Lima.

Tidak ada siapapun. Jalanan Braga berubah menjadi bagian kecil dari kota mati.

Dipikir berapa kalipun Dhiya tidak mengerti mengapa semua ini terjadi secara tiba-tiba. Sepatunya kembali berdecit saat ia berhenti dan lagi-lagi melihat ke sekeliling. Tidak ada yang bisa dia 'lihat' untuk menyempurnakan simpulan pertamanya. Benar-benar tidak ada siapapun.

Dhiya mencoba menyalakan ponselnya yang sedari tadi mati total. Tanpa berputus asa, sosoknya masuk ke salah satu kedai dan mengecek apapun yang bisa ditemukan disana. Semua perangkat mati dan tetap tidak ada apapun disana.

Makanan. Saat Dhiya meraih satu cinnamon rolls dari etalase, kudapan itu tidak memiliki aroma apapun, tidak juga menggoda untuk dilahap–setidaknya baginya. Perasaannya menguat saat indranya mati di tempat aneh ini. Dhiya sadar sedang tersesat di dunia lain. Dunia tak asing yang dulu sangat dekat dengan nadinya.

Tetapi anehnya, kenapa bisa sekosong ini?

Tersesat sendiri adalah perkara serius. Fakta bahwa kemungkinan besar dia akan terjebak selamanya sungguh mengguncang kewarasannya. Dhiya mendorong kuat pintu kaca dan kembali berlarian keluar. Apa dia bisa keluar dari kota ini? Sumedang. Sumedang. Setidaknya ada roh penjaga hutan di Cadas Pangeran yang dia kenal. Hah, sial. Dia di tengah kota sekarang. Tengah Kota! logikanya tidak ada gerbang keramat yang bisa menyesatkan. Seharusnya tak ada. Tak ada!

Dhiya sangat panik. Peluhnya mulai bercucuran. Dia merasa tidak benar untuk berlari kemanapun. Wajahnya memanas dan sebentar lagi bisa menangis. Dalam kondisi ini seketika bayangan pemuda berkacamata yang sedang mencuci tadi pagi menyapa pikirannya.

Kenapa? Kenapa disaat-saat sulit selalu wajah itu yang muncul. Kakaknya yang bodoh, sekeras apapun usahanya percuma jika dia tidak mengetahui Dhiya tersesat di dunia lain, jadi tidak ada kesempatan untuk penyelamatan. Pikirkan orang lain. Coba pikirkan orang lain!

"Dhiya,"

Ada yang memanggil. Huh, mana mungkin. Merasa pikirannya berdelusi, Dhiya menyepakati suara itu sebagai hembusan angin diantara tabebuya.

Cewek itu melihat ke arah asal suara tapi tak ada siapapun. Perlahan kakinya kembali melangkah. Berkeliaran sebenarnya lebih berbahaya dari berdiam di tempat. Jika benar pengalaman ini sama dengan yang dahulu pernah ia rasakan. Maka seharusnya dia tidak sendirian.

"Sandhiya."

Suara itu kembali memanggil.

Tak terasa jauh darinya. Tetapi juga tak ada di sekitar.

Dhiya mulai awas. Ia menggigit bagian dalam bibir bawahnya, lututnya juga sudah agak lemas sejak dari tadi, ia merasa khawatir akan situasi ini. Rambut hitam dengan gaya half ponytail sudah mulai agak kusut.

Tetap tak ada siapapun disana. Lukisan-lukisan yang terpasang di sepanjang jalan kehilangan pedagangnya, mobil-mobil yang sebelumnya berjalan kini berhenti ditengah dan kehilangan para pengemudinya, bahkan sebuah toko kosmetik yang sedang grand opening tiba-tiba kehilangan pelanggannya. Burung maupun kucing liar juga tak ada dimanapun.

Drrrtt Drrrtt

Ponsel nya yang tadi mati kini bergetar. Memunculkan notifikasi aneh dengan latar belakang merah menyala; seolah rusak.

[Kelengkapan Sukma 0/9]

Apa maksudnya?

Kebingungannya segera tergantikan oleh bulu kuduk yang berdiri setelah lagi-lagi namanya dipanggil oleh sesuatu.

"Dhiya ..."

" ..."

Lembut, menggema di antara bangunan kota. Seperti bisikan yang menyusup ke pikiran San Dhya Rathi. Awal panggilan itu, ia mengabaikannya, mengira itu hanya angin yang berhembus kencang di antara dedaunan. Tetapi lama kelamaan suara yang serupa gumaman itu semakin jelas.

"Dhiya..."

Empunya nama menoleh, suara khas itu milik anak baru di kelasnya, ia berharap melihat Josafat— cowok yang memang sedang berkencan dengannya sore itu. Tepatnya sebelum dia sadar sedang tidak berada di dunianya yang asli. Jadi mana mungkin Josafat ada disana.

Bukan kali itu saja untuknya dapat merasakan hal yang tidak biasanya orang biasa rasakan. Indra keenamnya begitu kuat hingga ia harus dengan cermat membedakan kapan sensornya mendeteksi segala yang asli dan segala yang palsu. Namun, kali ini sungguh berbeda. Dhiya, hanya pernah tersesat di dunia lain saat dirinya kecil. Itu karena halaman belakang rumahnya yang dulu merupakan hutan yang masih perawan.

Kakinya perlahan mundur untuk merapat ke dinding. Dia tidak boleh gegabah. Dia tidak boleh berlari dan panik lagi. Dhiya, menghela nafasnya dengan teratur, memasukkan kedua tangannya pada saku jaket. Matanya mengedar ke segala arah dan segala sudut, lalu terlempar ke atas. Kelabu langit berawan mendung. Hembusan angin yang kuat lagi-lagi datang seperti badai. Udara disana semakin rendah dan menusuk. Gemetar kecilnya bahkan sudah sarat akan makna. Apakah dia kedinginan atau takut sekarang.

Hingga, suara gemeretak gigi terdengar dari sudut bangunan di seberangnya. Yang terlihat hanyalah bayang-bayang gelap di kejauhan, bergerak perlahan seperti menunggu.

Dhya mengenalnya sama seperti wajahnya sendiri. 'Itu' bukanlah bayangan biasa.

Suara langkah kaki terdengar dari arah bayangan itu. Sebuah tangan mengintip dengan jemarinya yang satu persatu keluar dari balik sisi bangunan.

"Dhiya ..."

Suara Josafat kembali terdengar.

Tidak. Tidak bisa. Dhya terpaku ditempat melihat sosok yang seharusnya hanya bisa dia lihat. Dia teringat akan kisahnya dulu yang tersesat ditengah hutan yang padat. Penuh dengan hewan liar dan kisah mistis yang kental. Saat itu, langit kelabu dengan awan mendung yang sama membawanya pada sosok bayangan serupa. Dhya tidak bisa melupakan saat tangannya digenggam dengan kuat dan meninggalkan bekas memar yang hebat.

Di dunia lain, yang biasa ia sebut sebagai dunia spiritual. Dia bisa terluka oleh bayangan-bayangan itu.

Umbul-umbul hitam perlahan keluar bersamaan dengan suara teman kencannya.

"Aku ... ini aku ... "

Umbul-umbul hitam yang awalnya ia kira puncak kepala ternyata masih lebih lebar dan bagian hitam lain keluar semakin membentuk sosok yang utuh. Bayangan itu tinggi. Jemarinya yang sepucat Josafat juga merayap ke depan sisi dinding dan menjadi semakin panjang.

Dengan tangan bergetar hebat, Dhya perlahan merayap ke arah samping. Dirinya yang merapat di tembok harus berusaha dengan keras agar gerakannya tetap senyap namun berprogres.

"... mau ... pulang ... bareng?"

Rambut hitam yang panjang menjuntai dan tersapu dari arah balik tembok, bersamaan dengannya sosok makhluk serba hitam itu keluar seutuhnya. Tingginya hampir menyamai bangunan tempat ia bersembunyi.

Jantung Dhya melonjak kaget. Meski perasaannya yang ketakutan dengan sangat luar biasa itu tak bisa dia tahan lagi. Tubuhnya tetap tidak bisa dipaksa untuk berlari sekarang. Lutut Dhya yang sedari tadi sudah gemetar akan segera merosot, kepalanya perlahan ikut mengelabu bersama langit.

Ini berbeda. Makhluk yang biasa ia lihat di sepanjang kehidupannya berbeda dengan yang ini. Ada rasa mustahil bisa lari yang menyeruak kemana-mana. Jangankan keadaan, bahkan nyali bertahan hidupnya sudah akan menyerah tanpa percobaan apapun.

Sosok itu kian mendekat. Matanya tertinggal pada makhluk itu. Bibirnya kelu akan kata.

"Ng-nggak ... " kata itu akhirnya keluar tanpa sadar dari mulutnya. Padahal Dhya yakin sudah tidak bisa melakukan apapun.

Sosok serba hitam dengan tekuk leher yang bungkuk itu berhenti. Namun, anehnya Dhya juga sempat mendengar derap langkah berlari.

"KENAPA?!"

Suara Josafat yang lembut berubah menjadi lengkingan berat yang mendengung hebat, sosok itu melayang cepat ke arahnya. Dhya akhirnya merosot ke tanah setelah melihat wajah mengerikan tersingkap dari balik rambut panjang sosok itu, dengan tekstur kasar dari kulit yang busuk dan mata ungu lebam terbuka lebar.

Di pertahanan terakhirnya, Dhya menutup mata dengan kedua tangan defensif yang melindungi area wajahnya. Gema jerit ketakutan keluar begitu saja darinya.

Srakk~ Buakh!

Suara pijakan kuat yang beradu dengan daun kering diiringi benda tumpul segera mengganti teriakan, Dhya.

Dhya yang tidak merasakan apapun menghantamnya segera membuka mata. Tiba-tiba ia mendapati siluet bayangan seseorang yang sedang memukul makhluk itu dengan tongkatnya; atau itu yang dia simpulkan di pandangan pertamanya.

Cowok berbadan tegap, puncak kepala dengan rambut potongan Buzz cut, dan kaus kutang putih di balik jaket hitam yang sedikit melorot dari bahunya itu mengingatkan Dhya akan seseorang yang seharusnya tak ada disana.

Dulu, dengan siluet yang berbeda. Anak laki-laki yang sama juga membantunya memukul makhluk halus yang mengganggunya saat tersesat di hutan.

"Jangan ganggu adikku!"

Gema suara dari masa lalu itu menyadarkannya dari lamunan singkat saat bernostalgia dengan adegan yang sama. Tetapi kali ini, penolongnya itu tidak meneriakkan apapun.

Sang Kala Ringga. Kakak tirinya yang kampungan dan norak itu kini berada didepannya sama seperti saat mereka kecil. Kala, mengambil posisi di depannya.

"Terpukul tidak? dimana dia sekarang?" Tanyanya, suara bariton yang biasanya tak mau ia dengar itu memberi getaran berbeda sekarang.

"D-dua bata dari pot bunga." lirihnya.

Dhya, berbalik ke arah makhluk itu meski enggan. Mendengarnya meringkih dan terus bertanya kenapa mereka tidak bisa pulang bersama.

"Deket bata yang retak. Disana." lanjutnya.

Kala berjalan kearah posisi yang disebutkan dan menghantam titik itu dengan ujung tongkat; yang ternyata adalah sebuah knalpot.

Makhluk yang tak disangka bisa dipukul jatuh itu menggeram semakin kuat perlahan memunculkan diri di depan mata Kala. Bersamaan dengannya, kedua tangan yang keras dan bertenaga menghantam makhluk itu berkali-kali hingga sosoknya kembali hilang seperti debu.

Debu-debu yang berbeda seolah tertiup angin yang lembut ke arah Dhya. Berkumpul dan membentuk potongan seperti kaca. Kala, dengan sigap mencoba meraih potongan itu. Tangannya tersinari cahaya yang berpendar dari potongan si debu kaca. Memantul ke dalam manik yang tertawan kacamata tanpa frame dengan batang terlilit kain merah kecil.

Drrtt! Drrtt!

Notifikasi aneh kembali keluar dari layar ponsel Dhya yang tergeletak di dekat pangkuannya.

[Kelengkapan Sukma 1/9]

[Energi akan di kumpulkan : Dalam proses]

[Radar akan kembali aktif dalam dua hari]

Dhya, yang kehilangan dirinya dalam sesaat setelah mendapati kakaknya kembali menyelamatkannya seperti dulu, lantas mengabaikan notifikasi itu. Wajah Dhya menunduk dan berbayang melihat Kakaknya menyusul ke arahnya. Rasa takut berubah panas menjadi rasa benci yang biasa. Kala tidak seharusnya berada disini.

"Kenapa Aa bisa kesini?" meski tanpa niat, Dhya tetap harus menanyakan itu. Karena apapun alasannya, bisa saja kakaknya yang bodoh ini melakukan hal yang tidak wajar untuk bisa menyusulnya.

"Neng, udah ilang dua hari." jawabnya datar.

Dhya mengerutkan bibirnya erat sebelum bangkit dan meneriaki Kakak tirinya, "Jadi Aa minta bantuan Aki Jaka lagi?! Kenapa sih, A? Kenapa kalo ada apa-apa Aa Wae yang dateng? Kenapa ga yang lain aja?"

Di hadapan Kala, Dhya nampak jauh lebih pendek. Cowok yang hanya berbeda empat tahun darinya ini menatapnya tanpa ekspresi. Kala melihat mata se-coklat madu yang sama dengannya bergantian.

"Yang lain teh, saha? Memangnya Neng punya siapa lagi selain, Aa?"

Rasa kesal yang memuncak Dhya lepaskan tanpa peringatan. Sebuah bogem mentah mendarat di pipi kanan Kala hanya dua detik setelah ia mengatakan kalimat itu.

"Dari semua orang yang ada di hidup, Dhya. Cuma maneh yang paling ga berhak ngurusin apapun yang terjadi sama Dhya. Bahkan dalam hidup dan matinya Dhya sekalipun!"

Kata-kata itu menjadi akhir dari komunikasi mereka.

Suasana mendung berganti dengan cepat pada lembayung oranye, sama seperti saklar lampu. Suara bising orang-orang mengobrol, dan mesin kendaraan berlalu lalang seperti biasa. Jalanan Braga kembali pada kebiasaannya.

Mereka kembali ke dunia nyata tanpa tahu mengapa.

Dhya segera membuang wajahnya ke sekitar, mendapati orang-orang melihat ke arah mereka dengan cara yang aneh. Apa mereka muncul tiba-tiba disana atau bagaimana? Tetapi, dilihat dari reaksi kerumunan ini, sepertinya pergantian alam terjadi secara halus dimana tidak ada yang menyadari apapun selain 'drama keluarga' yang memang mengawali sekaligus mengakhiri pertemuan mereka kali itu.

Sebenarnya, ada banyak hal yang harus segera Dhiya cari tahu mengenai apa yang terjadi padanya sebelum ini. Terutama tentang pergantian dunia yang tiba-tiba, notifikasi di ponselnya yang misterius dan kakaknya lagi-lagi bisa melewati batas fisik dengan makhluk halus; sama seperti dulu. Jika bertanya pada Kala, Dhya mungkin bisa menemukan jawabannya dengan lebih cepat. Apalagi jika benar Kala sudah berkonsultasi dengan Aki Jaka; Dukun tetangga yang dulu mengurusi permasalahan indigonya.

Meski mereka, Tidak, keluarga mereka terbiasa dengan hal-hal mistis sejak kecil. Fenomena seperti ini adalah baru. Dhya melirik kakak tirinya dengan sadis sebelum berlalu menjadi satu dengan kerumunan. Dia memutuskan untuk menghadapi masalah ini sendiri. Bagaimanapun caranya.

Diantara kerumunan yang rapat, langit oranye cerah dan angin sejuk. Urusan dirumah tanpa sadar terbawa masuk dan terselip di antara 'urusan luar'.

Dhiya tak tahu lagi dengan apa yang terjadi disekitarnya. Dia segera menghentikan angkot dan mengambil tempat di paling ujung. Tangannya mengepal diantara rambut. Aliran air panas mengalir di cela kedua matanya.

Dia selalu kasar. Selalu berkata yang buruk. Namun setiap kali Kala datang untuknya, ada rasa takut luar biasa di dalam hatinya. Entah apa maksudnya. Yang jelas semuanya menjadi salah.

Hari itu. Dhiya sudah tidak mau melibatkan Kala lagi. Dengan kembalinya Kala ke Sumedang, memulai urusannya lagi dengan Aki Jaka tidak pernah sederhana. Dhiya tahu setidaknya apapun tidak akan mudah untuk kedepannya. Semakin dipikirkan semakin kosong kepalanya. Tanpa sadar, Dhiya sudah kehilangan kewarasannya di jalan pulang.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top