4. Dorongan Tidak Terduga
Kazuhiko menenggelamkan diri dalam kubang kesedihan, akibat gagal mengerjakan kuis sejarah. Sementara Maeko sibuk mengejek kapasitas serta kemampuan otak kawannya--Kazuhiko. Aku tidak ingin menambah runyam keadaan dan memilih memamah makan siang dengan khidmat. Meski aku tidak yakin apa sepotong roti isi dan sekotak susu bisa disebut dengan ... makan siang, bukankah lebih tepat dianggap camilan?
"Aku akan berhenti mengganggu Kazuhiko, jika salah satu dari kalian memberitahu soal dan jawabannya!" Maeko memberi penawaran. Benar-benar gadis yang tidak ada manis-manisnya, licik sekali seperti ular dalam kisah-kisah binatang. Memanfaatkan kemalangan kawannya, hanya untuk kuis sejarah. Padahal Maeko cukup pintar, setidaknya dibanding Kazuhiko dan Asami yang kebebalannya berada di atas rata-rata. Gadis keras kepala itu--Maeko--pasti mampu melewati kuis sejarah dengan lancar atau paling tidak memenuhi standar nilai--bahkan meski ia tidak menyentuh buku catatan.
Aku menggeleng sambil menguyah gigitan terakhir roti isi, mencoba menikmati panganan yang cukup enak meski tidak sampai menyentuh standar jajanan di Sato's Bakery--toko kue milik keluarga Asami. Oh, dan porsinya terlalu sedikit, jujur saja aku tidak akan kenyang meski menghabiskan dua. "Belajar saja, tidak begitu sulit kok," ucapku asal.
Lima kata yang baru saja lolos dari mulutku, tanpa disangka-sangka berhasil menyulut Kazuhiko. Ia yang sedari tadi menyembunyikan wajah dalam kekangan lengan dan meja kantin mulai menggeliat. Bahunya naik-turun seperti sedang menangis sesengukan, atau mungkin tertawa cekikikan. "Tidak sulit ya?" ia bergumam, tapi Aku cukup tanggap untuk menangkap bicaranya.
Si jakung itu mendongak cepat, menatap langit-langit yang putih bersih selama dua atau tiga detik sebelum menatapku kesal. "Padahal kamu bilang tidak sempat belajar." Ia menjeda, kini wajahnya berubah sendu meski jelas nampak dipaksakan, ia berpura-pura. Telunjuk kananya yang beberapa senti lebih panjang dari milikku terangkat tinggi, sebelum menunjuk tepat ke kening Maeko. "Hei Maeko, sebagai bentuk solidaritas kamu harus gagal dalam kuis itu!"
Gadis tengil yang duduk di sampingku tersenyum sinis, kedua sikunya ia letakan di meja dan jemarinya bertautan beberapa senti dari wajah. "Kamu siapa? Memangnya kita berteman," ia berucap meremehkan. Aku terkekeh sedikit, sebelum menyadari bahwa sesuatu yang tidak biasa telah terjadi, seperti benda yang hilang dari ruang kantin, atau ketiadaan acar dalam roti isi, tapi lebih tepatnya kealpaan eksistensi megah Asami.
Gadis kucir dua yang digilai oleh sembilan puluh persen murid laki-laki SMA Ueno itu seharusnya duduk di dekat jendela, tepat di ujung kiri kantin, atau biasanya begitu. Namun nihil, ia tidak sedang asik menikmati makan siang sambil bercanda dengan kawan-kawannya dari klub memasak, pun mendudukan diri di tempat yang seharusnya. Tanpa sadar aku menoleh, ke Kanan dan ke kiri, mengais eksistensi Asami yang mungkin luput sebab fokusku dimakan seutuhnya oleh celotehan Kazuhiko dan Maeko. Sayang hasilnya tetap sama, ia tidak ada di sini.
"Ryu usir dia," Kazuhiko merengek dari seberang sambil mendebrak-debrak meja, agaknya Maeko telah keluar sebagai pemenang dari acara adu mulut tidak berguna. Aku mengedik lalu menatap Maeko yang memasang senyum sumringah. Jika lengkungan Asami hangat menerpa seperti udara musim panas, maka milik Maeko segar seperti sebotol Ramune yang siap ditenggak setelah didinginkan.
"Syuh, syuh, sudah."
"Sial! Kamu pasti berkomplot dengan dia untuk mengerjaiku kan!" Aku tidak menjawab dan memilih menghabiskan susu dalam kotak. Apa mungkin sesuatu yang buruk tengah menimpa Asami hingga ia tidak mampu menunjukkan keagungannya dalam kantin?
Aku yakin raut wajahku berubah, mungkin memasam atau berkerut di sana-sini akibat spekulasi-spekulasi negatif dan kecemasan, sebab Maeko menyadari.
"Tenang, ia baik-baik saja, para berandalan itu memang sulit diatur, tapi mereka bisa diandalkan," Maeko berucap. Aku tidak bisa membalas kata-katanya selain dengan ucapan terimakasih. Sebenarnya, aku sempat mengira Maeko akan bersikap dingin atau memalingkan wajah seperti Kazuhiko mengingat hubungan pertemanan antara ia dengan Asami tidak begitu erat. Syukur aku salah menduga, Maeko memang selalu bisa diandalkan, sejak dulu, sejak kami masih kanak-kanak, meski ia tidak nampak manis pun seperti malaikat.
Kupikir Kazuhiko merasa ditinggalkan, sebab ia kembali mendebrak meja lalu melayangkan sebaris protes. "Untuk apa kamu berterimakasih padanya Ryu!" Aku mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan tidak dan tidak perlu dipikirkan.
Aku hendak meninggalkan kursi untuk membuang bungkus roti dan kotak susu, tapi kembali terduduk sebab sesuatu yang tidak kuketahui muncul dengan tiba-tiba. "Maeko," panggilku, "dari mana kamu dapat tautan artikel itu?"
Gadis yang tidak ada manis-manisnya itu menghentikan rentetan kata jahil di mulutnya. Ia membenarkan posisi duduk lalu bergeser mendekat ke arahku. "Aku lupa, mungkin jika kamu membelikanku makan siang selama seminggu atau mengajakku menonton, aku bisa mengingat-ingat," sialan gadis ini memang jelmaan ular, atau mungkin rubah jahat, tentu saja berekor sembilan.
"Hei kalian tidak boleh meninggalkanku begitu, ajak aku juga," Kazuhiko kembali merengek, padahal aku belum memberi jawaban. Otakku masih bekerja, memikirkan keuntungan dan kerugian yang mungkin diderita di masa depan akibat menuruti permintaan Maeko serta rengekan Kazuhiko.
"Berandalan kelas sebelah," tapi Maeko mulai bercerita. "Tepatnya kebakaran tempo hari secara tidak langsung diakibatkan oleh kabar buruk tentang Asami." Aku memasang tampang tidak mengerti sementara Kazuhiko meminta penjelasan lebih. Kupikir Si jakung ini tidak tertarik dengan kondisi Asami.
"Salah satu berandal dari sebelas B mendapat berita itu dari adiknya yang bodoh dan terpaksa bersekolah di SMP Suwadai, lalu saat praktik memasak ia memberitahu kawan satu kelompoknya yang juga seorang berandal bodoh, jadi keduanya sama-sama bodoh." Maeko melanjutkan kisahnya dengan penuh ekspresi dan penekanan, terutama saat kata bodoh melewati bibirnya.
"Dua makhluk bodoh itu berdebat, salah satu mati-matian membela Asami sedang satunya mempertanyakan kepolosan Asami, pepatah mengatakan kebaikan akan menarik kebaikan lain jadi tentu saja kebodohan akan menarik kebodohan lain, jadi jumlah mereka bertambah, aksi saling dorong dan pukul pun tidak terelakkan, lalu BOOM, muncullah percikan api tanpa disadari."
"Bodoh sekali," komentar Kazuhiko. Kali ini aku setuju dengan Si jakung.
"Mereka diskorsing tiga hari dan wajib membersihkan toilet selama seminggu setelah masa skorsing," Maeko mengambil napas, "cukup adil bukan?"
Aku mengangguk meski tidak mampu menerima kenyataan bahwa manusia seperti itu nyata-nyata diterima sebagai murid di SMA Ueno. "Aku kira sekolah kita cukup bagus." Maeko nampak tidak senang dengan ucapanku, bibirnya mengerucut dan segaris kerutan muncul di dahinya.
"Bukan begitu, Asami sudah seperti idol di sini, perang antar penggemar wajar terjadi bukan? Insiden kemarin benar-benar murni ketidaksengajaan, toh aku sudah mengajari para berandal itu untuk tidak merusak fasilitas sekolah, mereka tidak akan berani." Aku mengangguk, mengimani penuturan runtut nan gamblang dari Maeko.
"Jadi kapan kita pergi jalan-jalan?" Kazuhiko bertanya. Aku kesal dengan tingkah tidak acuhnya, apa benar ia menganggap Asami sebagai kawannya?
"Aku tidak menyangka kamu akan menanyakan hal itu alih-alih bersimpati dengan apa yang menimpa Asami."
"Kalian terlalu banyak berpikir!" Aku kira sebagai manusia sudah sewajarnya kita berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak atau membuat keputusan. "Kesalahpahaman seperti ini mudah saja diselesaikan, Asami hanya perlu mengumumkan bahwa artikel itu tidak benar, penggemarnya pasti akan mendukung lalu semua kembali seperti sedia kala," Kazuhiko melanjutkan. Harus kuakui bahwa pemikiran Kazuhiko ada benarnya, sial, laki-laki jakung itu memang pandai menyetir keadaan.
"Kamu pasti belum juga menanyakan kebenarannya kepada Asami kan?" Kini Kazuhiko mulai mengulitiku. Aku melirik ke arah berlawanan, menghindari tatapan penuh tanya dan keingintahuan milik Kazuhiko. Bukan karena aku melupakan usulan Si jakung pagi tadi, pun aku merasa malas atau secara subjektif memihak Asami. Hanya saja gadis kucir dua itu sulit didekati, maksudku tidak mungkin aku menanyakan sesuatu seperti "apakah kamu benar tukang bully?" atau sejenisnya saat ia dikerubungi oleh lalat-lalat--penggemar-penggemarnya.
"Sudah kubilang, akan kutanyakan nanti!" kilahku. Aku belum menoleh kembali ke arah dua kawanku, tapi telingaku mampu mendengar kekehan singkat Maeko, ia mentertawakanku.
"Jadi karena aku sudah menjawab pertanyaanmu," ia berucap. "Jangan lupa untuk membayar makan siangku seminggu ke depan." Aku berbalik dan mendapati Maeko tengah mengerling ke arahku. Gelengan lemah aku persembahkan untuknya, tapi ia membalas dengan seulas senyum penuh kepuasan.
Jika kami berada dalam sebuah cerita, sudah jelas siapa yang paling cocok berperan sebagai antagonis.
🌸__________🌸__________🌸__________🌸
Di sini akan dijelaskan mengenai istirahat makan siang dan Ramune ... Coming soon :D
Pandu
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top