjuna tertohok setelah mendapat satu tinjuan berbobot di dada kanannya. Pertahanannya runtuh, kakinya tak lagi tegak dan membiarkan istrinya terjatuh menimpa tubuhnya, diam tak bergerak di atasnya dengan posisi wajah menghadap ke kanan. Rio terkikik.

Almira menolehkan wajahnya ke arah Rio. "Rio? Udah pulang?" tanyanya.

Masih dengan wajah meringis menahan sakit di dadanya, Arjuna pun ikut menoleh ke arah Rio. "Hai, Anak Muda? Suntuk kali mukanya?"

Rio mendengkus, membuang muka dengan maksud pergi meninggalkan mereka.

"Rio, tunggu!" Seruan Almira membuat Rio menahan langkah kaki. Wanita itu mencubit hidung suaminya lalu berkata dengan nada sedikit tinggi. "Balikin aku ke kursiku, sekarang!"

"Iya, sabar ... dasar cerewet!"

"Udah main-mainnya?" Pertanyaan Rio bertanda bahwa ia terlalu lelah untuk menyaksikan tingkah konyol mereka.

"Tunggu di situ! Ada yang mau Tante omongin."

Rio menunggu Almira duduk di atas kursi roda adaptifnya dengan bantuan sang suami.

"Aku ke belakang dulu, nggak enak ninggalin Fidell main sama tiga makhluk itu." Candaan Arjuna disudahi dengan ciuman di kening istrinya lantas meninggalkan mereka. Ia menepuk Pundak Rio disertai dengan senyuman sejenak.

Brakes menimbulkan suara klik saat tangan Almira hendak mengayuh hand rim di rodanya. Ia mendongakkan wajah lebih tinggi begitu berhenti di depan Rio. "Maafin Tante karena nggak bisa jemput. Kamu tahu 'kan? Kalau om kamu udah pulang Tante nggak bisa ke mana-mana."

"Nggak, apa-apa, Tan ... Aku ngerti, kok," ujar Rio menanggapi.

"Jadi? Kenapa pulang sampai sore begini?"

"Karena kabar dadakan dari Tante yang nggak bisa jemput, Rio mesti cari cara altrernatif untuk bisa pulang. Ditambah hape lowbed, penderitaan jadi nambah." Rio tertawa di bagian kalimat terakhir seakan kesulitan ia anggap angin lalu dan tak berarti apa-apa.

"Jangan bilang kamu jalan kaki untuk sampai ke rumah?"

"Hampir, Tan ... udah ah, itu nggak masalah buat aku. Sekarang aku laper banget pengen makan. Tadi pagi Tante bilang hari ini masak enak." Rio berlutut di samping Almira. Sudah menjadi kebiasaan sejak ia tumbuh semakin tinggi untuk membuat tubuhnya setara pandang dengan posisi Almira. Ia sangat mengerti, mendongak terlalu lama dapat membuat pengguna kursi roda seperti Almira mudah lelah dan tak nyaman.

"Ya ampun, Yo ... cepetan kamu ganti baju sekarang, cuci muka, cuci tangan terus makan. Kamu bisa kena asam lambung kalau telat makan, loh."

"Rio cuci muka sama cuci tangan aja ya, Tante ... laper banget soalnya," rengeknya. "Eh, bukannya tadi Tante bilang ada yang mau diomongin?" Almira mengiakan. "Memangnya ada yang serius?"

"Kamu makan dulu, nanti baru kita omongin. Makanan ada di taman belakang semua. Kebetulan temen-temen om Juna pada dateng, kamu salamin deh temen om kamu, ya?"

"Oke, Tante ... Rio juga pengen main sama Fidell."

Sepuluh menit kemudian, begitu selesai berbersih, Rio pergi ke taman belakang seperti yang sudah diminta Almira. Di sana ada tiga orang asing yang ia sama sekali belum pernah melihatnya. Tidak, mungkin sudah, tetapi ia tak bisa mengingat dua pria dan satu wanita yang terlihat sedang bercengkerama bebas dengan Arjuna. Fidell duduk di samping ayahnya memainkan tablet, tak peduli dengan kehadiran Rio yang biasanya selalu membuat anak itu antusias.

Jika Rio tidak diizinkan membawa tamu jenis apa pun ke rumah dengan alasan keamanan dan kerahasiaan Negara, tampaknya itu tidak berlaku bagi si tuan rumah. Sudah pasti ketiga orang itu adalah rekan kerja Arjuna yang tak wajib diketahui identitas detailnya. Para agen rahasia. Intel Squad, kata Almira.

Rio menaikkan sebelah bibir. Lihatlah, mereka duduk di bangku yang terbuat dari kayu dengan pola petak keliling. Bercerita mengenai topik penuh lelucon yang tak mungkin ditanggapi tanpa tawa. Jangan bayangkan penampilan para agen rahasia itu seperti di film James Bond, Mission Impossible atau Mr. & Mrs. Smith yang rapi, elegan, bersikap penuh wibawa dan membatasi kata. Mereka jauh dari image itu.

Kalau bukan karena perut Rio yang sudah perih menahan lapar dan makanan yang ada di rumah ini semua terpampang di atas meja saji, ia malas muncul di antara mereka.

Ada pria berkepala plontos yang brewoknya seperti sudah sembilan bulan tidak dicukur. Satu pria lagi berparas lumayan tampan dan bersih, berdiri sambil memegang gelas berisi vodka dingin, celana boxer dan dada bidang topless menandakan bahwa pria itu baru selesai berenang di kolam renang samping rumah. Satu lagi, wanita yang tampak tak asing di mata Rio, berperawakan sedikit padat, pipi bulat dan rambut tergerai sepunggung menoleh ke arah di mana ia datang. Sebuah reaksi cepat begitu Almira memberitahunya.

Bagaimanapun ia sudah berusaha tersenyum saat kesantunan menuntut untuk menyapa mereka. Setelah berjabatan tangan singkat, Rio baru tahu: Pria berkepala plontos itu kerap disapa Jhon, si pria yang memegang gelas vodka itu bernama Gani. Terakhir, wanita yang sejak tadi menunggu dengan bibir ternganga langsung berdiri menyambut Rio.

"Ya ampun, ini Rio?" pekik wanita tambun itu saat Rio menjabat tangannya. Tak ada yang bisa ia katakan selain menanggapinya dengan cengiran yang dibuat-buat. "Kamu udah gede gini, ya ampun ... udah ganteng banget." Tatapan matanya dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas bagai mesin pemindai otomatis. Ia menyentuh Pundak Rio. "Kamu masih ingat sama Tante?"

Rio mencoba berpikir, lantas melirik Almira yang malah tersenyum-senyum tak jelas. Terlalu sulit membongkar memori hingga akhirnya Rio menyerah.

"Nggak ingat? Iya, sih ... waktu itu kamu masih kecil banget, masih tujuh tahun ya kalau nggak salah. Coba kamu ingat-ingat lagi."

"Saya nggak ingat, Tante," jawab Rio dengan nada biasa dan terkesan malas berpikir.

"Ihh ... aduh, Tante Triana, lho ... masa kamu lupa sama Tante."

Sedikit berusaha, Rio akhirnya ingat. Sekitar sepuluh tahun silam, dialah wanita yang dulu membantu Rio dan mamanya bertemu dengan Almira yang saat itu menghilang. Wanita itu jugalah yang menyelamatkan Rio dari apartemen yang terkunci dan malah membawanya ke kamar jenazah untuk bertemu dengan mamanya yang tak lagi bernyawa. Kenangan menyedihkan itu melintas di otak Rio. Bukan berarti ia menyalahkan wanita itu karena telah membuatnya mengingat masa lalu, hanya saja ia tak bisa membiarkan kesedihan itu merusak suasana hati.

Mata Rio melebar lantas menyeringaikan tawa. "Tante Pecel?!" tebaknya.

"Nah, akhirnya kamu ingat." Semua orang yang ada di situ malah tertawa.

"Udah cantik begitu tetap aja orang ingatnya kamu tuh Bu Pecel." Cibiran Jhon mendapat jengitan bibir dari Triana.

"Heh, jaga mulut masing-masing, ya!" balasnya. Ia kembali pada Rio. "Rio udah makan? Ayo Tante temenin sekalian kita ngobrol-ngobrol."

Wanita itu pun mengantar Rio sampai ke meja saji di mana makanan dengan berbagai macam lauk pauk terisi tinggal setengah dan tentunya masih berselera di mata Rio.

"Tante agak langsingan, ya?" tanya Rio basa-basi sambil menaruh nasi di atas piring.

"Iya, capek gemuk terus gampang sesak napas."

"Bukan karena diabetes 'kan?"

"Sembarangan kamu!"

Rio tertawa. "Bercanda, Tante ...."

"Iya, Tante tahu. Usia kamu kayanya sebaya sama anak Tante yang paling gede. Kamu kelas dua SMA 'kan?" Rio mengiakan. "Tuh, kan. Nanti kapan-kapan Tante ajak anak gadis Tante main ke sini, deh. Siapa tau kalian bisa kenalan dan akrab gitu ...."

"Bukannya Rio nggak mau, Tan ... tapi Om Juna ngelarang Rio untuk bawa temen ke rumah ini. Nggak tau deh kalau Tante Tria yang bawa."

"Hmm ... itu soal gampang." Triana menyomot buah semangka di atas piring sembari menggiring Rio untuk duduk di bawah pohon Kamboja yang menyediakan dua buah kursi metal beserta satu meja. "Eh, omong-omong kamu sekolah di mana?"

Sambil mengunyah, Rio menggidikkan pundak kanan untuk menunjukkan atribut nama sekolah.

"SMA Awantara?"

"Iya, Tante."

"Serius kamu?"

"Memangnya kenapa?"

"Satu sekolah, dong sama anak Tante."

"Hah? Satu sekolah?" Rio terbelalak, menghentikan kunyahan demi mendengar penuturan Triana lebih lanjut. "Memangnya nama anak Tante siapa?"

Begitu Triana menyebutkan satu nama, mata Rio langsung mengerjap-erjap dan mendadak, ia hampir kehilangan selera makan.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top