7. Pertemuan dan Balasan
Aku menyogok Kazuhiko dengan dua ekor monster premium--dalam permainan daring berburu monster--dan empat belas jam pelatihan matematika intensif untuk dua minggu ke depan. Ia setuju, kelewat setuju, hingga dengan senang hati mendatangi kedai Yadori--rumah makan dekat Yanaka Ginza--tiga puluh menit lebih awal. Beruntung Nenek pemilik Yadori tidak keberatan, ia justru senang, sebab--teorinya--laki-laki muda tinggi nan tampan seperti Kazuhiko mampu menarik lebih banyak pelanggan.
Setelah memberi pengarahan singkat dan pelatihan ala kadarnya, aku meninggalkan Kazuhiko--menuju kediaman Asami. Membiarkan kawanku yang menang secara visual mengambil alih posisi sebagai pekerja paruh waktu untuk sementara waktu--satu hari.
Omong-omong gadis yang tidak ada manis-manisnya alias Maeko memaksa ikut menemani Asami tempo hari. Aku sudah menolak dengan berbagai alasan rasional, seperti Ryu yang perkasa saja sudah cukup untuk berjaga-jaga atau sejenisnya, tapi Maeko adalah Maeko. Ia menghubungi Asami secara langsung dan dengan kemampuan bicara serta negosiasinya, gadis itu berhasil mengantongi ijin dari si empunya kepentingan.
"Lama sekali!" Panjang umur! Maeko berteriak dari samping papan display bertuliskan suguhan-suguhan terbaik Sato's Bakery. Bibirnya berkerut tidak senang dan kedua tangannya tersampir di pinggang.
"Maaf," aku bicara sambil membungkuk. Namun alih-alih melunak, Maeko menghadiahkan tatapan sinis, ia lantas melayangkan satu-dua pukulan main-main ke bahu dan lengan. "Kamu terlambat enam menit!" jelasnya.
Berbeda dengan Maeko, Si Malaikat dari Klub Memasak tidak mempermasalahkan, ia justru tersenyum tersipu-sipu sambil membeberkan fakta bahwa mereka--Asami dan Maeko--belum lama menunggu. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah pun meminta maaf.
Kami memulai dengan berjalan kaki menuju stasiun Nippori, sekitar 450 meter dari Yanaka Ginza. Lantas menaiki kereta listrik selama sepuluh menit dan turun di stasiun Mikawashima. Untungnya kediaman kawan Asami tidak jauh pun dari stasiun pun sulit ditemukan, cukup berbelok ke barat sekian ratus meter maka sampailah kami di tempat tujuan.
Papan nama pada pagar bertuliskan Hazawa dan seperti telah terbiasa, Asami melewati prosesi pemencetan bel. Tanpa ragu, Ia melepas kuncian selot besi, mendorong gerbang pelan-pelan--menimbulkan bunyi tidak enak, lantas mempersilakan aku dan Maeko untuk melangkah lebih dalam--seolah rumah kecil di hadapan kami adalah miliknya. Barulah ia kembali bertingkah seperti tamu pada umumnya setelah gerbang kembali terkunci--mengetuk pintu dengan sopan sambil menyerukan nama Hazawa.
Nyonya Muda Hazawa membukakan pintu di ketukan ke empat. Keterkejutan jelas terpampang di wajahnya, seperti ia tidak menyangka akan menemukan keberadaan Asami di teras rumahnya, atau sapaan dari dua anak remaja yang menjadikan punggung Asami sebagai tameng.
Biar kutebak, Hazawa--anak yang berkawan dengan Asami--pasti tidak pernah menculik satu-dua temannya, atau menyekap tetangganya dalam kamar untuk dijadikan budak permainan konsol. Jika iya, maka keheranan dalam perangai Bibi di hadapanku dapat dimaklumi.
"Asami." Atau mungkin tidak--sebab Bibi ini mengenal Asami.
"Selamat pagi Bibi, ini temanku Ryu dan Maeko, apa kami boleh bertemu dengan Mikan?" Si Kucir Dua menjelaskan. Ia lantas berbasa-basi, mengabaikan eksistensi kokoh Maeko dan kenyataan bahwa aku datang untuk menemaninya. Tidak lama, Bibi Hazawa memberi ijin dengan suka cita meski ia menambahkan bahwa putrinya--Hazawa Mikan--sepuluh kali lebih sulit didekati akhir-akhir ini.
Asami menjadi pemandu, kami digiring olehnya menuju pintu kayu berhias papan nama--tertulis Mikan--di lantai dua. Sementara Nyonya Muda Hazawa--Bibi Hazawa--berbelok ke dapur untuk mengambilkan jus serta camilan, atau minuman dan penganan lain yang masih menjadi rahasia ilahi.
"Kamu sudah sering datang ya?" Maeko bertanya tanpa basa-basi.
Si Kucir Dua berhenti melangkah, ia nampak berpikir sebentar sebelum memberi jawaban. "Ya, setidaknya satu bulan sekali, aku berusaha memperbaiki hubunganku dengan Mikan, juga mengajaknya berjalan-jalan ke luar dan pergi ke sekolah, tapi sepertinya tidak ada kemajuan." Ia tersenyum dengan alis terangkat.
"Biasanya kalian membicarakan apa?" Maeko mendahului Asami dan berdiri tepat di hadapan pintu kamar Hazawa Mikan.
"Sejujurnya aku saja yang banyak bicara dan bercerita, Mikan hanya menjawab sesekali dengan ya, tidak, dan hem."
Maeko mengangguk seolah menerima dan memaklumi jawaban Asami, tapi satu-dua detik kemudian ia mengetuk keras-keras pintu kamar Hazawa Mikan. Terkejut dengan tindakan sembrono Maeko, aku cepat-cepat menarik lengannya, memaksa Gadis yang Tidak ada Manis-manisnya itu menghentikan aksi brutal dan mundur beberapa langkah. "Pelan-pelan!" ucapku dengan penegasan. "Sudah, biar Asami yang mengurus."
Asami lagi-lagi tersenyum dengan alis terangkat, ia lantas mengetuk pintu Hazawa Mikan lamat-lamat, seperti sosok ibu atau ayah yang enggan mengganggu tidur anaknya--hal yang sulit dibayangkan. "Mikan." Ia melanjutkan dengan panggilan-panggilan. "Mikan, ini aku Asami, hari ini aku mengajak dua kawanku, kita bisa bermain video game bersama, atau jalan-jalan jika kamu merasa ingin." Namun tidak ada jawaban.
"Kamu yakin temanmu ada di dalam? Bagaimana jika ia sedang tidur? Atau malas menanggapi?" Maeko bertanya.
"Tidak, Mikan pasti merespon."
Asami mengulang, mengetuk pintu dan merapal nama Mikan, kali ini sedikit lebih keras--meski tetap terasa lembut. Namun lagi, hasilnya nihil, tidak ada jawaban pun tanda-tanda kehidupan dari balik pintu kayu.
Sementara itu kesabaran Maeko agaknya mulai menipis. Ia menghentak-hentakan kaki dengan tangan terlipat dan wajah tertekuk. Aku yakin ia hampir menyambar kenop dan mendebrak-debrak kesetanan, beruntung Nyonya Muda Hazawa muncul bersama segelas air dingin berkarbonat. "Bagaimana?" Ia--Bibi Hazawa--bertanya sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat pintu.
Aku menggeleng sebagai jawaban sementara Asami menegaskan dengan senyum kecut. "Mikan, ayo mengobrol denganku." Si Kucir Dua kembali mencoba, meski tetap tidak ada jawaban dari Hazawa Mikan, hingga kami sepakat untuk turun dan mengobrol sebentar dengan Nyonya Muda Hazawa--maksudku Bibi Hazawa sebelum pulang.
Belum sempat kami meninggalkan lantai dua, seonggok kertas kusut terlipat menyembul dari celah di bawah pintu kamar Mikan. Maeko yang pertama kali melihat, ia lantas mengambil dan menjauh seolah ingin memonopoli apa-apa yang tertulis atau tercetak di dalamnya. "Untuk Asami, jadi aku akan menyimpannya, untuk Asami!"
"Hei, siapa tahu itu penting dan harus segera dibaca!" Aku mengutarakan pendapat, tapi Hazawa Mikan mematahkan.
"Pe--pergi, pu--pulang saja!" Ia berteriak terbata-bata. Seluruh pasang mata menoleh dan menatap pintu lekat-lekat sambil mempertanyakan apa yang sebaiknya dilakukan.
"Ayo turun saja," Maeko berbisik sebelum anggukan serempak tanda sepakat diberikan. Sesuai niatan awal, kami menikmati suguhan di ruang tamu sambil mengobrol dengan Bibi Hazawa.
Percakapan-percakapan panjang yang muncul lebih banyak dikuasai oleh nostalgia Asami-Bibi Hazawa dan keingintahuan Maeko. Seperti kisah mengenai percobaan pertama Asami untuk menarik Mikan dari persembunyiannya serta ketiadaan kawan nyata dalam hidup Mikan.
"Kenapa Mikan mengurung diri?" Aku tersedak dan terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Maeko. Hal semacam itu tidak seharusnya ditanyakan secara langsung, apalagi di pertemuan pertama. Mengingat posisi Maeko sebagai kawan Asami--kawan dari kawan bagi Mikan jika ia menganggap Asami sebagai kawan--tanpa hubungan lebih dengan Mikan.
"Tunggu, aku ambilkan air!" Bibi Hazawa berseru lantas meninggalkan ruang tamu. Maeko terdiam, membiarkan Asami yang sibuk menepuk punggungku pelan-pelan.
"Aku tidak bermaksud buruk!" Gadis Tangguh itu membela diri. "Apa kamu tidak penasaran, Ryu?" Ia melanjutkan dan aku menggeleng.
"Sebaiknya kita segera pulang." Asami benar. "Akan kuceritakan nanti." Jadi kami berpamitan setelah aku menenggak habis segelas air putih dan berhenti terbatuk-batuk.
Kami mengambil rute yang sama--dengan saat berangkat menuju kediaman Mikan, dimulai dengan menaiki kereta hingga Nippori, lantas berjalan kaki 450 meter mendekati Yanaka Ginza.
Aku yang merasa rencana Asami--untuk meminta bantuan Mikan--telah sepenuhnya gagal, memberi ide agar ia mencoba bersuara dan memberi penjelasan. Hal-hal seperti membuat konferensi pers, berhubung ia memiliki banyak penggemar setia yang kemungkinan besar akan mendukung. Tentu aku akan turut menyebarkan fakta bahwa Asami tidak berniat melakukan hal-hal buruk--mengucilkan Mikan. Namun tanpa diduga, malaikat dari klub memasak ini menolak sambil meminta Maeko membuka lipatan kasar di kertas pemberian Mikan.
"Aku memang sempat memperlakukan Mikan dengan buruk dan memalingkan muka saat ia butuh, jadi aku pantas mendapat ganjaran, ini adalah cara Mikan melakukan pembalasan." Si Kucir Dua bicara sambil merekahkan senyum di wajahnya. "Dengan ini mungkin Mikan akan membuka diri, benar-benar memaafkanku dan keluar dari persembunyiannya."
Maeko menghentikan langkahnya dan menuruti perintah Asami. "Aku sempat bertanya-tanya kenapa kamu diam saja dan mengambil keputusan tidak penting seperti meminta bantuan Mikan sebagai korban, ternyata karena ini." Ia masih sibuk menyoroti kata demi kata dalam kertas pemberian Mikan.
Keingintahuan memenuhi kepalaku dan tanpa banyak pertimbangan aku bergeser mendekati Maeko. "Jadi kamu akan mengakui bahwa kamu pernah menindas Mikan?" tanyaku setengah tidak mengerti. Asami yang berdiri beberapa langkah di depan mengangkat tangan dan mengacungkan jempolnya, memberi isyarat bahwa ucapanku adalah benar. "Apa tidak apa-apa? Maksudku, murid-murid lain mungkin akan menjauhi atau menyudutkanmu, seperti kejadian di belakang gedung beberapa hari lalu."
Alih-alih menjawab, Si Kucir Dua melempar senyum sehangat musim panas. Ia lantas menggeleng lamat-lamat sambil mengambil langkah kecil-kecil guna memperpendek jarak antara aku-Maeko dengan dirinya. "Tidak masalah, lagipula melihat bagaimana Ryu serta Maeko membantuku, aku yakin kalian tidak akan menjauhiku seperti yang mungkin dilakukan murid lain, atau aku terlalu percaya diri ya?" Ia mengakhiri dengan tawa renyah.
Maeko menoleh, ia menatapku dengan penuh pertanyaan dan keengganan, seolah melimpahkan segala keputusan ke atas pundak-pundakku. "Kurasa, kami tidak berencana menjauhimu," aku memberi jawaban. "Kamu bisa bergabung dengan kami." Lanjutku mantap setelah menemukan senyum segar di wajah Maeko.
Benar, lagipula baik aku, Maeko, maupun Kazuhiko, seluruhnya telah menganggap Asami sebagai kawan sejak lama, tentu karena kami bermukim di kawasan yang sama, dan suatu kemustahilan untuk tidak terlibat satu sama lain.
Dengan ini kita impas!
Mikan.
🌸_____🌸_____🌸_____🌸_____🌸
Babak pertama dari Komorebi akhirnya rampung hoahaha
Saya baru sadar sudah melakukan kesalahan fatal pada nama! Seharusnya nama keluarga terlebih dahulu sebelum panggilan. Pada bab nol dan satu saya jelas menulis Asami Sato, Kazuhiko Ito, Maeko Nakamura, dan Ryu Takahashi. Iya, terbalik kawan!
Ini akibat terlalu banyak menonton animu sub Inggerisu yang biasa membalikan nama!
Iya, saya ngeles!
Nanti saya perbaiki
Kejar setoran dulu meski enggak yakin juga bakal selesai sebelum tengah bulan~
Pandu
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top