Dua.

Sebelumnya,

Saat langit baru saja selesai membasahi bumi bagian Bandung. Para remaja SMA mulai keluar dari bangunan sekolah untuk pulang. Beberapa menaiki motor saling berboncengan, lainnya sedikit menumpuk dan berbagi kehangatan sesaat di halte. Mereka yang tidak punya banyak waktu luang memilih untuk mengambil alih kelas-kelas kosong maupun ruangan klub untuk aktivitas ekstrakurikuler tambahan.

Kelasnya berada di lantai dua, beberapa jendela terbuka lebar dan membawa angin sejuk dari luar. Udara basah disana kaya akan aroma pembangkit kemalasan. Membuat sebagian dari jiwa lelahnya meronta ingin tidur. Meski sebagian besar anak kelasnya sudah melipir ke ruangan lain untuk latihan pertunjukan festival, atau bahkan pulang. Dhiya, terjebak dengan aktivitas yang lebih membosankan. Di jam pulang ini ada lebih banyak surat yang dirinya harus cross check, terutaman yang baru saja memiliki tanda tangan lengkap.

Tumpukan surat itu ia hitung kembali sebelum mencatat progres yang sudah timnya lakukan maupun yang belum. Senyumnya melebar saat semuanya sudah siap. Dia mengirimkan pesan singkat di grup terkait pendistribusian surat-surat itu segera. Semacam meminta mereka mengambilnya pada orang tertentu.

Festival budaya tahun itu akan menjadi yang terbaik. Jika bukan yang paling meriah, setidaknya yang paling menyenangkan.

"Popje, ada yang ngomongin kamu lagi,"

Suara bergetar seorang cewek itu berasal dari arah jendela. Dengan dress putih gading dan renda di ujung pakaiannya. Cewek berparas asing dengan mata biru dan wajah pucat yang ayu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.

"Oh, yah? siapa lagi yang mau labrak?" Tanggap Dhiya santai sembari memasukkan surat-surat itu ke dalam sebuah tote bag. Popje sendiri merupakan panggilan khusus yang disematkan cewek itu untuknya, jika Dhiya tidak salah ingat cewek itu bilang artinya semacam 'Boneka Kecil'.

"Yang sekarang bukan kakel, tapi si dodol susu. Tadi dia ngajak taruhan sama anak baru buat deketin kamu."

Dhiya, terkekeh ringan mengingat dari mana julukan itu berasal. Bulan lalu cowok wibu dari kelas 11 MIPA-9 menembaknya dengan Dodol Susu Pangalengan dan sepucuk surat romantis di kolong meja; cara lama yang membosankan, hanya karena dia tak sengaja membantunya saat berkonfrontasi dengan guru BK. Kala itu mereka sama-sama telat masuk. Bukan niatnya jika guru BK lebih suka berdebat dengannya dan membebaskan para pelaku lain.

Kenapa cinta remaja itu suka tumbuh sembarangan.

Sayangnya, cowok itu tidak menarik sama sekali. Dhiya menganggapnya sama seperti bunga liar yang bisa didapatkan dimana saja. Caranya bicara, preferensi romansa, maupun benefit yang akan didapatkan terlalu biasa. Jadi dia juga menolaknya dengan cara paling biasa; kakakku tidak diperbolehkan 'ku pacaran lagi. Padahal sejak kapan dia mendengarkan Kakaknya.

"Memangnya ada anak baru? ini 'kan udah mau akhir semester.."

"Iya, beneran. dia sebenernya-... eh? ... ada yang ngiterin sekolah tiga kali. aku balik dulu."

Suaranya berubah seolah dihampiri ide dadakan. Dengan kalimat menggantung, cewek itu hanya mengipas-ngipas udara kosong dan terjun bebas ke bawah. Padahal mereka sedang berada di lantai dua.

Karena penasaran, Dhiya mengintipnya sedikit lalu berkomentar, "Nampakin dirinya biasa aja. Jangan galak-galak, bentar lagi PAS."

"Sore-sore gini mah senyum doang , kok." cekikik nya.

Cewek belanda itu melayang jatuh dan melewati siswa-siswi yang berlalu lalang begitu saja. Nancy, hantu sekolah yang sudah Dhiya anggap bestie itu melenggang menembus tembok ke arah basecamp nya di sekolah sebelah; yang memang bangunannya merapat dengan sekolahnya. Selain tetap bersenang-senang dengan kegiatannya sebagai hantu sekolah. Nancy juga sudah lama menjadi 'telinga' nya untuk urusan kuping menguping, walaupun hanya bisa dilakukan di lingkungan sekolah. Meski awalnya hubungan mereka diawali dengan cukup rumit, ada momen dimana keduanya saling terhubung satu sama lain.

Baru saja Dhiya keluar dari bangku dengan tote bag-nya, seseorang membuka pintu utama dengan keras.

"Dhi? mau risol, nggak? Anak danus baru ambil restock, tuh, buat di tawarin ke barudak. Masih panas, lho."

Anjani, begitu yang tertulis sebagai nama depan si cewek pembuka pintu kelas di kebaya putihnya. Tangan kanannya penuh dengan beberapa kantong kresek makanan. Satu kepala lagi muncul dari arah samping, rambutnya dicatok bergelombang dan bibirnya dilapisi gincu coral. Kamila.

"Katanya anak baru ganteng woy, si Pandu liat dia lagi keliling sendiri tadi. Gas 'gasi?" Cekikik nya sembari menutup mulut dengan ponsel berkamera tiga.

Ternyata memang ada.

Dhiya, perlahan mengembangkan senyumannya dengan cara yang aneh, lalu menghampiri dan merangkul mereka berdua, "Oke. Kita beli risol dulu, abis itu tebar pesona."

Di sepanjang jalan, ada banyak siswa-siswi yang mengenal mereka bertiga. Tersenyum atau sekedar bertegur sapa. Bukan hanya karena mereka anak populer, tetapi juga mereka yang terlihat 'keren'. Style yang kekinian, barang-barang up-to-date, bersama dengan karisma yang eye-catching. Setelah gang cewek itu dipandang sebagai trendsetter, maka Dhiya adalah sang It Girl. Irisnya yang coklat muda alami seringkali membuatnya terjebak dalam masalah. Dituduh memakai kontak lensa, kemudian dilabrak kakak kelas karena disangka cari perhatian. Dia tidak selalu memiliki prestasi, guru BK nya bilang Dhiya sering mengalokasikan kecerdasannya pada hal-hal yang 'unik', seperti seribu satu cara untuk berdebat atau selamat dari pelanggaran. Bahkan dengan semua pencapaian aneh itu, tetap ada mereka yang melihatnya sebagai panutan dan berharap menjadi temannya.

Diberikan title sebagai yang paling menyenangkan adalah prestasi kebanggaannya. Tetapi, Dhiya merasa jika itu hanya berlaku saat dia menunjukkan sisi menariknya saja, bukan semua yang menjadi dirinya sendiri.

Saat sampai di ruang tempat latihan klub jaipong, mereka duduk bersama anak-anak danus untuk mukbang risol panas. Dhiya, sempat melipir ke ruangan sebelah untuk menitipkan suratnya pada salah satu anggota, sebelum kembali makan-makan. Para ekstrovert itu membicarakan banyak hal di hamparan lantai sekitar pintu masuk ruangan, sampai lupa misi tebar pesona ke anak baru yang bisa saja sekarang sudah pulang. Setelah lima belas menit berlalu, salah satu anak danus yang sepertinya merasa ganjal sejak tadi akhirnya membuka suara,

"Dhi, tadi didepan aku ketemu Aa-Aa yang ... matanya mirip kamu. Bari nangkring di motor supra kutangan doang."

Dhiya, menghentikan kunyahan nya dalam satu detik sebelum berusaha terlihat normal lagi, "Hm?" Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin imaji seolah melewati pelipisnya.

"Ih? nu bener?" wajah ilfil Kamila tambah membuat Dhiya khawatir.

Seolah sedang membuka area julid baru, si cowok danus menggeser tempat duduknya jadi lebih dekat, "Kalo mata cerah itu di Dhiya sih jadinya cantik banget, ya. Ini mah anjir, wkwkwkwk. Jiga jamet."

Mereka tertawa bergantian, membuat beberapa anggota kelompok yang sedang latihan jaipong melirik dengan bingung.

"Bukan kutang meren, singlet." Anjani menanggapi sambil hampir tersedak kuah seblak. Ia segera meraih es teh yang hanya tinggal setengah.

"Tetep we kayak kutang. Pake jaket sih, tapi woe lawak banget. Fix, kalian harus liat kalo nggak percaya, hayu geura kayaknya masih ada di depan." Si cowok danus segera menutup tempat donat yang mereka gunakan untuk menyimpan risol.

"Lagi nungguin siapa, ya? jangan-jangan pacaran sama anak sini." celetuk Anjani.

Cewek danus lain yang ikut merapihkan kotak risol juga ikut berkomentar, "Udah euy karunya jelema lieur aja meren itu, mah."

Kamila yang memang mudah terhibur, tak bisa menahan gelak tawa mendengar serangkaian tanggapan dari teman-temannya. Dia sampai tidak bisa berdiri meski sudah diseret si cowok danus ke luar kelas. Sementara di sisi lain, Anjani dengan sterofom berisi seblak di telapak tangannya juga mencegah Kamila dibawa pergi dari sana.

Tetapi, mata yang masih ada sisa hair extension Kamila mengerling ke arah Dhiya penuh harap karena biasanya cewek jeger itu akan memberikan komentar yang lebih menghibur, "Dhi, menurut kamu gimana?" ucapnya setengah tertawa.

Sorot-sorot mata itu berbalik arah, Anjani dan Cowok danus tidak berusaha menyeret Kamila lagi. Teman-teman dan anak danus lain yang meski tidak ikut memberi kericuhan, tetap menunggu tanggapan Dhiya.

Sementara di seberang sana Dhiya tersenyum canggung. Dia takut jika kekhawatirannya benar. Apalagi ponsel nya tiba-tiba bergetar dan bercahaya, menampilkan notifikasi nomor telepon tanpa nama. Dhiya, mengambil momen itu sebagai kesempatan dan meminta izin untuk keluar kelas. Meski kecewa, teman-temannya tetap kembali ricuh dan mulai berbicara kemana-mana. Seolah menemukan bahan tawaan baru, mereka saling melempar canda tentang siapa pacar cowok berkutang diluar.

Setelah menyambungkannya pada earbuds, Dhiya tak langsung menjawab sapaan dari seseorang dibalik panggilan. Dia pergi ke lorong lain sebelum berkata,

"Jangan bilang Aa di depan sekolah-" bisiknya.

"Iya, Aa didepan. Ini udah waktunya pulang, bukannya Aa udah bilang hari ini harus langsung pulang?"

Padahal Dhiya yakin dirinya sudah cukup melarang kakaknya untuk berada di sekitar sekolah. Mulai dari dengan cara baik-baik, hingga yang paling buruk sekalipun. Tetapi, selalu saja. "Dhiya, bisa pulang sendiri." jawabnya ketus.

"Enggak. Kalo mau nyari ribut jangan sekarang. Pokoknya Neng harus pulang sebelum magrib."

"Berhenti manggil Dhiya, Neng. Dhiya bukan anak-anak lagi, udah bisa jaga diri. Aa, pulang sekarang atau ... " Dhiya menarik nafas untuk menahan dadanya yang mulai gondok, "... atau Dhiya nggak akan pernah pulang lagi ke rumah Aa." ancamnya.

"..." Keheningan di seberang membuat Dhiya membuka matanya yang sempat tertutup karena kesal, "Kalo gitu Aa susul kesana."

-

Tanpa menunggu Dhiya menjawab, panggilan itu sudah diputuskan sepihak. Dhiya panik dan mulai memanggil-manggil kakaknya berharap keheningannya bukan karena telpon ditutup, tapi nihil.

Dhiya segera berbalik ke arah gerbang sebelum Nancy muncul dan berbisik di telinganya,

"Santai aja ya, si anak baru nolak taruhan itu, kok."

Dua detik kemudian suara langkah mendekat dari arah belakangnya.

"Permisi, kamu ... San Dhiya dari kelas 11 IPS-4?"

"... selamat bersenang-senang, Popje."  bisik Nancy melanjutkan sebelum berjinjit dan menghilang ke dalam tembok.

Dhiya, menelan ludahnya. Dia bingung sesaat untuk pergi ke arah gerbang, mencegah Kakaknya sebelum terlambat. Atau menanggapi si anak baru.

Sepatu converse nya bergeser ke belakang, tersenyum simpul pada si anak baru. Cowok bertubuh tinggi, kulitnya pucat seperti putri salju, mata dan rambutnya hitam onyx. Dia, secara mengejutkan memiliki fitur wajah tegas yang tak biasa, setidaknya melewati standar pria tampan yang Dhiya memiliki. Namun, matanya sedikit monoloid dan dia nampak ... agak bule seperti Nancy.

Dimata Dhiya, ada semacam kepulan debu berwarna merah yang menyeruak lembut dari diri si cowok. Bukannya itu?

"Kayaknya kamu nggak asal nebak. Seseorang mungkin udah ngomongin tentang aku ke kamu, ya?" Dhiya berusaha terlihat ramah.

Ada waktu dimana Dhiya menyadari jika dia bisa melihat sesuatu yang lain dari sekedar makhluk halus. Sesuatu yang bukan hanya dimiliki oleh mereka yang ghaib, namun juga manusia. Tetapi entah apa namanya. Lantas saat ia sadar dan sampai sekarang, Dhiya memanggilnya aura. Terkadang tebakannya tepat saat melihat warna aura seseorang. Dapatkah orang itu dipercaya, bagaimana agresivitasnya, bagaimana kecenderungan sifatnya, atau lainnya. Hingga, Dhiya memiliki cukup pengalaman dalam mengotak-ngotakkan pola per-warna berdasarkan karakteristiknya. Seseorang ber-aura merah adalah mereka yang paling agresif. Dhiya, biasanya segera menghindari tipe ini karena mereka abusive. Tetapi, selain merah perlahan debu warna biru juga menyeruak dari sana. Tidak ada yang pernah memiliki dua aura sekaligus, apalagi warna-warna itu tidak menyatu. Bagaimana bisa?

Cowok itu tersenyum tak kalah ramah, "Josafat, pindahan dari Jakarta. Tadi Gue-Aku, maaf masih belum terbiasa, minta rekomendasi hal-hal menarik apa aja yang ada di Bandung ke anak kelas. And then, they suggested that I ask for your advice."

Belum terbiasa pakai panggilan Aku-Kamu di Bandung mungkin karena itu terkesan lebih personal untuk kebanyakan yang terbiasa tinggal di Ibukota.

Dhiya meneliti wajah itu sepintas dan mulai mencoba memahami maksud tersembunyinya. Ini baru kenalan dan dia bilang apa barusan? Nggak, Nggak, Inget, Dhiya. Cowok ini nggak bisa dipercaya.

Dhiya, berusaha mengatur dirinya lagi dengan senyuman hati khasnya, "Sayang banget, aku juga bukan orang Bandung asli. Mungkin kamu bisa tanya Chatgvt aja." tubuhnya sudah menyamping, bersiap undur diri. Dia tidak mau terjebak dalam masalah apapun dengan orang ini. Sebaiknya diakhiri sebelum dimulai. Tetapi sikap kaburnya ini bukan hanya karena aura gandanya yang abnormal, Dhiya juga harus memastikan kakaknya tidak benar-benar masuk ke dalam sekolah.

Namun, suara rendah Josafat menghentikan tubuhnya disaat yang tepat,

"Mungkin kamu salah sangka ... mereka bilang, kamu bagian menarik yang nggak boleh terlewat itu."

"..."

Sumpah. Apa anak baru ini buaya darat? Mereka bahkan baru pertama bertemu!

Se-dendam apa geng dodol pangalengan sampai bisa mengirim orang ini padanya?

Yah, meski Nancy bilang jika Josafat menolak, tetap saja dia tahu tentangnya dari mereka. Dhiya, menghela nafas panjang. Jika yang mengatakan hal semacam itu seseorang dengan wajah Kakak-nya, Dhiya mungkin akan segera menamparnya sambil tertawa. Tapi masalahnya Josafat tidak buruk. Benar-benar tidak buruk. Percayalah pada seleranya yang tinggi. Josafat itu, terlalu sayang untuk tidak dipacari!

"Eh, liat! itu! Si Aa-Aa kutangan yang tadi aku omongin itu di lorong kelas satu sama satpam! 'kan bener dia ada!" Suara tawa cowok danus menggelegar hebat di daun pintu ruang klub. Diiringi suara tawa teman-temannya yang berebut intip. Menjadi keren di sekolah juga artinya punya sebagian bakat untuk jadi pembully.

Tubuh Dhiya mengejang. Dia segera melipir ke arah belakang Josafat sebelum Cowok itu mengikuti dan berusaha menahannya, "Oke, maaf. Tadi aku cuma berusaha ramah. Aku memang mau ngomong sesuatu yang penting."

Dhiya, menutupi wajahnya dengan tangan,, "Diem! ini bukan waktunya! Udah nanti aja, kamu pergi sana!" bisik Dhiya, setengah berlari. Masa bodo caper dengan Josafat, harga dirinya lebih penting!

Josafat, merasa khawatir karena takut ucapannya menyakiti jadi dia tetap mengikutinya dan memaksa maaf, "Sandhiya, Aku beneran-"

"Ish! yaudah ayok! Tapi jangan berisik!" Daripada cowok bongsor ini mencuri perhatian Kakaknya, lebih baik dibawa kabur saja sekalian.

Setelah mendapat izin, Josafat benar-benar mengikuti Dhiya kemanapun cewek itu pergi untuk menunggu waktu untuk mereka lanjut bicara. Mulai dari mengitari sekolah sebelah, kantin, dan akhirnya setelah melewati tembok mereka masuk ke jalan tikus dan keluar dari sekolah. Nancy, yang mengikuti mereka sampai naik tembok hanya tertawa melihat Dhiya yang panik. Meski kesal, Dhiya tidak bisa mengatainya seperti biasa karena Josafat disana. Apa yang akan dia katakan jika ketahuan berbicara sendiri?

"Itu ... kamu lari dari siapa?" Josafat akhirnya berani bertanya saat mereka sudah berjalan cukup jauh.

"Kata siapa lari? Enggak." Dhiya menjawab sekedarnya, sembari mengirimkan pesan spam pada kakaknya, mengatakan bahwa dia tidak ada di sekolah dan sedang jajan diluar. Lantas kembali berlari sampai ke gerobak dengan kepulan asap hangat di pinggir jalan belakang sekolahnya.

"Sandhiya, aku ... "

"Oh, iya. Mau ngomong apa?" Dhiya, masih melihat ke arah sekolahnya. Harapannya, Kala segera memutar tubuh dan mencarinya di luar.

Josafat yang memang sudah curiga akan apa yang di hindari Dhiya, mencoba untuk mengenyampingkannya. Akhirnya Josafat menanyakan kegelisahan yang memang dia bawa sedari awal,

"Ini cuma tebakanku aja, tapi Dhiya apa kamu juga sensitif?"

Juga? Apa Josafat bisa melihat hal Ghaib sama sepertinya?"

"Maksudnya?" Tidak tahu apa yang menjadi keinginannya setelah mengatakan itu. Dhiya, juga khawatir jika langsung jujur, pengakuannya mungkin diperlukan agar Josafat segera pergi dari sana. Tetapi ada baiknya jika terlebih dahulu dia tahu mengapa, "... kenapa tiba-tiba? lagian tebakanmu itu tanpa dasar banget." Ekspresi Dhiya tidak ramah sekarang. Tetapi juga tidak ofensif. Dia seolah kelelahan dengan hal-hal semacam itu.

Josafat menatapnya maklum. Dia mengambil jeda sebelum mengatakan, "Tadi pagi aku lihat kamu ngindarin sundel bolong saat turun dari angkot .. dan sebelum ini aku coba tanya hantu sekolah buat mastiin apa dia pernah liat kamu nggak sengaja notice dia juga, dan katanya ... kamu Popje-nya."

Dhiya melirik tajam pada serangkaian pernyataan dari Josafat. Tanpa sadar juga meneguk ludahnya dengan cepat. Dari semua indigo yang pernah Dhiya temui, tidak ada yang bisa menemui hal yang sama dengannya. Dulu, dia pernah berteman dengan beberapa orang Indigo, sayangnya mereka tidak bisa melihat apa yang dia lihat dan begitupun sebaliknya—entah siapa yang berbohong. Berbicara dengan Nancy pun bukannya hal mudah. Tidak. Bukan hanya Nancy saja, umumnya makhluk ghaib yang dia temui tidak kooperatif sama halnya dengan Nancy sebelum Dhiya membantunya dulu.

"Kalo memang udah tau, memangnya kamu mau apa?"

"Bantuanmu. Masalahnya cukup rumit tapi ini bikin aku nggak peduli lagi aku udah cukup kenalan sama kamu atau nggak, sampai beraninya meminta hal ini di pertemuan pertama. Tapi aku yakin kamu bakal ngerti kalo udah aku jelasin semua situasinya, " Alis Josafat mengkerut, dia terlihat begitu sendu, "... Ku harap kamu adalah dia bisa melihat 'itu'. Kami bener-bener udah terlalu lama buang-buang waktu."

Dhiya juga mengerutkan alisnya, tetapi dia tidak mengerti dan bingung. Namun, lagi-lagi mereka diinterupsi oleh sensor Dhiya yang memang sedang terlampau sensitif. Terdengar sepasang langkah kaki dari jalan tikus yang sebelumnya mereka lewati tadi.

"Kamu pasti lapar. Sore-sore gini enaknya makan yang berkuah! Mau tau hal-hal menarik apa aja yang ada di Bandung, 'kan? Oke, yang pertama, coba nikmati Bandung after rain yang terkenal itu sambil makan mie kocok!" Katanya seolah sedang rap, Dhiya, segera menarik Josafat untuk duduk di salah satu bangku gerobak itu dan memesankan satu mie kocok untuknya, "... mang, mie kocoknya satu buat si Aa ini."

Setelah membayarnya, Josafat masih ingin menahannya lagi, tapi kali ini Dhiya cukup tegas menolak. "Minggu aja kita ketemu lagi, di Braga. Aku nggak peduli, ya, kalo kamu ga dateng. Tapi, aku memang mau main kesana hari itu."

Setelah mengatakannya, Dhiya segera memasuki jalan tikus lagi. Josafat sempat mendengarnya berbicara pada seorang dengan berbisik lantas terdengar suara langkah menjauh saling beriringan.

Ada rasa penasaran yang tinggi untuk menyusul, namun Josafat tidak sampai hati untuk melakukannya karena Dhiya nampak bekerja keras menyembunyikannya.

Josafat tersenyum simpul, setidaknya dia sudah memastikan satu langkah untuk sesuatu yang penting baginya. Dia termenung sebentar sebelum melihat ke jalanan dengan pohon-pohon besar yang rindang, mencoba menikmati saja jalanan basah dan aroma rebusan mie sore itu. Dia memutuskan untuk balik mentraktir Dhiya minggu nanti, dan melanjutkan apa yang selalu ingin dia katakan.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top